Marriage Order

Marriage Order
S3 Kekhawatiran


__ADS_3

Sheryl Pov


"Tentang kita?" lirihku langsung menoleh ke sekeliling, takut ada yang mendengar pembicaraan kami. Aku lebih merasa menjadi seorang tersangka kasus perselingkuhan, padahal tidak. Secepat kilat mengambil langkah seribu, berbalik dari hadapan kak Reza dan Kak Dita menuju luar rumah megah kediaman calon kakak iparku. "Apa maksudmu, Rey?" tanyaku lagi.


"Berita itu. Berita yang mengangkat tentang hubungan kita. Foto dan video yang dikirim ke ponselku. Aku sudah mengatakannya kepadamu, bukan? Aku akan mencari pelakunya." Suara Reynand terdengar sangat menggebu-gebu.


"Oh …." Hanya kata itu yang terucap dari bibirku tatkala suara seorang wanita yang kukenal terdengar memanggilnya di belakang.


"Rey, aku bosan di sini!"


Suara manja Kayla. Dia bersamanya sekarang dan malah menghubungiku dan membicarakan hal ini.


"Kita harus bertemu sekarang," katanya.


"Maaf, Rey. Aku tidak bisa," pungkasku lalu mengakhiri panggilannya.


Entah mengapa aku tidak ingin mendengar siapa orang di baliknya. Hati kecilku menolak informasi itu. Saat ini cukuplah kepercayaan yang terjalin di antara aku dan Baruna. Sejak kami menjadi saling menyakiti saat itu, aku tidak ingin semuanya terulang kembali. Aku mencintainya dan aku percaya dengan semua yang ia lakukan. Persetan dengan berita, video, foto, atau apapun itu yang berusaha membuat kami menjauh. Bagiku, orang itu hanya ingin mendapatkan suatu keuntungan dari interaksiku dan Reynand selama ini.


Reynand kembali menelepon, tapi aku tidak peduli. Membiarkan dering itu berlanjut hingga tak terdengar lagi.


***


Baruna Pov


Aku dan Ayah sudah berada di sebuah hotel bintang lima di tengah kota Tokyo. Malam pun tampak bersahabat walau waktu menunjukkan hampir tengah malam.


Aku menoleh ke samping. Ayah sudah terlelap di sana. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Kuraih benda pipih itu dari atas nakas. Sheryl menelepon.


Seketika senyum pun tersungging di wajah. Bagaimana tidak? Seharian ini Sheryl tidak mau menjawab panggilanku. Dia masih kesal atas kepergianku ke luar negeri saat keluarganya memiliki acara yang penting. Acara lamaran Reza kepada Dita.


Ponselku terus berdering. Aku segera menjawabnya, "Sayang, akhirnya kamu mau meneleponku juga."


"Haish! Kamu benar-benar membuatku bertambah kesal karena tidak juga menelepon!"


Nada kesalnya masih terdengar di telinga. Aku hanya mengekeh. Membiarkannya terus mengoceh marah. Karena dia tidak mau menjawab telepon, aku sengaja tidak menghubunginya dan malah membiarkan dia meluap dengan rasa marahnya. Terakhir, hanya menghubungi Sheryl dan mengatakan kalau kami sudah tiba di hotel.


"Siapa suruh kamu terus mengabaikanku? Aku dan Ayah ke sini untuk bekerja. Tidak hadir di acara Reza bukan karena kesengajaan, Sayang."

__ADS_1


"Tidak sensitif sama sekali. Aku kangen, Sayang. Aku susul, ya?"


"Jangan!" sergahku langsung menyahut dengan cepat.


Menurutku jawaban Sheryl sama sekali tidak lucu, tapi ia malah langsung tertawa mendengarnya. Sungguh! Selain khawatir dengan kehamilannya, aku takut ia berbuat nekat dan malah membuat urusan pekerjaan kami terganggu. Selain itu, aku tidak ingin ia tahu maksud lain kedatanganku ke sini.


Tawanya terhenti beberapa saat. Napasnya terdengar mengembus dengan perlahan. Dia kemudian berkata lagi, "Aku tidak akan senekat itu, Sayang. Tapi, aku benar-benar tidak suka kalau kita bertengkar terlalu lama."


"Aku tidak marah kepadamu. Kamu yang mengabaikanku," sahutku.


"Ya, maaf," lirih Sheryl membuatku menarik setengah senyuman. Suasana kaku di antara kami mulai mencair, "aku juga merindukanmu dan calon anak kita."


