
Aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Pak Reynand membuka pintu, keluar dari ruangannya. Dia melangkah menuju mejaku.
"Kamu ikut saya meeting di luar sekarang. Kita sudah hampir terlambat."
Aku bangkit dan berkata, "Siap, Pak."
Aku berjalan mengikutinya dari belakang. Pak Reynand berjalan sangat cepat. Langkahku ikut tergesa-gesa mengikuti dirinya. Mencoba untuk mengimbangi jarak yang semakin jauh tertinggal.
Kami berjalan menyusuri lorong kantor. Berhenti di depan lift menunggu lift yang akan membawa kami menuju lobi. Tidak lama kemudian lift terbuka. Kami lalu masuk ke dalamnya.
"Saya tidak suka sekretaris yang tidak cekatan. Lambat sekali!" ketus Pak Reynand.
Aku terdiam sejenak, lalu berkata, "Pak Rey dari tadi marah-marah terus. Apa tidak capek, Pak?"
Pak Reynand tiba-tiba tersenyum menyeringai. "Kamu sedang meledek saya, Sher?"
"Ti-tidak, Pak. Itu hak Pak Rey untuk marah sama saya. Maaf, Pak!" jawabku gugup.
Pak Reynand tidak membalas kata-kataku. Aku berkali-kali mnghembuskan dan menarik nafas menahan kesal padanya. Sungguh menguji kesabaran berhadapan dengannya.
Ting!
Lift pun terbuka. Kami segera keluar berjalan menuju lobi. Pak Reynand meraih ponsel dari balik saku jasnya. Dia lalu menelepon seseorang.
"Siapkan mobil, Pak! Saya mau pergi."
Tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti di depan lobi kantor. Aku dan Pak Reynand pun masuk ke dalamnya
"Mau ke mana, Pak Rey?" tanya Zaki sang supir.
"Antar ke restoran Niel Western."
"Baik Pak."
Mobil yang dikendarai oleh Pak zaki segera berjalan mengantar kami. Pak Reynand hanya diam selama perjalanan. Matanya sibuk melihat kiri jalan.
Tiba-tiba suara dering panggilan ponsel terdengar dari balik saku jasnya. Dia segera mengeluarkan ponselnya, menjawab panggilan telepon yang masuk.
Aku melihat Pak Reynand sibuk berbicara ditelepon. Aku ikut mengeluarkan ponselku. Ada sebuah pesan masuk dari Fandy.
"Aku ingin mengajakmu makan siang. Aku ingin meminta maaf padamu. Bolehkah kita menjalin hubungan lagi seperti dulu sebagai seorang teman?"
Aku lalu membalas pesannya.
"Aku sudah maafkan tetapi aku belum bisa melupakan semuanya. Entahlah aku ragu apakah kita bisa menjadi teman seperti awal kita belum saling mencintai."
Fandy tidak membalas pesanku lagi. Pesan itu hanya terlihat memberi notifikasi bahwa pesanku sudah dibacanya.
Ponselku tiba-tiba saja ikut berdering. Tampak nama Kak Baruna yang memanggilku di layar ponsel. Aku menggeser tombol hijau mengangkat telepon.
__ADS_1
"Sher, kamu sudah makan siang?"
"Belum. Aku ada meeting di luar dengan atasanku."
"Di mana?"
"Niel Western."
"Restoran Daniel?"
"Ah ... Aku baru sadar, itu adalah tempat yang aku datangi semalam bersama kamu."
"Iya dan kamu benar-benar datang lagi hari ini. Pasti Indira senang melihatmu kembali."
"Iya, Kak. Mudah-mudahan saja aku bisa bertemu dengannya.
Pak Reynand menoleh ke arahku dengan sorot mata yang tajam mendapati diriku yang berbicara terlalu keras sehingga mengganggunya menelepon. Aku langsung menunduk dan menurunkan nada suaraku.
"Kak sudah, ya. Aku sedang bersama bosku," bisikku.
"Iya. Aku merindukanmu, Sher. Nanti aku akan menghubungi kami lagi."
"I-Iya, Kak," jawabku gugup.
Kak Baruna menutup teleponnya. Aku tidak menanggapi pengakuan rindunya. Namun jantungku tidak bisa berbohong. Dia berdegup kencang tidak karuan. Napasku pun memburu saling kejar-kejaran.
Aku menoleh ke arahnya seraya mencibir bosku itu, "Haruskah aku menceritakan kehidupan pribadiku juga, Pak?"
Pak Reynand terdiam. Lelaki berusia tiga puluh satu tahun itu memalingkan wajahnya. Dia kembali sibuk dengan ponselnya. Aku tersenyum puas melihat pemandangan itu.
