Marriage Order

Marriage Order
Ada yang Berubah


__ADS_3

Aku melirik jam tanganku yang baru saja menunjukkan jam sembilan pagi. Satu jam yang lalu Pak Reynand mengajakku ikut meeting dengan kliennya jam sepuluh pagi. Mataku masih mengantuk, mulut pun masih menguap berkali-kali menginginkan oksigen lebih ke dalam tubuh. Kak Baruna mengantarku pulang dari rumah sakit sudah larut malam karena ada beberapa wartawan yang menunggu di depan rumahku seharian. Membuat kami enggan jika pulang lebih awal.


Rasa dahaga mulai menyelimuti tenggorokanku. Aku meraih gelas minum, melangkah menuju dispenser air di dalam pantri, menekan tombol air dingin, air mulai keluar memenuhi gelas lalu meminumnya sambil berdiri tepat di depan pintu pantri. Mulut pun mulai menenggak segelas air penuh itu dengan tidak sabar. Belum sempat aku menghabiskannya, tiba-tiba Pak Reynand masuk ke dalam pantri mengagetkanku, mataku terbelalak kaget. Sontak aku menyemprotnya dengan air putih yang berasal dari mulutku tepat mengenai kemejanya.


Mata Pak Reynand mengerjap sejenak, menatapku kesal, mulutnya mengerucut, tangannya berusaha mengeringkan kemeja polosnya. Aku juga panik seketika meletakkan gelasku di meja dan melakukan hal yang sama, mengusap kemeja yang basah itu dengan kedua tanganku, walaupun itu merupakan hal yang sia-sia. Dadanya yang bidang itu teraba dengan sangat tegas bentuknya. Pak Reynand melirikku dengan canggung.


"Yah basah deh kemejanya ...," kataku pelan.


Pak Reynand menunduk melirik kemejanya yang basah lalu mendongakkan wajahnya menatap, "Siapa yang suruh pegang-pegang?!" bentaknya.


Aku tersadar lalu menarik tangan dan membulatkan kedua mata seketika lalu terdiam. Dia merapikan dasinya yang miring sambil melihat sinis ke arahku.


"Maaf Pak. Saya benar-benar tidak sengaja. Bapak sendiri masuk mengagetkan saya," jawabku.


"Saya sedang mencarimu Sheryl. Tapi ah ... kamu membuat kemeja saya basah. Mana sebentar lagi ada meeting," sahutnya sambil memegang dahinya dengan jari jemarinya seperti orang kebingungan.


"Iya saya kan sudah minta maaf Pak. Lagi pula di ruangan bapak kan ada banyak kemeja tuh yang bisa dipakai."


"Hhmmmp ...," dengkus Pak Reynand, "Saya kan mau pakai kemeja ini untuk meeting hari ini."


"Ya ampun .... Tidak usah dibuat ribet deh Pak." Aku berjalan keluar pantri menuju ruangan Pak Reynand. Pak Reynand mennyusulku dari belakang masih memanyunkan bibirnya.


Aku membuka lemari kemejanya, memilih sebuah kemeja putih bergaris ungu berlengan panjang kusodorkan paksa kepadanya. Dia meraih kemeja itu menatapnya.


"Malah dilihat saja, dipakai Pak," perintahku sambil bertolak pinggang.


Pak Reynand terbengong menatap lalu tertawa menyeringai sambil berkata, "Kamu sekarang bosnya?"


Aku menutup mulut dengan sebelah telapak tangan terkejut tersadar telah memerintah dengan seenaknya.


"Saya keluar dulu Pak," jawabku sambil berbalik arah dengan langkah cepat.


"Astaga apa yang sudah kulakukan? Memperlakukannya seperti seorang teman. Padahal dia bosku dan baru kemarin kata hatiku mengatakan benci padanya."


Aku menyandarkan bahuku pada kursi kerja menunggu Pak Reynand yang berganti pakaian. Keperluan meeting sudah kusiapkan sedari tadi. Pintu ruangannya terbuka, Pak Reynand berdiri memakai kemeja yang kupilih barusan. Tampak gagah dan terlihat lebih bersinar memakai kemeja itu. Tampan? Iya deh tampan.


Dia melangkah mendekatiku lalu bertanya, "Bagaimana menurutmu? Klien kita hari ini sangat penting. Saya tidak ingin gagal hanya karena penampilan yang tidak baik."


"Cocok Pak," jawabku singkat.


