Marriage Order

Marriage Order
S2 Our First Night


__ADS_3

Empat bulan kemudian ....


Pukul 21.00


Acara pernikahanku dan Baruna baru saja selesai digelar. Aku duduk terdiam di dalam kamar hotel. Menunggu dia yang masih mengobrol dengan para tamunya.


Setelah empat bulan mendampinginya kontrol di luar negeri, kami akhirnya menikah hari ini. Dia sudah tidak menggunakan kruknya lagi. Rambutnya pun tumbuh dengan lebat seperti sedia kala. Wajahnya kembali berseri-seri setiap kami bersama.


Tentang Reynand, aku rasa hubungan kami baik-baik saja. Dia mencoba menjadi saudara bagiku dan seorang kakak bagi Baruna. Namun sayangnya hari ini dia tidak bisa datang ke resepsi pernikahan kami karena ada perjalanan bisnis yang tidak bisa ditinggalkannya.


Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur kamar hotel. Wangi mawar tercium semerbak memenuhi kamar ini. Bagaimana tidak? Kelopak-kelopak merahnya berhamburan di atas tempat tidur berpadu dengan seprai berwarna keemasan. Begitu romantis membuatku sedikit bergairah.


Tok-tok-tok!


Suara ketukan pintu membangkitkanku dari pembaringan. Aku segera bangkit beranjak menuju pintu. Baruna berdiri di sana. Masih memakai jas dan kemeja putihnya. Suamiku itu mengangkat kedua sudut bibirnya, terlihat sangat bahagia. Kami saling memandang dengan wajah bersemu merah. Sosok tegapnya menutup pintu pelan. Kedua kakinya mulai melangkah mendekat.


Baruna bertanya dengan nada lembut, "Sayang, apa kamu sedang menungguku?"


"Ehm .... tentu saja, tapi aku belum mandi," sahutku dengan wajah merona merah.


"Mau mandi bersama?" tawarnya menggoda.


Baruna membuka jas berwarna coklatnya dan melempar jas itu ke sembarang arah. Dasinya pun segera dilepas. Hanya kemeja dan celana panjang yang masih melekat di tubuhnya.


Aku mengangguk malu. Tanpa aba-aba dia membopongku masuk ke kamar mandi. Aku melingkarkan tanganku di lehernya. Memandangnya penuh kekhawatiran.


"Hei, apa kakimu tidak masalah menggendongku seperti ini?" tanyaku khawatir.


"Tidak apa. Aku sudah kuat. Beratmu tidak seberapa. Aku masih sanggup," jawabnya, lalu mencium bibirku singkat. "Kamu tunggu di sini. Aku akan mempersiapkan bathtub-nya."


Aku mengangguk. Baruna mulai mengisi bathtub di kamar mandi dengan air hangat dan bubble bath cair bersamaan. Buih-buih busa mulai menggenang ke permukaan.


Jantungku berdetak tidak karuan, menyaksikan setiap tindakan yang ia lakukan, dengan telaten dia mempersiapkan hal itu untuk kami. Aku menggigit bibir bawahku. Sungguh merasa sangat gugup menunggunya. 


Baruna membalik badannya menatapku penuh kelembutan. Dia perlahan mendekatkan wajahnya. Menarik tengkukku dan menautkan bibirnya dengan bibirku bersamaan. Membuat gejolak gairahku memuncak tanpa diminta.

__ADS_1


Tangan kekar yang akan selalu melindungiku setiap waktu itu, perlahan menjamah punggung dan menarik resleting gaun pengantin. Membukanya hingga menyisakan pakaian dalam yang melekat di tubuh. Kami terus saling berciuman menyalurkan gairah cinta yang membuncah selama ini.


Suamiku itu mulai melepas pakaian dalam yang masih melekat di tubuhku. Dadaku mulai bergemuruh. Aliran darah terasa panas sampai ke ubun-ubun. Mengejang dan terus menciumnya sampai lemas. Dia melangkah maju dan memaksaku untuk melangkah mundur. Tanpa basa-basi membopongku kembali, lalu masuk ke dalam bathtub.


Aku menutup wajahku malu saat ia membuka pakaian dan celana yang melekat di tubuhnya yang atletis itu. Tubuh polosnya masuk ke dalam bathtub yang sama denganku.


Baruna duduk di belakang, membuatku bersandar pada dadanya yang bidang. Suhu tubuhku terasa menghangat mengalahkan hangatnya air di dalam bathtub. Pria yang sangat kucintai ini mulai kembali mencium kening, hidung, hingga bibir. Kemudian menurun hingga leher yang jenjang. Bibir dan jari jemarinya begitu lincah menyentuh setiap jengkal bagian tubuh. Membuatku menggelinjang menikmati setiap sentuhannya.