Enak saja dia ingin mengetahui kehidupan pribadiku!
Tidak terasa kami telah sampai di restoran Niel Western. Aku melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit. Kami bergegas masuk ke dalam ruang rapat restoran tersebut.
Ceklek!
Pintu ruang rapat terbuka. Aku melihat Papa dan Kak Reza yang sudah duduk menunggu kami. Pak Reynand dan aku melangkah masuk menghampiri mereka.
"Selamat siang, Pak Agung dan Pak Reza. Maaf saya terlambat." Pak Reynand mengulurkan tangannya yang disambut jabat tangan Papa dan Kak Reza.
"Selamat siang, Pak Reynand," sapa Papa.
"Siang, Pak," sapa Kak Reza.
"Panggil saja saya Rey agar lebih akrab. Oh iya, wanita ini sekretaris saya, Sheryl. Seharusnya kalian berdua sudah mengenalnya. Kalian satu keluarga, bukan?"
Aku sangat terkejut saat Pak Reynand memperkenalkanku sekaligus mengetahui latar belakangku. Sontak wajahku menoleh padanya. Dia menampakkan raut wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Aku juga melihat Papa dan Kak Reza saling memandang satu sama lain canggung.
"Iya memang Sheryl anak saya dan dia bekerja di perusahaan anda. Rupanya anda tahu banyak tentang keluarga kami," sahut Papa.
__ADS_1
"Ah, itu hanya kebetulan. Bagaimana saya bisa tidak tahu, saya mempelajari semua data karyawan yang bekerja di kantor saya. Saya tidak ingin ada kesalahan sedikit pun yang dapat merugikan perusahaan saya."
"Apakah hal itu bisa mengganggu hubungan kerja sama kita ke depannya?" tanya Kak Reza.
"Mungkin iya mungkin tidak. Tapi saya paling tidak suka dengan orang yang suka berbohong dan berkhianat." Pak Reynand menatap tajam.
"Kami pun seperti itu. Bagaimana kalau kita pesan makanan dulu." Kak Reza mengambil daftar menu makanan.
"Baiklah," jawab Pak Reynand santai.
Kami beberapa menu sebagai makan siang kami. Selang beberapa lama kemudian makanan dan minuman datang.
Aku hanya diam membisu mendengar mereka berbicara panjang lebar mengenai keadaan ekonomi negara ini sepanjang acara makan siang berlangsung. Aku tidak tertarik dengan obrolan semacam itu.
Setengah jam kemudian rapat pun dimulai. Aku membuka laptopku dan mengeluarkan berkas-berkas yang diperlukan untuk rapat siang ini. Suasana yang tadinya santai lalu berubah terlihat serius saat rapat dimulai. Tiga jam kemudian rapat pun selesai.
"Baiklah meeting hari ini selesai. Untuk selanjutnya akan ada tindak lanjut dari tim terkait." Pak Reynand menutup acara pertemuan hari itu.
"Terima kasih, Pak Rey. Kami jadi tidak sabar menunggunya," sahut Papa.
"Iya semoga semuanya lancar," tambah Kak Reza.
"Senang bekerja sama dengan Kusuma Corp." Pak Reynand kembali mengulurkan tangannya.
Mereka saling berjabat tangan menutup kegiatan meeting sore itu. Tidak lama kemudian aku dan Pak Reynand melangkah keluar dari restoran.
"Sher!"
Terdengar suara seorang wanita memanggilku. Langkahku dan Pak Reynand terhenti di depan pintu masuk. Aku menoleh dan melihat Indira menghampiri kami.
"Sher, kenapa lo enggak kasih tahu kalau lo akan datang ke sini lagi?" Indira memeluk tubuh dan mencium kedua belah pipiku.
"Maaf ya Dir, dadakan soalnya. Gue dateng bareng atasan gue. Kenalkan Dir, Pak Reynand namanya. Pak Reynand, dia Indira teman saya."
Indira tersenyum lalu berkata, "Kak Rey kemana saja tidak menghubungiku? Bahkan di hari pernikahan pun tidak datang."
Aku terkejut mendengar kata "Kak Rey" keluar dari mulut Indira.
Apakah mereka kakak beradik?
Pak Reynand memalingkan wajahnya. Dia terlihat kesal dikenali oleh Indira.
"Jangan pura-pura mengenalku. Aku tidak mengenalmu," ujarnya sinis.
Pak Reynand segera berbalik arah berjalan meninggalkan Indira yang langsung berwajah sedih mendengar kata-katanya.
"Dir, aku duluan. Maaf ya?" Aku berlari mengejar Pak Reynand.
Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua?
__ADS_1