
Drrt-drrt-drrt!
Ponselku bergetar di atas meja. Benda kecil itu mengganggu rapatku dengan para petinggi perusahaan sore itu. Aku melirik sejenak, sebuah panggilan dari Indira menunggu untuk dijawab olehku. Sontak aku mengabaikannya karena rapat ini begitu penting membahas tentang anjloknya harga saham kami sebagai akibat dari tindakan kriminal yang dilakukan oleh salah seorang dari keluarga Mahardika.
Aku menghela napas panjang. Seharusnya aku tidak perlu ikut rapat ini. Aku masih trauma membahasnya. Satya kini sudah berada dalam tahanan.
Dua panggilan tidak terjawab, notifikasi yang tertera di layar ponselku. Aku bangkit dari tempat dudukku, berjalan ke luar ruangan. Aku menelepon kembali Indira
"Sher, gue di lobi kantor lo nih."
"Ngapain?"
"Kangenlah! Mau ketemu lo enggak boleh, nih?"
"Boleh, tapi gue lagi rapat, Dir."
"Sebentar aja, please!"
"Oke, gue turun."
Aku berjalan keluar ruangan menuju lobi. Tampak ibu hamil itu sedang duduk bersandar menunggu di sebuah sofa panjang. Aku pun menghampirinya.
"Ada apa, Dir?"
Dira spontan memelukku tanpa kata-kata. Aku melihatnya bingung. Ada apa dengannya?
"Syukurlah lo selamat! Gue baru tahu dari Kak Rey kalo lo diculik dua hari yang lalu."
"Oh ... Pak Rey menceritakannya?" sahutku datar.
"Iya Sher. Gue sangat bersyukur mempunyai Kakak seperti dia," ucapnya.
"Kakak atau mantan pacar?" ledekku.
Dira melepaskan pelukannya, "Jangan meledek deh. Itu kan udah lama, Sher." Indira memanyunkan bibirnya marah.
"Jadi marah, nih? Kalau marah gue tinggal ya. Masih banyak kerjaan soalnya." Aku melihat jam tanganku.
"Eits ... jangan dulu. Gue mau minta tolong sama lo." Indira menarik tanganku.
"Hari ini nyokap gue ulang tahun. Bantuin gue ya bikin kue ulang tahun buat nyokap."
Aku menepuk jidatku sendiri, berkata, "Dira, lo enggak usah ngeledek gue. Bikin kopi aja gue baru bisa sebulan lalu. Ini malah disuruh bantuin lo bikin kue, yang ada bukan jadi adonan kue, tapi jadi adonan aspal."
"Hahaha ... kocak juga lo, Sher." Indira tertawa. "Sebenernya, gue butuh temen cerita sih. Lo tahu kan kalau gue gak punya temen."
"Nah,kalau alasannya itu baru bener. Tapi nanti ya pulang kerja."
"Siap," jawab Indira.
__ADS_1
Aku bangkit dari dudukku. Melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Satu jam lagi waktunya pulang.
Aku mengambil ponselku. Membuat panggilan untuk Kak Baruna. Dia belum menghubungiku sejak tadi pagi. Akhirnya dia menjawab panggilanku.
"Ada apa, sayang?"
"Kamu tidak merindukanku ya? Sejak tadi tidak menghubungiku sama sekali."
"Tentu saja aku rindu. Aku baru selesai sayangku. Baru juga mau telepon, sudah keburu ditelepon olehmu."
"Iya deh. Oh iya, pulang kerja aku mau ke rumah Indira. Dia mengajakku membuat kue ulang tahun untuk mamanya. Kamu mau ikut tidak?"
"Tidak usahlah. Nanti kujemput saja."
"Ya sudah. Nanti aku kabari kalau sudah mau pulang."
"Iya, kamu hati-hati di jalan."
"Iya sayang."
Tidak terasa waktu jam pulang kantor telah tiba. Aku dan Indira sudah berada di dalam mobilnya. Seorang supir mengantar kami. Jalanan sore itu tidak terlalu macet. Kami tiba lebih cepat dari dugaan.
Tapi, hei ... ini bukan rumah Indira. Rumah siapa ini?
Aku menoleh ke arah Indira, memandangnya gemas, "Dira, lo bawa gue ke mana? Bukannya kita mau ke rumah lo?"
