Marriage Order

Marriage Order
S3 Momen Manis yang Tak Berujung?


__ADS_3

Sheryl Pov


Sebelum kembali ke tanah air, siangnya aku dan Reynand memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kota London. Cuaca siang hari yang lumayan dingin itu tak menyurutkan niat kami untuk kembali lagi ke apartemen. Bagaimanapun ini hari terakhir kami di sini. Tempat di mana aku menghabiskan satu tahun terakhir yang sepi dan menyedihkan.


Kami berjalan menyusuri Buckingham Palace Road, St. James Park, dan Parliament House yang terletak dipinggir sungai Thames yang membelah kota London. Masih berjalan di pinggiran sungai Thames, Reynand mengeratkan genggaman tangannya seolah tak ingin aku pergi menjauh lagi darinya.


Aku menoleh ke arahnya. Karena perubahan suhu, kulitnya yang putih membuat telinganya yang memerah tampak menonjol. Di saat yang sama ia juga menoleh kepadaku.


"Ada apa? Mengapa melihatku seperti itu?"


Aku tersenyum lalu menggeleng pelan. "Tak pernah terbayangkan berjalan-jalan seperti ini denganmu."


Pria itu menarik senyumnya, ia merangkulku dengan cepat. "Tak perlu dibayangkan pun aku yakin bisa terjadi. Lalu tadaa! Inilah kita.... Bersama di tempat ini. Hanya berdua saja seperti pasangan yang sedang honeymoon."


Aku mengekeh pelan, lalu berkata, "Seandainya memang terjadi seperti itu, Rey."


"Bisa. Pasti bisa! Kita pasti akan menikah," sahutnya begitu semangat, lalu menciun dahiku.


"Aku sudah lama bermimpi seperti ini. Berjalan berdua dengan pasanganku di kota London pada musim gugur. Tidakkah kau merasa ini sangat romantis?"


Reynand menarik setengah senyumnya. "Entahlah. Bagiku semua musim sama saja saat menjejakkan kaki di luar negeri. Mendengarmu berkata begitu aku jadi merasa mimpimu sangat sederhana, Sher."


"Ha-ha-ha. Mungkin karena dulu honeymoon-ku dan Baruna terjadi di musim panas. Setelah itu, kami malah...." Aku terdiam beberapa saat, "ah, maaf. Harusnya aku tidak mengungkitnya di depanmu."


Reynand menggeleng. "Tidak apa. Aku mengerti. Tak semudah itu melepaskan memori masa lalu. Yang terpenting bagiku adalah masa kini dan masa depan...." Reynand menggantung kalimatnya. Mendadak ia menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.


"Ada apa?"


Reynand kembali mengalihkan pandangan dan menggeleng cepat. "Tidak. Tidak apa-apa," katanya seakan menyembunyikan sesuatu.


Aku mengangguk-angguk walau sebenarnya terlihat ada yang tak beres darinya.


"Apa kau tidak lelah berjalan dengan sepatu bot lumayan tinggi itu?"


"Sedikit."


"Kita kembali, ya? Aku juga sudah lumayan lelah. Perjalanan kita masih panjang. Kita harus menyimpan tenaga untuk pulang ke Indonesia."


"Iya, Rey." Aku mengiyakan perkataan kekasihku itu. Kami pun bergegas kembali ke apartemen.


.

__ADS_1


.


.


Keesokan harinya....


Tepat pukul sepuluh pagi, mobil yang dikendarai Pak Zaki–sopir keluarga Pradipta berhenti di depan halaman rumahku. Aku dan Reynand bergegas membuka pintu mobil. Dalam beberapa detik saja ia sudah menautkan tangannya pada pergelangan tanganku.


"Koperku," kataku hendak mengambilnya.


"Pak Zaki yang akan menurunkan kopermu!" ucap Reynand santai.


Aku menoleh. Sopir keluarga Pradipta itu tampak menurunkan empat koper besar milikku.


"Terima kasih, Pak!" seruku kepadanya, lalu Pak Zaki terlihat menundukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Ayo!" ucap Reynand dengan percaya dirinya mengajakku berjalan menuju pintu utama.


"Iya."


Kami berjalan saling bertautan tangan. Sementara Pak Zaki yang membawa koper berjalan di belakang kami.


"Sheryl...," katanya menatap bingung ke arahku dan Reynand. Matanya tampak berkaca-kaca.


"Mama...."


Rindu yang tertahan karena tak pernah bertemu selama satu tahun itu pun akhirnya terbayar. Kami berpelukan.


