
Aku tidak dapat menahannya lagi. Sejak udang itu masuk ke dalam lambung, dengan cepat sekujur tubuh ini terasa gatal. Oh, tidak! Sudah lama aku tidak merasakannya dan kini kambuh tanpa aba-aba. Udang sialan!
Toilet restoran terlihat sangat bersih dan sepi. Aku segera masuk ke salah satu bilik toilet dan mulai menggaruk dengan sangat brutal, tidak ada anggun-anggunnya. Lagipula, mana ada menggaruk dengan cara anggun?
Bagian tersulit adalah bagian punggung. Dress bawahan lebar dengan panjang selutut terpaksa kubuka bagian belakang resletingnya. Segera menggaruk dengan sangat bebas tanpa penghalang. Wajahku mulai memanas dan gatal tak tertahan. Setelah gatal punggung cukup mereda, kini wajah menjadi sasaran. Bagian kanan, kiri, dan tengah mulai habis oleh guratan kuku yang lumayan panjang.
Aarrrgghh! Aku menggeram kesal.
Mengenakan dress itu kembali pada tubuhku ketika dirasa sudah cukup aktivitas garuk menggaruknya. Mendorong pintu bilik toilet, lalu keluar dari sana.
Seorang wanita cantik terlihat sedang bercermin di depan wastafel. Dari wajahnya, ia terlihat bukan orang asli Maladewa. Lebih kepada orang Asia, sama sepertiku. Wanita itu sedang memperbaiki riasannya.
Aku mendekat pada cermin besar yang sama. Menatap dalam wajahku yang tampak tidak karuan. Bayangkan saja, merah dan bentol-bentol kecil seperti terkena ular keket. Perlu ditekankan lagi, rasanya panas dan gatal. Garukan demi garukan kudaratkan lagi pada wajahku. Astaga!
Wanita cantik itu melirik sebentar, kemudian bertanya, "Do you have some allergy of something, Miss?"
Aku tersentak mendengar pertanyaannya. Perlahan menoleh kepada si empu pertanyaan. Tidak menjawabnya dan memilih balas bertanya, "How did you know ?
Wanita itu tidak menjawab, ia malah tersenyum, lalu menggeleng pelan. Dia menarik tas tangan yang ia letakkan di samping wastafel, segera mengambil sesuatu dari sana.
"I have an allergy medicine for you. Sometimes, I got an allergy like you, too." Wanita itu mengulurkan tangannya, memberikan obat kepadaku.
Aku terdiam sebentar, menghunjamkan pandangan dengan pandangan menyipit pada benda kecil itu. Sedikit takut jika harus menerima sesuatu dari orang asing. Meskipun bungkus obat terlihat familiar. Obat alergi dari Indonesia. Ehm, Jangan-jangan dia orang Indonesia. Tapi, aku seharusnya memang tidak menerima sesuatu dari orang asing, 'kan?
Wanita itu sepertinya tahu keraguanku. Dia menyunggingkan senyumnya. "Oh, i almost forget. Let me introduce my self. I am Felicia. Just call me Fely, from Indonesia." Wanita bernama Felicia itu mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman.
Aku membelalak. Bertemu dengan orang Indonesia di negeri ini sungguh sangat jarang jika bukan di musim liburan.
"Indonesia? Kamu benar-benar orang Indonesia? Kebetulan sekali … aku berasal negara yang sama denganmu." Kedua mataku membulat masih tidak percaya. Walau ia adalah orang Indonesia, wajahnya lebih terlihat seperti orang asing.
__ADS_1
Felicia mengangguk, meraih pergelangan tanganku, dan menaruh obat itu di dalam genggaman tanganku. "Terimalah. Aku tidak bermaksud jahat," katanya.
Aku mengangguk patuh, menggenggam bungkus sebutir obat alergi itu. "Terima kasih atas obatnya. Aku memang butuh ini," sahutku kemudian teringat kalau belum memperkenalkan diri, "namaku Sheryl."
Felicia tersenyum. "Senang berkenalan denganmu. Maaf, aku harus pergi. Anakku sedang menungguku," pamit Felicia kepadaku.
"Oh … baiklah. Terima kasih atas obat yang kau berikan."
Felicia tidak menjawab, dia hanya mengangguk, lalu beringsut pergi dari toilet restoran. Aku masih berdiri di depan cermin besar itu. Menghela napas panjang, seraya terus memperhatikan wajah yang sudah tidak karuan penampilannya. Tidak lama Felicia pergi, aku pun ikut keluar dari toilet.
