Marriage Order

Marriage Order
Bertukar Pendapat (2)


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore saat aku melihat Kak Baruna tertidur dengan lelap di atas sofa panjang ruang tengah. Kencan kami akhirnya batal dan kami memutuskan untuk tetap berada di rumah. Aku menatap wajahnya yang sedang tidur itu, begitu menarik mengundangku ingin menjahilinya sekali-sekali.


Aku melepas ikat rambutku lalu memakaikannya pada rambutnya yang mulai panjang itu. Aku tertawa geli melihat penampilannya lalu bangkit berdiri dan beranjak dari sofa yang kududuki di sampingnya namun tiba-tiba tangannya bergerak menarik tanganku. Aku terduduk di pinggir sofanya. Dia merangkul dan mendekap tubuhku hingga aku ikut terbaring di samping tubuhnya. Aku memberontak menyingkirkan tangannya tapi ia menolaknya dan memelukku semakin erat.


"Biarkan posisi ini sebentar saja. Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu pikir aku tidak tahu kamu menjahiliku? Kalau ingin tidur di sampingku bilang saja," bisiknya hangat di telingaku.


Wangi harum parfum tubuhnya semerbak menempel di tubuhku. Jantungku berdetak kencang. Tubuhku menghangat berada di sampingnya yang sangat erat memelukku.


"Ternyata kamu hanya pura-pura tidur. Ah aku menyesal menjahilimu."


"Terima resiko jika berani menjahiliku." Tangan Kak Baruna menggelitiki perutku.


Aku yang tidak bisa menahan rasa geli kemudian tertawa terbahak-bahak. Tapi dia tidak kunjung berhenti melakukan aksinya.


"Hentikan .... Ampun sayang. Aku tidak akan jahil lagi," ucapku meminta ampun


Kak Baruna menarik jari jemarinya berhenti menggelitikku.


"Kalau begitu cepat tidur," ucap Kak Baruna masih memelukku.


"Sayang bagaimana aku bisa tidur kalau kamu mendekapku seperti ini? Sofa ini sangat sempit untuk kita berdua." Aku membalik tubuhku hingga wajahku berhadapan dengan wajahnya.


"Detak jantungmu cepat sekali sayang. Rasa kantukku jadi hilang seketika merasakan dentuman demi dentuman bom di otakku yang memerintahku memadu kasih denganmu."


"Kamu membuatku geli mendengar ucapanmu itu. Mungkin kalau orang lain yang mendengar mereka akan muak padamu."


"Biarkan mereka muak padaku asal bukan kamu yang seperti itu." Kak Baruna mengubah posisi tidurnya lalu berada di atas tubuhku menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Apa yang kamu lakukan sayang?" Aku terkejut melihatnya.


Dia menatap mataku penuh dengan tatapan mesra. Mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku dengan lembut dan begitu dalam menekannya hingga menyapu seluruh rongga mulutku. Dadaku bergemuruh berdetak kencang tidak karuan. Tubuhku kembali menghangat merasakan kenikmatan sentuhan bibirnya yang lembut. Serangannya yang bertubi-tubi itu mulai turun menjelajah hingga ke leher. Aku cepat-cepat mendorong tubuhnya. Dia lalu duduk di pinggir sofa merutuki dirinya sendiri.


"Kentang," ucapnya lirih dengan wajah merona merah sampai dengan daun telinganya.


"Kentang?" Aku tertawa.


"Iya kena tanggung. Apa lebih baik aku dipingit saja agar tidak sering bertemu denganmu?" Kak Baruna memanyunkan bibirnya kecewa.

__ADS_1


"Apa kamu sanggup tidak bertemu denganku?"


"Entahlah, kalau berada di dekatmu aku jadi tersiksa menahannya. Untungnya akal sehatmu masih terus berjalan."


Aku bangun dari sofa dan memeluk Kak Baruna dari belakang, membenamkan wajahku di punggungnya.


"Apakah hanya ini arti pernikahan bagimu? Kalau sudah melakukannya lalu apa lagi yang kamu harapkan?"


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Pemikiran itu tiba-tiba saja datang di otakku. Aku bisa saja memberikan semuanya padamu. Lalu apa?"


"Aku tidak sekotor yang kamu pikirkan sayang. Pernikahan bagiku tidak sesimpel itu. Ketika aku harus menghabiskan waktuku selama di dunia ini hanya dengan orang yang kucintai dan benar-benar ingin hidup denganku baik susah maupun senang. Berjuang bersama dan saling mendukung satu sama lain." Kak Baruna membalik tubuhnya lalu kami saling berhadapan. Dia membelai rambutku lembut.


