
Jam tanganku menunjukkan pukul enam sore saat kami tiba di butik Melani. Kak Baruna meraih tanganku menggenggamnya erat. Aku terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba dan tidak biasa seperti itu. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Sebisa mungkin aku mengatur diriku agar terlihat biasa saja.
Melani menyambut kami yang datang ke butiknya. Sore itu butik terlihat sepi pengunjung.
"Selamat Sore Mas Baruna dan Mbak Sheryl. Selamat datang di butik saya."
"Sore Melani."
"Melani sudah siapkan beberapa rancangan yang mungkin Mbak Sheryl dan Mas Baruna suka. Ayo ikut Melani."
Melani melangkah menuju mejanya. Dia membuka sebuah buku rancangan busana miliknya dan mulai menjelaskan gaun yang direkomendasikannya.
"Di sini Melani sebenarnya sudah menyiapkan lima tipe gaun pengantin. Tapi sesuai tipe tubuh Mbak Sheryl yang seperti buah pir, Melani akan rekomendasikan dua rancangan tipe ball gown dan a line dress. Mbak Sheryl bisa lihat contohnya seperti ini." Melani menunjuk dua buah gambar di bukunya.
Aku dan Kak Baruna pun ikut melihat ke dalam bukunya. Tampak dua rancangan gaun yang sangat memukau diriku. Gaun yang indah dan anggun.
"Ini bisa dirancang sesuai dengan yang saya inginkan?"
"Bisa Mbak. Kira-kira Mbak Sheryl suka yang mana?"
"Yang mana Kak?" Aku menoleh ke arah Kak Baruna.
"Bebas. Pilih saja yang kamu inginkan."
"Saya pilih a line drees tanpa lengan. Saya mau nanti saya terlihat anggun dan elegan."
"Bisa Mbak Sheryl. Untuk warnanya bagaimana?"
"Abu-abu muda saja Mbak."
"Baik. Nanti Melani pilihkan untuk bahannya."
Kak Baruna hanya memperhatikan aku dan Melani yang berinteraksi. Sesekali dia mengangkat teleponnya karena ada telepon masuk yang mendesak.
"Mas Baruna juga, Melani punya beberapa contoh jas. Yang ini, ini, dan ini." Melani menunjuk ke dalam bukunya kembali.
"Yang ini saja Mbak. Saya percaya sama Mbak Melani," ujar Kak Baruna.
"Terima kasih Mbak Sheryl dan Mas Baruna."
"Saya percaya dengan Mbak Melani yang sudah menjadi langganan Ibu saya selama ini. Tentunya akan memberikan yang terbaik bukan?"
"Mas Baruna bisa saja. Untuk ukuran badan kalian nanti Melani ukur lagi ya. Setelah itu selesai nanti akan dikabari untuk fitting bajunya lagi."
"Iya Mbak Mel. Terima kasih."
Tidak lama kemudian kami sudah selesai dengan pengukuran busana pernikahan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Aku dan Kak Baruna lalu pamit pulang.
Kami masuk ke dalam mobil. Kak Baruna lagi-lagi memandangku sambil tersenyum-senyum sendiri seperti seseorang yang sedang kasmaran.
__ADS_1
"Sher, kamu bahagia?"
"Untuk?" tanyaku.
"Akan menikah denganku."
"Entah Kak, tapi aku menikmati prosesnya."
"Aku mencintaimu." Kak Baruna menatap wajahku dan membelai lembut rambutku. Wajah kami lalu saling berdekatan dan berhadapan.
Aku kebingungan bagaimana harus membalas kata-katanya. Wajah kami begitu dekat tidak ada tempat untuk menghindar dari tatapan matanya.
"Boleh aku menciummu?" tanyanya meminta izin.
Jantungku kembali berdegup kencang. Napasku mulai berhembus tidak beraturan. Wajahku berubah memerah seketika.
Aku mengangguk dan memejamkan mataku. Sebuah kecupan singkat mendarat tepat di pipi kiriku.
Aku membuka mataku dan menoleh ke arahnya. Dia masih ada di hadapanku, memandangku sambil tertawa kecil.
"Apa ada yang lucu?" tanyaku.
"Tidak." Mata Kak Baruna menoleh ke arah lain canggung.
"Kakak sedang mempermainkanku."
