
Sheryl Pov
Hari ini adalah hari kepulanganku dari rumah sakit. Rasanya sangat aneh akan pulang ke kediaman kami. Bermacam-macam perasaan bercampur jadi satu dalam benakku.
Bagaimana tidak? Selain tidak mengingat Baruna, aku sama sekali tidak mengingat kedua mertuaku. Kami memang bertemu beberapa waktu lalu. Namun keduanya tak bisa membantuku mengingat semua yang telah terjadi. Bahkan kedua orang tuaku. Mama, Papa, Kak Reza ... benar-benar asing.
Setelah tidak mengingat siapapun selain Rey, apa aku akan menjadi gila setelah ini?
Aku terus diam duduk di samping Baruna hingga mobil yang membawa kami menghentikan lajunya di halaman luas keluarga Asyraf. Sejenak, aku menoleh menatap suamiku. Sejak ia meminta maaf terakhir kali, tampaknya suamiku memilih untuk tak banyak berbicara.
Pria tampan berkulit bersih itu keluar dari mobil, memutar langkahnya membukakan pintu mobil untukku. Tangan kirinya terulur menggantikan tangan kanan hendak meraih tanganku.
"Aku bisa sendiri," ujarku kepadanya dan dia hanya mengangguk pelan.
Aku melangkah perlahan keluar dari mobil. Diikuti oleh Ayah dan Bunda yang berada di mobil berbeda, kami bertiga berjalan pelan menuju pintu masuk utama.
Sesaat aku menghentikan langkah, merasakan telapak tangan besar meraih genggam jemariku. Dengan cepat Baruna ternyata sudah mengimbangi langkahku. Reaksi dingin kutunjukkan kepadanya.
"Apa kamu juga akan melarangku menggenggam tanganmu?"
"Tidak." Aku menggeleng pelan, lalu mengubah air muka lebih ramah kepadanya. Bagaimanapun pada kenyataannya, pria ini adalah suamiku.
Baruna menyunggingkan senyumnya. Bunda yang berjalan di belakang pun berkomentar, "Nah! Begitu dong. Jangan biarkan perselisihan di antara kalian terjadi berlarut-larut."
"Tidak, Bun. Kemarin Sheryl hanya masih bingung dengan keadaannya," sahut Baruna, sementara aku tidak ikut mengomentari mereka.
"Ya. Bunda dan Ayah tahu kok, Bar. Bunda yakin semua akan berlalu dan baik-baik saja. Masalah anak, kalian masih berada dalam usia produktif. Masih banyak waktu untuk berusaha. Bahkan zaman sekarang semua bisa diprogram, bukan? Mau berapa pun itu." Ibu mertuaku menyahut dengan suaranya yang lembut.
"Ya, Bun," sahut Baruna kemudian melirikku, "kamu mau program berapa anak, Sayang?"
Mendengar pertanyaannya membuatku menelan ludah. Rasanya mataku begitu pedih, ingin menangis. Walau tak ingat bagaimana aku hamil, jauh dalam lubuk hatiku, aku merasakan kesedihan yang amat sangat kehilangan calon bayiku.
Apa Baruna sama sekali tidak merasa kehilangan?Mengapa dia bertanya dengan begitu entengnya? Dalam situasi ini aku rasa bukan saatnya membicarakan masalah anak.
Aku tidak menjawab pertanyaan itu sama sekali!
Baruna tidak bertanya lagi. Begitupun dengan kedua orang tuanya. Dua-duanya tak bersuara, begitu hening seolah baru saja menyadari salah dalam berucap.
Pintu utama baru saja terbuka saat tiba-tiba seorang anak kecil kira-kira berusia lima tahun berlari menerobos ke arah kami. Dari bibirnya yang mungil terucap sebuah kata yang membuatku terkesiap.
"Ayaaah!" teriaknya kemudian memeluk Baruna dengan kedua lengan kecilnya.
__ADS_1
Ayah? Apa dia adalah anakku?
Bola mataku seketika bergerak melirik Baruna. Suamiku itu sontak mengulas senyumnya.
"Rafa, sudah Mama bilang jangan lari-lari!" Dari dalam terdengar suara seorang wanita yang lama-kelamaan menjadi semakin jelas.
Beberapa jenak kemudian, wanita itu sudah berdiri di hadapan kami. Dia tampak kikuk saat bola mata kami saling bertemu. Aku sontak menoleh ke arah Baruna.
"Siapa dia?" tanyaku
"Ehm ...." Suamiku itu tidak langsung menjawab. Dia menatap wanita itu beberapa saat.
Wanita itu mengubah air mukanya menjadi lebih ramah. Tanpa basa-basi kemudian memelukku. "Ah, Sheryl. Selamat datang kembali!" katanya sambil tersenyum, kemudian mengurai pelukannya, "syukurlah! Kau akhirnya kembali. Kakak minta maaf tidak sempat mengunjungimu di rumah sakit."
"Kakak?" Aku mengernyit.
"Aku Felicia. Kakak sepupu Baruna," ujarnya seraya mengulurkan tangannya.
