Marriage Order

Marriage Order
S3 Jangan Mengatakannya!


__ADS_3

Baruna POV


Aku terdiam sebentar, mengernyitkan dahi melihat Felicia yang begitu berinisiatif mengajakku mengobrol. Urusan saat ini hanyalah mengenai kerja sama bisnis, tapi dengan sangat berani dia mengajakku mengobrol lebih dulu. Lain dengan pertemuan semalam yang terlihat begitu hati-hati, kali ini berkata dengan sangat percaya diri.


Aku menoleh ke arah Pak Wicak. "Pak, bisa tunggu saya di mobil?"


"Iya, Pak!" sahutnya mengangguk patuh.


"Terima kasih," sahutku


Pak Wicak hanya mengangguk, kemudian pergi dari hadapan kami. Felicia yang tadinya hendak berdiri kemudian kembali duduk di hadapanku.


"Bagaimana hidupmu saat ini, Bar?" tanyanya membuka pembicaraan.


"Sempurna dan bahagia," jawabku singkat, lalu membalasnya dengan pertanyaan yang sama, "bagaimana denganmu?"


Dia terlihat menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaanku. "Baik," ucapnya dengan jawaban standar. Dia terdiam sebelum akhirnya meneruskan perkataannya. "Aku lega akhirnya kau menikah dengan wanita pujaaanmu.


"Itulah jodoh. Kita tidak akan bisa menghindar meski sudah berusaha dengan keras," sahutku.


"Jodoh, huh? Aku tidak memercayai hal seperti itu. Setelah aku melihatmu, aku yakin perasaanku tidak pernah berubah sejak lima tahun yang lalu. Namun, aku sangat bersyukur atas hidupku sekarang," jawabnya.


Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini. Perkataan Felicia menjurus atas perasaannya kepadaku di masa lalu. "Hei, jangan membahas masa lalu. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing, bukan? Lagipula, kita tidak pernah memiliki hubungan sedekat itu, kecuali jebakan yang aku sendiri tidak pernah tahu dan menginginkannya."


Felicia hanya menarik setengah senyumnya. Dia mendengus, berkata, "Ya. Aku tidak pernah melupakannya. Hari itu adalah hari paling bahagia sekaligus menyedihkan buatmu. Bahagia karena kau adalah lulusan terbaik di universitas. Sedih merasakan patah hati karena Sheryl begitu mencintai kekasihnya dan tidak ingin memilihmu."


Aku menggeleng pelan. Menarik kedua sudut bibir, membentuk senyuman tipis. "Perkataanmu seakan-akan sangat mengerti diriku."


"Tentu saja. Tidak ada yang lebih menyedihkan kala mengetahui pria yang disukai menderita. Apalagi, kamu terus menyebut namanya di malam itu."


"Stop! Aku tidak ingin membahasnya," sahutku.


"Kau takut, huh?"


"Tidak. Aku hanya tidak ingin membahasnya." Aku berbohong. Seperti yang kukatakan, aku tidak ingin merusak kehidupanku yang sempurna saat ini dengan cerita masa lalu yang tidak ingin kuingat sama sekali.


"Kenapa? Kau tidak penasaran mengapa aku menghilang sebelum kau sadar?" Falicia menghentikan perkataannya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaannya membuat napasku tertahan, tenggorokan pun terasa tersekat oleh sesuatu. Begitu sesak hingga lidah ikut kelu tidak dapat berucap. Namun, Felicia memandangku dengan santai. Wanita itu mengembuskan napas panjang.


"Selama ini aku mengikuti perkembangan kehidupanmu dan Sheryl. Pertemuan kami di Maldives adalah sebuah kebetulan dan aku bersyukur bisa bertemu denganmu lagi melalui dirinya," jelasnya yang membuatku sontak menelan kembali perkataan yang hendak terucap. "Sungguh! Aku tidak menyangka Sheryl begitu tega melakukan hal yang sama seperti kau melakukannya denganku. Apa itu sebuah karma? Apa dia tahu yang terjadi di antara kita dahulu?"


"Sebenarnya apa yang ingin kau bahas, Fely?" tanyaku makin gemas, tidak mengerti topik pembicaraan yang semakin tidak menentu.


"Pagi ini aku baru tahu berita di media. Aku tidak habis pikir, apa kurangnya dirimu? Kalian sudah menikah, tapi Sheryl masih begitu dekat dengan kakak tirimu," timpalnya semakin menjurus masuk ke dalam masalah pribadiku dan Sheryl.


Berita antara hubungan Reynand dan Sheryl dahulu memang begitu cepat beredar dan menghilang, tapi masyarakat dengan mudahnya akan mengingat kembali saat berita yang berkaitan dengan mereka semalam muncul ke permukaan. "Pertemuan rahasia" antara Sheryl dan Reynand di pelataran parkir hotel menjadi tajuk utamanya. Orang-orang tidak akan mau tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mereka hanya peduli dengan konflik yang menarik. Membicarakan keburukan istriku dan Reynand di belakang.