Aku mengangguk.Indira hanya tersenyum. Kami berdua lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Rumah Tante Aina artinya rumah Pak Reynand. Bagaimana kalau Kak Baruna tahu aku ke sini? Dia pasti tidak akan memperbolehkanku pergi.
Indira berjalan masuk ke kamar Tante Aina. Aku mengikutinya dari belakang. Tampak wanita itu sedang bersandar di tempat tidurnya.
"Mama!" Indira memeluk mesra Tante Aina.
Aku berdiri di belakangnya menenteng tas belanjaan. Tante Aina mengerlingkan matanya ke arahku. Dia sedikit tersenyum.
"Sheryl," ucapnya.
"I-Iya, Bu." Aku menghampirinya menundukkan kepala bersalaman.
"Ada angin apa kalian datang ke sini?" tanya Tante Aina.
"Kami mau membuat kue ulang tahun untukmu, Ma," jawab Indira manja.
"Ya sudah buatkan yang enak ya," jawab Tante Aina.
"Of course, Mom**!"
Aku dan Indira keluar dari kamar menuju dapur. Indira mulai sibuk membuat adonan kue. Aku ikut membantunya memecahkan beberapa telur. Tapi karena tidak bisa, beberapa telur gagal kupisahkan dari kuningnya.
__ADS_1
"Sheryl, tadi gue bilang apa?"
"Iya, lo butuh temen cerita," sahutku.
"Nah, makanya itu lo duduk aja di bangku itu." Indira menunjuk sebuah bangku bar. Menyuruhku untuk duduk saja di situ.
"Enggak enak dong nontonin lo bikin kue," tolakku.
"Kalau enggak enak jangan dimakan," jawab Indira asal.
"Huuu," sorakku.
Indira tertawa lalu tiba-tiba dia bertanya, "Menurut lo, Kak Rey orangnya gimana?"
"Pak Reynand?"
"Iya. Lo pikir siapa lagi?"
"Kaku, mirip kanebo kering," jawabku singkat. "Kenapa lo nanya pendapat gue? Yang lebih kenal dia kan lo, Dir."
"Cuma iseng aja. Coba lo belum tunangan sama Baruna, gue jodohin lo sama dia," ujar Dira.
"Maksud lo?"
"Ah enggak apa-apa. Gue cuma asal oceh aja, Sher. Gue doain pernikahan lo sama Baruna lancar. Amin."
"Amin. Terima kasih ya, Dir."
Sepertinya tadi Dira bilang ingin menjodohkanku dengan kakaknya. Aku tidak salah mendengar, kan**?
Tiba-tiba ada suara langkah kaki terdengar semakin kencang berjalan menuju dapur. Aku menoleh ke belakang. Pak Reynand berdiri di belakangku masih mengenakan kemeja kerjanya.
"Sore Pak!" sapaku.
"Hmm ... sore." Dia berjalan mengambil gelas dari dalam rak dan menuangkan air putih ke dalamnya.
"Hai Kak! Hari ini bagaimana pekerjaannya? Lancar?"
Pak Reynand tidak membalas sapa Indira, dia meminum segelas air putih itu sampai habis tidak bersisa. Lalu menambahnya lagi hingga dua gelas. Dia seperti seseorang yang baru saja tersesat di gurun yang panas.
"Haus sekali kelihatannya. Panas sekali kah di luar?" Indira menengok ke luar jendela, tapi hujan deras sedang turun mengguyur halaman rumahnya.
Aku memperhatikan tingkah Pak Reynand yang aneh itu dengan tatapan bingung. Suasana menjadi hening seketika.
Indira yang melihat kami lalu berusaha memecah keheningan, menggoda sang kakak dengan mengoles whip cream ke hidung kakaknya itu sambil tertawa.
Pak Reynand yang terkejut atas tingkah sang adik langsung tertawa dan membalas adiknya, mengoles whip cream ke pipi gembil adiknya. Aku yang memperhatikan mereka hanya tersenyum menahan tawa.
Tiba-tiba Pak Reynand menghampiriku mengoles whip cream lembut itu tepat di bibirku. Dia sontak berhenti tertawa dan mengambil sehelai tisu, cepat-cepat membersihkan sisa whip cream itu dari bibirku.
__ADS_1