
Upacara pemakaman berlangsung pada malam hari. Suasana berkabung cukup ramai dihadiri para sanak keluarga, sahabat, relasi, dan rival perusahaan. Mereka juga sangat mencintai dan menyegani sosoknya yang cukup hebat menjadi panutan dalam berkeluarga dan berbisnis.
Aku mengerlingkan mataku melihat ke arah Om Anton dan Tante Meri yang diam terpaku melihat orang tua satu-satunya telah pergi meninggalkan mereka. Pak Reynand dan keluarganya juga hadir dengan pakaian serba hitam. Tante Aina terlihat sedih. Dia sesekali menyeka bulir air matanya yang jatuh. Pak Reynand hanya diam merangkul ibunya sepanjang upacara. Indira dan suaminya ikut diam seribu bahasa melihat peti yang sedikit demi sedikit diturunkan masuk ke liang lahat.
Keluargaku, mereka juga datang menatap pilu ke arah liang lahat yang masih baru itu. Sedangkan aku, masih berdiri di samping Kak Baruna yang terdiam sejak tadi. Dia terus menggenggam tanganku erat. Tidak memperkenankanku pergi jauh darinya barang sebentar saja.
Tidak lama upacara pemakaman itu pun selesai. Kami pun bergegas berbalik arah meninggalkan tempat pemakaman itu.
Kak Reza menghampiri kami yang berjalan lebih dahulu di depannya. Dia memanggil Kak Baruna, "Bar!"
Kak Baruna menoleh ke arahnya. Raut wajah yang tadinya sendu berubah menjadi sedikit tegang saat melihat wajah kakakku itu.
"Ada apa?!" tanyanya ketus.
"Lo masih kesel sama gue?"
"Menurut lo?"
Mereka saling melontarkan pertanyaan tanpa jawaban yang pasti. Aku melihat wajah mereka secara bergantian, bingung.
"Ada apa, sih?" tanyaku menyela pembicaraan mereka.
"Sayang, kamu bisa masuk duluan ke mobil," ucap Kak Baruna sambil menoleh ke arahku serius.
"Kenapa? Apa kalian merahasiakan sesuatu dariku?" tanyaku lagi penuh selidik.
"Tidak," sahut Kak Baruna singkat.
"Lalu mengapa aku harus menunggumu di mobil?"
"Baruna lebih tahu apa yang dia katakan, Dek. Dia calon suamimu," jawab Kak Reza tidak kalah serius.
Kak Baruna tidak menjawab apa-apa. Aku segera menurut masuk ke dalam mobilnya walaupun di dalam hati terus bertanya-tanya mengapa.
Aku duduk di samping kemudi. Menatap mereka berdua yang berbicara serius lewat dinding kaca depan mobil.
Aku tidak pernah melihat mereka seserius ini.
Aku terus memperhatikan mereka yang sedang berbicara serius tanpa mendengar satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Tidak lama Kak Reza lalu pergi meninggalkan Kak Baruna.
Kak Baruna bergegas masuk ke dalam mobil. Aku menoleh ke arahnya dengan wajah masam. Dia yang mengetahui kekesalanku menunggu lalu ikut menolehkan wajahnya memandang wajahku. Jari jemarinya terulur menyentuh kening sampai ke bibirku.
__ADS_1
"Senyumlah. Jika bibirmu yang indah ini sedang cemberut, menjadikanku makin tidak sabar ingin segera memilikinya."
"Senyumku tidak bisa dipaksa. Aku sedang kesal padamu!" protesku.
Apa dia tidak mengerti jika aku sedang marah? Kenapa malah meledekku seperti itu?
Kak Baruna lalu tersenyum memandang dan membalas, "Tidak perlu kamu beritahu pun, aku sudah tahu wajah marah yang sedang kamu tunjukkan."
"Mengapa aku diabaikan dan terlihat tidak boleh ikut mendengar apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada yang serius, sayang. Percayalah!"
"Bagaimana bisa aku percaya hal itu? Kalian sangat serius membahas sesuatu."
"Ayo kita pulang ke rumahku dulu," ajaknya mengalihkan pembicaraan. Dia segera menjalankan mobilnya. Aku tidak menjawab ajakannya dan masih terus menggambarkan wajah kesal.
Mobil melaju dengan cepat. Setengah jam kemudian kami sudah sampai di kediaman Kak Baruna. Dia membukakan pintu mobilnya dan mengulurkan tangannya untukku. Perlakuannya padaku sangat manis walau kami sedang bertengkar saat ini.
"Sudahlah, jangan marah lagi. Aku dan Reza hanya sedang membicarakan masalah pekerjaan."
"Aku tidak percaya," kataku memalingkan wajah.
"Ya sudah." Kak Baruna mengatakan hal yang membuat keningku mengernyit. Dia tidak biasanya langsung menyerah merayuku.
