
Aku dan Kak Baruna melangkah mesra masuk ke dalam mall terdekat dari rumah sakit. Letaknya yang strategis membuatnya banyak dikunjungi oleh orang-orang yang ingin membuang waktu untuk sekedar menyegarkan pikiran, mendapatkan hiburan, dan berbelanja berbagai kebutuhan hidup.
Aku melirik ke arahnya. Matanya yang tajam memandang lurus ke depan membuatnya semakin tampan. Dia balas melirikku dengan senyum manisnya.
"Kamu kenapa melirikku seperti itu, sayang?" tanyanya.
"Ti-tidak ... si-siapa juga yang melirikmu." jawabku tergagap.
Kenapa wajahnya menjadi semakin tampan di saat seperti ini?
Aku menelan ludah, berusaha menghilangkan kecanggungan. Kak Baruna semakin menatapku dalam. Aku memalingkan wajahku yang tiba-tiba menghangat.
"Kamu sedang memikirkan apa?"
"Eh ... tidak ada, sayang."
"Yakin?" Kak Baruna mulai menggodaku.
"Iya, tentu saja."
"Baiklah jika tidak mengaku. Aku tebak, kamu sedang memikirkanku. Memiliki tunangan tampan tidak terkira," jawabnya menggoda seraya menahan tawa.
"Sejak kapan kamu jadi lelaki narsistik seperti ini, sayang? Seperti bukan Kak Baruna yang kukenal."
"Sejak kamu jadi tunanganku dan tidak ingin orang lain merebutmu dariku."
Deg!
Apa kata-katanya sedang menjurus pada Pak Reynand?
Aku tidak membalas kata-katanya. Pikiranku jadi tidak fokus padanya. Harusnya Kak Baruna tidak usah mengingatkanku pada saudara tirinya itu. Tingkahnya makin menyebalkan saja. Seperti yang tadi terjadi di rumah sakit. Minta peluk? Dia makin menggila.
"Kamu kenapa jadi melamun?" Kak Baruna menyadarkanku. Lamunanku buyar seketika.
"Eh ... maaf sayang," sahutku menoleh padanya.
"Oke. Kamu mau apa sekarang? Aku akan mengabulkannya untukmu."
"Aku?"
"Iya, aku sedang bersamamu. Masa orang lain?"
"Tidak ada. Aku sedang tidak butuh apa pun."
"Kalau begitu aku yang akan membelikanmu sesuatu," sahutnya tersenyum.
Dia menarik tanganku, mengajakku masuk ke sebuah butik perhiasan berlian, B & M.
Mau apa dia ke sini?
"Selamat sore. Selamat datang, Pak Baruna." Seorang pramuniaga menyapa dengan wajah sedikit terkejut melihat kami
Aku menatap bingung ke arah pramuniaga itu.
Pramuniaga ini kenal Kak Baruna?
"Sore. Saya ingin melihat koleksi terbaru bulan ini," tegasnya penuh wibawa.
"Baik, Pak." Pramuniaga lainnya mengambil beberapa perhiasan dan ditaruh di atas etalase.
Kak Baruna terlihat mengamati perhiasan di hadapannya. Aku ikut melihat dengan tatapan bingung.
"Kamu mau yang mana?" tanyanya sambil menoleh ke arahku.
"Aku tidak mau, sayang."
"Ayolah, kamu belum pernah meminta apa pun dariku selama ini. Sebagai tunanganmu, aku ingin memberikanmu sesuatu dan kali ini aku memaksa," tegasnya.
Aku memanyunkan bibirku tidak suka. Kak Baruna terlihat bingung menanggapi sikapku yang tiba-tiba seperti itu.
"Baiklah, kalau begitu aku yang akan pilihkan," katanya. Dia lalu menoleh ke arah pramuniaga itu. "Saya pilih ini saja, Mbak."
"Baik, Pak." Sang pramuniaga lalu mengemas sepasang anting-anting bertahtakan berlian pilihan Kak Baruna. "Bagaimana kabar Bu Meri, Pak?" tanya pramuniaga itu.
