
Reynand Pov
"Aaaa!" Mama berteriak lantang. Aku membanting setir untuk menghindar, lalu menginjak rem mendadak. Mama yang duduk di sampingku terdorong ke depan. Untungnya sabuk pengaman dapat menahan tubuhnya hingga ia tak terluka.
Napasku seketika memburu. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Terkejut. Hampir saja kami mengalami kecelakaan. Sebuah mobil sedan hitam dengan kecepatan tinggi melaju dari arah lain berusaha menerobos lampu merah lalu lintas. Untung saja, mobil itu berhenti di saat yang tepat.
"Mama tidak apa-apa?" tanyaku khawatir.
"Untungnya tidak. Astaga! Siapa yang berani mengebut di dalam cuaca seperti ini?!" kesalnya.
Aku tak menyahut, melainkan segera mengarahkan pandanganku ke mobil sedan yang berhenti di tengah-tengah itu. Seperti tak ada kehidupan. Sang pengemudi tidak juga keluar dari dalam mobil. Bunyi klakson mobil pun mulai terdengar bersahutan.
Apa yang terjadi? batinku bertanya-tanya. Ada perasaan dan rasa ingin tahu yang sangat mendalam.
Aku segera mengambil sebuah payung dari jok belakang. Mama yang melihat tindakanku pun bertanya, "Mau ke mana, Rey?"
"Sepertinya ada sesuatu yang tak beres. Aku akan melihat situasi di sana," jawabku.
"Tapi pesawatnya …." Mama berusaha mencegah. Matanya sontak melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Sebentar saja, Ma," kataku yang segera membuka payung berjalan keluar menghampiri.
Beberapa pengemudi yang merasa terhalang jalannya terlihat keluar dari mobil mereka, menyuruh sang pengemudi mobil hitam untuk cepat-cepat meneruskan perjalanannya.
"Hei! Apa kau buta? Cepat lajukan kendaraanmu!" teriak salah satu dari mereka.
Aku yang berada di sana pun ikut membaur. Kuputuskan untuk mengetuk jendela berkaca tak tembus pandang di depanku. Tak lama kemudian kaca jendela itu bergerak turun. Pandangan mataku membeliak melihatnya. Sesosok wanita yang kukenal menolehkan wajahnya kepadaku.
"Rey …," katanya lirih dengan bibir yang tampak gemetar berhiaskan air mata yang jatuh menggelinang dari kedua sudut matanya.
"Astaga! Sheryl!" Aku terkesiap melihat keadaannya yang tampak menyedihkan.
"Rey, maafkan aku …," katanya lagi. Air mukanya menunjukkan sebuah kesedihan dan penyesalan yang luar biasa.
Aku tak tahu apa yang ia maksud. Namun melihat banyaknya orang mengarahkan pandangan jengkel ke arah kami, sontak membuatku ingin segera membantunya.
"Bisa keluar?" tanyaku yang tak sabar ingin membantunya.
Perlahan Sheryl menurunkan kedua kakinya. Namun saat ia akan berdiri, tubuhnya limbung. Untungnya aku yang berada di samping Sheryl langsung menahan tubuhnya.
"Kakiku lemas," katanya tanpa menungguku bertanya.
__ADS_1
"Tak apa-apa. Aku akan membantumu berjalan." Pelan-pelan, aku segera memapah dirinya berjalan ke kursi belakang penumpang. "duduklah dengan tenang," perintahku dan ia hanya menganggukkan kepalanya patuh.
Aku mengambil alih kemudi, menyusul mobilku yang terdiam menepi di pinggir jalan, lalu berhenti tepat di depan mobilku.
"Apa yang terjadi? Mengapa kau tampak sedih dan kacau seperti tadi?" tanyaku seketika menoleh ke belakang.
"Rey, aku sudah mengingatnya," ujar Sheryl dengan nada datar.
"Ingatanmu sudah kembali?" Aku mencoba menegaskannya lagi.
Sheryl mengagguk. Namun ia malah meluruhkan air matanya kembali. Melihatnya membuatku mengembus napas berat. Sontak keluar dari mobil dan beralih duduk di sampingnya.
"Aku paling benci melihatmu lemah seperti ini!" ucapku bernada protes.
"Rey, aku merasa akan menjadi gila. Situasi ini benar-benar di luar kendaliku. Baruna tak mengerti kalau aku tidak bisa menerima anak itu. Dia malah... malah benar-benar membawa mereka ke dalam rumah dan kehidupan kami." Di sela-sela tangisnya dia menumpahkan isi hatinya.
Melihatnya begitu frustrasi membuatku langsung memeluk Sheryl untuk menenangkannya. Lagi-lagi dirinya terisak dalam pelukanku.
Tak beberapa lama aku memeluknya, tiba-tiba saja terdengar tiga kali suara ketukan dari luar. Sheryl langsung mendorongku menjauh. Wajahnya memucat mengarahkan pandangan ke belakangku.
"Ada apa?" Aku membeliak bertanya.
"Ibumu."
Aku segera menoleh ke belakang. Mama menatapku geram. Walau hujan masih belum juga reda, aku segera membuka pintu untuk keluar dan menemuinya.
