Marriage Order

Marriage Order
S3 Aku Sangat Peduli Kepadamu


__ADS_3

Sheryl Pov


Deg!


Jantungku seakan berhenti mendadak mendengar ucapan Baruna. Bagaimana tidak? Dia mengatakan kalau Rafael adalah anak kandungnya bersama Felicia.


Ini mimpi, 'kan? Baruna pasti sedang mengerjaiku. Ya! Dia pasti masih kesal melihat kedatanganku dan Reynand ke Tokyo bersama-sama.


Aku mencoba menghibur diriku sendiri. Seperti orang tidak waras menarik sebelah sudut bibir yang bergetar mendadak. Tidak itu saja. Rasanya tubuhku menggelenyar tidak karuan dengan napas yang berhimpitan saling mengejar satu dan lainnya. Ya, aku harap ini bukanlah kenyataan.


"Sa-Sayang, ka-kamu pa-pasti sedang mengerjaiku, 'kan? Kamu masih marah karena kedekatanku dan Reynand kemarin, jadi kamu mengatakan hal seperti ini."


Aku membalasnya tergagap. Kepalaku rasanya ingin meledak. Otak dan hatiku tidak singkron. Apalagi perutku yang mendadak sakit.


Oh, ayolah! Jangan sekarang! Anakku, ini hanyalah sebuah prank dari Ayahmu.


Baruna tidak langsung menanggapi. Aku menunggunya mengakui kalau dia baru saja mengerjaiku. Sekitar setengah menit kemudian, priaku itu pun akhirnya membalas perkataanku.


"Maaf, Sheryl. Maaf! Aku telah menyembunyikannya darimu. Selain itu, kedatanganku ke Tokyo tidak hanya untuk bisnis. Ini juga ada kaitannya dengan pengobatan Rafael. Aku berjanji untuk mendampingi bocah itu hingga kesehatannya menjadi lebih stabil. Maafkan aku telah berbohong kepadamu. Suka atau tidak suka, aku harap kamu bisa menerimanya."


Kedua pelupuk mataku seketika mengalirkan air mata yang sempat tertahan. Pandanganku menatap lurus ke depan seakan-akan sedang berbicara langsung dengan suamiku yang sedang duduk berdua dengan Felicia. Dalam pandanganku itu, Baruna merangkul Felicia dengan tatapan menyesal. Dia lebih memilihnya di sana daripada aku di sini.


Aku terkesiap. Genggaman tanganku melemas hingga ponsel itu terjatuh ke lantai. Aku hanya diam, tidak bisa bergerak sama sekali dari atas tepian tempat tidur. Samar-samar mendengar suaranya memanggil dari ponselku.


"Sher? Sheryl! Sheryl!!"


Bagaimana bisa dia melakukan ini kepadaku?


Perutku terasa sakit. Suara Baruna menghilang. Tidak lama kemudian, pintu kamarku terbuka. Kak Reza datang dengan wajah panik menghampiri dan aku hanya bisa meluapkan kesedihanku dengan tangisan yang begitu pilu.


"Kakak ... perutku ... perutku sakit," lirihku terisak. Bibirku merengut pilu di hadapannya.


"Astaga! Sheryl, sebenarnya apa yang terjadi denganmu dan Baruna? Dia baru saja menelepon, menyuruhku melihat keadaanmu," tanya Kak Reza panik. Namun aku hanya diam, tidak menjawabnya. Kemudian tanpa berbasa-basi lagi, Kakakku itu langsung membopong dan membawaku pergi.


***


Baruna Pov


Sheryl ... setelah penjelasanku, dia tidak menyahut sama sekali saat aku memanggilnya. Dia pasti sangat marah hingga mengabaikanku. Tapi anehnya, panggilan teleponku masih tersambung. Itu artinya, dia masih di sana.


"Sher? Sheryl! Sheryl!!"


Sekali lagi aku memanggilnya, tapi dia tidak membalas.

__ADS_1


Apa yang terjadi?


Aku mengerling pada Felicia yang duduk di depanku. Sial! Dia malah menyeringai sambil bertopang dagu memandang ke arahku.


Reza ... Ya! Aku akan menelepon Reza.


Dengan paniknya, aku pun menelepon Reza. Walau di sini sudah beranjak tengah malam, aku tidak peduli. Reza tidak mungkin sudah terlelap mengingat perbedaan waktu yang lebih lambat dua jam dari pada waktu Tokyo.


"Halo." Reza menjawab panggilanku.


"Lo di mana, Za?!" tanyaku panik.


"Rumah."


