
Baruna PoV
Aku dan keluargaku baru saja tiba di kediaman Tante Aina. Kami melangkah sedikit ragu, tapi kami segera menepis keraguan itu, berdiri dan menunggu seseorang membukakan pintu. Tidak lama setelahnya seorang pelayan perempuan paruh baya membukakan pintu untuk kami.
"Silakan masuk. Nyonya Aina dan yang lainnya sudah menunggu di dalam," ujarnya.
Pelayan itu mempersilakan masuk dan menunjukkan tempat Tante Aina dan yang lainnya sedang menunggu duduk di ruang tamu. Suasana menegang seketika saat keluargaku bertemu muka dengan wanita itu. Tidak hanya Tante Aina, bahkan Indira, dan Daniel pun ikut menemani di sana. Pemandangan aneh saat aku tidak melihat Reynand di sana.
Aku tidak melihat Reynand, ke mana dia?
"Selamat datang di rumahku yang sederhana ini. Sebelumnya, silakan duduk semuanya." Tante Aina berdiri mempersilakan kami untuk duduk bersama.
Aku dan lainnya mendudukkan diri di atas sofa. Namun tiba-tiba Bunda melangkah dan memeluk erat sosok Tante Aina yang masih berdiri di hadapannya.
"Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku minta maaf atas segalanya, Aina," ucapnya pelan. Bulir-bulir air mata mulai jatuh membasahi kedua belah pipinya.
Tante Aina terkesiap membulatkan kedua matanya melihat tindakan Bunda yang mendadak itu. Tidak lama, dia melemaskan otot matanya dan menatap kami angkuh seperti biasa. Dia menarik dirinya, melepaskan pelukan rivalnya zaman dahulu.
"Apa butuh waktu selama tiga puluh satu tahun untuk meminta maaf seperti ini?" Tante Aina mengangkat sebelah alisnya.
"Jaga bicaramu, Aina! Ini 'kan yang kamu inginkan? Meminta Meri meminta maaf kepadamu!" seru Ayah kesal, tidak terima dengan kata-kata Tante Aina terhadap Bunda.
"Hei Anton, kamu begitu membela istrimu, hah! Jika hanya ingin membuat kekacauan, silakan keluar dari rumahku." Tante Aina menatap sinis.
"Tidak Mas ... Mas tidak perlu ikut campur," Bunda menoleh ke arah Ayah sejenak lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Tante Aina. "Iya, aku mengaku bersalah. Aku terlalu mengedepankan egoku. Terlalu takut bertemu denganmu. Aku mohon maafkan kesalahanku, Aina."
Bunda, kenapa harus meminta maaf sampai seperti ini?
Hatiku terenyuh menyaksikan tindakan Bunda yang meminta maaf, penuh dengan rasa sesal. Namun merasa lega jika mereka benar-benar berbaikan. Tapi kakek, dia terlihat bingung dengan pemandangan yang terjadi di depannya. Sepertinya dia tidak tahu apa yang terjadi.
Tante Aina mengangkat wajahnya pongah. Dia tidak menjawab kata-kata Bunda, mengalihkan pandangan ke arah kami yang berdiri di hadapannya. Lalu mempersilakan kami semua untuk duduk.
Tiba-tiba pintu ruang tamu terbuka, Reynand muncul dari balik pintu. Raut wajahnya terlihat canggung seketika, saat kami semua melihat ke arahnya. Dia melangkah mendekat ke arah ibunya dan adiknya.
Reynand menatap bingung sang Mama. "Apa ada yang sudah kulewatkan?" tanyanya.
Tante Aina menoleh ke arahnya kemudian berkata, "Tidak Nak, kami baru saja mau memulai. Kamu dari mana?"
"Aku ada urusan sebentar, Ma."
"Silakan bersalaman dengan keluargamu yang lain, Nak."
Reynand menolehkan pandangannya ke arah kami. Raut wajahnya yang sedikit dingin diperlihatkan pada kami. Dia lalu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman, yang segera disambut dengan salam dari kami.
__ADS_1
"Jadi, apa yang sudah saya lewatkan? Maaf, jika saya baru datang mengikuti pertemuan ini," ucapnya sambil menyunggingkan senyum kecil, lalu ikut duduk bersama kami
"Dari mana, Rey?" tanya Daniel pelan.
"Gue habis meeting sebentar," jawabnya seraya melirik ke arahku.
Mengapa dia melirik ke arahku?
"Meeting apa pula di hari Sabtu, Rey?" tanya Daniel bingung.
Reynand hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Daniel. Aku hanya bisa mengamati mereka yang berbicara pelan.
"Aku ambil minuman dan makanan dulu, Kak." ucap Indira kepada Reynand yang dijawab sebuah anggukan darinya. Indira lalu bangkit dari duduknya beranjak ke dapur.
Wajah Tante Aina kembali serius. Dia lalu berkata, "Aku tidak ingin memperpanjang masalah yang terjadi di masa lalu. Perihal memaafkan adalah urusanku dengan Tuhan. Sekarang aku hanya ingin keadilan bagi anakku!" tegasnya.
