
Reynand Pov
Deg!
Mataku sontak membelalak mendengar perkataan Sheryl yang sedang berada dalam kondisi sangat kacau ini. Bagaimana bisa ia tidak mengingat suaminya, dan malah menganggapku adalah tunangannya?
Entah harus senang atau sedih menanggapi pertanyaan Sheryl. Sungguh! Aku berada di tengah-tengah perasaan itu. Pada kenyataannya, aku juga tak bisa sembarangan menjawab pertanyaan itu sebelum dokter menjelaskan kondisinya saat ini.
Aku membalas tatapan mata serius Sheryl dengan garis senyum yang terpaksa kulakukan. "Sheryl, sebaiknya kau beristirahat dulu, dan jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak bisa menjawabnya sebelum dokter mengatakan sesuatu tentang kondisimu."
"Tapi Pak Rey, saya ...." Sheryl tampak tak setuju.
Aku kembali menarik kedua sudut bibirku, memperlihatkan senyuman pahit. "Panggil aku Rey saja. Kau sudah bukan sekretarisku lagi."
Sheryl terdiam, masih dengan tatapannya yang membingungkan. Aku menarik tanganku, mengusap dahi hingga puncak kepalanya yang masih dalam posisi terbaring.
"Jadi ... bagaimana sebenarnya hubungan kita?
"Hubungan, ya?" Aku tertawa kecil lalu menjawabnya, "aku selalu mencintaimu, Sheryl." Untuk ke sekian kalinya aku menyatakan perasaanku kepadanya, "tapi ...."
Aku tidak melanjutkan kalimatku. Pancaran sinar matanya membuatku langsung mengurungkannya. Dia masih terlihat bingung.
"Apa pria tadi yang membuat semuanya berubah?" tanyanya tiba-tiba.
Aku menelan ludah mendengar pertanyaan yang baru saja meluncur dari mulutnya. "Namanya Baruna. Menurutku, dia yang lebih berhak menjelaskan semua hal kepadamu."
"Entah mengapa aku lebih percaya kepadamu, Rey," ucapnya mengubah air mukanya menjadi serius.
Aku menghela napas panjang. "Aku senang mendengarnya. Kau jadi tampak manis saat ini. Seharusnya kau seperti ini dari dulu," ucapku mengukir setengah lingkaran pada bibirku. Mataku menyipit, tak sengaja mendorong air mata yang tertahan padahal hendak meluncur menelusuri pipi sejak tadi.
"Kau menangis, Rey?" tanyanya.
"Tidak. Aku alergi serbuk bunga. Serbuk bunga itu berterbangan di udara hingga membuatku mengeluarkan air mata," sanggahku menunjuk vas bunga berisi bunga aster biru di atas meja.
"Tapi bunga dan vasnya jauh sekali, Rey. Tak mungkin serbuknya berterbangan sampai sini. Lagipula tak ada angin di dalam kamar ini." Sheryl ikut mengarahkan pandangannya pada vas bunga yang memang terletak cukup jauh dari ranjang. Ia lalu mengekeh pelan menertawakanku.
__ADS_1
Wajahku menghangat, malu mendengar perkataannya. Sambil menyeka air mata, mengalihkan atensiku pada sembarang titik.
"Tidak lucu sama sekali, Sheryl!"
Setelah aku mengatakan hal itu, Sheryl yang tertawa mendadak menghentikan kekehannya. Aku melirik bola matanya yang bergerak mengarah ke pintu kamar. Baruna, seorang dokter, dan seorang perawat perempuan tampak memasuki kamar rawat Sheryl. Ketiganya lalu menghampiri kami.
"Tidak terjadi sesuatu, 'kan?" Baruna menatap dingin kepadaku.
"Silakan mulai periksa saja," jawabku tak peduli dengan pertanyaan Baruna. Dengan segera bangkit berdiri, mengambil posisi agak menjauh dari mereka.
***
Baruna Pov
"Bagaimana, Dok?" Aku sontak bertanya kepada dokter yang memeriksa Sheryl ketika dokter Itu selesai memeriksanya.
"Maaf, Pak. Dari pemeriksaan sementara dapat saya simpulkan Ibu Sheryl mengalami amnesia."
Mendengar jawaban dokter, aku menyanggah dengan cepat, "Tidak mungkin! Jika Sheryl benar-benar amnesia, mengapa Sheryl mengingat Reynand? Bahkan dia ingat pernah bekerja dengannya dan sempat akan menikah ...." Aku menunjuk Reynand yang berdiri tak jauh dari posisi kami. Namun Reynand bergeming, tak menanggapi.
