Marriage Order

Marriage Order
S2 Rasa Kami


__ADS_3

Aku melihatnya begitu menderita dengan suara isak tangis lirih yang keluar dari mulutnya. Tanganku terulur menyentuh lengannya yang sedang sibuk menyeka air mata. Wanita itu menepis telapak tanganku.


"Aku tidak sudi disentuh dengan tangan menjijikkan itu!"


Aku menghela napas panjang. Bingung harus menjawab apa. Bagaimana cara menghibur dirinya yang sedang dikuasai oleh rasa marah sekaligus sedih bersamaan?


"Kay, aku bingung menjawabnya. Semuanya terjadi begitu saja. Aku tidak tahu, Kay. Aku mabuk saat itu," jawabku. Entah sedang membela diri atau mengakui kesalahan.


"Tapi kamu tertarik juga dengan Rey. Katakan itu? Jika tidak, dia tidak akan segitunya mengejarmu. Aku tahu sifatnya. Aku tahu betapa dia mencintaimu dan aku tidak pernah berada di hatinya. Dia menganggapku hanyalah sebagai bentuk tanggung jawab terhadap Mamanya!" Kayla terus mengatakan seluruh isi hatinya. Kacamata hitamnya tidak mampu menutupi linangan air mata yang mengalir.


"Kay, aku mencintai tunanganku. Pak Reynand adalah milikmu. Tidak ada ruang di hatiku untuknya," sahutku serius, berusaha meyakinkan wanita itu.


"Sher, aku mohon kamu berjanji agar tidak menghiraukannya lagi. Apapun yang dia lakukan untukmu jangan pernah kamu menanggapinya lagi!" seru Kayla.


"Iya, aku berjanji." Aku memegang bahu dan menatapnya dalam-dalam.


Kayla menyunggingkan senyum kecil. Wanita itu menyeka air matanya. Menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya. Dia kembali mengarahkan pandangannya ke wajahku.


"Sher, aku tahu kamu bisa menjadi teman yang baik. Mari kita mulai kembali hubungan kita tanpa curiga satu sama lainnya," katanya.


"Iya, Kay," sahutku sambil menyeruput minumanku.


Ponsel di atas meja itu tiba-tiba saja bergetar. Kak Baruna meneleponku. Lambang hijau telepon pada layar segera kutarik ke atas.


"Sayang, kembalilah ke sini."


"Iya. Kenapa, Sayang? Kamu butuh sesuatu?"


"Butuh kamu," jawabnya manja.


"Iya, mau kopi atau croissant?"


"Tidak, kamu sudah cukup menjadi pahit dan manis sekaligus dalam hidupku," selorohnya sambil tertawa.


Aku menahan tawa mendengar kata-katanya. merasa tidak enak hati jika tertawa di hadapan Kayla.


"Baiklah, aku ke sana sekarang."


"Kutunggu. Jangan lama-lama."


"Iya."


Kak Baruna menutup teleponnya. Aku mengalihkan pandangan ke arah Kayla. Wanita itu kemudian menyesap kopi di hadapannya, lalu mendongak menatapku.


"Kay, aku minta maaf atas segala hal yang sudah menyakitimu."


"Iya, Sher. Semoga di masa depan hal seperti ini tidak terjadi lagi."


"Iya. Aku tinggal dulu ya. Tadi dia meneleponku memintaku naik ke kamarnya."


Kayla mengangguk. Aku dan dia saling berdiri berhadapan dan mencium kedua belah pipi kami bergantian. Bergegas pergi ke lantai enam tempatnya dirawat.


****

__ADS_1


Baruna PoV


Aku menunggu Sheryl di atas ranjangku. Sendiri di kamar perawatan tanpa teman sangat menbosankan. Ingin pergi tidur pun, mata tidak bisa terpejam.


Terdengar suara pintu dibuka. Sheryl sudah berdiri di hadapanku. Senyumnya mengembang. Dia menghampiri dan duduk di kursi samping ranjangku.


"Akhirnya kamu datang. Aku hampir mati menunggumu tiba."


"Jangan berlebihan. Kamu sungguh tidak lucu, kecuali leluconmu tentang kopi dan croissant," protesnya.


Aku tertawa mendengar celotehannya, lalu mengalihkan pembicaraan, "Bagaimana Kayla? Sudah lebih baik?"


"Iya. Dia sudah lebih tenang dan aku bisa menemuimu."


"Syukurlah."


Aku melirik jam dinding. Sudah pukul setengah dua belas siang. Segera memandang wajahnya yang terlihat gelisah. Perutnya tiba-tiba berbunyi meminta jatah makan siang. Sheryl menoleh ke arahku sambil tersenyum lebar. Wajahnya memerah padam, malu.


"Apa kamu sudah lapar, Sayang?"


"Iya, aku lapar sekali. Tadi hanya meminum strawberry milk shake di kafe," jawabnya.


"Di atas meja sepertinya ada bungkusan makanan dari Kayla." Aku menunjuk bungkusan kecil di atas meja.