"Berkali-kali kamu membuatku tercengang. Aku tidak bisa membalas kata-katamu. Tubuhku selalu meleleh berada di dekatmu merasakan sentuhan dan kata-kata darimu. Aku semakin mencintaimu," batinku.


"Aku mengantuk," ucapku mengalihkan pembicaraan. Aku takut kami tergoda lagi melanjutkan yang tadi tertunda.


"Ya sudah pindah saja ke kamarmu."


"Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri di sini."


"Terus nanti apa yang akan kamu lakukan?"


"Paling aku mengecek email pekerjaan yang belum sempat kubalas."


"Weekend pun masih kerja?"


"Iya tadi pun kakek menelepon karena ada masalah pekerjaan."


"Aku kira jadi bos itu semakin sedikit pekerjaannya karena semuanya sudah diatasi oleh anak buah."


"Aku belum jadi bos sayang. Kakek masih memegang kendali semuanya. Pengukuhan serah terima jabatan itu dilaksanakan setelah pernikahan kita."


"Kenapa harus setelah pernikahan?" tanyaku heran.


"Entahlah aku tidak tahu rencana kakek karena semuanya ada dalam kendalinya. Bahkan alasan kenapa Reynand tidak mendapat hak warisan pun aku tidak mengerti. Mereka tidak pernah menjawab secara gamblang selain karena perceraian yang tidak baik itu," ucap Kak Baruna, "Aku ambil laptopku dulu di mobil." Dia lalu beranjak dari duduknya keluar mengambil laptopnya.

__ADS_1


Aku terdiam mendengar penjelasannya. Memang rasanya ada yang aneh dengan sikap keluarga Kak Baruna itu. Cucu kandung seharusnya memang mendapat bagiannya bukan? Tidak perlu banyak alasan untuk memberikannya.


Aku merebahkan tubuhku kembali di atas sofa dan berusaha memejamkan mata. Tidak lama kemudian aku terlelap. Mataku tidak bisa diajak kompromi, sangat berat lalu gelap seketika.


_______________________


Tiga jam kemudian ....


Aku membuka mataku kaget. Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore. Tidak ada siapa pun di ruang tengah ini. Kak Baruna entah pergi ke mana. Aku meraih ponselku menelepon Kak Baruna. Terdengar suara nada sambung lalu diangkat olehnya.


"Sayang kamu di mana?"


"Di ruang makan. Bantu Tante siapkan makan malam," jawabnya lalu terdengar suara Mama yang mengomeli Kak Baruna agar dia tidak ikut sibuk mengatur meja makan.


"Kamu diomeli Mamaku?"


"Biar saja. Aku hanya sedikit membantunya. Kamu mandi dulu sana. Kita kan mau pergi."


"Baiklah, tunggu aku," jawabku sembari beranjak dari sofa melangkah menuju kamarku.


Setengah jam kemudian aku sudah selesai bersiap-siap. Kak Baruna menungguku di ruang tamu. Dia sudah rapi dengan kemeja marun di balik jas hitamnya, membuatku tercengang ternyata kami memakai pakaian dengan warna senada. Gaunku berwarna marun polos selutut dengan rok yang mengembang menyatu dengan atasan yang sedikit terbuka. Kode alam menjodohkan kami lagi hari ini. Setelah sebelumnya memakai pakaian dengan warna senada di pesta pernikahan Nesya.


"Sepertinya kita memang berjodoh sayang. Aku tidak perlu memberitahumu dress code - nya dan kamu sudah tahu," ujarku.


"Tidak ada gaun yang lain?" Kak Baruna mengernyitkan dahinya melihat penampilanku.


"Ada yang salah?" Aku melirik gaun yang kukenakan.


"Aku tidak sudi mata lelaki lain menyoroti penampilanmu. Gaun itu sedikit terbuka untukmu," protesnya.


Aku memanyunkan mulutku kesal namun tetap mengikuti kata-katanya berbalik arah menuju kamarku, mengganti gaunku.


"Apa memang gaun ini terlihat terbuka untukku? Gaun ini sangat cantik dan aku ingin setiap orang terpukau melihat penampilanku," pikirku narsistik saat bercermin di depan meja riasku.


Aku membuka lemari pakaianku mulai memilih gaun lain dengan warna senada berlengan pendek selutut lalu melangkah keluar kamar menuju ruang tamu.


"Perfect!" ujar Kak Baruna tersenyum.

__ADS_1


Dia mengulurkan tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya erat keluar dari rumah.


__ADS_2