"Awas saja bila tidak rindu. Aku ini korban kamu."


"Korbanku? Maksudmu korban yang sukarela mengandung anakku?"


Aku mengekeh dan ia membalasnya dengan kekehan yang sama hingga pembicaraan kami pun akhirnya berakhir satu jam setelahnya. Aku memutus panggilan antar negara itu saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Aku bangkit dari tepi tempat tidur, berjalan ke arah pintu. Alangkah terkejutnya melihat seorang pria yang kukenal berdiri di sana. David menatap dengan sedikit tersenyum.


"David?" Mataku hampir membulat menatap pria di hadapanku. Bagaimana bisa ia ada di sini? Datang ke kamarku tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Apa dia mengikutiku?


"Bisa kita berbicara?" tanya pria itu tiba-tiba mengubah air mukanya menjadi serius.


"Bicara tentang apa?"


"Aku pikir kau pun sudah bisa menebaknya, Bar."


"Rafael?" Entah mengapa nama Rafael langsung terlintas dalam benakku.


"Ya. Aku ingin berbicara tentangnya."


Setelah ia mengatakan hal itu. Aku langsung mengangguk, padahal jantungku berdetak dengan sangat cepat. Aku gugup. Ya! Benar-benar gugup. Apa yang hendak dia bicarakan? Begitu pikirku sepanjang langkah mengikutinya. Ia membawaku ke suatu tempat.


***


Reynand Pov


Beberapa hari telah berlalu sejak aku mencoba menghubungi Sheryl. Namun ia tidak menggubrisnya. Aku heran dengannya. Apa dia sama sekali tidak peduli dengan dalang di balik semuanya?

__ADS_1


******* napas kulakukan berkali-kali. Tak tahu harus bagaimana lagi. Haruskah aku diam saja dan tidak membuat mereka jera? Ini benar-benar terus menggangguku. Apalagi sejak pesan itu dikirim. Rasanya ada seseorang yang selalu mengikuti langkahku ke manapun aku pergi.


Semua pikiran buyar saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjaku. Aku mengangkat wajah dan berseru dengan suara sedikit keras.


"Masuk!"


Julian terlihat muncul di ambang pintu. Berjalan ke arahku, membawa sebuah dokumen dan memberikannya.


"Ini yang terakhir, Pak." Pria berusia dua puluh delapan tahun itu menundukkan kepalanya.


Aku mengangguk. Segera kuraih map tebal berwarna biru itu dan membacanya.


"Ehm, Pak ...." Suara Julian terdengar.


"Ya?" sahutku tanpa menegakkan kepala dan masih fokus pada lembaran kertas di dalam map.


"Ibu Aina menyuruh Anda datang ke acara penghargaan untuk para penguasa Indonesia."


Mendengar ucapak Julian langsung membuatku mengangkat wajah menatapnya. "Bukannya Mama yang akan pergi?"


"Beliau bilang tidak bisa. Ada acara lain, dan Pak Rey diminta menggantikannya," jawab Julian.


"Mengapa tidak memberitahu langsung kepadaku?" timpalku mengernyit. Julian mengedikkan bahunya. Sepertinya ia juga tidak tahu alasannya. "Ya, sudah. Kau bisa kembali ke mejamu, Jul."


Setelah mengatakan hal itu, anehnya Julian tidak juga beranjak. Dia masih berdiri di depan mejaku. Sedetik kemudian saat aku terus menatapnya, wajah Julian tampak aneh terlihat.


"Ada apa lagi?" tanyaku.


"Mengenai ibu Felicia. Apa Anda masih berniat untuk menemuinya?"


"Iya, saya akan menemuinya. Beri tahu saya kapan jadwal kosong saya, Jul."


Julian hanya mengangguk. Setelahnya, ia pun izin kembali ke mejanya. Aku kembali pada pekerjaanku. Namun sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Perasaan tidak enak tentang Sheryl terus berputar dalam benakku.


"Rey, kau pasti sudah gila. Benar-benar sudah gila! Sheryl tidak tidak peduli dengan pelaku itu."


Kuulang perkataan itu berkali-kali demi membuatku sadar kalau aku tidak boleh terlalu ikut campur urusan rumah tangganya. Beberapa saat kemudian, aku membuang napas perlahan dan memutuskan sesuatu.

__ADS_1


"Oke! Kali ini saja aku akan mencari tahu tentang hal itu."


__ADS_2