
Reynand PoV
Aku dan Kayla berjalan menyusuri tiap rak barang dagangan. Mengambil berbagai macam bahan untuk memasak dan juga keperluan pribadiku selama tinggal di apartemen.
Kayla melirik ke arahku sambil tersenyum, berkata, "Kita seperti sepasang pengantin baru yang sedang belanja bulanan ya, Rey."
Aku menoleh ke kanan dan kiriku, mengangkat sebelah alisku sambil melihat ke arahnya, "Kamu sedang berbicara denganku?"
"Astaga Reynand .... Siapa lagi yang kuajak bicara? Kamu selalu membuatku geregetan," ucapnya gemas.
"Sheryl dan Baruna mana?" Aku mengalihkan pembicaraan tidak peduli. Menengok ke arah belakang. Tidak tampak batang hidung mereka berdua.
Kayla mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Mencoba menghubungi Sheryl, tapi aku mencegahnya. Mungkin saja mereka butuh waktu untuk berbicara berdua.
"Kamu tidak usah meneleponnya, Kay."
"Tapi Rey, kenapa mereka tidak bilang kepada kita kalau mau pergi berdua saja? Tadi 'kan kamu yang mencetuskan ide untuk mengajak mereka makan malam di apartemenmu."
Memang akulah yang memberikan ide makan malam. Hal itu kulakukan hanya untuk sekedar melihat Sheryl lebih lama.
"Mungkin mereka tidak nyaman berada di dekatku."
"Kenapa? Kamu sudah tidak mendekati Sheryl, 'kan?"
Aku terdiam, mataku melirik tajam ke arah Kayla. Tidak menjawab pertanyaannya itu. Aku terlalu malas untuk menjelaskan. Lagi pula Kayla itu siapa? Bukan siapa-siapa pula bagiku.
"Baiklah, kalau kamu tidak menjawab. Aku sudah terbiasa dengan sikapmu yang seperti ini," dengkusnya.
Aku tidak menghiraukan wanita itu dan terus berjalan meninggalkannya menuju kasir, membayar barang belanjaan kami. Kayla menatap wajahku cemberut kemudian menghentakkan kakinya karena kesal. Lalu menyusulku berjalan dari belakang.
Sejurus kemudian kami sudah berada di area parkir mall. Aku memasukkan barang belanjaanku ke dalam mobil dan barang belanjaan Kayla ke dalam mobilnya.
"Bagaimana dengan bahan makanannya?" tanya Kayla.
"Kamu bisa membawanya pulang. Aku jarang memasak," jawabku.
"Baiklah, kita berpisah sampai sini. Senang berbelanja denganmu, Rey." Kayla mencium pipiku lalu masuk ke dalam mobilnya.
Aku memandang kepergiannya. Mengusap bekas bibir yang menempel di pipiku sambil berdecak kesal.
__ADS_1
Wanita itu seenaknya saja bertingkah seperti itu.
Malam ini aku akan singgah ke rumah Mama. Ada sedikit rasa rindu menggelayuti hatiku. Namun, aku belum ingin segera pulang. Lama kelamaan sepertinya aku merasa lebih nyaman hidup sendiri tanpa keluarga dengan banyak drama. Apalagi setelah mengetahui ada perjanjian konyol yang membuatku tertawa.
Hujan deras mulai turun. Aku mengemudikan mobilku keluar dari area parkir perlahan. Suasana jalanan yang lengang tidak membuatku tergesa-gesa ingin segera sampai ke rumah.
Aku melirik ke sisi kiri jalan. Tampak seorang wanita sedang duduk menunduk di sebuah halte bus sendirian. Dia memakai baju yang sangat kukenal seharian ini. Baju terusan dusty pink selutut yang dipakainya. Dia adalah Sheryl.
Sedang apa dia sendirian di sana?
Aku bergegas menepikan kendaraanku tidak jauh dari halte tersebut. Membuka payung hitam, kemudian berjalan menghampirinya. Dari dekat sekali aku menatap wanita itu. Dia tidak sadar akan kehadiranku di sampingnya.
Melihat dirinya yang menunduk pilu menangis membuat dadaku terasa sesak, menggetarkan raga, bahkan aku mulai ingin menangis. Tidak! seharusnya aku yang menjadi pelindungnya. Bukan ikut menangis menatap wajahnya.
Payung hitamku segera kuletakkan begitu saja di lantai halte yang sepi. Aku mengulurkan tanganku menyentuh puncak kepalanya. Membelai lembut dengan rasa kasih sayang yang belum terbalas olehnya. Dia terlihat menikmati setiap belaian yang kulakukan. Tangisnya pun mulai mereda dan membangkitkan senyumku.
Lama tangis itu mereda, tiba-tiba saja pecah kembali bersamaan dengan derasnya hujan yang turun. Saling mengadu satu sama lain. Aku tidak peduli lagi dengan jarak satu meter yang ia pernah katakan. Aku meraih tangan dan tubuhnya masuk dalam dekapan tubuhku. Memeluknya erat hingga ia menghentikan tangisnya yang pilu.
"Sheryl, menangislah jika itu bisa membuat perasaanmu lega," ucapku pelan.
