Marriage Order

Marriage Order
S3 Percayalah Kepadaku!


__ADS_3

Reynand Pov


Sheryl tidak menjawab. Tatapan matanya seketika kosong kepadaku. Air mukanya lalu berubah, terlihat syok. Dan aku baru ingat kalau wanita di hadapanku ini sedang mengandung.


"Re-Rey, a-apa yang kamu katakan itu benar?" tanyanya tergagap dan begitu lirih di telingaku.


Jantungku berdetak kencang melihat reaksinya dan tidak berhasil mengucapkan sepatah kata pun sebagai jawaban dan itu berlangsung cukup lama.


"Tidak apa-apa jika kamu tidak bisa menjawab. Aku pergi, Rey!"


Sheryl mungkin kecewa karena tidak mendapatkan jawaban pasti. Dia buru-buru bangkit, tapi tiba-tiba limbung. Aku menangkap tubuh sintal itu dengan cepat.


"Hati-hati," kataku.


"Terima kasih," sahutnya lalu tidak buru-buru melepaskan dirinya dari rengkuhanku.


Serba salah. Aku terdiam di dalam ruangan. Pembicaraan itu berakhir begitu saja tanpa titik terang. Sedetik kemudian aku tersadar dan merasa bersalah. Mengatakan sebuah kebenaran yang membuat ia menjadi syok. Kesehatan Sheryl dan bayi yang dikandungnya lebih dari segalanya.


Aku menyusul Sheryl dengan langkah cepat. Namun dia sudah tidak terlihat lagi. Bahkan di depan lift. Wanita itu telah pergi meninggalkanku yang hanya termangu memandang pintu lift dari luar.


Ting!


Tiba-tiba pintu lift terbuka. Kayla berdiri di dalamnya. Menatapku dengan heran karena berdiri terpaku di depan lift.


"Loh, Rey? Kau sedang apa di depan lift?" tanyanya yang langsung melangkah keluar.


"Apa kau melihat Sheryl?"


"Sheryl? Dia di sini?"


"I-iya tadi."


"Tidak. Aku tidak melihat Sheryl," jawab Kayla. Aku dan dia lalu terdiam sejenak. "Oh ayolah, Rey! Dia sudah berkeluarga dan memiliki kehidupan sendiri. Untuk apa kau terus menemuinya, huh?" katanya lagi.


"Aku harus menemuinya karena menyangkut kebahagiaannya."


"Tahu apa kau tentang kebahagiaannya? Dulu dia bilang tidak pernah merasa bahagia saat bersamamu. Jadi biarkan dia mendapatkan kebahagiaannya. Tanpamu!" Kayla mendelik serius. Terlihat sangat gemas menasihatiku. Dan anehnya, aku tidak bisa menyahut ucapan itu. Sesaat kemudian, ia bertanya, "Sudah makan, belum?" Kayla menunduk ke arah sebuah bungkusan di tangannya.


"Belum."


"Ayo kita makan bersama!" katanya segera menggamit tanganku, lalu menyeretnya hingga masuk ruangan.

__ADS_1


***


Sheryl Pov


Setengah jam kemudian ....


Aku sudah berada di dalam mobil. Menyetir sendirian saja. Kepala ini rasanya terus mendentum tak karuan. Sakit. Perutku tiba-tiba saja mulas. Aku mulai khawatir anakku merasakan hal yang kurasakan. Kegelisahan.


Ada apa ini sebenarnya? Mengapa Reynand mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia pertanggungjawabkan? Dia tidak bisa menuduh Baruna dan Felicia begitu saja. Mereka tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dariku.


Ponselku terus saja berbunyi dan aku hanya melirik. Nama Reynand ada di sana. Aku tidak ingin menanggapinya. Cukup! Dengan mendengar perkataan yang terucap dari bibirnya saja, aku menjadi syok seperti ini. Dan ia ingin menambahkannya lagi? Luar biasa perjuangannya. Aku tidak akan terpengaruh. Aku hanya memercayai suamiku.


Air mataku tak henti-hentinya menggelinang. Tak dapat dipungkiri, walau perkataan Reynand sangat pahit dan tidak ingin kupercaya, aku terus menangis. Pandanganku begitu kabur dengan air mata yang menghalanginya. Tak tahan akan hal itu, aku bergegas menepikan mobil di pinggir jalan. Dengan cepat mengambil ponsel di sampingku lalu menelepon Baruna.


Suara Baruna pun terdengar di telinga. Dia mengangkatnya. "Halo, Sayang."


Cepat-cepat, aku menyeka air mata ini. Mengatur napas sedemikian rupa, lalu menjawab sapanya, "Sayang, maaf aku mengganggumu. Kamu sedang apa?"


"Aku sedang di kantor cabang bersama Ayah dan David."


"David? Suami Felicia?"


"Iya, Sayang."