"Za, tolong lihat Sheryl. Gue takut dia kenapa-kenapa!" perintahku kepada Reza.


"Lo kenapa sih, Bar? Ko panik gitu?"


"Cepat!"


"I-iya, Bar!"


Tut-tut-tut!


"Puas? Kau puas dengan apa yang baru saja kulakukan, huh?!"


Felicia yang mengekeh kemudian menghentikan tawanya. Dengan segera menarik sebelah tangan yang menopang dagu, lalu membawanya menempel di atas punggung tanganku.


Keningku mengerut bingung mendapat perlakuannya. Aku menatapnya sinis. Kutarik tanganku dari jangkauannya. Felicia balas menyeringai miring.


"Puas sekali. Kau akhirnya bisa mengatakan hal itu."


Begitu santainya ia menjawab, membuatku makin geram. "Kau benar-benar tidak punya perasaan, ya?!"


Wanita itu menarik tubuhnya yang tadinya condong padaku. "Jika aku tidak memiliki perasaan, Rafael tidak akan aku lahirkan, Bar."


Mendengarnya, membuatku bertambah geram. Aku yakin, walau tadi Reza terlihat bingung dengan apa yang kuminta, dia pasti tetap melakukannya.


Tak lama, ponselku berbunyi. Notifikasi pesan chat dari Reza.


[Perut Sheryl sakit. Aku dan kedua orang tuaku sedang dalam perjalanan membawanya ke rumah sakit]


Pandanganku membulat membaca pesan chatnya. Sementara, Felicia kembali menyeringai lalu menyeruput minuman di depannya. Dan aku hanya bisa menatapnya dingin.

__ADS_1


Aku segera menelepon Reza. Panggilan itu tersambung, tapi Reza tidak juga mengangkatnya. Rasanya sangat sesak ketika tak ada kabar lagi dari Reza.


Sesak. Oksigen di sekitarku rasanya makin menipis. Aku bangkit berdiri. Felicia mendongak menatap bingung.


"Mau ke mana?" tanyanya.


Aku tidak menjawab. Segera meninggalkan dia dan mencoba menelepon kembali. Kali ini mencoba menghubungi kedua orang tua Sheryl. Sayangnya, tidak ada satu pun yang mengangkat.


"Aku tidak bisa diam saja," gumamku lalu beringsut kembali menuju meja tadi.


Terlihat Felicia yang masih duduk di sana. Tampak sedang menelepon seseorang. Aku yang tidak peduli, segera mengambil tas dari atas meja, hendak pergi. Namun saat hendak pergi, Felicia menarik tanganku.


"Bar, kau mau ke mana?"


"Aku akan pulang ke Jakarta. Aku tidak bisa berada di sini sekarang."


"Kau tidak bisa pergi, Bar!" sahutnya dengan nada suara tinggi.


"Tidak bisa pergi bagaimana? Gara-gara kau, Sheryl berada dalam bahaya!" Aku balas menggertaknya.


Felicia tidak membalas. Aku menoleh padanya. Ia langsung menundukkan kepala. Sejenak kemudian isak tangisnya terdengar lirih.


"David baru saja meneleponku. Rafa sedang berada di ruang emergency," katanya.


Napasku tertahan mendengar perkataannya. Otot yang tadinya menegang seketika melemas.


Apa yang harus kulakukan?


***


Reynand Pov


Aku melangkahkan kakiku hendak memasuki ruangan. Dengan air muka semangatmenyambut pagi yang cerah. Bahkan aku bersiul saat melintasi meja Julian. Sesaat aku melirik ke arah Julian yang menunjukkan air muka terkejut saat melihat bosnya. Mungkin karena kali ini aku datang pagi-pagi sekali.


"Pagi, Pak!" Suara Julian menyapa dan aku hanya membalasnya dengan lambaian singkat tanpa menghentikan siulan itu.


Sejurus kemudian, aku sudah duduk di ruanganku. Memandang layar ponsel yang sudah dipenuhi beberapa pesan chat. Kayla, Mama, dan ....


Aku membeliak melihat satu nama di sana. Pesan chat dari Nayara terlihat di sana.


[Rey, aku tidak tahu apa kau sudah mendengar kabar ini. Aku hanya ingin memberitahumu. Sheryl sedang dirawat di rumah sakit tempatku bekerja.]


Sheryl? Astaga! Apa yang terjadi kepadanya?

__ADS_1


Tanpa membuang waktu lagi, aku segera bangkit berdiri. Beringsut keluar ruangan, lalu berkata kepada Julian, "Jul, batalkan semua meeting pagi ini!"


__ADS_2