Marriage Order

Marriage Order
S3 Aku Akan Pergi, Rey!


__ADS_3

Reynand Pov


Bersiul-siul. Ya. Itu yang kulakukan sejak turun dari mobil malam ini. Tak peduli betapa lelahnya hari ini, hatiku terus berdebar membahagiakan.


"Kelihatannya ada sesuatu yang bagus baru saja terjadi." Suara Mama terdengar menghentikan langkahku saat melintasi ruang tamu.


Sontak aku menoleh. Mendapati dirinya yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di dadanya. "Ya, Ma. Kira-kira seperti itulah," jawabku seraya memasang senyum untuknya, "mengapa Mama belum tidur?"


"Menunggumu, tentu saja. Bagaimana bisa kau belum sampai di Jakarta padahal pesawatmu telah tiba sejak pukul sepuluh malam?" Mama menyindir, tapi aku tahu apa yang ada di kepalanya.


"Tadi aku menemui Sheryl dulu." Aku menyahut singkat. Mendengar nama itu, raut wajah Mama seketika berubah menjadi dingin.


"Oh... dia tidak menolakmu lagi?" Mama mengangkat sebelah alis meremehkan. Senyum setengah seketika terpasang pada wajahnya.


Aku tak peduli dengan pandangan meremehkan itu. Segera membalas Mama dengan senyuman yang sama. "Dia telah menjadi milikku. Sheryl menerimaku, Ma."


Mama tak menyahut. Mendadak ia tercenung lalu bergumam dengan suara yang hampir tak terdengar, "Sudah tak heran bila dia melanggar janjinya."


"Janji? Janji apa, Ma?" Keningku mengerut. Meski sangat pelan, aku dapat mendengar perkataan itu. Air muka Mama berubah gugup. Mendadak ia membungkam mulutnya.


"Tidak ada." Mama mengelak pernyataannya.


"Tidak ada bagaimana? Jelas-jelas aku mendengar Mama mengatakan Sheryl melanggar janjinya!" Aku mendelik kesal. Namun Mama bergeming, lalu tak sepatah kata pun meluncur dari mulutnya. Kami sama-sama diam beberapa saat hingga akhirnya aku membuang napas berat, "aku sudah melakukan apa yang Mama inginkan. Selama satu bulan tak sekalipun aku pulang, fokus pada proyek London itu. Mama juga tahu sendiri bagaimana Sheryl berusaha menghindariku. Mama tahu itu adalah hari-hari yang paling berat untukku, dan tentu saja untuknya juga."


"Rey, Mama hanya ingin kau melupakan dia! Dia tak pantas bersamamu."


Aku yang kesal tak ingin menanggapi perkataan Mama lebih lama. Suasana hatiku yang sangat baik malam ini rasanya menguap dengan cepat karena ibuku sendiri. Langkah kakiku menghentak pergi dari hadapannya.


"Rey! Hei! Kembali! Kau berani mengabaikan ibumu sendiri?!" Suara Mama mengiringiku masuk ke kamar hingga membuatku membanting pintu cukup keras.


Aku memejam sejenak. Rasanya kami tak akan pernah cocok. Sampai kapanpun, Mama tak akan memberikan restunya untukku dan Sheryl.


Aku menghela napas panjang, lalu mengeluarkan ponselku. Mengetikkan pesan untuk Sheryl.


[Aku sudah sampai rumah. Apa kau sudah tidur?]


***


Sheryl Pov


Kling!


[Aku sudah sampai rumah. Apa kau sudah tidur?]


Aku mendengar suara notifikasi pesan. Pandanganku seketika melirik ponsel yang kuletakkan di atas tempat tidur. Pesan chat dari Reynand.

__ADS_1


Haruskah aku membalasnya? Tidak. Biarkan saja seperti ini.


Aku mengabaikannya. Setelah membereskan seluruh barang-barang yang hendak dibawa, tak bisa kupungkiri hatiku sangat gelisah. Dalam hitungan jam aku akan benar-benar menjadi wanita paling jahat di dunia.


Aku akan meninggalkan Reynand setelah memberikan ia harapan setinggi langit. Jika boleh memilih, aku tak ingin berpisah seperti ini. Sayangnya tak bisa. Mau tidak mau, aku harus melakukannya.


Kling!


Pesan dari Reynand kembali masuk.


[Kau tahu? Aku jadi tak bisa tidur karena terus terbayang dirimu. Malam ini aku benar-benar sangat bahagia. Maaf karena terus mengirimimu kata-kata berlebihan seperti ini. Aku hanya ingin kau tahu seluruh perasaan yang tertahan sejak lama.]


Detak jantungku makin menjadi saat mengintip pesan chat itu. Namun aku buru-buru menjauhkan benda itu dari dekatku dan beristirahat.


.


.


.


Tepat pukul enam pagi, aku tiba di bandara. Mama dan Papa mengantarku hingga terminal keberangkatan luar negeri. Aku akan pergi jauh meninggalkan negara ini. Entah untuk waktu berapa lama. Yang pasti, aku harus menjauh dari Reynand.


