
Reynand Pov
Apa yang baru saja kukatakan? Seharusnya kau tidak mengatakan hal itu. Rey, kau telah melewati batas.
Sheryl langsung menoleh kepadaku. "Apa maksudmu, Rey?"
"A-aku... maaf, lupakan saja. Aku salah berbicara." Aku sampai tergagap menyanggah perkataanku sendiri.
"Tidak. Aku mendengar ucapanmu yang begitu yakin. Pelakor? Jangan sembarangan berbicara, Rey. Bunda tidak mungkin seperti itu."
Haruskah aku menjelaskannya?
Seketika aku mengembus napas pelan. "Baiklah, aku akan mengatakan alasannya."
Akhirnya aku menjelaskan semuanya. Seperti yang kuduga, Sheryl merespon dengan negatif semua ceritaku.
"Aku akan memaafkanmu karena telah berkata seperti itu tentang ibu mertuaku. Jujur saja, aku pun tak suka dengan perselingkuhan. Kalaupun semua yang kau katakan adalah benar, itu adalah masa lalu mereka."
"Bagaimana jika kau yang berada di posisi ibuku?" Aku bertanya penuh selidik.
"Tak ada jawaban untuk sebuah perandaian. Yang pasti, tidak ada satu orang pun yang ingin hidupnya menderita."
Sheryl menarik setengah senyumnya. Entah mengapa, aku makin menyukai dirinya hingga rasanya tak bisa membendung perasaanku sendiri.
Aku berjalan mendekat ke arahnya. Tanpa ragu mendaratkan sebuah kecupan manis pada dahinya. Menyapu jejak yang ditinggalkan suaminya tadi.
Saat aku menarik diriku, Sheryl tampak terdiam dengan mata membulat terkejut. Ia terpaku menerima kecupan itu. Dan aku merasa sangat senang walau tak tahu dengan definisi hubungan kami.
"Baiklah, itu adalah sebuah bonus untukmu karena telah berkata bijak. Aku pergi dulu!" pamitku kepadanya kemudian berlalu pergi.
***
Sheryl Pov
"Rey, kau baru saja membuatku memakan ucapanku sendiri," gumamku selepas mobil sedang putih Reynand menghilang dari pandangan mata.
Degup jantungku sangat kuat hingga ingin organnya ingin ikut keluar dari pelukan tulang rusuk. Ini tidak baik bagi kesehatan, bukan?
__ADS_1
Aku bergegas membalik badan kembali masuk ke dalam. Rafael tampak sedang bermain mobil-mobilan di lantai ruang tengah ditemani oleh televisi yang sengaja dihidupkan.
"Di mana Bunda?" gumamku terus berjalan hingga memasuki ruang makan. Tampak Bunda sedang duduk terdiam di salah satu kursinya.
"Bun," kataku langsung menghampiri ibu mertuaku dan duduk di depannya.
Bunda melirik dingin, kemudian menyugar rambutnya agar rapi. Cukup lama hingga membuatku menunggu.
"Ada apa?" tanya Bunda akhirnya.
"Entah mengapa beberapa hari ini aku merasa sikap Bunda begitu dingin kepadaku. Apa aku sudah melakukan suatu kesalahan yang membuat Bunda marah?"
"Apa Rey sudah pergi?"
"Ya. Baru saja," jawabku.
"Baruna menyukai anak-anak. Daripada kau terus bermesraan dengan Reynand di belakangnya, lebih baik kau mencoba mengakrabkan dirimu dengan Rafael."
Deg!
Bermesraan? Apa tadi dia melihat Rey mengecup dahiku? Lalu apa kaitannya dengan Rafael?
Bunda sontak menarik setengah senyumnya. Ia terdiam beberapa saat hingga membuat perasaanku menjadi tidak enak. Tak lama sebuah pertanyaan meluncur dari mulutnya, "Apa sebegitu kurangnya Baruna di matamu hingga kau berhak menduakannya?"
Seketika tenggorokanku yang tadinya kering berubah basah oleh air liur yang tertelan. "Walau aku tidak ingat dia sosok seperti apa sebelum kami kecelakaan, tapi aku rasa dia adalah suami yang baik dan bertanggung jawab."
"Baguslah." Bunda mengangguk-angguk, lalu menatap tajam kepadaku, "kalau begitu, ubah sikapmu. Sekalipun kau tak suka, tersenyumlah di depannya dan jangan membuat dia berpikiran macam-macam karena tanggung jawabnya lebih berat dari yang kau bayangkan."
