Marriage Order

Marriage Order
S3 Anak Kecil


__ADS_3

Aku terdiam sebentar mendengar pertanyaan Baruna. Memikirkan akan memiliki anak berjenis kelamin apa tidak pernah terpikir olehku. Ehm, tapi laki-laki boleh juga. Nanti anak ke dua adalah perempuan. Seperti aku dan Kak Reza. Memiliki kakak laki-laki yang sangat peduli kepada adiknya.


Telapak tangannya masih terus mengelus perutku yang rata. Dia menyunggingkan senyum kecil. "Jadi, apa jawabannya?" tanya suamiku lagi.


"Laki-laki," sahutku balas tersenyum.


"Kenapa?" Baruna bertanya kembali.


"Aku ingin dia seperti Kak Reza yang akan menyayangi dan melindungi adik perempuannya."


"Tidak sepertiku?" Baruna terlihat keberatan. "Benihnya saja milikku, masa kamu ingin anak kita seperti Reza?" Bibir priaku ini mengerucut. Tangannya mulai bergerilya menjelajah tubuhku kembali. Kali ini bukan karena ingin bercinta lagi, tapi lebih karena ingin menggelitiki tubuhku.


Aku tertawa geli. Berusaha membalas dia dengan lebih parah. Mendapat serangan hebat, Baruna tertawa terbahak-bahak. Aku begitu semangat, menggelitikinya hingga tubuhku terguling berada di atas tubuhnya. Seketika, netra kami saling berpandangan.


Aku menegakkan tubuh terduduk di atas tubuhnya. Baruna akhirnya menghentikan tawanya. Menatapku dengan pandangan serius.


"Apa kamu sedang menggodaku sekarang, Sher? Masih ingin menambah?"


Wajahku kontan memerah. Menatapnya dengan lengkungan senyum sempurna. "Kita baru saja melakukannya. Apa kamu masih kuat?"


"Mengapa tidak?" katanya yang langsung melingkarkan kedua tangannya pada pinggangku. Seketika tubuh pun ikut terjerembab dalam pelukan hangat miliknya.


Baruna sepertinya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia meraih bibirku hingga kami kembali berciuman. Begitu mesra hingga kami merasakan perasaan hangat pada hati kami. Meneruskan sesi percintaan yang tiada habisnya.


***


Tiga hari kemudian, Male City ….


Aku dan suamiku berjalan santai menuju pasar tradisional ibu kota kepulauan Maldives. Kami akan membeli souvenir dan bermacam-macam barang sebagai oleh-oleh kami untuk keluarga di Jakarta. Ya, besok adalah hari kepulangan kami. Baruna tidak bisa terlalu lama meninggalkan Asyraf Corporation.


Semalam saja, Ayah Anton meneleponnya demi membahas pekerjaan yang menanti Baruna di perusahaan. Menyuruh kami mempercepat kepulangan ke Jakarta yang sesuai rencana seharusnya pulang tiga hari lagi. Namun, beliau bersikeras memaksa kami menggugurkan rencana itu.


Sudah lama anak semata wayang Ayah Anton ini meninggalkan perusahaan karena harus fokus pada penyembuhan luka akibat kecelakaan beberapa bulan lalu, sehingga Ayah terpaksa meminta Reynand yang menggantikannya untuk sementara waktu. Ya, dia lagi. Entah kalau tidak ada dia bagaimana Ayah Anton mendapatkan bantuan untuk menjalankan bisnisnya. Terima kasih sekali lagi, Rey.


Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya pelan. Begitu terus kulakukan sejak tadi. Bagaimana tidak? Aku sangat kesal ketika tahu besok adalah hari kepulangan kami. Walau tidak suka, aku harus menuruti dan memakluminya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Baruna tiba-tiba. Sepertinya ia melihatku terus menghela napas panjang, mengetahui ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran.


Aku menghentikan langkahku. Menoleh kepadanya dengan air muka tidak enak. "Aku masih ingin di sini, Sayang," kataku seraya menghentakkan kaki bak anak kecil yang sedang merajuk.


Baruna menatapku iba. Dia menghela napas panjang lalu mengajakku duduk pada sebuah bangku di taman yang tidak jauh dari posisi kami.


"Lalu, apa aku harus menolak perintah Ayah?" tanyanya.


Aku terdiam. Tidak bisa menjawab. Tanggung jawab yang diemban suamiku ini memang tidak main-main di perusahaan. Seharusnya aku maklum dengan apa yang terjadi, tapi mengapa sangat sulit rasanya?


"Kenapa diam? Haruskah aku hubungi Reynand untuk menggantikan tanggung jawabku lagi?"


