Marriage Order

Marriage Order
S3 Menangis Lagi


__ADS_3

Sheryl Pov


"Sheryl tidak suka makanan manis!" Kak Reza tiba-tiba bangkit dari duduknya menghampiriku dan Reynand.


"Oh ...," lirih Reynand dengan tatapan sedikit kikuk.


"Tidak. Hari ini aku ingin makan manis." Aku menyanggah ucapan Kak Reza. Dengan cepat mengambil salah satu bucket kecil es krim rasa coklat.


"Apa yang terjadi kepadamu, Dek? Kamu lebih memilih makan es krim itu daripada menikmati menu makan malammu."


Kak Reza mengarahkan pandangannya pada sebuah nampan berisi makanan rumah sakit yang rasanya sangat hambar. Aku sengaja tidak menyentuhnya dan membiarkan makanan itu menjadi dingin di atas nakas. Sementara, kupikir es krim dapat menetralisir rasa dalam mulutku yang tidak karuan.


"Aku tidak suka makanan rumah sakit. Rasanya hambar!" sahutku ketus sembari membuka penutup es krim bucket kecil di tanganku. Namun karena sedikit emosi membukanya, penutup itu sulit sekali kurobek. Reynand yang berada di depanku tiba-tiba mengulurkan tangannya.


"Sini kubukakan untukmu," katanya.


Mendengar ucapannya, aku segera menyodorkan es krim itu kepada Reynand. Namun tiba-tiba Kak Reza menyambarnya.


"Apa kau pikir kakak kandungmu tidak berguna!" ujar Kak Reza dengan nada sedikit menyindir lalu memberikan bucket es krim yang sudah terbuka itu kepadaku.


"Terima kasih, Kak."


Aku meraihnya sambil menyahut dengan senyuman simpul. Tanpa ragu mulai menikmati suapan demi suapan makanan dingin nan manis yang langsung meleleh dalam mulutku.


Reynand yang berada di antara kami hanya diam dan tak berkomentar sedikit pun, meski dalam hati mungkin saja dia sudah mengumpat kesal karena sikap Kak Reza yang tak terduga. Dia terus menghunjamkan pandangannya yang tak pernah tumpul terhadapku. Dulu aku takut dengan pandangan itu, tapi sekarang sudah tidak lagi dan malah mulai terbiasa. Aku rasa karena kami memiliki hubungan yang lebih baik dari saat pertama kali bertemu.


"Kalau begitu aku pulang, ya!" ujar Reynand tiba-tiba. Pria itu tampak menghela napas panjangnya sesaat, menyiratkan sebuah reaksi yang tak nyaman berada di kamar ini.


Sontak satu suapan es krim terhenti tepat di depan mulutku. "Sudah mau pulang?" tanyaku.


"Ya. Aku hanya sebentar saja, memastikan kau baik-baik saja dan ternyata tak seburuk yang kupikirkan," sahutnya.


Kak Reza seketika menoleh kepadanya. Keningnya mengerut tampak tak sependapat dengan ucapan Reynand. Tatapan sinisnya kepada Reynand pun tak dapat terhindarkan.


"Sheryl baik-baik aja, kok. Kami sekeluarga menjaganya di sini. Lo pikir dia akan terpuruk karena enggak ada Baruna di sisinya sekarang? Baruna akan segera pulang. Jadi lo enggak usah repot bolak-balik datang ke sini."

__ADS_1


Aku membeliak mendengar ucapan Kak Reza yang spontan itu. Ia seharusnya tak perlu berapi-api mengatakan hal yang tidak pada tempatnya. Reynand tidak salah apa-apa. Ia datang hanya ingin membawakanku es krim. Jika diperlakukan seperti itu, emosi Reynand mungkin saja akan terpancing karenanya.


Rasanya aku ingin sekali menegur Kak Reza. Namun di luar dugaan, Reynand hanya mengangguk-angguk sambil berucap dengan nada datar.


"Ya, gue tahu."


Segaris senyum sontak terukir pada wajah Kak Reza sebagai respon ucapan Reynand yang tampak mengalah.


Dering ponsel tiba-tiba saja berbunyi. Kak Reza menoleh ke arah meja dekat sofa. Ponselnya berbunyi. Dia segera beringsut mengambilnya dan mulai sibuk menjawab telepon.


Reynand menoleh ke arahku dengan sedikit ulasan senyum yang tak pernah berubah. "Istirahatlah. Jangan tidur terlalu malam," katanya.


"Ya, terima kasih, Rey. Terima kasih juga es krimnya," kataku.