Mama dan Papa memandangku dengan senyum paksa pada wajah mereka. Aku mengerti. Siapapun tak ingin melepas anaknya dengan cara begini. Namun, ini satu-satunya cara yang terpikir olehku agar Reynand menyerah dan kami tidak lagi berhubungan, karena aku tahu, dia akan selalu bersikeras walau aku telah menolaknya.


Aku balas tersenyum kecut ke arah Papa dan Mama. Kedua orang tuaku memeluk bergantian sebelum melepasku pergi.


"Ya, Sayang. Keputusanmu sudah sangat tepat untuk pergi. Kau harus menjauh dari Rey," tambah Mama.


Aku menarik garis bibir tipis mengiyakan. "Aku pergi Ma, Pa."


Kedua orang tuaku balas mengangguk. Segera, aku berbalik dan dengan perlahan berjalan meninggalkan keduanya.


Kau akan menemukan kebahagiaanmu yang lain, Sheryl. Meski bukan dengen Reynand, kau tahu ini keputusan yang paling adil. Bagaimanapun kau telah berjanji kepada Tante Aina untuk meninggalkan putranya. Selain itu, kau juga harus menerima jika kedua orang tuamu tak menginginkan Reynand menjadi pendampingmu.


Aku berusaha menghibur diri dalam hati. Berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan.


Ponselku berbunyi. Aku meraih ponselku. Reynand menelepon. Cukup lama memandang nama itu hingga deringnya berakhir tanpa jawaban. Tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja.


Hanya berjeda beberapa detik, ponselku kembali berdering. Reynand kembali menelepon. Aku segera menyeka air mataku. Dia tak boleh tahu aku menangis.


"Halo, Rey," sapaku dengan suara sedikit serak.


"Kau sudah bangun? Aku hanya ingin menyapa pagimu hari ini."


"Ya, aku sudah bangun," kataku lalu terdiam sebentar. Berpikir bagaimana caranya mengakhiri hubungan ini, "kau sendiri? Apa tidurmu nyenyak?"

__ADS_1


"Yah, lumayan walau hanya bisa tidur selama dua jam."


"Kenapa hanya dua jam?" Aku mengerutkan keningku.


"Karena kau mengirimkan debaran jantung yang tak biasa dari jauh."


Mendengar ucapannya membuatku tersenyum lalu mengekeh pelan. "Berhenti menggombal. Ini masih pagi, Rey."


"Aku senang bisa membuatmu tertawa, Sher. Ah, aku jadi merindukanmu. Bagaimana kalau aku menjemputmu jam sepuluh? Kita pergi kencan," kata Reynand tiba-tiba.


Aku tak langsung menjawab. Kepalaku masih mencari cara bagaimana mencampakkannya.


"Kau keberatan?" Reynand tiba-tiba bertanya lagi.


Aku mendengus tertunduk untuk beberapa saat. Pelan-pelan menarik napas dalam, lalu membuangnya.


"Rey, aku sudah memikirkannya semalaman. Aku rasa, hubungan kita tak akan bisa berhasil."


"Maksudmu?"


"Ya. Sebaiknya kita menjalani kehidupan masing-masing."


"Tidak, Sheryl! Kau pasti sedang mengerjaiku, 'kan?"


"Aku serius."


"Tidak! Tidak Sheryl. Jangan bilang kau ingin mencampakkanku! Aku tidak akan menerimanya!" Suara Reynand berubah panik, "kita harus membicarakan ini. Kau tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak! Aku akan pergi ke rumahmu."


"Tidak, Rey. Tidak bisa. Sekarang aku sedang tak ada di rumah." Aku sontak mengerjapkan mata, memeras air mata yang kian deras mengalir. Suara serakku terdengar makin menjadi.


"Haish! Mengapa kau begini? Kau berubah dalam waktu singkat. Ini pasti karena Mamaku, ya 'kan?"


Napasku tertahan mendengar tebakannya. Dia tak sepenuhnya benar.


Ini bukan hanya karena Mamamu, Rey. Papa dan Mamaku juga menentangnya. Ingin rasanya ku berteriak seperti itu, tapi suaraku tersekat dan tak bisa keluar.


"Apapun alasannya, ini semua salah. Yang kita jalani salah. Aku seharusnya tak menyambut ciumanmu semalam. Seharusnya aku menolakmu...."


Aku menggantung ucapan kala mendengar suara lantang mic car call yang memanggil penumpang pesawat keberangkatan tujuanku. Sontak pandanganku seketika mengedar. Orang-orang bangkit dari duduk mereka.


"Sheryl, kau mau ke mana? Jangan bilang kau akan pergi lagi dariku...."


Suara Reynand berubah parau. Mungkin ia menyadari sedang berada di mana aku sekarang. Tak bisa menanggapi perkataannya lagi, aku langsung memutus sambungan telepon itu.


Tut!

__ADS_1


-------------


Hayo! Gimana kelanjutannya? Sheryl bener-bener tega! Reynand bakal ngapain abis ini? Komen donk gaes!


__ADS_2