
Baruna PoV
Gemericik air hujan yang turun terdengar semakin reda dari balik dinding kamarku. Aku merebahkan diri di atas ranjang. Menatap ukiran indah langit-langit kamar yang begitu sepi. Membayangkan dirimu yang akan segera menghuni kamar ini bersamaku. Saat ini, untuk bernapas pun aku lelah. Terus menerus menarik dan mengeluarkan napas yang tidak teratur sejak tadi. Tanpa sadar air mataku mengalir lagi.
Mungkinkah aku akan terkena serangan jantung sebentar lagi? Jika tidak, mengapa rasanya sakit sekali seperti orang yang akan meregang nyawa. Sheryl, benarkan hanya sampai sini? Sepuluh hari lagi kita akan duduk di pelaminan. Melihat para tamu yang berdatangan. Mengapa begitu tega dirimu padaku? Cintaku sudah begitu tulus selama ini. Hanya dalam hitungan tidak sampai dua bulan kamu mempunyai perasaan terhadap orang lain dan parahnya dia saudaraku sendiri. Apakah aku harus terus mengalah dan memahami dirimu?
Aku mengambil ponsel di dekatku. Melihat wallpaper di layar. Sebuah gambar diriku dan Sheryl yang terlihat mesra saling memandang. Sebentar saja aku sudah merindukanmu. Ingin segera mendengar suara indahmu. Tanpa sadar aku meneleponmu, tapi tidak ada nada sambung yang terdengar, ponselmu mati.
Kenapa ponselnya mati?
Aku segera menghubungi Reza. Mengkhawatirkan kamu yang tidak bisa dihubungi. Tidak lama Reza pun mengangkat teleponnya.
"Halo, Bar."
"Za, Sheryl apa sudah pulang?"
"Bukannya sama lo?"
"Ehm ... tadi dia ngambek dan pulang sendiri."
"Dia belum sampai rumah sih. Nanti gue coba telepon."
"Kalau bisa telepon dia, gue gak akan telepon lo."
"Lagian kenapa sih pakai berantem?" Reza berdecak kesal.
"Dia mutusin hubungan, Za."
"Tinggal hitungan hari dan dia mutusin hubungan?! Gila ... gila .... Masalah apa, Bar? Kebangetan banget adek gue! Nanti gue yang ngomong ke dia."
"Enggak usah, Za. Lo gak usah ikut campur."
"Ya enggak bisa gitu donk. Sabar ya, pasti nanti juga akan kembali baik-baik aja."
"Iya, Za."
Aku mematikan panggilanku. Menggeliat di atas tempat tidur. Terus terbayang Reynand yang berciuman dengan Sheryl membuat dadaku bergemuruh sesak menahan batin yang tersakiti.
Tok-tok-tok!
Bunyi ketukan pintu terdengar. Aku sangat malas untuk beranjak bangun. Terus menatap beberapa foto dirinya yang kusimpan dalam folder galeri.
"Masuk! Tidak terkunci!" teriakku sambil menyeka air mata yang jatuh.
Pintu kamar terbuka, Bunda menyembulkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar. Aku pun bangkit duduk menyambutnya. Dia ikut duduk di sampingku. Bola matanya menatap lembut ke arahku.
"Nak, ayo kita makan malam," ajaknya.
"Sedang tidak berselera, Bun."
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Wajahmu terlihat sedih. Calon pengantin tidak boleh seperti ini. Harus selalu bahagia."
__ADS_1
"Apa benar aku akan jadi pengantin?" tanyaku balas menatapnya.
"Hush ... jangan berbicara seperti itu! Baru saja kemarin berbaikan. Masa bertengkar lagi?"
"Dia meninggalkanku, Bun."
"Sheryl?"
Aku mengangguk pelan.
"Bagaimana bisa?"
"Dia sepertinya menyukai Reynand."
"Tidak, tidak. Pasti ada kesalahpahaman di sini. Kemarin dia bercerita pada Bunda mengenai perasaannya yang takut goyah padamu. Bunda sudah mengingatkan bahwa kamulah yang terbaik."
"Reynand menciumnya dan Sheryl tidak mengatakan hal itu padaku. Aku harus bagaimana? Katakan Bun?" Aku memandang wajah Bunda dengan sedih.
Bunda memelukku. Dia berbisik, "Kalian harus tetap menikah apa pun yang terjadi. Bukankah semua sudah tertulis demikian? Namamu dan namanya sudah berada di atas tinta hitam perjanjian."
"Bun, mengapa tidak kita ikhlaskan saja hutang mereka? Biar aku tidak mempunyai beban untuk menikahinya. Cintaku tulus padanya walaupun pada awalnya hanya sebuah setingan kalian."
"Di dalam perjanjian bisnis hal itu tidak akan bisa dilakukan. Satu sen saja ada perhitungannya. Kamu pun tahu hal itu, bukan?"
"Iya. Namun rasanya tidak adil jika aku dan dia harus mengalami hal ini. Aku terlalu takut jika sampai ia tahu karena Reynand pun sudah mengetahuinya."
"Reynand?" Bunda terkejut mendengar perkataanku.
"Bagaimana jika kamu yang memberitahu lebih dahulu sebelum dia mendengarnya dari orang lain?"