"Maksudmu apa, Aina?" tanya Ayah seraya mengernyitkan dahinya bingung.
Tante Aina menarik napas dalam, dia berusaha menahan sedikit emosinya. Reynand dan Daniel hanya terdiam melihat tingkah ibu mereka.
"Aku ingin Reynand menjadi pewaris tunggal keluarga Asyraf. Anggap saja itu adalah kompensasi atas perlakuan Anton dan Meri padaku. Bagaimana pun aku adalah pihak yang tersakiti."
Daniel yang sedari tadi melihat mertuanya berbicara mulai gatal untuk bertanya dengan nada suara tinggi, "Mama, apa maksudnya ini semua?!"
"Ma, aku berteman dengan Baruna sudah sejak lama dan aku sudah mengenal dia dan keluarganya dengan baik," jawab Daniel.
Tante Aina hanya mengangkat alisnya menoleh ke arah menantunya, tersenyum penuh arti. Reynand tidak banyak berbicara. Mungkin bukan haknya dia untuk ikut campur berbicara. Aku melirik Kakek yang hanya diam, terlihat bingung dengan situasi yang telah terjadi.
"Aina, kamu jangan bercanda," timpal Ayah.
"Aku tidak pernah bercanda atas kata-kataku, Anton."
"Kamu yang lebih dulu menghilang dan membatasi komunikasi dirimu dari keluarga kami. Kamu yang tidak pernah mengizinkanku bertemu dengan anakku," sanggah Ayah.
"Tunggu! Aku tidak paham situasinya, Yah." Tiba-tiba Reynand menyela.
"Iya, kamu anakku dan aku tidak pernah diperbolehkan bertemu denganmu. Apakah itu tindakan yang adil untuk seorang ayah?" tanya ayah retoris.
Reynand menoleh ke arah sang ibu, wajahnya terlihat bingung. Aku segera melerai keduanya.
"Tante, sudahlah hentikan semua ini. Semua sudah berlalu. Aku tahu ayah salah. Dia pun sudah mengakui dan meminta maaf. Tidak cukupkah permintaan maaf kedua orang tuaku?"
"Baruna, rupanya kamu sudah dewasa dan bisa membela keluargamu. Namun, permintaan maaf hanyalah sebatas pada ucapan. Aku ingin bukti," jawabnya santai. Dia lalu mengerlingkan matanya ke arah ayah, "Anton, sudah pernahkah kamu katakan yang sebenarnya pada ayahmu?" Tante Aina melirik ke arah ayah.
__ADS_1
Ayah membisu tidak menjawab pertanyaan Tante Aina. Baginya, mungkin adalah sebuah aib yang memalukan jika mengatakan hal sejujurnya.
"Kenapa kamu diam, Anton?" tanyanya lagi seraya melirik tajam.
Ayah bergeming tidak menjawab. Namun aku tahu mengapa dia keberatan mengatakan yang sejujurnya. Menjadi hal yang sangat memalukan jika dia mengakui bahwa dia sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Tidak lama setelahnya, tiba-tiba dia mulai angkat bicara, "Ayah, aku memang telah berdosa melakukan kekerasan terhadap mantan istriku. Apa pun yang Ayah dengar selain fakta ini, melainkan hanyalah karanganku."
Kakek terkesiap mendengar kata-kata ayah yang tiba-tiba. Raut wajahnya berubah kecewa.
"Anton, aku kira kita datang ke sini untuk bermediasi menyelesaikan masalah tentang ahli waris. Tapi ternyata, aku malah dikejutkan dengan kesaksian Aina yang sebenarnya. Kamu yang telah bersalah padanya, Ton," ucap Kakek dengan nada suara kecewa.
"Ayah, maaf aku telah berbohong. Semua kulakukan karena aku kecewa atas tindakan ayah menjodohkan aku dengannya!"
Raut wajah Kakek memerah seketika. Tiba-tiba ia memegang dadanya, meringis kesakitan.
"Kakek!" teriakku.
Kakek tiba-tiba tidak sadar di atas sofa.
"Kek! Kakek!" Aku menepuk bahunya, namun tidak ada respon, kemudian mendekatkan telingaku di atas dadanya. Jantung dan hembusan napasnya masih ada.
"Bagaimana, Bar?" tanya Bunda panik.
"Kakek pingsan, Bun," jawabku.
"Baruna, kita harus segera membawa Kakekmu ke rumah sakit!" perintah ayah.
Aku mengangguk. Reynand dan Daniel yang melihat kejadian itu segera beranjak dari tempat duduknya, membantu kami memapah Kakek dan membawanya dengan mobil ke rumah sakit.
Tante Aina memandang lemas ke arah Kakek. Wajahnya yang angkuh itu menghilang dari pandanganku tergantikan oleh pandangan teduh, sedikit menyesali perbuatannya.
____________________________
Masih suka cerita ini?
Mohon dukungan cintanya untuk menyemangati author ya 🥰🥰
Dengan Like, love, komen, vote, dan rate bintang 5.
Salam cinta,
Viviani
__ADS_1