Mendengar ia menyebut nama kakak tirinya membuatku langsung mencegahnya melakukan itu. "Tidak. Jangan libatkan dia lagi. Nanti ibunya akan protes dan keluarga kita menjadi bulan-bulanannya!" teriakku.


Sungguh! Tante Aina itu sangat menyeramkan. Menatap matanya secara pribadi dengannya saja akan membuat seluruh tubuh ini gemetar tidak karuan.


Baruna terkekeh. "Sepertinya kamu sangat takut dengan Tante Aina?" katanya di sela-sela tawanya. "Dia bukan monster yang memakan daging manusia. Hanya seorang ibu biasa."


"Ti-tidak! Aku tidak takut!" sanggahku dengan wajah memerah. "Ta-tapi, dia …." Aku tidak jadi meneruskan perkataanku.


"Lu-lupakan saja!" sahutku ketus. Bergegas bangkit dari tempat duduk dan berjalan meninggalkan kesayanganku itu.


"Hei!"


Aku tidak mengindahkan panggilan Baruna. Air muka malu ini tidak bisa diperlihatkan lagi kepadanya. Namun, tanganku terasa ditarik dengan kuat hingga membalik menatap wajahnya yang tampan.


"Jangan mengingat yang sudah lalu, Sayang. Tante Aina sangat baik sekarang," katanya kembali membela tante ketemu gedenya.


"Kamu membelanya terus. Pandangan terhadap seseorang itu sulit diubah tahu!" protesku.


"Tapi kamu berhasil mengubah pandangan terhadap Rey, walau dia pernah jahat terhadap hubungan kita. Artinya kamu bisa mengubah pandanganmu terhadap ibunya," timpal suamiku tidak mau kalah.


"Itu berbeda."


"Apa bedanya? Aku tidak tahu. Kamu tidak pernah bercerita tentang apa yang dilakukan Tante Aina kepadamu dulu."

__ADS_1


Aku mendesah pelan. Mungkin pandanganku salah dan berlebihan. Namanya seorang ibu pasti ingin yang terbaik untuk putranya. Saat itu aku terlalu takut menghadapi Tante Aina sampai-sampai dia terus menjadi sosok horor dalam ingatan.


"Haish! Sudah! Jangan dibahas. Kita 'kan mau beli oleh-oleh. Mengapa malah membicarakan tentang keluarga Pradipta?"


"Iya juga, ya …," Baruna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ayo!" Tangan kekarnya kembali menggenggam pergelangan tanganku. Kami pun berjalan ke pasar yang menjual berbagai macam oleh-oleh di tempat itu.


Kami membeli berbagai macam barang di sana. Berjalan berdua bergandengan tangan. Namun, tiba-tiba saja, Baruna melepaskan tangannya dariku.


"Sayang, perutku mulas. Aku ke toilet dulu. Kamu tunggu di sini, ya," ucap Baruna seraya mengusap perutnya.


"Iya, Sayang," sahutku.


Baruna pun pergi meninggalkanku. Aku menghela napas pelan. Berjalan seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Suasana pasar itu sangat ramai. Walaupun bukan musim liburan, sepertinya pasar ini sudah menjadi destinasi langganan orang lokal dan para turis asing.


Sebuah toko perhiasan yang berada tidak jauh dariku menjadi perhatianku. Tanpa sadar, aku berjalan menuju toko itu. Berbagai pernak-pernik unik perhiasan wanita terpajang di sana. Bagai terhipnotis kuat, aku mulai mencoba berbagai macam bentuk perhiasan di sana.


Selang setengah jam kemudian, aku sangat puas memandang sebuah paperbag kecil berisi perhiasan yang aku inginkan. Namun, saat akan melangkahkan kakiku kembali, aku tersentak kaget melihat sekeliling.


Ini di mana? batinku, yang tidak mengenal tempat ini.


Pandanganku mengedar lagi ke sekeliling. Setiap penampilan toko di tempat itu terlihat sama. Aku lupa di mana terakhir kali aku dan Baruna berpisah. Panik, tentu saja.


Oh, My God! Tenang, Sheryl … tenang. Di saat seperti ini kamu harus berpikir jernih. Ponsel! Ya, aku akan menelepon suamiku.


Segera, kurogoh tas selempang kecil yang menempel pada pundak. Seketika, wajah pun memucat. Ponselku tertinggal di kamar hotel.


Ketika sudah siap melangkahkan kaki, dress yang kukenakan tiba-tiba ditarik berkali-kali. Segera, aku menoleh ke samping. Sontak terkesiap melihat seorang anak laki-laki kira-kira berumur empat sampai lima tahun dengan tinggi seratus sentimeter menangis, menyebut-nyebut nama ibunya.


"Mama … Mama!"


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan like, vote, dan komen.


__ADS_2