"Kamu milikku sekarang. Tidak ada yang bisa merebutmu, Sayang. Aku mencintaimu," bisiknya pelan, kemudian kembali menciumku dengan penuh gairah.


"Heum .... Haah .... Aku juga mencintaimu," jawabku dengan napas terengah-engah.


Kami saling menikmati setiap sentuhan yang dilakukan. Aku merasa lemas tidak berdaya. Tidak lama kemudian, kami membilas di bawah shower sambil berpelukan. Miliknya yang mengeras membuatku sedikit terkejut.


"Kenapa wajahmu seperti itu, Sayang?"


"Aku kaget saat melihat milikmu yang mengeras seperti itu," jawabku polos.


"Ha-ha-ha .... Mau rasakan bagaimana dia membuatmu ketagihan?"


"Aku akan membuatmu nyaman. Kita bisa melakukannya di tempat tidur."


"Sayang, aku takut." Aku menutup mata sambil memeluknya.


"Tidak perlu takut. Aku akan melakukannya dengan pelan."


"Aku takut kamu kecewa. Aku sudah tidak suci lagi."


"Jangan katakan itu! Aku sudah memaafkanmu dan melupakan masa lalu kita. Kita hanya perlu saling mencintai, Sayang."


Aku mengangguk, padahal sangat takut jika ia benar-benar kecewa padaku.


"Kenapa wajahmu berubah?"


Aku menggelengkan kepala. Dia lalu tersenyum melihatku. Melangkah maju seraya menciumku berkali-kali, memaksaku melangkah mundur hingga keluar dari kamar mandi, dan memangku tubuhku di tepi ranjang.

__ADS_1


"Jangan terlalu stres memikirkan hal yang tidak penting. Aku ingin menikmatinya bersamamu, Sayang," katanya di sela-sela permainan kami.


Baruna mulai mencium lagi. Begitu lembut mendaratkan bibirnya hingga bertubi-tubi. Membuatku kembali lemas tidak berdaya. Dia segera membaringkanku di atas ranjang. Menyingkirkan kelopak-kelopak mawar hingga terjatuh ke lantai. Kemudian menjelajahi tubuh di tiap jengkalnya dan meninggalkan tanda di sana. Wajahnya terlihat merona merah hingga ke telinga.


"Apa kamu sudah siap merasakan milikku, Sayang?" tanyanya menggoda.


"A-aku ...." Entah mengapa aku tidak bisa menjawabnya. Lidahku kelu mendadak.


"Sudah kukatakan, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting."


Aku mengangguk malu dan melingkarkan tanganku di lehernya. Baruna mengecup dan memainkan kedua buah dadaku dengan serangannya yang bertubi-tubi. Hingga akhirnya menindih dan menyatukan tubuh kami di malam ini. Membuatku setengah berteriak menikmati setiap aksi yang dia lakukan seraya memanggil namanya dan dia memanggil namaku bergantian. Sampai akhir benihnya meleleh ke dalam tubuhku. Sejenak, dia tersenyum seraya menarik miliknya yang sudah berubah ukuran itu keluar dari organ kewanitaanku.


"Aku mencintaimu, Sayang," bisikku.


"Aku selalu lebih mencintaimu, Sayang," balasnya dengan dahi yang bercucuran keringat. Dia segera mengecup kening sambil mengusap rambutku yang berantakan.


Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Sungguh malu melihat diriku dan dirinya dalam keadaan seperti ini. Baruna hanya tertawa kecil, lalu bangkit menuju kamar mandi.


Ya Tuhan, terima kasih telah menganugerahkan suami seperti dia.


Berkali-kali aku mengucap syukur telah menikah dengannya. Pria yang tadinya sedikit kuremehkan dan selalu kuabaikan bertahun-tahun lamanya. Ternyata begitu mencintaiku dan aku pun bisa begitu mencintainya. Hingga tidak akan pernah sanggup jika dipisahkan oleh selembar surat.


Tidak lama kemudian, Baruna keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang melekat di tubuhnya. Berjalan menghampiriku yang masih memandang dengan wajah merona malu.


"Sayang, apa kamu mau mengulangnya?" tanyanya.


"Mengulang?"


"Aku rasa aku masih bisa melahapmu sampai pagi," jawabnya.


"Besok, pagi-pagi sekali kita akan pergi berbulan madu. Apa tidak sebaiknya kita beristirahat saja?" sahutku.


"Tapi aku masih lapar," balasnya sambil mendekat ke wajahku kembali. Mulai mencium penuh gairah, hingga akhirnya mengulang aksi bercinta kami.


Kamu milikku sepenuhnya sekarang dan selamanya.

__ADS_1


__ADS_2