"Baik. Jangan lupa ya, datang ke pernikahan saya. Undangannya nanti menyusul," ucapnya tersenyum sambil mengeluarkan sebuah kartu untuk pembayarannya.
"Siap, Pak."
Tidak lama setelahnya, kami sudah keluar dari butik perhiasan itu. Aku melirik ke arah Kak Baruna.
"Mereka kenal Tante Meri?" tanyaku penuh selidik.
"Iya, tentu saja. Butik itu milikku dan Bunda."
"Pantas saja ... B & M. Baruna dan Meri," tanggapku menahan tawa. Aku benar-benar buta akan usahanya.
Kak Baruna hanya tersenyum. Kotak perhiasannya diberikan langsung ke genggaman tanganku. Terlihat dari wajahnya kalau dia benar-benar tulus mencintaiku.
"Terima kasih, sayang."
__ADS_1
"Terlalu cepat mengatakan terima kasih. Nanti aku juga yang akan memakaikannya," bisiknya pelan.
"Aku bisa memakainya sendiri. Jangan membuatku canggung lagi. Aku malu, sayang."
"Iya, baiklah. Apa pun untukmu."
"Terima kasih, sayang." Aku mengecup pipinya.
Kak Baruna terkejut, terdiam seketika. Wajahnya bersemu merah malu. Aku ikut malu menatap wajahnya.
"Ki-kita makan dulu saja," ajaknya menunjuk sebuah restoran di hadapannya.
"Oke, sayang. Kebetulan cacingku sudah minta jatah makan," sahutku terkekeh.
Kak Baruna ikut terkekeh mendengar jawabanku. Kami lalu masuk ke restoran itu. Duduk berhadapan di sebuah meja yang terletak di sudut ruangan. Seorang pelayan menghampiri kami dan memberikan sebuah buku menu dan memesan makanan untuk kami.
Kak Baruna dan aku memilih menu yang ada di dalam buku dan memesan makanan yang kami inginkan. Tidak lama setelahnya dia pergi membawa catatan pesanan.
"Sayang, bagaimana ceritanya Kakek bisa pingsan?" tanyaku membuka pembicaraan.
Kak Baruna menghela napasnya. Dia menatapku serius dan menceritakan semua yang terjadi hari ini. Aku mendengarkan dengan seksama, tidak ingin terlewat satu kata pun.
"Jadi, Pak Reynand tidak tahu kalau sebenarnya ibunya yang membatasi komunikasi, tidak mengizinkan Om Anton bertemu dengannya?" tanyaku terkejut.
"Iya. Pasti dia kecewa sekali dengan ibunya sekarang."
"Kasian Pak Reynand ...." gumamku.
"Kamu bersimpati sekali dengannya," sahutnya.
"Tentu saja, sayang. Coba kalau kita yang berada di posisinya? Sejak kecil tidak mengenal ayah kandungnya secara pribadi. Bahkan terkesan ditutupi sebuah kebenaran di baliknya."
"Aku pikir wajar jika Tante Aina melakukan hal itu. Dia memang pihak yang tersakiti. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya."
"Hmmm .... Jadi bagaimana dengan masalah pewaris itu?" tanyaku lagi.
Kak Baruna tidak menjawab. Dia terlihat ragu-ragu. Entahlah, aku tidak bisa membaca pikirannya. Mungkin memang menjadi rahasianya saat ini. Pada saatnya nanti dia juga akan mengatakannya sendiri.
Sepuluh menit kemudian, pelayan restoran menghampiri kami membawa hidangan yang kami pesan. Dia lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kami.
Aku dan Kak Baruna sedang menyantap hidangan kami, saat tiba-tiba aku mendengar suara seorang gadis memanggil namaku.
"Kak Sheryl!" Aku menengok ke belakang mencari asal suara. Tampak seorang gadis seperti Khanza sepupuku dan seorang remaja laki-laki datang menghampiri kami.
"Kak Sheryl! Kak Baruna!" Khanza memanggil kami berdua
"Kha-Khanza!" Aku menatap ragu padanya. Gadis ini menggandeng seorang laki-laki sebayanya. Tidak seperti Khanza yang kukenal. Wajahnya berhias dengan sempurna.