Aku menarik napas dalam-dalam, memandang wajah Bunda yang terlihat serius sekarang.
Apakah akan baik-baik saja jika aku mengatakan semuanya? Bagaimana reaksinya?
"Aku akan melakukannya," jawabku.
Bunda menganggukkan kepalanya tersenyum. "Kamu harus yakin pada dirimu sendiri. Dia pasti akan mengerti. Mengenai ciuman itu, tidan usah kamu pikirkan. Yang sudah terjadi, biarkan saja terjadi. Di masa depan Sheryl milikmu."
"Terima kasih, Bun." Aku memeluk tubuh ibuku.
"Iya. Bunda tinggal dulu. Jangan lupa makan, ya."
Aku mengangguk sambil mengulum senyum. Setelah berbicara dengannya, hatiku merasa lega. Kemarahan dan kekecewaan yang tadinya ada seakan pergi entah ke mana.
Aku beranjak dari tempat tidur. Berdiri di depan meja kerja. Menatap sebuah paper bag besar barang belanjaan Sheryl di atas meja. Tadi dia pergi tanpa membawanya. Saat itu aku sangat ingin mengejarnya. Mengeluarkan segala rasa yang mengganjal di hatiku.
Mengapa dengan mudah dia menilai dirinya kalau benar-benar mengkhianati hubungan kami, sedangkan aku belum mengatakan iya sepenuhnya dan dia malah pergi meninggalkanku?
Aku mengeluarkan isi dari paper bag besar itu. Ada sebuah setelan kemeja dan celana kerja laki-laki juga sepasang jam couple yang dia beli. Hanya itu! Tidak ada barang pribadi yang dia beli untuk dirinya sendiri padahal aku sudah mempercayakan hartaku padanya.
Mengapa dia masih tetap begitu manis di saat seperti ini? Membuatku merasa sedikit bersalah menilai dirinya yang sudah lebih jauh terlibat rasa dengan orang lain.
__ADS_1
Seketika aku menyambar paper bag itu. Mengenakan jaket dan mengambil kunci mobil berjalan cepat keluar kamar. Segera mengemudikan mobilku menuju kediamannya. Aku begitu merindukannya dan tidak sabar ingin bertemu dengannya.
Setengah jam kemudian, aku sudah tiba di halaman rumah Sheryl. Reza membukakan pintu untukku. Wajahnya terlihat sedikit kesal saat bertemu denganku.
"Sheryl, apa dia sudah pulang?" tanyaku.
"Sudah. Ada di kamarnya sekarang."
Aku bergegas menuju kamarnya, tapi Reza segera menarik tanganku. Dia menggelengkan kepalanya.
"Jangan ganggu dulu. Sepertinya masih emosi. Tadi gue sedikit memarahinya. Dia enggak bisa memperlakukan lo seenaknya."
"Za, gue bilang 'kan jangan ikut campur. Lo kenapa begitu sama dia?"
"Gue gak bisa diem aja dong. Lo itu calon suami yang udah ditetapkan untuknya. Enak aja dia memutuskan hubungan!"
Aku menarik napasku kesal. Segera berjalan menuju kamarnya dan tidak memedulikan Reza yang menghalangiku. Dia membuatku susah.
Tok-tok-tok!
Aku mengetuk pintu kamarnya. Tidak ada jawaban. Dia juga tidak segera membukakan pintunya. Aku memutar handel pintu.
Ceklek!
Tidak dikunci!
Aku melangkah masuk ke dalam kamarnya. Namun, kamarnya kosong tidak berpenghuni.
"Sher! Sheryl!" panggilku.
Tidak ada sahutan. Reza yang mengikutiku dari belakang ikut mencari. Aku melangkah ke depan pintu kamar mandi. Pintunya terkunci.
"Sher! Sheryl!" panggil Reza seraya mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.
Apa yang terjadi? Mengapa dia tidak juga menjawab?
"Bar, gue ambil kunci cadangan dulu ya. Lo tunggu sini."
Aku mengangguk. Reza segera keluar kamar mengambil kunci kamar mandi cadangan.
"Sheryl! Sayang! Buka pintunya! Aku sudah tidak marah padamu! Aku mencintaimu, Sayang!" Aku terus berteriak. Berbagai pikiran negatif mulai memasuki pikiranku.
Apa yang dia lakukan? Bagaimana kalau dia pingsan? Bagaimana kalau dia nekat?
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Segera menepis pikiran negatif yang mampir dalam otakku. Tidak lama Reza datang dan membuka pintu kamar mandi.
Kamar mandi berukuran dua puluh meter persegi itu terlihat hening tanpa tanda kehidupan. Aku mengikuti Reza melangkah masuk ke balik dinding pemisah, di mana ada sebuah bathtub tempat ia biasa berendam. Tampak Sheryl berada di sana. Menengadahkan kepalanya sambil bersandar pada kolam kecil itu. Kami pun melangkah ragu.
"Sher ...." panggilku lirih.
Tidak terdengar jawaban darinya. Pikiran negatif segera menggelayutiku. Aku bergegas menghampiri wanitaku itu dengan begitu panik masih memanggil namanya. Sayangnya tidak ada jawaban sama sekali keluar dari mulutnya. Wajahnya pucat pasi, matanya tertutup dan ya Tuhan, dia tidak sadar.
__ADS_1