Marriage Order

Marriage Order
S3 Ketika Dua Orang Ayah Ikut Campur


__ADS_3

Sheryl Pov


"Ayah menyesali semua yang terjadi di antara kita. Oleh karena itu, ia ingin membantumu dan Reynand. Ia bilang, ia akan membujuk Tante Aina agar merestui hubungan kalian."


"Tidak-tidak. Yang sudah terjadi biarkan saja berlalu. Ayah tak perlu repot-repot mengurus hubungan kami, Mas."


"Bukan hanya hubungan kalian, Sher. Selain hubungan kalian, Ayah juga harus memperbaiki hubungannya dengan Papamu. Mereka berteman cukup lama, tapi karena perpisahan yang terjadi di antara kita, mereka jadi ikut menjauh. Ayah dan aku juga harus memperbaikinya."


"Mas Bar...." Aku berkata lirih.


Baruna meletakkan telapak tangannya di atas punggung tanganku. "Aku ingin kamu menemukan kebahagiaanmu. Percayalah, aku benar-benar ingin membantumu."


Aku buru-buru menarik tangan menjauh darinya. Entah bagaimana bersikap di depan mantan suamiku itu. Perkataannya terdengar tulus, tapi tak ada yang tahu bagaimana isi hatinya. Aku tidak ingin berhutang budi.


"Sungguh, kalian tak perlu melakukan hal sejauh itu."


Gantian, Baruna mengatupkan bibirnya tak berkomentar. Ia lalu memilih untuk menyeruput orange juice di hadapannya seraya menatapku.


Aku buru-buru mengalihkan perhatianku kepada Rafael dengan cara mengajak ia bersenda gurau.


Sejurus kemudian, kami pun meninggalkan restoran. Rafael yang tampak ceria itu tak juga melepaskan genggaman tangannya dariku seolah tak ingin aku berpisah darinya.


"Kelihatannya, Rafael sangat menyukaimu," ujar Baruna sambil memperhatikan kami berdua. Aku tak menyahutnya, melainkan hanya mengulas senyum kecil. Sungguh canggung berada di dekat Rafael. Anak kecil yang sempat kubenci kini malah berhasil mengambil hatiku dengan tingkahnya yang menggemaskan sejak berada di dalam restoran.


"Tentu saja, Ayah. Rafa suka Tante Sheryl." Rafael menanggapi perkataan ayah kandungnya. Kepalanya mendongak menatap Baruna.


"Kalau begitu, lepaskan tanganmu. Ayo kita pulang. Tante Sheryl masih banyak pekerjaaan, Rafa."


"No! Aku masih ingin bermain! Aku tak ingin pulang. Aku masih ingin bermain dengan Tante Sheryl."


"Bermain dengan Mama saja ya di rumah," bujuk Baruna. Namun Rafael masih saja bergeming. Ia malah membuang wajahnya dari kami. Baruna dengan raut tak enak menatapku, "maaf, Sheryl. Rafa jadi seenaknya. Padahal aku yakin, kamu pasti masih memiliki kesibukan lain."


Aku membuang napas pelan. Merasa bersalah jika mengecewakan bocah kecil itu. "Ehm, sebenarnya aku juga belum memutuskan untuk kembali ke kantor."


"Jadi, hari ini Tante Sheryl bisa menemaniku bermain?" Rafael kembali menyahut dengan begitu bersemangat.


Aku mengangguk berulas senyum kecil. Rafael melepaskan tangannya. Dia mengangkat tangannya seraya melompat-lompat senang mendapatkan jawabanku.


Aku rasa, aku berhutang budi kepada anak di hadapanku ini. Dia baru saja berhasil menciptakan ketenangan dan kesenangan untukku setelah apa yang telah terjadi. Setidaknya untuk hari ini.


Rafael pun segera masuk ke dalam mobil. Sementara, Baruna segera melangkah menuju pintu kemudi. Aku meraih handelnya, tapi lalu tak jadi menariknya. Pandanganku sontak mengedar, merasa ada yang tak beres. Aku merasa, ada orang lain di sekitar kami yang memperhatikan gerak-gerik di sini. Namun tak kudapati seorang yang mencurigakan di sekitar tempat itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Baruna kepadaku sesaat sebelum menarik pintunya.


"Tidak. Tidak ada apa-apa." Aku menggeleng dengan isi kepala yang penuh tanda tanya.


***


Reynand Pov


Hari menjelang malam kala pertemuanku dengan seorang klien selesai. Aku bergegas ke meja Sheryl. Tasnya masih berada di sana. Ia belum kembali ke kantor dan anehnya tidak menghubungiku. Saat mencoba menghubungi Sheryl, ponselnya pun tak aktif sama sekali.


Aku memutuskan untuk menghubungi Indira. Tak lama menunggu, Indira akhirnya menjawab panggilanku.