Tidak lama kemudian, wajahnya mendongak melihat wajahku. Sontak mendorong tubuhku lalu dia berlari menjauh.
Dia tidak menengok lagi ke belakang. Terus berlari menantang hujan meninggalkanku. Terlihat sebuah taksi berhenti di depannya. Buru-buru ia masuk ke dalam mobil itu. Meninggalkanku yang menatap kepergiannya dengan perasaan campur aduk.
Aku lalu mengambil payungku kembali, melangkah masuk ke dalam mobil, dan meneruskan perjalanan yang tertunda.
Apa yang kamu rasakan saat ini, Sheryl? Berbagilah denganku.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat aku memarkirkan mobilku di halaman rumah. Pintu depan tidak terkunci, mungkin Mama tahu kalau aku akan datang menengoknya.
Mama, Indira, dan Daniel sudah duduk menunggu di ruang tamu. Bola mata mereka memandang ke arahku seperti hakim yang ingin menjatuhkan vonisnya.
"Rey, duduk!" perintah Mama.
Aku segera ikut duduk bersama mereka. Melihat wajah mereka yang tiba-tiba serius.
"Mama dapat informasi dari Indira, kalau tadi pagi Kayla datang ke apartemenmu. Mama tahu kalau Mama terus menyuruhnya mendekatimu, tapi kamu malah membiarkannya menghuni apartemenmu sendirian di sana dan meninggalkannya bekerja. Bukankah keterlaluan menggantungkan hubungan seperti itu? Lalu mau ditaruh mana wajah Mama jika kedua orangtuanya tahu bagaimana perlakuanmu padanya yang tidak jelas itu? Sebenarnya bagaimana sih hubunganmu dengan dia?" Mama mencecarku dengan banyak pertanyaan yang membuatku menggelengkan kepala.
"Kayla lagi ...," gumamku malas.
__ADS_1
"Iya, ini mulai serius. Sampai kapan kalian akan seperti itu?"
"Kak Rey, sebaiknya Kakak menjatuhkan pilihan secepatnya dan tidak memberikannya harapan palsu," tambah Indira yang membuatku tambah pusing. Namun, aku segera mengalihkan pembicaraan.
"Aku pikir akan datang ke sini untuk melihat keadaan Mama. Namun sepertinya aku harus segera kembali. Mama ternyata baik-baik saja." Aku bangkit dari dudukku bersiap pergi.
"Rey! Jangan pergi dulu!" teriak Mama.
"Ma, sebaiknya Mama persiapkan hati Mama. Pewaris keluarga Asyraf tetaplah Baruna, bukan diriku," ucapku mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana kamu tahu? Pembukaan dan pembacaan surat wasiat saja belum terjadi." Mama sontak ikut menanggapi.
"Seperti itulah gambaran yang kudapatkan dari ayah dan sebuah surat penting. Mereka sudah menentukannya sejak lama dan itu tidak akan berubah, apalagi Kakek sudah meninggal dan Ayah Anton tidak mempunyai kuasa atas apa pun. Bagaimana, Ma?" Aku mengangkat sebelah alisku menatap wajah Mama yang terlihat ragu.
"Lalu kamu berdiam diri saja tidak melakukan apa-apa?" tanyanya.
"Katakan padaku apa yang harus kulakukan, Ma? Dari awal aku hanya ingin patuh pada Mama. Menjadi pewaris itu tidak terlalu penting bagiku sekarang," sahutku.
"Hal itu terjadi karena kamu sudah bermain-main dengan hatimu sendiri yang kini mempunyai perasaan terhadap Sheryl."
Aku terdiam tidak berkomentar. Kata-kata Mama begitu tepat menusuk jantungku. Terasa nyata, karena memang tujuan awalku sudah berubah sepenuhnya.
"Andai kamu fokus mengikuti apa yang selalu Mama tanamkan selama ini, pasti kamu tidak akan goyah."
"Aku tahu kalau Mama tersakiti, tapi Ayah Anton juga mempunyai alasan melakukan hal itu."
"Cinta ya? Hebat kamu Nak, sudah semakin mirip dengannya. Bisa melakukan apa pun demi rasa cinta pada yang bukan miliknya," dengkusnya sedikit tertawa.
"Mama, aku tidak ingin berdebat mengenai hal itu. Hanya itu yang ingin kusampaikan sekarang. Terima kasih untuk waktunya, Ma." Aku membalikkan badanku bersiap beranjak keluar.
"Kakak!" Indira berjalan mencegah langkahku. Dia memandang wajahku lalu memelukku sesaat.
"Aku akan dukung apa pun yang Kakak lakukan sekarang," ucapnya sambil mengangguk mantap.
"Terima kasih, Dir." Aku tersenyum simpul mendengar perkataannya.
"Gue juga dukung lo, Rey." Daniel ikut menanggapi.
"Terima kasih, Niel."
__ADS_1
Aku tidak tahu alasan apa yang membuat sikap kedua adikku berubah cara pandang. Dukungan dua orang terdekat saja sudah lebih dari cukup bagiku untuk terus berjuang. Namun, aku melihat Mama memalingkan wajahnya kesal lalu beranjak pergi dari ruang tamu. Entah apa lagi yang ia pikirkan.