Marriage Order

Marriage Order
Cemburu dan Merindu


__ADS_3

Kak Baruna baru saja membuka pintu kamar hotel tempatku beristirahat, saat aku sedang memainkan smartphone di tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Dia melangkahkan kakinya menghampiriku, memasukkan sebelah tangan ke dalam saku jasnya dan mengeluarkan sebuah paper bag kecil. Dia memberikan benda itu untukku.


"Hadiah pertunangan dari Reynand," ucapnya datar.


Aku menerima benda kecil itu melongok isi di dalamnya. Sebuah kotak berukuran kecil. Aku meraihnya sambil tersenyum.


Sepertinya Pak Reynand salah minum obat. Baik sekali memberikanku hadiah.


Kak Baruna melepas jas yang sedari tadi menempel di tubuhnya kemudian menggantungnya. Dengan cueknya dia juga mulai melepas kancing kemejanya, kemudian menanggalkannya. Selembar kaus putih dibiarkannya masih menempel di tubuhnya yang atletis itu. Matanya terus memandangku dengan tatapan tajam.


Baru saja aku ingin membuka kotak itu, Kak Baruna menyindir, "Senang sekali ya mendapat hadiah dari mantan bos?"


Aku mendongakkan kepalaku melihat raut tidak suka pada wajahnya.


"Sayang kamu cemburu padanya?"


"Siapa yang tidak cemburu melihat tunangannya diberikan hadiah oleh lelaki lain? Sedangkan aku hampir lupa hari ulang tahunmu."


"Sayang, tadi kamu bilang sendiri kalau ini hadiah pertunangan, bukan ulang tahun. Lalu kenapa mengungkit kesalahanmu yang jelas-jelas memang lupa pada ulang tahunku? Aku saja tidak marah mengenai hal itu."


"Hati seseorang siapa yang tahu. Aku memang salah kok tidak ingat hari ulang tahunmu," katanya dengan suara sedikit meninggi.


Aku menatap ke arahnya. Raut wajah cemburu itu benar-benar ditampakkannya. Aku tersenyum menahan tawa.


"Ini tidak lucu sayang," ucap Kak Baruna.


Kak Baruna mendekat ke arahku, menyerang bibirku dengan bibirnya secara tiba-tiba. Napasnya yang begitu memburu tidak teratur membuatku kesulitan untuk bernapas. Dia tidak memberikan kesempatan untukku berbicara. Aku menggigit bibirnya. Seketika dia pun berhenti melakukan aksinya itu.


"Sayang mengapa kamu seperti itu?" tanyaku.


Kak Baruna memalingkan wajahnya tidak menjawab pertanyaanku.


"Apa akibat hadiah ini?" tanyaku lagi.


" ...." Kak Baruna tidak menjawab.


"Mengapa hari ini kamu berbeda sekali. Kak Baruna yang kukenal tidak seperti ini."


Dia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya berulang kali, terlihat jelas berusaha menenangkan emosinya yang meninggi.


"Maafkan aku," ucap Kak Baruna bergegas keluar kamar.


"Sayang!" Aku memanggilnya tapi ia sama sekali tidak peduli.


Aku menghela napasku, sedikit mengkhawatirkannya. Dia memang sangat berbeda dari biasanya.


Aneh ... ada apa dengannya? Mengapa dia begitu marah hanya karena hadiah ini?


Aku melirik kotak kecil itu, meraihnya, lalu membuka perlahan kotak itu. Sebuah jepitan rambut berwarna cokelat kehitaman dengan manik berkilauan bertengger di atasnya.


Indah sekali.


Aku mencoba jepitan itu di rambutku lalu bercermin di kamera ponselku sambil tersenyum narsistik.

__ADS_1


"Bagus juga jepitannya. Tahu saja kalau aku suka memakai jepitan rambut," gumamku.


Ponselku tiba-tiba berdering, aku melirik layar ponselku. Nama Pak Reynand muncul di sana, kugeser lambang telepon berwarna hijau.


"Halo Sher, bagaimana kakimu?"


"Tidak ada yang serius. Hanya terkilir biasa. By the way Pak Rey, terima kasih untuk hadiahnya."


"Iya. Selamat bertunangan dan berulang tahun Sheryl."


Deg!


Pak Reynand tahu hari ini ulang tahunku?


"I - iya Pak. Terima kasih. Jadi jepitan ini hadiah pertunangan atau ulang tahun?"


"Hahaha .... Suka-suka kamu yang menilai. Saya hanya ingin memastikan hadiah itu sudah kamu terima. Sudah ya, saya sedang menyetir."


"Iya Pak."


Pak Reynand mematikan teleponnya. Aku meletakkan ponselku kembali di atas kasur. Kemudian beranjak mengambil handuk menuju kamar mandi dengan langkah kaki yang masih terpincang-pincang. Mandi mungkin akan menjernihkan segala pikiran yang mampir di otakku.