Aku lalu berkemas membawa beberapa map dokumen yang kubutuhkan. Kudapan, minuman, dan keperluan lain yang terkait dengan rapat sudah kubereskan. Kami lalu berjalan menuju ruang rapat seperti biasa.


Satu jam kemudian rapat masih berjalan lancar sampai tiba-tiba ponsel Pak Reynand bergetar beberapa panggilan masuk dengan nomor yang sama, sepertinya itu panggilan yang penting. Pak Reynand bangkit berdiri dari tempat duduknya menerima telepon penting itu keluar ruangan. Aku berdiri mengambil alih rapat sebentar. Tidak lama kemudian Pak Reynand masuk kembali berbisik di telingaku.


"Ada beberapa wartawan menunggumu di lobi kantor. Bagaimana?"


Aku terkejut mendengar kata-kata Pak Reynand, berbalik arah keluar ruangan seketika. Aku berjalan mondar-mandir di depan pintu memikirkan apa yang harus aku lakukan sekarang. Tidak lama Pak Reynand membuka pintu keluar menatapku heran.


"Aku harus menemui orang-orang itu. Mengatakan fakta sebenarnya," kataku yakin.


"Benar mau bertemu?"


"Iya. Bapak lihat sendiri video yang tersebar itu hanya potongan video perkelahian. Bukan video full menjelaskan sesuatu."

__ADS_1


"Ya sudah sana temui orang-orang yang kerjanya hanya menggoreng berita jadi ramai," sahutnya tersenyum sinis.


"Kenapa berkata seperti itu?"


"Tidak apa-apa sih. Padahal aku sudah minta kepala bagian PR yang menangani khusus hubungan dengan media untuk membantumu mengatasinya."


"Benarkah?"


Pak Reynand mengangguk dingin lalu kembali masuk ke ruang rapat dengan langkah santainya.


"Tumben sekali dia baik hari ini. Sepertinya dia salah minum obat orang baik. Tingkahnya seperti sedang mendapatkan keberuntungan saja," batinku.


Aku lalu menyusul Pak Reynand masuk ke dalam ruang rapat kembali melanjutkan meeting yang sempat terhenti sejenak.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit saat aku berkemas membereskan barang-barangku masuk ke dalam tas. Pak Reynand keluar dari ruangannya sudah berganti pakaian dengan pakaian kasual sambil menggantungkan jasnya di lengan kanan. Lengan kirinya membawa sebuah tote bag berisi barang-barang pribadi dan pakaian kotornya.


"Sheryl besok saya mau cuti. Tolong atur ulang schedule saya selama dua hari."


"Kok dadakan sih Pak? Bikin susah saja."


"Hei suka-suka saya dong. Sekarang siapa bosnya?" tanya Pak Reynand menantang.


"Iya tahu Reynand Alex Pradipta bosku!" seruku kesal.


"Hahaha ...." Pak Reynand tertawa senang lalu berkata, "Ya sudah saya pulang duluan." Dia lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Pak, saya ingin bicara," teriakku.


Pak Reynand menoleh ke belakang lalu berbalik arah menghampiriku. Dia mengernyitkan dahinya menatap tajam.


"Mengenai pengunduran diri saya, apa sudah mendapatkan pengganti?"


Pak Reynand mengangkat sebelah alisnya menjawab, "Kenapa memikirkan hal itu? Saya sudah merobek surat resign-mu. Saya tidak mengizinkanmu untuk keluar dari perusahaan."


"Saya memaksa," jawabku tegas.


"Silakan. Tapi saya tidak akan mencari pengganti. Saya suka cara kerja kamu. Yah walaupun terkadang bodoh." Pak Reynand tertawa lalu berbalik arah kembali menuju pintu keluar.


Aku mengerucutkan bibirku kesal. Hanya bisa mengomel. Enak saja dia memuji lalu menjatuhkan. Maksudku kan baik, jadi kalau ada pengganti sekarang aku bisa serah terima pekerjaan padanya. Sekretaris baru itu tidak perlu merasakan repotnya bekerja tanpa arahan sepertiku. Lihat saja aku akan kabur dari tempat ini. Biar dia kebakaran jenggot ditinggalkan dan merasakan kerja sendiri.


Tiba-tiba ponselku berdering, Kak Baruna meneleponku. Aku menjawab panggilannya.


"Aku sudah di depan kantormu sayang," katanya.


"Oke aku keluar. Tunggu sebentar," jawabku.


Aku melangkah keluar dari ruang kerjaku lalu masuk ke dalam lift. Di lantai lima lift terbuka, tampak beberapa orang ikut masuk termasuk Wildan dan Irene yang juga akan pulang kantor. Kami saling bertatapan tersenyum.