Pria itu hanya mengangguk lalu mulai melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Namun baru beberapa langkah, aku melihat Kak Reza yang baru memasukkan ponselnya ke dalam saku berjalan menghampiri Reynand.


"Hei, Rey!" panggil Kak Reza.


Reynand sontak menghentikan langkahnya, lalu terjadi sebuah percakapan di antara mereka yang aku sendiri tidak dapat mendengarnya. Aku hanya melihat Reynand yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedetik kemudian, Kak Reza menghampiriku.


"Dek, Kakak tinggal sebentar, ya."


"Kakak ingin menghampiri Kak Dita. Kasihan dia. Dalam perjalanan ke sini tiba-tiba mobilnya mogok di jalan sepi," jelasnya.


"Masih jauh?"


"Yah, kira-kira dua puluh menit dari sini."


"Ya, sudah susul saja. Aku tidak apa-apa, Kak."


"Tidak. Kakak meminta Rey menemanimu sebentar. Bisa 'kan, Rey?" Kak Reza menoleh ke arahnya. Tampaknya emosi yang tadi sempat ia perlihatkan hilang begitu saja.


"Iya, Za. Bisa." Reynand menjawab datar.


"Jangan berbuat aneh-aneh. Kakak percaya kepadamu," bisik Kak Reza kepadaku.

__ADS_1


"Aneh-aneh apa, sih? Tak lihat perutku sebesar ini, huh?" kesalku mendengar pesannya, lalu mengarahkan pandangan kepada Reynand. Tampaknya dia tidak mendengar percakapan lirih kami.


"Maksud Kakak, jangan pernah kau lupakan posisi Baruna meski saat ini kalian sedang berjauhan."


Ucapan Kak Reza yang berpesan seperti itu membuatku teringat kembali bagaimana percakapan terakhirku dan suamiku itu. Dia tidak bisa datang karena lebih memilih berada di sana daripada di sini menemani istrinya.


"Baruna tetap suamiku. Aku juga tidak melupakan statusku, Kak."


"Good girl."


Kak Reza mengulurkan tangannya. Dengan seenaknya mengacak-acak puncak kepalaku. Dengan cepat aku menarik lengannya menjauh dari kepalaku.


"Haish! Sana pergi!" omelku.


Kak Reza hanya menyengir lalu beranjak dari kursi. Langkahnya terhenti di depan Reynand yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamar. Dia tampak mengatakan sesuatu lagi kepada Reynand sebelum akhirnya meninggalkan kamar rawatku.


Reynand beranjak dari posisinya, berjalan santai ke arahku. "Sepertinya, aku masih harus melihatmu memakan es krim itu sampai habis," ucapnya dengan pandangan menukik ke arah bucket es krim di tanganku.


"Ini terlalu banyak. Aku mulai mual," kataku lalu memberikannya kepada Reynand.


"Kau belum menghabiskan sisanya." Reynand menunjuk kantung plastik yang berisi berbagai jenis es krim di atas nakas.


"Haish! Jangan bercanda, Rey! Bagikan saja pada pasien dan perawat di luar sana," timpalku seraya meraih kantung plastik itu dan memberikannya pada Reynand. Mau tidak mau, Reynand langsung menerimanya.


"Baiklah. Aku akan meninggalkanmu sebentar."


Aku mengangguk. Pria itu pun kemudian pergi membawa es krim-es krim itu meninggalkanku.


Aku mengembuskan napas kasar. Menatap ponsel yang sangat sepi dan tak ada satu pun notifikasi dari Baruna.


Sedang apa dia sekarang? Mengapa tak juga mengabariku? Bagaimana keadaannya selepas tindakan yang dilakukan oleh dokter? Apa dia sehat? Apa yang sedang ia lakukan bersama Felicia? Haish! Aku tidak suka keadaan seperti ini!


Aku menunduk. Mulai meneteskan air mataku kembali. Jatuh mengikuti gravitasi bumi yang juga ikut meluluhlantakkan hatiku jauh ke dasarnya. Linangan air mata memang tak sanggup lagi kutahan hingga terdengar suara Reynand yang menyapa dalam keheningan.


"Sheryl, kau menangis?"

__ADS_1


 


Halo! Author menyapa! Gimana ceritanya? Membosankan atau membosankan? Hehehe. Aku memperhatikan dan membalas tiap komen di tiap bab. Jika merasa terlalu lama jalan ceritanya, seperti yang kubilang kalian bisa unloved. Jujur, aku terbatas dalam segala hal. Menulis itu seperti hidup di dua dunia dan aku gak mau terjebak di dalamnya dan ingin menulis sesuka hati. Bagi yang masih enjoy membaca cerita ini, aku harap kalian sabar, ya!


__ADS_2