Mendengar ucapan Bunda membuatku hanya bisa mengangguk sambil memasang senyum hampa. Setelah itu, Bunda hanya menyuruhku menemani Rafael bermain.
Rafael masih terlihat aktif bermain dengan mobil-mobilannya di ruang tengah. Aku menghampiri bocah itu dan duduk di sampingnya.
"Rafa, apa kau tak bosan bermain mobil-mobilan?" tanyaku.
"Tidak, Tante." Saat menjawab pertanyaanku pandangan mata Rafael tak terlepas sama sekali dari mobil-mobilan dalam genggamannya.
"Sayang sekali padahal Tante ingin mengajakmu bermain sesatu."
__ADS_1
"Apa itu?" Rafael sontak mengalihkan perhatiannya langsung kepadaku.
Aku tersenyum sambil melipat kedua tanganku. "Bagaimana kalau ...."
Aku menggantung ucapan saat layar televisi tiba-tiba menampilkan wajah wanita cantik yang tampak tak asing bagiku. Walau membuat kepalaku sakit, aku benar mencoba mengingatnya. Satu nama sontak meluncur begitu saja dari bibirku.
"Kayla. Mengapa Kayla bersama pria itu?"
"Berita terbaru hari ini, Kayla mengumumkan kekasih barunya ke depan publik. David Bintang Berlin, anak ke dua dari pengusaha Adam Winata Berlin. Mereka berencana untuk menjalankan hubungan serius walau nantinya mungkin akan banyak hambatan dalam menjalaninya. Untungnya pasangan ini merupakan pasangan yang sangat berpikiran positif mengenai masa depan. Seperti kita ketahui, David adalah seorang duda beranak satu. Dia baru saja bercerai dari bos sebuah Media Entertainment Berlin, Felicia Anindita Putri."
Tut!
Televisi itu mendadak mati. Aku menoleh ke arah Rafael yang yang sedang memegang remote televisi di tangannya. Wajahnya berubah muram dengan mata yang berkaca-kaca memandang layar besar televisi di depan. Perlahan bocah kecil itu mengucap satu kata yang membuatku terkesiap.
"Papa ...," ucap Rafael dengan bibir gemetar disusul oleh air matanya yang tiba-tiba jatuh. Makin lama, air matanya makin deras. Seperti anak kecil lainnya, ia menangis dengan suara keras.
Papa? Bukannya Papa Rafael ada di luar negeri? Dan berita itu... jadi mereka telah berpisah? Apa Kayla telah melupakan Reynand dan malah menjadi orang ke tiga di rumah tangga Felicia?
Beberapa pertanyaan mengecam otakku yang belum sepenuhnya sembuh. Rafael tiba-tiba bangkit berdiri lalu berlari pergi meninggalkanku dengan tangisnya yang makin menjadi. Aku yang melihatnya seketika ikut bangkit mengejar.
Rafael berlari masuk ke dalam kamar. Namun saat aku hendak membuka pintu, dia keburu menguncinya dari dalam.
"Rafa! Rafael!" panggilku, tapi ia masih belum juga membuka pintunya. Hanya terdengar suara tangis hebat dari dalam kamar.
"Ada apa ini, Sher?"
Suara Bunda tiba-tiba terdengar. Aku menoleh, mendapati ia yang berjalan menghampiri.
"Bun, Rafael masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu," kataku cemas.
"Kok bisa?" Bunda mengernyit, "dia menangis? Kau apakan dia? Tadi dia tak apa-apa bermain sendirian saja."
"A-aku.... Aku tidak melakukan apa-apa. Tapi berita di televisi tiba-tiba membuatnya menangis." Aku membela diriku yang memang masih belum bisa mencerna keadaan ini.
"Haish!" Bunda menggerutu kesal, lalu berkata kepadaku, "tunggu apa lagi? Cepat ambilkan kunci cadangan!"
Aku mengangguk, cepat-cepat pergi dari depan kamar Felicia. Banyak pertanyaan seketika melintas dalam benakku. Tiba-tiba menemukan suatu kejanggalan yang membuat keluarga Baruna tak beres di mataku.
__ADS_1
Felicia berbohong. Untuk apa dia berbohong kepadaku? Jika Felicia benar-benar berbohong, mengapa seluruh anggota Asyraf ikut berbohong? Bahkan Reynand pun melakukan hal yang sama. Dia menutupinya dariku.