"Dijemput?" tanya Wildan.


Aku mengangguk, "Lo?"


"Iya," jawabnya.

__ADS_1


"Lo gimana Ren?" tanyaku.


"Gue pulang sendiri Sher. Jomblo gue sekarang," sahut Irene pelan.


Aku menepuk bahunya, "Sabar ya sayang. Jodoh akan datang pada waktunya," hiburku.


Wildan tertawa mendengar kata-kataku. Irene mencubit pipiku gemas.


Ting!


Pintu lift terbuka. Kami semua keluar dari lift, berjalan menuju pintu keluar. Aku melihat mobil Fandy dan Kak Baruna sudah terparkir di depan. Kedua pengemudinya sedang berdiri mengobrol di depan lobi.


"Kenapa mereka jadi akrab?" batinku.


Kami semua keluar menghampiri mereka. Kak Baruna yang melihatku langsung meraih telapak tanganku dan menggenggamnya erat seakan-akan tidak akan melepasnya barang sedetik pun. Fandy dan Wildan hanya tersenyum menatap sikap Kak Baruna. Irene tiba-tiba menyerobot berjalan di tengah kami.


"Jangan berdiri di jalan ya mas-mas dan mbak-mbak. Gue pulang duluan ya teman-teman," pamitnya sambil melambaikan tangan.


"Iya hati-hati ya," ucapku balas melambaikan tangan.


"Hati-hati Ren." Wildan ikut melambaikan tangannya.


Kami saling berhadapan bertemu muka. Fandy menatapku malu-malu kemudian berujar, "Aku sudah mendengar dari Wildan kalau kamu memaafkannya. Terima kasih sudah berbesar hati memaafkan kesalahan kami."


"Tidak perlu kamu pikirkan. Aku sudah menerimanya dengan lapang dada. Ingat Wildan sahabatku, jika kamu macam-macam aku yang pertama kali akan mencarimu," ancamku.


"Iya Sheryl sekali lagi maafkan atas kesalahanku," ucap Fandy memelas.


Aku terdiam, laki-laki ini yang membuatku banyak mengeluarkan air mata sebulan yang lalu. Sekarang meminta maaf kepadaku dengan wajah memelas.


"Iya aku sudah maafkan tapi masa lalu tidak akan pernah bisa diubah. Mungkin di sudut hatiku yang lain masih ada sedikit rasa sedih akibat ulahmu tapi berkatmu sekarang aku bisa memilih orang yang tepat untukku," sahutku.


"Sher ...." Fandy tidak jadi meneruskan kata-katanya karena Kak Baruna menyela pembicaraan kami.


"Kami duluan ya," Kak Baruna menarik tanganku melangkah menuju mobilnya.


Fandy dan Wildan hanya bisa menatap punggung kami dari jauh. Raut wajah mereka menunjukkan penyesalan. Kak Baruna menghidupkan mesin mobilnya. Aku memasang sabuk pengaman. Mobil pun mulai berjalan pelan.


Jalanan ibukota sore hari terasa menyesakkan dada. Kemacetan terjadi di mana-mana. Aku menatap Kak Baruna yang sejak tadi tidak berbicara sedikit pun. Matanya terus fokus pada jalanan di depannya. Tidak lama mobil berhenti. Lampu lalu lintas berwarna merah.


"Sayang kamu kenapa?" tanyaku.


"Kamu ngapain coba ngobrol panjang lebar begitu sama dia? Pakai ancam-ancam segala sih," protesnya.


"Loh kenapa? Aku hanya mengingatkan kalau perbuatannya itu tidak baik. Aku tidak akan terima kalau dia tiba-tiba selingkuhi Wildan temanku," sahutku.


"Karma bisa berlaku sayang. Tidak usah ikut campur mengurus urusan mereka."


"Kamu cemburu?" Aku memicingkan mata ke arah Kak Baruna.


"Wajarlah cemburu. Namanya ngobrol sama mantan pasti ada bapernya sedikit," sahutnya kesal.


Aku membelai bahu Kak Baruna berbisik lirih, "Kamu tidak perlu meragukan yang sudah pasti sayang. Aku yang sudah pasti mencintai dan memilihmu akan selalu berada di sampingmu."

__ADS_1


Kak Baruna tersenyum sambil menginjak pedal gasnya kembali saat lampu lalu lintas kembali berwarna hijau.


"Kamu selalu bisa membuatku bahagia," balasnya berbisik.


__ADS_2