Sheryl mengalihkan pandangannya ke bungkusan itu. Dia beranjak menuju meja dan mengeluarkan isinya, sebuah kue tart red velvet persegi panjang.


"Kamu mau, Sayang?"


"Boleh. Berdua saja denganmu. Aku tidak terlalu suka manis," jawabku.


"Suapan pertama untukmu, Sayang," katanya sambil menyuap sepotong kecil kue itu. Aku membuka mulutku menyambutnya dan segera mengunyahnya perlahan.


"Aku juga ingin menyuapimu." Wanitaku mengangguk dengan wajah bersemu merah. "Sini duduk!" Aku menepuk tepi ranjang. Dia pun menurutiku duduk di tepi ranjang.


Sepotong kecil kue itu berhasil masuk ke dalam mulutnya. Namun, terlihat secuil krim sisa kue itu tertinggal di sudut bibirnya.


"Krimnya tertinggal di bibirmu," kataku.


"Di mana?"


Aku tersenyum. Mendekatkan wajahku, kemudian meraih sudut bibirnya dengan bibirku. Dia tersentak kaget ketika aku mulai menciumnya kembali dengan lembut.


"Hei, aku 'kan hanya bertanya di mana? Mengapa kamu menciumku?" protesnya sambil melepas ciumanku.


"Ayo kita menikah!" ajakku sambil tersenyum semringah.


"Kamu saja belum sembuh total, Sayang."


"Tidak masalah. Asal kamu ada di sampingku. Waktu akan menyembuhkan lukaku. Kakiku juga akan cepat sembuh jika kamu terus mendampingiku," bantahku.


"Ada yang ingin aku bicarakan." Tiba-tiba  saja nada bicaranya menjadi serius.


"Apa? Apa?" Aku mulai mendekatkan wajahku kembali.

__ADS_1


Raut wajahnya terlihat ragu untuk meneruskan perkataannya. Namun, dia kemudian berkata, "Hmm .... Kamu yakin sudah memilihku?"


"Kamu meragukanku?"


"Tidak, Sayang." Dia membelai lembut pipiku sambil menyunggingkan senyumnya tipis.


"Jangan menanyakan hal itu lagi. Membuatku kesal saja," protesku.


Dia lalu tertawa melihat raut wajah kesalku. Aku mencubit lembut pipinya dan kembali mendaratkan ciuman di bibirnya.


Sheryl, aku mencintaimu.


****


Reynand PoV


Hari yang sama, pukul 17.30 ....


Ponselku berbunyi nyaring membangunkan tidurku sore itu. Sebuah panggilan masuk dari Kayla. Aku menghela napas panjang menyadari peneleponku.


"Rey, aku punya kejutan untukmu."


"Apa sih, Kay?" jawabku malas.


"Kamu masih mengejar Sheryl bukan?"


"Kenapa?"


"Kasihannya .... Wanita yang kamu sukai itu lebih memilih tunangannya. Bukan dirimu, Sayang."


"Ke mana arah pembicaraanmu, Kay?"


"Aku punya penawaran. Kamu pilih menikah denganku atau sesuatu yang buruk terjadi padamu dan Sheryl?"


"Kayla, maksudmu apa?" Kata-katanya membuatku tersentak kaget. Dia sudah mulai berani mengancam.


"Pilih saja!"


"Aku tidak ada niat untuk kembali padamu," ucapku kesal.


"Baiklah, itu pilihanmu!"


Perempuan itu mematikan teleponnya. Aku menggelengkan kepalaku dan kenbali merebahkan diri di atas kasur. Tempat tidur yang sama, tempat kami memadu kasih.


Aku merindukannya. Sudah tiga hari aku tidak berkomunikasi dengan Sheryl.


Aku menatap langit-langit. Mengerjapkan mata berkali-kali. Hidupku mengapa jadi seperti ini? Begitu tidak teratur. Tanpa seseorang yang ada di sampingku.


Umurku di tahun ini menginjak tiga puluh dua tahun. Sebuah angka yang mapan untuk segera memiliki istri dan memiliki keturunan. Apa aku hanya bisa memimpikan wanita itu? Hanya dia yang kuinginkan berada di sisiku.


Aku mengusap wajahku kasar. Berkali-kali memimpikan Sheryl menjadi istriku. Berkali-kali memimpikan anak kecil bernama Sheeren.


Benar kata Mama, sepertinya aku memang sudah gila.

__ADS_1


Matahari sore terlihat mulai tampak terbenam saat aku bangkit berdiri menatap ke luar jendela. Mengikuti waktu yang bergulir detik demi detik yang terbuang memikirkan wanita itu. Rasa kecewa kembali menyeruak masuk ke dalam hatiku. Aku sudah sejauh ini, dan aku benci untuk menyerah.


Tanpa aba-aba, aku segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Guyuran air dari shower mungkin akan mendinginkan kepalaku yang memanas memikirkannya.


__ADS_2