"Ya, Kak?"


"Apa Sheryl masih bersama kalian? Ponselnya tidak aktif." Aku bertanya dengan nada cemas.


"Sheryl? Bukankah ia kembali ke kantor?" Indira balas bertanya, tapi nada suaranya terdengar meragu.


"Maksudmu? Ia tak bersama kalian?" Kecemasanku makin menjadi.


"Iya, tadinya... tapi tiba-tiba Sheryl memutuskan untuk turun dari mobil karena aku bertengkar dengan Mama. Kupikir ia akan kembali ke kantor. Ternyata tidak ya, Kak?"


Tak lama suara Mama pun terdengar, "Apa, Rey? Kau ingin menyalahkan Mama lagi? Dia turun atas keinginannya sendiri, bagaimana bisa kau menyalahkan Mamamu, hah?!"


"Mama pasti yang membuatnya tak nyaman."


"Mama tak melakukan apa-apa. Hanya dia yang merasa sensitif. Mungkin, dia sedang pms?"


"Ck! Nanti kita bicara lagi, Ma. Aku tak ingin berdebat dengan Mama."


Tut!


Aku memutus telepon itu, berniat untuk mencarinya sendiri. Mungkin saja, ia sudah kembali ke rumahnya. Secara kebetulan, aku melihat Irene yang sedang berjalan menuju pintu lobi. Sepertinya, ia baru selesai lembur.


"Irene!"


Wanita itu menoleh dengan cepat. "Ya, Pak?"


"Kau tahu di mana Sheryl? Apa dia menghubungimu?"


"Sheryl?" Irene mengerutkan kening. Pandangannya mengarah pada tas tangan Sheryl yang kubawa dari mejanya, "itu...."

__ADS_1


"Oh...." Aku ikut mengarahkan pandangan pada tas Sheryl, "dia belum kembali ke kantor dan tak menghubungi saya sama sekali."


"Jika dia tak menghubungi Bapak, apalagi saya yang hanya seorang teman baginya. Apa kalian bertengkar?"


Aku menggeleng cepat. "Tidak. Kami tidak bertengkar. Hubungan kami baik-baik saja."


"Saya hanya bertemu dengannya tadi siang saat ia mencari Ibu Aina. Dia tampak terburu-buru."


"Baiklah. Terima kasih, Ren."


Irene menunduk, lalu pamit. Aku meneruskan pencarianku. Satu-satunya tempat adalah rumahnya. Ia tak memiliki tempat lain untuk dituju. Dan ia tak mungkin menghindar lagi dariku.


.


.


.


Satu jam kemudian, seorang sekuriti membuka pintu gerbang kediaman Kusuma. Aku melaju masuk ke halaman rumah Sheryl. Sebuah mobil yang tak asing tampak di sana. Mobil Ayah.


Sedang apa Ayah di sini? batinku bersamaan dengan helaan napas panjang seketika.


Aku melihat sekeliling. Hening. Hanya terdengar suara jangkrik yang bersahutan di antara rerumputan dan pepohonan. Aku mencoba menghubungi Sheryl kembali, tapi ponselnya masih tak aktif. Muncul bermacam tanda tanya yang membuatku berpikir secara berlebihan. Mungkinkah ada seseorang yang menculiknya seperti saat itu?


"Tidak mungkin. Tak ada Satya lain yang akan menculiknya," gumamku.


Aku pun melanjutkan langkah. Belum jauh, tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang sedang mengumpat tak jauh dari posisiku. Aku pun sontak menghentikan langkah dan segera bersembunyi mengintip dari balik pohon. Ayah dan Om Agung sedang bermain catur.


"Kau pikir aku akan memaafkanmu jika kau menang dariku? Dasar berengsek!"


"Kau memang tak akan pernah bisa menang dariku, Gung! Setidaknya, terimalah lamaranku."


"Putra sulungmu tak akan pernah bisa mendapatkan restuku, Anton! Kau itu seorang ayah yang buruk. Kau pasti juga mengajarkannya pada Reynand. Suatu saat, ia pasti akan menjadi orang tua yang buruk untuk cucuku."


"Hei, Gung! Bagaimana bisa kau berkata begitu? Aku tak pernah mendidiknya. Rey adalah hasil didikan mantan istriku yang dingin itu. Pertimbangkanlah perkataanku baik-baik. Putrimu tergila-gila kepadanya. Apa kau tak ingin berbesan lagi denganku, huh?"


"Jangan sembarangan! Putramu yang tergila-gila dengan Sheryl. Dia menunggunya hingga putriku itu menjan–"


"Ayah! Papa!"


Aku sontak menoleh. Tanpa diduga, Sheryl tiba-tiba muncul menghentikan pembicaraan mereka. Dia tidak sendiri. Ada Baruna yang sedang menggendong Rafael, mengekornya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2