Kak Baruna menoleh sejenak ke arah Pak Reynand dan kedua orangtuanya lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Aku menyusul langkah cepatnya ikut masuk ke dalam kamar.
Tiba-tiba dia memutar tubuhnya melangkah mendekat dan menarikku masuk ke dalam pelukan. Mendekatkan wajahnya di depan wajahku, menarik tengkuk leherku dengan tiba-tiba, dan dengan sigap mencium bibirku dengan sempurna. Begitu lembut membuat dadaku terasa bergemuruh. Terus melumatnya hingga wajahku memerah dan memanas. Aku pun membalas ciumannya dengan hal yang sama.
Tok-tok-tok!
Terdengar ketukan pintu kamar Kak Baruna yang terdengar dari luar. Namun kami mengabaikan bunyi ketukan tersebut. Begitu lama suara ketukan terdengar, si pengetuk pun jadi tidak sabar segera membuka pintu yang kebetulan memang tidak terkunci.
Dia terdiam sejenak menyaksikan kami yang sedang bermesraan di depan matanya. Aku membelakangi dirinya, tidak memedulikan siapa yang masuk, masih dengan sikap saling mencurahkan rasa sayang yang membuncah.
"Maaf .... Ehm .... Gue disuruh Tante Meri untuk panggil kalian ikut makan malam bersama," ucap si pengetuk pintu. Suaranya sangat kukenal, suara berat Pak Reynand yang terdengar sedikit ragu. Aku mencoba menengok ke belakang memastikannya.
Kak Baruna membulatkan mata melihat wajah rivalnya, tidak segera melepas ciumannya kepadaku. Dia juga tidak membiarkanku melihat wajah saudaranya itu. Hanya tiga detik, Pak Reynand kembali bergegas menutup pintu kamar.
Aku menarik diriku, melepas ciuman kami yang masih menyisakan degupan jantung yang saling memburu serta napas yang masih belum teratur.
"Kenapa?" tanyanya bingung saat aku melepaskan bibirnya dari bibirku.
__ADS_1
"Tidak ada. Kita harus menyusul untuk makan malam."
"Tidak, raut wajahmu tidak mengatakan hal itu. Kamu berhenti menciumku karena mendengar suaranya, 'kan?" tanyanya menuduh.
"Tidak, sayang," jawabku meyakinkan.
"Aku melihat wajahmu mengatakan hal lain."
"Tidak, sayang," jawabku meyakinkannya lagi.
Kak Baruna kembali menciumku. Kali ini dia menyentuh dan melumatnya dengan kasar lalu terus menjelajah menuruni leher. Tangannya pun mulai ikut menjelajah masuk ke balik pakaianku secara tiba-tiba.
Aku sangat terkejut dengan sikapnya yang berbeda. Terlihat sangat agresif, membuatku tidak nyaman atas tindakannya. Aku segera menarik diriku lepas dari pelukannya. Dia terdiam memandangku.
"Kenapa kamu tidak mau, sayang? Jika Reynand yang melakukan hal seperti ini apakah kamu akan menolak juga?" tanya Kak Baruna dengan sinis. Kemarahan terlukis di wajahnya.
Aku mengepalkan kedua tanganku marah, lalu berbalik arah keluar kamar. Kak Baruna hanya memandang punggungku yang pergi berlalu tidak berkata apa-apa.
Brak!
Aku menutup pintu kamar dengan emosi. Hatiku sakit dituduh yang tidak-tidak olehnya. Semua yang terjadi bukan mauku sama sekali. Aku berjalan meninggalkan tempat itu.
"Sheryl!"
Terdengar suara Pak Reynand memanggilku dari belakang. Aku memejamkan mata sejenak gemas. Dia selalu ada di mana-mana.
Mengapa dia belum pergi dari sini?
Langkahku terhenti, segera menengok ke belakang. Tampak sosok Pak Reynand belum beranjak dari samping pintu kamar Kak Baruna.
"Ada apa?!" tanyaku dengan suara keras sekaligus marah menatap wajahnya.
Dia melangkah mendekatiku.
"Stop! Cukup sampai situ. Tolong jaga jarak satu meter dari saya!" perintahku setengah berteriak.
Langkah Pak Reynand terhenti. Dia memandang wajahku bingung.
"Saya tidak ingin tunangan saya salah paham pada Bapak," tambahku. "Jika ada yang ingin dikatakan, silakan Bapak katakan sekarang."
"Maaf," ucapnya pelan.
__ADS_1
Pak Reynand hanya mengatakan kata itu lalu pergi meninggalkanku sendiri. Kini gantian aku memandang punggungnya pergi perlahan menjauh. Sedikit rasa sesal menggelayut dalam pikiranku karena telah membentaknya.