"Ini beneran Khanza?" tanya Kak Baruna ragu.
"Iya, Kak," jawabnya.
"Wah, Kakak sampai pangling loh!" Aku melihat banyak perubahan Khanza setelah berdandan. Dia lebih cantik dan manis.
"Cantik ya, sayang?! Biasanya 'kan ...." Kak Baruna tidak menyelesaikan kata-katanya. Dia sepertinya takut jika Khanza tersinggung.
"Dia siapa, Za?" Aku menatap laki-laki yg berdiri di samping Khanza.
"Kenalin Kak, aku Arif temannya Khanza." Laki-laki remaja itu mengenalkan dirinya seraya mengulurkan tangan menjabat kedua tangan kami.
"Oh ... Arif yang dikagu ...." Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Khanza memotong nya.
"A .... Boleh kita gabung di sini, Kak?" tanyanya ragu.
"Boleh, silakan," sahut Kak Baruna.
"Boleh dong." Aku mempersilakan mereka duduk bersama kami.
Kami lalu duduk saling berhadapan. Kak Baruna menanggil salah satu pelayan restoran. Memesan makanan untuk kedua anak remaja itu.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Kak Baruna.
"Kamu pesan apa, Za?" Arif melirik Khanza.
Arif membuka buku menu dan memesan hidangan yang mereka inginkan. Pelayan itu lalu mencatat pesanan mereka. Kemudian pergi meninggalkan kami.
"Anak zaman sekarang romantis ya, sayang." Aku melirik sepasang remaja di hadapanku.
"Iya, cocoklah kalau pacaran," sahut Kak Baruna.
Tampak pipi Khanza dan Arif yang memerah malu. Aku dan Kak Baruna hanya tersenyum menahan tawa.
Khanza, jadi ini Arif yang kamu kagumi itu?
Kami lalu saling mengobrol membicarakan hal lainnya sembari menunggu pesanan mereka datang.
"Kak Sheryl dan Kak Baruna nanti datang ya ke sekolahku. Ada pertandingan basket antar pelajar."
"Kapan, Za?" tanyaku.
__ADS_1
"Tiga hari lagi. Pokoknya harus datang," jawab Khanza sedikit memaksa.
"Iya, kami pasti datang," sahut Kak Baruna.
"Jangan lupa datang ke acara pernikahan kami. Dua minggu lagi, loh. Arif juga harus datang. Kasihan Khanza tidak ada pasangan. Awas saja tidak datang seperti acara pertunangan," ucapku sedikit mengancam lalu kemudian tertawa.
"Iya, Kak Sher," jawab Khanza masih dengan pipi memerah. Disambut Arif yang ikut memerah pipinya.
"Pasti Kak! Pasti aku temani dia," sahut Arif lalu melirik Khanza. Khanza ikut melirik malu.
"Ehem ... kode tuh, Rif," ujar Kak Baruna.
"Za, aku ke toilet dulu," sela Arif dengan wajah memerah lalu buru-buru melangkah menuju toilet.
Khanza mengangguk. Dia menatapku tersenyum. Raut wajahnya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, bahagia sekali.
"Kalian sudah jadian?" tanyaku terkejut.
"Nanti aku ceritakan, Kak. Malu ada Kak Baruna," bisiknya.
"Oh ... oke. Kalian main rahasia-rahasiaan sama aku nih?"
"Ini urusan perempuan, sayang," sahutku.
Tiba-tiba ponsel Kak Baruna berbunyi. Dia segera mengangkat teleponnya. Semenit kemudian mematikan kembali ponselnya.
"Kita pulang, yuk. Reza sudah marah-marah menunggu kita di rumah sakit," ajaknya.
"Khanza kami pulang duluan ya," pamitku.
"Makanan dan minumannya biar aku yang bayar. Nikmati saja kebersamaan kalian sekarang. Kapan lagi bisa kencan romantis berdua dan tidak ada yang mengganggu," tambah Kak Baruna tersenyum simpul.