".... Yang menarik adalah, semakin aku mengenalnya, semakin aku tahu kalau Sheryl tidak sesempurna itu. Dia wanita yang benar-benar tidak tahu malu, Bar," tambah Felicia lagi.


Aku mengernyit mendengar perkataan Felicia. Bisa-bisanya dia berkata kasar, padahal tidak tahu yang sebenernya terjadi. Bahkan, dia berani menilai sahabatnya sendiri seperti itu.


Sahabat dari mana, huh? Rasanya aku bertambah kesal.


"Jaga bicaramu, Fel! Kau tidak berhak menilainya seperti itu. Aku lebih tahu istriku dibandingkan denganmu yang baru mengenalnya satu bulan!"


Felicia tidak membalas. Dia hanya menyunggingkan senyumnya. Sebelah tangannya bertopang dagu menatap.


Aku tidak peduli lagi dengan semua perkataan yang terlontar dari mulutnya. Segera, aku bangkit dari kursi meninggalkan wanita menyebalkan yang sudah dianggap "sahabat" oleh Sheryl.


"Bar, sebentar lagi kau akan menyesal memilihnya!" teriaknya di restoran itu seperti wanita yang tidak mempunyai sopan santun.


Aku tidak menanggapi perkataannya. Berjalan menjauh dari wanita itu. Sungguh sial!


Mengapa aku harus mengenal Fely, bahkan pernah tidur dengannya? Oh, shit! Pasti aku sudah benar-benar rabun menyamakan dirinya dengan Sheryl.


Sepanjang perjalanan menuju pelataran parkir ingatanku melayang mengingat kejadian lima tahun yang lalu.


Ballroom Hotel B, Sydney, Australia, lima tahun lalu.


Aku sedang berdiri, berbincang dengan seorang teman di sebuah pesta perayaan kelulusan program magister kampus. Kemarin kami memang baru saja dinyatakan lulus dan berhak menyantumkan gelar MBA di belakang nama panjang kami. Apalagi, saat aku dinobatkan menjadi mahasiswa dengan predikat lulusan terbaik se-universitas. Tentu saja itu menjadi sebuah kebanggaan bagiku sebagai seorang anak yang selalu diandalkan dalam keluarga. Ya, kalian pasti tahu alasannya. Aku adalah anak tunggal yang memiliki beban sangat berat. Aku tidak perlu menjelaskannya lagi.


Kling!


Tiba-tiba terdengar sebuah pesan WA masuk. Aku mengambil ponselku dan membaca pesan itu. Pesan dari Sheryl.

__ADS_1


[Kak Bar, aku dengar dari Kak Reza kalau kakak sudah lulus dan akan segera kembali ke Indonesia. Apa itu benar?]


Aku tersenyum membaca pesan itu. Pesan dari gadis yang akan menjadi istriku kelak. Mungkin saat ini dia masih menganggap aku kakaknya, tapi sebentar lagi dia pasti akan menjadi milikku sepenuhnya. Aku benar-benar menyukainya dan bertekad untuk menyatakan perasaanku. Terlepas dari status kami yang sejak lama sudah dijodohkan.


Segera kubalas pesan chat untuknya.


[Ya, aku akan kembali. Apa kamu sudah sangat merindukanku? 😁]


Lama dia tidak membalas, padahal aku tahu dia sudah membacanya cukup lama.


[Sher?]


Tiba-tiba balasan darinya datang.


[Aku bingung bagaimana menjelaskannya. Ini sudah lama kusembunyikan. Aku ingin Kakak menyerah. Aku sudah memiliki pacar dan hubungan kami sudah berjalan selama satu tahun. Selamanya aku mungkin tidak bisa jatuh cinta kepadamu. Secepatnya kita harus mengatakan hal ini kepada kedua orang tua, sebelum kakak bertambah sakit karena aku yang seperti ini.]


Membaca pesannya membuat pandangan mataku bergetar. Aku bergeming dan tidak bisa mengalihkannya sama sekali. Tanpa sadar air mata luruh begitu saja.


Tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuk bahu dari belakang. Buru-buru kuseka air mata, lalu menolehkan pandangan ke belakang. Andra—teman dari Indonesia berdiri menyunggingkan sebuah senyuman.


"Bar, teman-teman dari Indonesia hari ini sepakat melanjutkan pesta kelulusan di apartemen Frans."


"Frans?" Aku mengerutkan dahi mendengarnya.


"Ya! Apartemennya cukup besar untuk pesta berikutnya. Anggap saja pesta pepisahan sebelum kita kembali ke Indonesia. Kalau sudah pulang ke kota masing-masing, pasti kita tidak akan bisa berkumpul seperti ini."


"Baiklah, aku ikut." Aku mengangguk.


.


.


.


.


Maaf baru sempat update. Pekerjaan sedang banyak-banyaknya dan kondisi tubuh sedang tidak sehat. Kalian jaga kesehatan, ya! Terima kasih sudah membaca.

__ADS_1


__ADS_2