Marriage Order

Marriage Order
Kayla


__ADS_3

Reynand PoV


Aku membuka pintu apartemen, rasa lelah menyelimuti tubuhku. Tidak lama lalu merebahkan tubuh di atas sofa. Aku baru saja pulang dari rumah Baruna, mengantar Tante Meri pulang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.


Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu. Aku beranjak malas melangkah membuka pintu apartemen.


Siapa sih yang bertamu malam-malam begini?


Ceklek!


Aku terkejut melihat Kayla berdiri di hadapanku. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Tangan lainnya membawa sebuah paper bag besar.


Mau apa lagi dia ke sini?


"Apa aku tidak boleh masuk?" tanyanya.


"Silakan," jawabku sedikit malas lalu berbalik arah meninggalkannya.


"Terima kasih, Rey." Kayla mengikutiku masuk dari belakang.


Aku tersentak kaget, tiba-tiba Kayla melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Dia juga membenamkan wajahnya di punggungku.


"Mamamu tadi menghubungiku. Dia memintaku datang membawakan makanan untukmu, Rey. Kebetulan, aku juga sangat merindukanmu," ucapnya pelan.


"Kay, kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi." Aku hendak memutar tubuhku tapi tidak bisa karena Kayla semakin erat memeluk.


"Aku jatuh cinta padamu. Aku tidak akan melepasmu walau kamu sudah hempaskan diriku berkali-kali, Rey. Aku tidak peduli dengan kedua orang tuaku yang juga ikut melarang diriku untuk kembali mendekatimu."


"Kay, jangan mulai lagi. Lepaskan aku!" perintahku.


Kayla pun melonggarkan pelukannya. Aku memutar tubuhku. Dia menundukkan wajahnya.


"Lihat aku!"


Kayla mengangkat wajahnya. Tatapan matanya terlihat malu sekaligus takut.


"Aku rasa kita sama. Perasaan cinta memang tidak pernah kuminta, bahkan kularang. Rasanya tidak adil kalau aku bersikeras menolakmu, sedangkan aku sendiri tidak bisa menolak diriku mencintai Sheryl. Tapi jangan pernah salahkan diriku jika nantinya kamu akan merasakan sakit berkali-kali. Perasaanmu adalah tanggung jawabmu, Kay."


"Rey ...." lirihnya.


"Jadi apa yang kamu bawakan untukku?" tanyaku sambil merebut paper bag di tangannya.


Kayla mengembangkan senyumnya. Wajahnya lalu berubah ceria.


"Jadi, apa hubungan kita?"


"Terserah! Apapun yang kukatakan pasti sama saja bagimu. Aku sudah jujur tentang semuanya. Jika memang kamu memilih untuk terus seperti ini, mungkin kamu juga akan merasakan sakit berkali-kali. Aku tidak mau bertanggung jawab atas itu."


"Aku tidak masalah, Rey. Aku akan berusaha lebih untuk mendapatkan hatimu."


Aku terdiam tidak menanggapinya. Tanganku sibuk mengeluarkan satu persatu makanan yang dibawanya. Salah satunya sushi kesukaanku.


Kayla lalu duduk di atas sofa, menyalakan televisi, dan mulai sibuk menonton.


"Rey, Mamamu merindukanmu. Kamu tidak sayang meninggalkannya begitu lama?"

__ADS_1


"Hei .... aku baru meninggalkannya sehari dan kamu bilang itu lama? Aku akan mengunjunginya sesekali. Kamu bisa mengatakan hal itu padanya."


"Ya tentu saja. Kalian 'kan pasangan ibu dan anak yang paling dekat. Kasihan Mamamu .... Kamu harus sering menghubunginya."


Aku tidak menjawab kata-katanya. Sibuk mengatur beberapa makanan di hadapanku.


"Rey, apa aku bisa berteman baik dengan Sheryl? Aku rasa dia bisa menjadi teman yang baik." Kayla tiba-tiba mengatakan hal yang membuatku bergeming sejenak memandangnya.


"Ehm ... aku tidak tahu. Silakan saja jika kamu mau mencobanya."


"Bolehkah?"


"Mengapa harus minta izin dariku? Aku bukan siapa-siapanya," sahutku.


"Yah aku takut saja bila kamu keberatan. Aku 'kan pernah beberapa kali memakinya."


"Itu urusanmu," balasku singkat.


Kenapa dia jadi membicarakan Sheryl di hadapanku?


"Baiklah, aku anggap itu izin darimu." Kayla mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia lalu menghubungi seseorang dengan video call.


Aku membawa sepiring sushi dan semangkuk mie ramen di sebuah nampan dan meletakkannya di meja. Kayla hanya melirik, lalu matanya beralih lagi ke layar smartphone menunggu panggilan dijawab.