"Kenapa tidak bilang kalau akan pulang? Mama 'kan bisa jemput," ujar Mama yang bahkan tak menyapa Reynand sama sekali.


"Aku bersama Rey, Ma," sahutku sambil menoleh ke arah Reynand.


Pandangan dingin seketika diarahkan Mama kepada Reynand. Priaku itu memasang senyumannya seketika.


"Masuklah, Sher!" perintah Mama kepadaku.


Aku mengangguk lalu menoleh ke arah Pak Zaki. "Sampai sini saja, Pak. Terima kasih, ya."


"Iya, Bu," jawabnya.


"Tunggu saya sebentar di mobil, Pak." Reynand menitah sopirnya. Pak Zaki mengangguk kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


Aku menarik dua koperku. Reynand yang ingin membantuku meraih dua sisanya. Namun saat hendak masuk, Mama tiba-tiba berkata, "Tidak usah membawakan koper Sheryl, Rey. Biar asisten rumah tangga kami yang membawanya masuk."


Saat itu juga Reynand melepaskan koperku. Dengan senyum yang belum luntur itu ia mengangguk patuh.


"Mama...." Aku sedikit protes.


"Masuklah, Sher! Mama ingin berbicara dengan Rey."


"Aku masuk ya, Rey," kataku penuh rasa khawatir, tapi Reynand hanya mengangguk saja tanpa berucap sedikit pun. Rautnya terlihat tenang seolah siap mengatakan semua yang ada dalam pikirannya.


***


Reynand Pov


Tante Rini membawaku duduk di kursi teras. Tak lama, asisten rumah tangganya membawakan dua cangkir teh dan meletakkannya di atas meja. Ibu kandung Sheryl itu tampak terdiam beberapa lama setelah kami duduk. Entah apa yang ia pikirkan.


"Rey, kau pasti yang mencari dan merayunya untuk pulang, 'kan?" tanya Tante Rini seraya menoleh dingin ke arahku.


"Bisa dibilang ya, bisa dibilang tidak, Tante. Kebetulan bos Sheryl adalah kolega saya. Dia menyuruh Sheryl menjemput saya di bandara saat itu. Pulang ke Indonesia adalah keputusan kami bersama."


Tante Rini mengangguk-angguk. "Walau telah satu tahun berlalu, Tante masih mencemaskan keadaan Sheryl, Rey. Seperti yang kau tahu pernikahannya dan Baruna tidak berhasil. Cukup lama ia mengurung dirinya di kamar saat pulang ke sini. Ia merasa sakit hati sekaligus merasa bersalah kepada Baruna karena telah jatuh cinta kepadamu."


"Maafkan saya, Tante. Semuanya yang terjadi kepada mereka tak lepas dari keegoisan saya yang masih memiliki perasaan cinta kepada Sheryl. Masalah Baruna yang memiliki anak dari perempuan lain seolah memberikan saya kesempatan untuk memisahkan mereka."


"Tidak. Terlepas dari posisimu, Baruna juga salah karena balas mengkhianati Sheryl."


"Tante...." Aku tak bisa berkata-kata. Entah mau dibawa ke mana pembicaraan ini.


"Tante tahu kau sangat mencintai Sheryl. Tante juga tahu Sheryl memiliki perasaan yang sama. Tapi keluarga kalian tampak begitu rumit. Ibumu juga sudah mengatakannya kepada Papa Sheryl kalau ia tak akan merestui hubungan kalian."


"Mama berkata begitu?" Aku membeliak terkejut. Ini fakta yang tak kuketahui sama sekali.


"Ya. Oleh karena itu, Papa Sheryl yang awalnya memang marah pada papamu jadi bertambah marah kepada keluarga kalian. Dia tak ingin kau ataupun Baruna kembali kepada Sheryl. Jadi sebelum hubungan kalian terlalu jauh, Tante harap kau mengerti dan mundur saja. Susah jika hal ini sudah menyangkut harga diri. Papa Sheryl tak mudah ditaklukkan, bahkan oleh Tante sendiri."


Aku menunduk, terdiam mendengar perkataan Tante Rini. Helaan napasku begitu berat. Rasanya ingin menjauh saja dari lingkungan keluarga, lalu kami menikah di tempat yang tak seorang pun mengenal kami.


"Apapun yang terjadi, saya ingin menikah dengan Sheryl, Tante. saya ingin membahagiakannya," tuturku.


 


Ramaikan komennya yuk! Tiap paragraf jg boleh. hehehe

__ADS_1


__ADS_2