"Oh ... maaf, aku benar-benar tidak ingat Kakak," kataku membalas salam Felicia, tapi hatiku sungguh tak tenang.
Sekilas aku melihat air muka Baruna yang berubah. Ia melebarkan bola matanya sebentar menatap Felicia seakan ada sebuah pesan yang tersembunyi di sana. Sementara, bocah kecil yang tadi memeluk erat Baruna kemudia melepas pelukannya dengan pandangan mendongak bingung karena tidak paham situasi kami.
"Ayah ...," kata bocah itu lagi.
"Ah, ya! Dia Fely. Sepupu Baruna. Dia tinggal di rumah ini karena suaminya sedang ada bisnis di luar negeri," tambah Bunda meyakinkanku.
"Iya. Rafael memanggil Baruna dengan sebutan Ayah karena ... karena mereka sangat akrab." Ayah juga ikut menjelaskan meski kedengarannya sedikit aneh di telingaku.
"Oh ...." Aku mengangguk-angguk lalu memasang senyum kecil kepada Felicia, "maaf ya, Kak Fely. Aku tidak bisa menemanimu sekarang."
"Ya, Sher. Tentu saja! Kau harus banyak beristirahat karena baru saja kehilangan bayimu. Itu pasti sangat menyakitkan. Aku turut berduka untukmu dan Baruna," ucap Felicia memancarkan rasa simpati pada wajahnya.
"Terima kasih, Kak Fel," sahutku.
"Fel, kita harus berbicara," ucap Baruna kepada Felicia. Wanita itu terdiam sebelum akhirnya ia mengangguk dengan cepat.
Apa yang akan mereka bicarakan? Apa itu adalah suatu hal penting? Kepalaku rasanya tak mampu berpikir saat ini. Hal buruk apa lagi yang akan menimpaku?
Baruna melepas tautan tangannya. Ia merunduk, mengajak Rafael berbicara, "Rafa, tolong mengertilah! Saat ini Ayah sedang sibuk. Ayah akan mengajakmu bermain, jika sudah tidak sibuk. Oke?"
"Iya, Ayah." Bocah bernama Rafael itu mengangguk patuh.
__ADS_1
Aku memperhatikan interaksi keduanya. Jika dilihat-lihat, mata keduanya sangat mirip. Mereka juga sangat akrab seperti seorang anak dan ayah kandungnya. Jika orang asing yang melihat pasti akan salah paham dan menganggapnya seperti itu.
"Ayo, Sayang! Apa yang kamu lihat?"
Aku tersentak kaget. Baruna tiba-tiba meraih tanganku lagi.
"Ti-tidak ada," jawabku menggelengkan kepala dengan cepat.
Baruna tersenyum kemudian mengiringiku melangkah menuju kamar, meninggalkan empat orang penghuni kediaman Asyraf.
***
Reynand Pov
Aku sedang mengeluarkan beberapa setel pakaian dari dalam lemari. Satu demi satu kumasukkan ke dalam koper. Bibirku terus berucap menghitung jumlahnya. Takut bila jumlahnya tak cukup banyak untuk kubawa karena berencana untuk meninggalkan apartemen dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
Bel apartemenku tiba-tiba berbunyi. Keningku mengernyit tipis. Rasanya tak ada janji dengan siapapun malam ini. Segera kututup koperku, beranjak keluar menuju pintu apartemen.
"Mama?" kataku bernada tanya mengapa ia yang ada di depan pintu apartemenku sekarang.
Mama tersenyum tanpa memberikan jawabannya. Ia kemudian duduk di atas sofa ruang tamu.
"Apa kau sudah makan, Rey?" tanyanya.
"Ehm, belum." Aku mengangguk cepat.
"Baguslah. Mama ingin memasak sesuatu untukmu sekarang. Kita akan makan bersama." Mama membuka blazernya lalu menyandarkannya pada sofa.
"Ma, aku rasa hari ini tidak bisa."
"Loh? Ada apa?" Mama mengangkat sebelah alisnya.
"Aku sudah terlanjur janji pada Ayah untuk makan bersamanya."
"Ck! Batalkan saja janjimu. Kau 'kan jarang makan malam bersama Mama." Air muka Mama seketika berubah sedikit kesal. Aku tahu perasaannya yang mungkin merasa dinomorduakan setelah mereka berdamai.
Aku mengembuskan napas berat. Sebenarnya bukan itu saja alasannya. Aku juga ingin mengetahui keadaan Sheryl di rumah itu saat ini.
"Baiklah. Aku akan membatalkannya kalau begitu," kataku akhirnya mengalah.
Mendengar ucapanku, Mama langsung menerbitkan senyumnya. Ia kemudian bangkit berdiri. Bersama denganku berjalan menuju dapur. Tiba-tiba Mama menghentikan langkahnya tepat di depan kamarku karena pintunya yang terbuka.
__ADS_1
"Koper? Kau akan pergi ke mana, Rey?"
"Aku berencana tinggal di rumah Ayah," jawabku.