****


Reynand PoV


Keesokan harinya ....


Jam dinding di ruanganku sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit saat aku melirik ruangan Sheryl yang berada di depan ruanganku. Kosong, tidak ada kehidupan di sana.


Segera, aku mempersiapkan dokumen yang akan kusiapkan untuk meeting proposal proyek kerja sama pembangunan hotel di Jepang dengan seorang pengusaha muda yang juga teman seangkatanku saat kuliah, Dirga Mahesa Wijaya.


Tok tok tok.


Pintu ruanganku diketuk seseorang dari luar. Aku bangkit dari tempat duduk membuka pintu. Dirga sudah berdiri tegap di hadapanku. Dia menyunggingkan senyumnya.


"Hai Rey, apa kabar?"


Aku terkejut melihatnya. Seharusnya aku yang pergi ke kantornya untuk meeting hari ini, tapi dia malah menyusulku datang ke kantor.


"Baik sekali," ucapku tersenyum. "Masuk Dir."


Aku dan Dirga melangkah masuk lalu saling duduk berhadapan di meja kerjaku.


"Kok lo malah dateng ke sini? Kan gue yang mau ke kantor lo."


Dirga tersenyum menyeringai menunjukkan waktu yang tertera di arlojinya. Aku terperanjat, mata pun membelalak terkejut, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Jam dinding di ruanganku itu tidak bekerja semestinya.


"Jam dinding sialan! Sudah habis baterai, mengapa masih nampak di depan mataku?"


"Meeting ...." ucapku lirih menyadari meeting yang telah terlewat.


"Lo kenapa Rey, enggak biasanya lusuh begitu? Ke mana pula Reynand yang on time itu?" ejeknya.

__ADS_1


"Enggak tahulah. Gimana nih nasib meeting-nya?"


"Hahaha .... Tenang, meeting diundur setelah jam makan siang. Gue sengaja ke sini jemput lo."


Aku menghela napas lega. Anggap saja hari ini hari keberuntungan sekaligus kesedihanku. Dirga tertawa menatapku.


"Lagian Rey, kenapa ruangan sekretaris lo kosong melompong gitu? Ke mana dia?"


"Baru aja resign Dir."


"Pantes lo kacau. Enggak ada yang urusin. Hahaha," ucapnya kembali tertawa.


"Udah deh jangan mulai. Ngomong-ngomong gue denger belum lama ini istri lo lahiran?" tanyaku.


"Iya. Wah parah lo, belum lihat anak gue ya? Gue bahagia banget pas anak gue lahir. Hidup gue jadi lebih semangat. Lo harus menikah secepatnya agar bisa merasakan perasaan itu," sahutnya terkekeh.


"Kata-kata menikah lagi ...." dengkusku.


"Iya menikah. Kan lo udah punya calon tuh si Kayla. Tinggal married aja susah banget. Umur udah cukup, pekerjaan mapan, cewek cantik, dan yang terpenting udah direstui kedua belah pihak. Apalagi sih yang lo cari?"


"Bisa aja lo ngomong. Gue belum klik sama dia Dir."


"Masalah itu aja lo pikirin. Nanti juga klik kalau lo udah tahu rasanya. Hahaha," Dirga kembali meledek.


Aku terdiam seribu bahasa. Kata-kata Dirga sungguh menohok jantungku. Benar-benar merasuk ke dalam hati. Andai semuanya semudah itu, sudah kulakukan dari dulu.


"Sudah ... sudah ... ayo kita ke kantor lo."


"Wah Rey, lo jadi panas ya. Sorry ya. Nih gue kasih lihat foto anak gue biar dingin. Baby Gav."


Dirga mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya. Dia menunjukkan gambar anak bayi mungil di layar ponselnya. Sangat lucu dan imut menggemaskan.


Pikiranku melayang memikirkan Sheryl yang selalu mengisi hati dan otakku setiap harinya. Andaikan aku yang bertunangan dan akan menikahinya, lalu memiliki anak dengannya. Tidak ada lagi yang aku inginkan di dunia ini. Aku mulai termenung sendiri, melupakan Dirga yang masih duduk di hadapanku.


"Woy Rey ... lo mikirin apaan? Malah melamun lagi." Dirga melambaikan telapak tangannya di hadapanku membuatku tersadar.


"So - sorry Dir," ucapku sambil mengucek mataku yang tidak bersalah itu.


"Jangan melamun! Segitunya ... lo mikirin mau punya anak juga ya?" Dirga terkekeh.


"Enggak. Gue ke toilet dulu." Aku beranjak dari tempat dudukku berjalan ke arah toilet.


Dirga yang melihat tingkahku hanya menggelengkan kepalanya.


"Sial .... Mengapa aku jadi seperti ini?"


_________________________


Yuk baca juga kisah Abang Dirga Mahesa Wijaya di novel Feel In Love With My Arogan Fiance.


Salam manis


Viviani

__ADS_1


__ADS_2