Aku berjalan menghampiri Baruna yang terlihat masih menikmati sarapannya dengan lahap, duduk di hadapannya. Seketika, Baruna menoleh ke arahku. Tercengang melihat perubahan wajahku yang memerah dan banyak bentol terlihat.
"Astaga! Sayang, apa yang terjadi kepadamu?" tanyanya, mengusap telapak tangannya pada pipiku.
"Alergi."
"Ya ampun, Sayang. Jangan-jangan gara-gara udang ini?" Baruna terlihat sangat khawatir. "Harusnya aku tidak memesan udang untukmu."
"Syukurlah. Untung saja kamu membawanya, Sayang."
Aku segera meminum obat antihistamin itu, lalu menjawab pertanyaan Baruna, "Sebenarnya aku tidak membawanya. Ada seorang wanita baik hati memberikannya untukku."
"Orang asing?" Mata suamiku itu membelalak mendengar jawabanku.
"Dibilang asing, tidak asing juga, sih, Sayang. Orang Indonesia, cantik. Kamu harus melihatnya dan mungkin akan tergoda oleh pesona wanita itu." Aku menggoda Baruna seraya mengangkat dan menurunkan kedua alisku bergantian.
"Jadi aku diizinkan menduakanmu?" Pria tampanku malah balas menggodaku.
Seketika, aku mencebik keki. Enak saja! Dia akan pergi ke Malaysia bersama Nayara saja, aku tidak rela. Lalu, ini lagi …. Siapa juga yang mau dimadu. Iyuh!
__ADS_1
Kuambil sebuah garpu. Menancapkan satu potong daging steik yang sudah terpotong-potong olehnya dengan kekuatan ala powerpuff girls, tanpa aba-aba langsung memasukkannya ke dalam mulut Baruna. Memintanya untuk berhenti berbicara.
Baruna kontan tersedak. Dia terbatuk-batuk tidak tertahan. Aku langsung panik dan memberikannya segelas air putih untuknya. Perlahan batuknya pun menghilang.
"Ma-maaf, Sayang," kataku memperlihatkan rasa penyesalan.
Namun, kesayanganku itu tidak peduli dan malah menunjukkan wajah dinginnya. Sepertinya ia sedikit marah.
"Jangan mengulanginya. Kamu keterlaluan, Sher. Kamu yang memancing duluan, 'kan? Aku hanya mengikuti maumu saja. Kamu pikir aku tertarik dengan wanita lain setelah mengejarmu begitu lama, huh?" sahutnya seraya meletakkan garpu dan pisau dagingnya kembali di atas piring. Ia terlihat tidak mood.
Oh, Sayang! Maafkan aku.
"I-iya." Aku hanya menundukkan kepala. Merasa sangat bersalah.
Tiba-tiba saja, ia menerbitkan senyumnya di hadapanku. Sekali lagi, mengulurkan tangannya hanya untuk sekadar mengacak-acak puncak kepala di atas rambutku yang panjang.
"Ya, sudah. Selesaikan makanmu. Setelah ini, kita kembali ke kamar untuk menentukan akan pergi ke mana lagi."
"Iya," balasku dengan senyum yang sama.
Selang lima belas menit kemudian, aku dan Baruna sudah berada di dalam kamar kami. Seperti aktivitas pengantin baru lainnya, kami memadu kasih tanpa jeda sama sekali. Cukup lama di atas tempat tidur berukuran king size itu.
"Aku mencintaimu," ucap Baruna saat ia berhasil mencapai puncak kenikmatan mengantarkan benih-benih cintanya kepadaku.
Ah, apa pula itu benih cinta? Ya, pokoknya itu lah. Haruskah kujelaskan seperti yang terjadi pada bacaan orang-orang dewasa sekarang ini?
"Aku juga mencintaimu," sahutku dengan wajah lumayan memerah dan sedikit hangat, tapi bukan wajah yang diakibatkan oleh alergi. Kali ini, air muka yang memperlihatkan bagaimana kami sangat menikmat petualangan dari utara hingga selatan tubuh masing-masing.
Priaku itu segera membaringkan tubuhnya. Merentangkan kedua tangannya sesaat kemudian menoleh kepadaku.
__ADS_1
"Sayang, kamu ingin anak perempuan atau anak laki-laki?" tanyanya begitu serius seraya terus mengusap perutku dengan telapak tangannya.