Baruna tidak langsung menjawab dan itu makin membuatku bertanya-tanya, tapi hanya di dalam hati.


"Tidak. Hanya David dan putranya. David bilang, Feli akan menyusul mereka. Kebetulan aku dan David memiliki urusan bisnis bersama. Jadi karena sama-sama ada di sini, ia mampir ke kantor sebentar membawa putranya."


Aku menghela napas lega. Pikiran negatifku lantas menghilang. Aku yakin Baruna tidak ada kaitannya dengan Felicia seperti apa yang dituduhkan Reynand kepada mereka.


"Baguslah," sahutku sembari mengusap perut yang seketika menjadi tenang.


"Bagus? Maksudmu?"


"Iya. Aku pikir ...." Aku tidak melanjutkan perkataanku. Pikiran jelekku mengatakan kalau mereka akan bertemu berdua saja di sana.


"Jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak sedang liburan bersama Ayah, Sayang."


"Aku sangat merindukanmu. Cepatlah pulang," timpalku merengek kepadanya.


"Iya. Sabar, ya. Aku pasti cepat pulang. Oh iya, Pak Wicak bilang hari Minggu ada acara penghargaan untuk pengusaha negeri. Aku dan Ayah tidak bisa datang. Kamu yang datang, ya?"

__ADS_1


"Aku? Tapi kan-"


"Hanya datang untuk mewakili kami. Toh, Papamu dan Reza juga pasti datang. Nanti kalian berangkat bersama saja."


"Iya, sih." Aku mengangguk pelan.


"Terima kasih, Sayang. Kalau begitu, aku akan melanjutkan pembicaraanku dengan David."


"Iya. Aku mencintaimu dan sangat memercayaimu."


"Aku juga mencintaimu. Percaya saja padaku. Setelah semuanya beres, kami akan pulang," pungkasnya.


***


Baruna Pov


Aku memasukkan ponselku kembali ke dalam saku. Berbalik menuju ruang kerja. David, Ayah, dan tentunya bocah kecil itu tampak duduk di atas sofa. Mereka semua mengalihkan pandangannya ke arahku tatkala aku masuk tanpa mengetuk pintu lagi.


"Bagaimana? Apa yang Sheryl katakan?" tanya Ayah langsung mencecar dengan pertanyaannya yang takut bila Sheryl mencurigai sesuatu.


"Tidak ada yang perlu dirisaukan, Yah. Dia hanya menyuruh kita untuk cepat pulang," jawabku lalu duduk bergabung bersama mereka.


"Ayah takut dia menanyakan macam-macam dan kau tidak bisa sedikit berbohong kepadanya." Ayah menanggapiku lagi.


"Ya. Aku hanya khawatir Rey mengatakan sesuatu kepada Sheryl. Entah mengapa tadi dia menanyakan soal Felicia karena aku bilang bertemu dengan David di sini."


Aku mengerling ke arah David yang hanya diam dan menyimak obrolan kami. Sementara, bocah itu ... maksudku Rafael sibuk dengan mainan di tangannya.


Tak lama kemudian, David menoleh ke arah putranya. "Rafa, berhentilah bermain. Papa ingin memperkenalkan mereka berdua kepadamu."


Tanpa menjawab, Rafael langsung menghentikan permainannya. Ia menoleh kepada ayahnya sejenak lalu ke arahku dan Ayah bergantian. Manik matanya memandang bingung pada kami. Sementara aku tidak merasakan apapun pada anak itu. Mungkin karena kami tidak saling mengenal sebelumnya.


"Ya, Rafa .... Yang duduk di sana adalah Ayah Baruna dan Kakek Anton."


"Ayah? Kakek?" Kening Rafael mengerut bingung mendengar penuturan David.


Jantungku berdetak kecang. Tidak menyangka kalau David berani memperkenalkan aku dengan sebutan Ayah kepadanya. Sekujur tubuhku terasa gemetar mendengar sepatah kata Ayah dari bibir kecil Rafael. Kata yang seharusnya terlontar oleh bibir anakku dan Sheryl nantinya. Namun, bocah itu malah mencuri start terlebih dahulu.


Aku menyengih kaku kepada Rafael. Dan bocah itu tidak bereaksi. Menatap datar wajah kami. Aku dan Ayah hanya saling pandang dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.


-----------------------------

__ADS_1


Maaf, maaf, maaf banget buat segelintir pembaca karya remahan ini. Jujur gak sanggup update tiap hari. Bulan kemarin di sebelah, aku memaksa update banyak, alhasil tanganku cedera. Bulan ini aku libur di sebelah untuk mengkondisikan tangan yang suka kambuh-kambuhan sakitnya. Maklum udah tua. Hahaha.


Semoga kalian menikmati cerita ini sampai akhir nantinya. Kalau ada kesempatan, setelah MO ini aku mungkin akan istirahat lagi untuk menyiapkan karya lain.


__ADS_2