Khanza hanya mengangguk tersenyum. Wajahnya terus bersemu merah. Imut sekali. Kami pun keluar dari restoran itu dengan suasana hati bahagia. Kencan yang kemarin tertunda dibayar lunas hari ini.
****
Reynand PoV
Pukul empat sore, Kakek Awan masih belum sadar. Aku dan Daniel memutuskan untuk pamit pulang ke rumah. Di sana hanya tinggal Tante Meri, Ayah Anton, dan Reza yang masih menungguinya.
"Tante, Ayah ... aku dan Daniel pamit pulang ya," pamitku seraya tersenyum.
Tante Meri dan Ayah Anton sontak mengangkat kepalanya menatap kami berdua. Raut wajah yang terlihat sedih itu masih tergambar di sana. Aku melirik ke arah Reza yang sedang memainkan ponselnya, menoleh ke arah kami, dan tiba-tiba tersenyum kecut lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya kembali.
Ada apa dengannya?
Aku tidak mempedulikannya dan memandang ke arah kedua orang tua di hadapanku.
"Hati-hati di jalan, Rey," ujar Ayah Anton dengan air muka yang sedikit canggung.
"Iya, Ayah," balasku tidak kalah canggung.
Tante Meri hanya tersenyum hampa melihatku. Mungkin dia masih merasa tidak enak kepadaku atas kejadian masa lalu. Entahlah, aku hanya bisa menebak-nebak.
Aku mengerlingkan mataku ke arah Reza. Dia tidak menoleh ke arahku lagi.
"Za, gue pulang duluan."
"Ya." Jawaban singkat terdengar dari mulutnya.
Segera, aku dan daniel berjalan meninggalkan mereka. Tidak lama kami sudah berada di dalam mobil menuju jalan pulang.
"Rey, tadi lo kenapa? Kesambet setan mana lo minta dipeluk Sheryl? Kocak." Daniel tertawa meledek.
"Ish .... Gue gak tahu, Niel. Tiba-tiba kata-kata itu meluncur sendiri dari mulut gue."
"Lo cemburu sama Baruna?" tebak Daniel.
Oke kamu benar, Daniel. Aku cemburu, saat Baruna memeluk tubuh Sheryl dengan eratnya. Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku sendiri. Sehingga kata-kata yang seharusnya masih mentah di hati, belum diolah otak, langsung terlontar begitu saja. Ya, aku ingin dia juga memelukku! Sekarang aku menyesalinya. Aku sangat malu .... Mungkin saja sekarang dia sudah ilfeel denganku.
"Rey! Rey! Lo ngelamun?" Daniel mengagetkanku.
Aku sontak menoleh ke arahnya dan menepikan kendaraanku tiba-tiba. Aku menarik napas panjang, dan menghelanya berulang-ulang. Daniel membulatkan matanya ketakutan.
"Gila, Reynand! Lo mau mati. Anzeer bikin gue deg-degan. Sini gue yang nyetir. Kalo nyetir jangan ngelamun. Gue calon bapak nih. Kasian anak gue nanti kalo lahir gak ada bapaknya!" protes Daniel langsung menyuruhku bertukar tempat dengannya.
"Sorry, Niel."
Daniel tidak menjawab. Dia menahan rasa kesalnya padaku. Aku kembali termenung. Daniel menggelengkan kepalanya. Dia lalu mengemudikan mobilku perlahan.
"Gue tadinya gak percaya lo suka sama Sheryl pas Indira ngomong ke gue. Tapi sekarang setelah lihat semua yang terjadi, gue yakin kalo lo beneran suka sama dia."
"Terus kalau gue suka, gimana?"
"Udah lupain aja perasaan lo. Mereka itu saling mencintai dan sulit dipisahkan. Lupakan segalanya tentangnya. Move on, man!"
Aku bergeming tidak menjawab. Bagiku sekarang yang terpenting adalah pemikiranku sendiri. Aku ingin mendapatkannya.
_______________________
__ADS_1
Baca juga novel Mengagumimu karya Amel untuk tahu kisah Khanza dan Arif.