Marriage Order

Marriage Order
S2 You Are The Best Part


__ADS_3

Mataku mengerjap. Perlahan membuka mata penuh. Menoleh ke samping kiriku. Baruna sudah tidak ada di sana. Aku melihat sekeliling. Kosong.


Pintu kamar mandi terbuka. Suamiku itu keluar memakai handuk kimono. Rambut tebalnya basah. Seperti biasa menyunggingkan sebuah senyuman hangat yang membuatku tidak berdaya. Meleleh.


"Sudah bangun?" tanyanya lembut sambil mendudukkan diri di tepi ranjang.


"He-em," jawabku malu.


"Aku takut membangunkanmu. Sepertinya kamu lelah sekali, Sayang," katanya sambil menahan tawa.


"Kamu mengerjaiku sampai begitu larut malam. Bagaimana bisa aku tidak kelelahan?" Lagi-lagi wajahku terasa hangat. Rona merah mungkin sudah menguasainya sekarang.


"Ha-ha-ha. Kamu tidak suka?"


Aku menggeleng. Kemudian menatapnya, "Sangat menyukainya. Aku makin mencintaimu."


"Aku pun tidak pernah lelah mencintaimu. Mau sampai kapan di atas tempat tidur? Sekarang sudah jam enam pagi. Kita akan pergi berbulan madu, bukan?"


Aku menarik diriku yang masih berselimut bed cover berwarna keemasan, lalu duduk di atas ranjang. Menatap matanya yang teduh penuh kelembutan. "Aku masih lemas. Berangkat honeymoon-nya nanti sore saja."


Baruna mengangkat kedua sudut bibirnya. Dia mengulurkan tangannya mengacak-acak puncak kepalaku.


"Ya sudah, apa katamu saja. Sekarang, mandi dulu agar tubuhmu segar, atau kamu mau kumandikan lagi?" tanyanya menggoda.


"Ti-tidak usah," sahutku sontak berdiri, lalu berjalan ke kamar mandi sambil berlari-lari kecil.


"Sher," panggil Baruna. Namun aku tidak menghiraukannya. Terus berjalan menuju kamar mandi.


Apa yang terjadi padaku? Aku jadi gugup begini berhadapan dengannya. Malu.


Aku berdiri di depan cermin wastafel. Memandang wajahku yang memerah. Jantungku berdebar-debar tidak karuan rasanya. Kemudian seulas senyum hadir di wajahku.


Terima kasih karena sudah menerimaku apa adanya. Terima kasih juga karena sudah memberikanku cintamu sepenuhnya. Aku tidak tahu jika saat itu kita tidak kembali bersama, apa aku masih bisa bahagia seperti saat ini.


Ini seperti mimpi. Aku benar-benar tidak percaya kami telah melakukannya semalaman suntuk. Kamu adalah bagian terbaik dalam hidupku. Aku berjanji akan selalu mengabdi kepadamu dengan seluruh jiwaku, Baruna.


****


Baruna PoV


Aku melihatnya masuk ke dalam kamar mandi sambil berlari-lari kecil. Bahagiaku begitu menggebu di dalam jiwa. Senyumku mengembang seketika. Merasakan begitu kami saling mencintai dan sudah melakukan penyatuan semalam suntuk.


Aku sangat mencintaimu, Sheryl. Maaf, jika aku sempat meragukan cintamu. Maaf, karena aku sempat melepasmu. Namun, di hari ini dan di detik ini juga aku berjanji, akan terus melindungimu di setiap napasku dan terus membahagiakanmu seiring detak jantungku. Menjadikanmu sebagai ratu di hatiku selamanya.


Tak pernah kuduga, jika takdir kami sudah tertulis begini adanya. Aku pikir kami sudah tidak bisa lagi untuk bersatu. Namun, ternyata Tuhan masih berbaik hati. Sempat ingin melepasmu dengan keikhlasan cinta, tapi ternyata semesta tidak merestuinya.


Sungguh, aku juga tidak akan pernah melupakan kebaikan hati Reynand yang melepaskanmu untukku. Hubungan kami sudah membaik. Bahkan dia benar-benar memposisikan dirinya seperti kakak kandungku sendiri.


Aku menghela napas panjang. Bangkit berdiri dan mengambil setelan pakaian dari dalam lemari. Sebuah kemeja berwarna abu-abu dan celana chino berwarna putih kupilih untuk kupakai. Kemudian mendudukkan tubuh di atas sofa sambil memainkan ponsel.


Kling!


Mataku melirik sebuah notifikasi pesan dari Bunda dengan isi pesan menggoda.


"Pengantin baru, sudah bangun belum? Kalau sudah, kita sarapan bersama dulu."


Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum kecil membaca pesan ibu kandungku itu. Segera kubalas pesannya.


"Aku sedang menunggu Sheryl mandi, Bun. Nanti kami turun ke bawah bersama."


Kling!


Pesan balasan dari Bunda.


"Kami tunggu di restoran. Jangan sampai telat. Bukankah kamu akan segera pergi pagi ini juga?"


Aku segera menelepon Bunda. Nada sambung terdengar sebentar. Suaranya sudah terdengar begitu hangat.


"Bun, sepertinya kami akan berangkat sore hari. Masih lelah rasanya akibat pesta kemarin."