"Itu bisa jadi pertanda bagus jika ia bisa mengingat momen atau salah seorang yang memang berada di sekitarnya. Mudah-mudahan Pak Reynand bisa membantu Ibu Sheryl mengingat hal lainnya."
"Sampai kapan itu, saya tidak bisa memprediksinya. Kita hanya bisa berharap Ibu Sheryl mengalami amnesia sementara. Setelah ini, saya akan memberikan beberapa pemeriksaan yang dapat mendukung perkembangan kondisi kesehatannya. Saya harap Pak Baruna bisa bersabar dalam mengatasi musibah ini."
Dokter itu menjelaskan kondisi Sheryl panjang lebar. Setelah itu, ia pun pergi bersama perawat yang mendampinginya.
Aku benar-benar tidak bisa terima!
Aku berjalan menghampiri istriku dan duduk di dekatnya. "Sayang, maafkan aku, ya," kataku sekali lagi karena tadi ia belum menjawab permintaan maafku.
Sheryl tidak menjawab. Dia malah menatap kosong, lalu mengalihkan pandangannya pada Reynand.
"Rey ...," panggilnya dengan air muka cemas.
Reynand berjalan ke arah kami. Dia terdiam menatap kami bergantian. Tak lama, kakak tiriku itu berkata, "Aku akan membiarkan kalian berbicara."
__ADS_1
"Rey, kau tetap di sini," pinta Sheryl yang membuatku makin membeliak. Ia sangat aneh seakan sangat bergantung pada Reynand.
"Tenanglah. Baruna adalah suamimu. Dia akan sangat melampaui batas jika dalam kondisi seperti ini masih bisa menyakitimu," katanya sambil mengusap lengan Sheryl seperti hendak menenangkan istriku.
"Ya, Rey. Aku mengerti," jawab Sheryl menunjukkan seulas senyumnya. Reynand membalas dengan senyum yang sama.
Hatiku sakit melihat pandangan mata Sheryl berbeda saat menatap Reynand. Begitu penuh kasih sayang seperti dia menatapku sebelum pernikahan kami memiliki masalah seperti ini.
Reynand kemudian berbalik pergi meninggalkan kami berdua di kamar. Aku memandang wajah Sheryl cukup lama tanpa kata-kata. Semua kalimat yang hendak kukatakan seakan buyar begitu saja dikalahkan rasa cemburu yang menggebu.
"Ingin berbicara apa?" tanya Sheryl yang membuatku tersentak kaget.
"Hah? Apa?" balasku seperti orang bodoh.
"Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku?"
Dadaku semakin terasa sesak mendengar ucapan Sheryl. Dia menganggap diriku seperti orang asing di matanya. Rasa marah dan cemburu membuatku jadi lupa segalanya. Dan lagi-lagi, aku malah mencurigainya.
"Sayang, kamu tidak sedang berpura-pura, 'kan? Kamu tidak sedang mencari perlindungan pada Reynand," tuturku kepadanya karena amnesia yang terjadi kepadanya sungguh tak masuk akal bagiku walau dokter telah mengatakan hal sebaliknya. Ini seperti mimpi buruk.
"Maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti," jawabnya. Aku melihat tangannya yang mengepal kuat seperti seseorang yang berada dalam posisi bertahan dan hendak menyerang.
"Ya. Kamu melakukan ini untuk menghukumku," tambahku.
"Reynand bilang kalau aku harus tenang karena kau adalah suamiku, tapi mendengar perkataanmu kepadaku barusan, malah membuatku harus berpikir ulang. Apa benar aku tidak salah memilihmu menjadi suamiku?"
Mendengar perkataannya sungguh membuatku hilang akal. Aku sontak berdiri, mencondongkan tubuh mendekat pada wajahnya. Dengan cepat memutuskan untuk membungkus bibirnya yang ranum dengan bibirku.
Sebuah tamparan keras seketika mendarat pada pipiku. Panas. Dia tiba-tiba menolakku. Ini membuatku frustrasi.
Aku terkesiap. Keningku sontak mengernyit. Dengan mata membeliak menatapnya. "Sheryl! Kau adalah istriku. Bukankah kita saling mencintai? Mengapa kau malah menolak ciumanku?"
Sheryl sontak mengusap bibirnya dengan telapak tangannya. Tatapan matanya tampak berkaca-kaca. Tidak lama, air matanya meleleh menelusuri sudut matanya.
"Aku tidak tahu, Bar. Tapi hatiku tidak bisa menerimanya," katanya seraya menangis.
__ADS_1
Napasku seketika tertahan melihat pemandangan itu. Salah! Aku telah salah dan malah membuatnya kembali menangis.
Kakiku terasa lemas. Aku kembali duduk dan menggenggam tangannya. "Maafkan aku, Sayang."