Mama berkacak pinggang seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya hampir keluar melotot menatapku. "Bagus, ya! Kau menyuruh Mama menunggumu untuk berpelukan dengan istri Baruna?!"
"Mama, jangan marah dulu. Aku bisa menjelaskannya," kataku berusaha meredakan amarahnya.
"Penjelasanmu tak akan pernah masuk dalam logika Mama, Rey! Ini sudah jam berapa? Kau akan membuat jadwal kita berantakan." Mama menunjuk waktu pada arlojinya yang menunjukkan waktu pukul sebelas siang. Sementara pesawat kami satu jam lagi akan segera berangkat.
Mendengar perkataan Mama membuatku serba salah. Di satu sisi aku tidak mau mengecewakan Mama. Tapi di sisi lain aku juga tak ingin meninggalkan Sheryl di situasi seperti ini.
"Mama, aku tak bisa meninggalkan Sheryl," kataku.
"Haish! Bukankah kau bilang kau sudah menyerah karena dia menolakmu?!" Nada suara Mama meninggi.
"Tante, aku akan segera pergi." Tiba-tiba suara Sheryl terdengar di telingaku. Seketika aku menoleh. Dirinya berdiri kehujanan di seberang kami. Air mukanya tampak berubah lebih tenang.
"Dengar, Rey? Dia memutuskan untuk pergi sendiri. Kau jangan sok-sok an menjadi pelindungnya sekarang," sahut Mama memandang Sheryl begitu dingin.
__ADS_1
Aku tak bisa menjawab. Benar-benar bingung berada di antara kedua wanita yang kucintai ini. Namun Sheryl yang seolah ingin menegaskan sikapnya segera membuka pintu kemudinya.
"Sheryl, setelah ini kita harus berbicara!" teriakku kepadanya. Namun dia tak menanggapinya. Ia bergegas masuk ke mobilnya.
Tak lama, sebuah notifikasi pesan chat masuk ke layar ponselku.
[Aku baik-baik saja. Kau tidak usah mengkhawatirkanku. Maaf telah membuatmu susah.]
Setelah membaca pesan chat itu, mobil Sheryl segera melaju meninggalkan kami. Meninggalkan perasaan menggantung di dalam hatiku.
***
Sheryl Pov
Bagaimana aku harus bersikap kali ini? Aku sangat malu menatap wajah Reynand. Tindakannya yang selalu memberikan pelukan secara tiba-tiba membuat ingatanku kembali melayang pada ciuman terakhir kami.
Sial! Aku terjebak dalam perasaan yang sama seperti saat itu. Walau dalam kondisi amnesia, aku bahkan tak pernah bisa menolaknya. Aku benar-benar membenci diriku sendiri. Bagaimana dengan Baruna? Apa kecurigaanku atas hubungannya dan Felicia hanyalah sebuah khayalan saja demi membenarkan sikapku? Jika begini, apakah aku berada di pihak yang salah? Tidak, Sheryl! Aku harus menegaskannya kembali. Reynand tak boleh masuk lagi dalam hubungan kami.
Dengan cepat aku meraih ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana.
[Aku baik-baik saja. Kau tidak usah mengkhawatirkanku. Maaf telah membuatmu susah.]
Setelah mengirim pesan chat itu. Mobilku melaju pergi meninggalkan mereka.
Perasaanku tak enak saat menjejakkan kaki di gedung Asyraf Corp. Meski semua orang yang melihatku menyapa dan memberikan senyum kepada istri presdir mereka. Aku tak tenang sama sekali. Banyak pikiran buruk yang memenuhi otakku.
Lift yang membawa berhenti di lantai ruang kerja suamiku. Degup jantungku terus bertalu-talu tak menentu. Aku sudah mengingat semuanya, tapi tak tahu bagaimana harus bersikap kepadanya setelah ini. Meski kecewa kepada Baruna, aku benar-benar sudah membuat ia merasa tak berharga sebagai seorang suami dalam masa amnesiaku.
Saat melintas, di sana tak tampak sekretaris Baruna. Aku berdiri ragu di depan pintu. Sudah lama tidak datang. Apakah aku harus mengetuk pintunya dahulu? Ini terasa seperti pertama kalinya dalam hidupku.
Setan mana yang berbisik sangat jelas? Dia memberitahuku untuk langsung meraih gagangnya dan membuka dengan cepat. Dan benar saja, pintunya sama sekali tak terkunci.
Hening. Tak ada siapapun di sana. Namun rasa penasaran membawaku berkeliling mencari Baruna.
"Sayang," panggilku mencarinya ke dalam toilet, tapi toiletnya kosong.
Di mana dia?
Mataku mengarah pada salah satu pintu. Ruangan yang sangat pribadi yang masih berada dalam satu kawasan ruang kerjanya. Tempat di mana suamiku akan beristirahat jika ia sangat lelah dalam bekerja, tapi tak bisa pulang karena suatu hal.
Perlahan, aku meraih gagang pintu dan membukanya. Suatu pemandangan menyakitkan terpampang hingga membuatku ingin mati saat itu juga.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan?" Aku bertanya dengan suara tertahan. Sesak menyaksikan kedua orang yang kucurigai sedang berciuman di atas tempat tidur tanpa sehelai benang pun di tubuh mereka.