"Lelah pesta atau yang lain?" tanyanya menggoda kembali.


"Ha-ha-ha. Bunda juga pernah muda, bukan? Jangan membuat anakmu malu dengan mengatakan hal seperti itu," sahutku malu.


"Tidak apa, Nak. Nikmatilah masa-masa ini. Karena kita tidak tahu sampai kapan kita akan bersama dengan pasangan kita nantinya. Semoga hanya maut yang dapat memisahkan kalian. Bunda selalu memanjatkan doa yang terbaik untuk kamu dan Sheryl. Mudah-mudahan kalian segera memberikan kami cucu yang cantik dan tampan." Bunda berdoa untukku.


"Amiin. Kami masih bahagia sampai saat ini. Kami pun akan masih terus bahagia sampai maut memisahkan," jawabku.

__ADS_1


"Iya, Nak. Bunda selalu dukung yang terbaik untukmu. Jangan lupa sarapan, ya."


"Iya, Bun."


Aku mengakhiri panggilan. Kemudian memainkan ponselku kembali. Cukup lama sampai akhirnya Sheryl keluar dari kamar mandi. Handuk kimono berwarna merah muda itu tetap menampakkan lekuk tubuhnya yang menggoda. Senyum malu-malu masih tampak di wajahnya. Mataku tidak lepas dari gerakan istriku itu.


Dia menyadarinya dan menghampiriku. Membungkuk seraya memandang wajahku. Irisnya yang berwarna coklat menatap manja seraya menarik kedua sudut bibirnya hingga menunjukkan seulas senyuman.


"Matamu begitu genit melihatku. Apa kamu sedang berpikiran mesum?"


"Tidak. Aku hanya sedang mengagumi ciptaan Tuhan di hadapanku. Wajahnya begitu cantik dengan tubuhnya yang menggoda," kataku seraya menahan tawa. Hanya dengan melihatnya berbalut handuk kimono itu membuatku kembali berhasrat.


"Kamu genit sekali," sahutnya ikut menahan tawa.


"Biarkan mataku genit pada istriku sendiri. Aku tidak akan menyia-nyiakanmu barang sedetik pun." Aku menariknya hingga duduk di pangkuanku. Memandang wajahnya dengan jantung yang terus berdebar tidak karuan.


Sheryl balas memandang dengan sorot matanya yang penuh rasa cinta. Kami kembali berciuman mesra. Begitu lama dan menggebu. Rasanya penyatuan semalam belum sepenuhnya terbayar. Aku masih ingin lagi dan lagi. Hanya dengannya. Bahagia bersamanya.


Akhirnya jadwal sarapan kami terundur. Seakan belum puas bersatu dalam rengkuhan cinta semalam, aku dan dia kembali memadu kasih di tempat yang menjadi saksi awal penyatuan cinta ini.


Satu jam kemudian, aku dan dia berbaring di atas ranjang dengan tubuh yang sama-sama polos. Aku merengkuhnya masuk ke pelukanku. Mengecup dahi dan puncak kepalanya berkali-kali.


"Sayang, aku lapar," katanya.


"Kita sarapan di kamar saja, ya," sahutku.


"Aku tidak enak dengan keluarga kita yang sudah menunggu dari tadi."


"Mereka akan maklum pada pengantin baru," sahutku sambil memandang wajahnya.


"Kamu begitu bersemangat membuat tubuhku remuk redam."


"Kamu berlebihan. Aku masih punya setengah kekuatan untuk melahapmu lagi."


"Apa kamu begitu lama menahannya?"


"Iya, lama sekali. Menunggumu tidak menjaga jodoh orang lain lagi," jawabku tersenyum.


"Ha-ha-ha. Aku tidak tahu bagaimana rasanya. Pasti lelah."


"Tidak, karena akhirnya kamu menjadi milikku seutuhnya," pungkasku seraya menatap lembut wajahnya.


Oh, ey


You don't know, babe


When you hold me


And kiss me slowly


It's the sweetest thing


And it don't change


If I had it my way


You would know that you are


You're the coffee that I need in the morning


You're my sunshine in the rain when it's pouring


Won't you give yourself to me


Give it all, oh


I just wanna see


I just wanna see how beautiful you are


You know that I see it


I know you're a star


Where you go I follow


No matter how far

__ADS_1


If life is a movie


Oh you're the best part, oh oh oh


You're the best part, oh oh oh


Best part


It's the sunrise


And those brown eyes, yes


You're the one that I desire


When we wake up


And then we make love


It makes me feel so nice


You're my water when I'm stuck in the desert


You're the Tylenol I take when my head hurts


You're the sunshine on my life


I just wanna see how beautiful you are


You know that I see it


I know you're a star


Where you go I follow


No matter how far


If life is a movie


Then you're the best part, oh oh oh


You're the best part, oh oh oh


Best part


If you love me won't you say something


If you love me won't you


Won't you


If you love me won't you say something


If you love me won't you


Love me, won't you


If you love me won't you say something


If you love me won't you


If you love me won't you say something


If you love me won't you


Love me, won't you


If you love me won't you say something


If you love me won't you


If you love me won't you say something


If you love me won't you


Love me, won't you


End season 2

__ADS_1


Bertemu lagi di season 3


______________________________


__ADS_2