"Maksudnya?"
"Tidak ada. Aku pikir kamu memang memberiku kode dari tadi agar aku menciummu?"
"Ya-ya memang. Tapi kan ...." Aku tidak meneruskan kata-kataku.
"Tapi apa?"
"Ya sudahlah, enggak terlalu penting.
Apa sih yang aku pikirkan? Kenapa pikiranku jadi liar seperti ini? Aku berharap Kak Baruna akan menciumku tepat di bibirku tapi ternyata aku salah dan aku merasa kecewa sendiri. Ada apa dengan diriku? Baru kemarin aku merasa aku tidak akan pernah menyetujui perjodohan ini. Tapi hari ini sebaliknya, aku dan Kak Baruna datang untuk melihat rancangan busana pernikahan kami.
"Kita makan malam dulu ya." ajak Kak Baruna langsung mengemudikan mobilnya.
Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah panggilan masuk dari Mama.
"Sher kamu di mana?"
"Di butik Ma. Ada apa?"
"Sama Baruna?"
"Iya Ma."
__ADS_1
"Kebetulan banget. Bi Ati masak banyak. Ajak makan malam di rumah aja."
"Iya Ma." Aku lalu menutup telepon.
Aku menoleh ke arah Kak Baruna, "Kak gimana kalau makan malam di rumahku?"
"Boleh," jawabnya singkat.
Dua puluh menit kemudian kami sudah sampai di rumahku. Aku melepas sabuk pengamanku dan membuka pintu mobil. Kak Baruna menggandeng tanganku. Kami berjalan beriringan.
"Selamat malam Om dan Tante."
"Malam. Sher ajak Baruna ke ruang makan," perintah Mama.
Bagaimana urusan busana pernikahannya?" tanya Mama.
"Beres Tante," jawab Kak Baruna.
"Syukurlah kalau sudah selesai. Undangan pertunangan juga sudah jadi walaupun tidak sebanyak undangan pernikahan kalian nantinya. Semua sudah sembilan puluh persen selesai. Tinggal hari H nya saja," jelas Mama.
"Secepat itu?" Aku terkejut.
"Iya. Masih ada sepuluh hari lagi."
Aku dan Kak Baruna saling pandang penuh arti. Kami pun berjalan ke ruang makan. Bi Ati menyiapkan makanan kami. Aku dan Kak Baruna lalu makan dengan lahap.
Tiba-tiba Kak Reza dan Kak Dita datang menghampiri kami berdua
"Wah parah makan gak ajak-ajak lo." Kak Reza menyela sambil menduduki kursi di depannya diikuti dengan Kak Dita yang ikut duduk berhadapan denganku.
"Makanlah Za gak usah heboh begitu," ujar Kak Baruna.
"Oke. Kamu mau makan apa sayang?" Kak Reza bertanya kepada Kak Dita.
"Aku bisa ambil sendiri," jawab Kak Dita tersenyum.
"Bar, kemarin gue meeting sama Reynand," kata Kak Reza tiba-tiba.
Kak Baruna sontak menoleh ke arah Kak Reza, "Meeting sama dia?"
"Iya Bar. Gue baru inget kalau dulu pernah ketemu dia. Reynand yang kemarin gue temuin pas meeting adalah orang yang sama dengan orang yang papasan sama gue waktu jenguk Om Anton di rumah sakit," tambah Kak Reza.
"Meeting apaan?"
"Biasalah mau ada kerja sama proyek yang waktu itu gue ceritain ke lo. Dia ternyata bosnya Sheryl loh."
Kak Baruna menoleh ke arahku. Wajahnya berubah serius, "Kamu kerja di perusahaan dia? Kok kamu enggak cerita?"
"Mana aku tahu kalian saling mengenal. Pak Reynand direktur baru di perusahaan. Aku juga baru dua hari jadi sekretarisnya," jawabku.
__ADS_1
"Iya, habis ini aku akan ceritakan semuanya sama kamu. Ya sudah kita selesaikan makan malam kita dulu ya."
Aku mengangguk. Wajah Kak Baruna kembali terlihat serius. Sebenarnya mereka berdua ada apa sih? Kenapa suasananya jadi serius begini? Banyak pertanyaan muncul di otakku tapi aku segera menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang terlintas di otakku.