Aku membanting tubuhku duduk di atas sofa yang sama dengannya dan mulai menyantap makanan itu.


"Halo, Tante Aina!" sapanya di telepon seraya menunjukkan wajahnya fokus pada kamera depan.


Uhuk-uhuk-uhuk!


Aku sontak tersedak, buru-buru meneguk air putih di hadapanku. Ternyata Kayla menghubungi ibuku. Satu-satunya tindakan yang kuhindari dari kemarin. Sekarang dia malah melakukannya.


Kayla mengarahkan layar ponselnya ke arahku yang sedang makan.


"Rey, pulanglah. Kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik."


"Aku belum ingin pulang, Ma. Aku akan datang sesekali. Mama tidak perlu khawatir. Aku sudah biasa mandiri," jawabku dingin tanpa melihat layar ponsel.


Kayla menarik ponselnya dan mengarahkan layarnya kembali di hadapannya.


"Tante tenang saja. Aku akan menjaga pola makan Reynand di sini."


"Terima kasih, Kayla. Kamu benar-benar calon menantu idaman Tante. Jaga Reynand baik-baik. Dia memang suka berkata pedas. Tapi jangan kamu masukkan ke dalam hati, ya. Tante tahu lambat laun dia pasti akan jatuh cinta padamu."


"Aku tahu itu, Tante. Nanti aku akan sering mengunjungi Tante di rumah."


"Iya, untungnya Indira dan suaminya menemani Tante di sini. Tante tidak bisa membayangkan kalau Tante hanya tinggal sendiri di sini. Anak lelaki Tante satu-satunya itu memang tidak sayang ibunya sama sekali. Dia tega meninggalkan ibu kandungnya sendiri."


Aku sontak meletakkan piring di tanganku, bangkit dari sofa, dan buru-buru masuk ke dalam kamar saat mendengar perkataan ibuku yang sedang mengadu pada Kayla. Kayla membelalakkan matanya melihat tingkahku yang tiba-tiba.


Aku duduk di pinggir ranjang. Mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Ingin sekali rasanya berbagi cerita apa yang kurasakan saat ini pada Sheryl. Namun, apa dia akan menjawab panggilan ku?


Tidak sadar aku sudah menekan tombol panggil di ponselku. Panggilan terhubung, suaranya mulai terdengar.


"Halo, Pak."

__ADS_1


"Ha-halo, Sher. Apa saya mengganggumu?"


"Tidak Pak, kecuali jika Bapak meminta pelukan dari saya." Nada suaranya terdengar menyindir.


"Mengenai hal itu, saya minta maaf. Saya benar-benar tidak sengaja mengatakannya."


"Benarkah?"


"Tentu saja, Sher."


"Jadi, ada keperluan apa Bapak menelepon saya?"


"Hmm ... bisakah kita bertemu besok? Hanya sekedar makan siang, mungkin?" Aku bertanya ragu, jantungku berdebar hebat.


"Lalu?"


"Maksudnya?"


"Iya, jika ingin bertemu untuk makan siang, lalu hal apa yang ingin Bapak bicarakan?"


"Saya hanya ingin bertemu denganmu."


"Saya rasa kita tidak perlu sering bertemu. Bukankah dua hari ini juga kita sering bertemu? Saya ingin fokus pada pernikahan saya. Saya harap, Bapak mengerti maksud saya."


Aku menelan ludah mendengar perkataannya. Dia sudah benar-benar tegas menolakku.


"Sher, apa tidak ada kesempatan untuk saya?"


"Ehm ...."


Tok-tok-tok!


Kayla mengetuk pintu kamarku dengan keras. Aku tidak mempedulikannya.


"Bukalah pintu itu dahulu. Saya mendengar suara ketukan yang sangat jelas di sini."


"Iya, nanti saya akan menghubungimu lagi, Sher."


Aku mematikan telepon, beranjak dari ranjangku. Wajah marah kutunjukkan padanya saat aku membukakan pintu untuknya. Kayla menatap dalam wajahku.


Mau apa lagi sih, Kayla?


"Wajah marahmu tidak akan berpengaruh apa-apa bagiku. Sudah biasa!" tegasnya.


Aku menghela napas, balik menatap wanita itu.


"Apa lagi, Kay?"


"Aku mau pulang. Antarkan aku!" pintanya.


"Kamu datang sendiri, masa iya aku harus mengantarmu?"


"Kamu sungguh tidak berperasaan. Tega membiarkan seorang gadis pulang sendiri malam-malam." Kayla mulai merajuk.


"Ya sudah, sebentar. Aku ambil jaketku dulu."

__ADS_1


"Oke, aku tunggu," jawab Kayla bersemangat.


Aku segera mengambil jaket yang tergantung di sebuah hanger dan keluar dari dalam kamar, kemudian mengantar Kayla pulang ke rumah.


__ADS_2