
Sheryl Pov
Setelah mendapatkan kunci kamar Felicia, aku bergegas menuju kamar Rafael. Seketika langkahku terhenti, berdiri tak jauh dari Bunda yang membelakangiku. Ia berjongkok memeluk Rafael, berusaha menenangkan bocah yang sedang menangis itu. Meski kejadian tadi berhasil memancing sedikit ingatanku, pertanyaan yang sempat melintas tak juga kutemui jawabannya. Namun, aku lega melihat Rafael akhirnya membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa, Sayang? Mengapa kamu menangis?" tanya Bunda menatap bocah kecil itu tanpa menyadari keberadaanku yang berdiri di belakangnya.
Rafael perlahan menghentikan tangisnya. Walau masih sesegukan ia berusaha menjawab, "Pa … Papa."
"Papamu kenapa, Rafa?"
Aku yang hendak menghampiri mereka seketika mengurungkan niatku. Tetap bergeming memandang keduanya. Masih dalam sesegukannya, Rafael yang menunduk tiba-tiba mengangkat wajah. Kami saling memandang untuk sesaat. Aku sontak menempelkan telunjuk di bibir. Memberi ia isyarat agar tidak berkomentar.
"Papa, dia bersama orang lain, bukan Mama," jawabnya jujur.
Tampaknya Rafael anak yang pintar. Ia tak memberitahu keberadaanku di sana. Aku tak usah banyak berbicara untuk menunjukkan maksudku.
"Maksudmu?" Bunda mengusap air mata Rafael yang masih terus mengalir.
"Iya, Nek. orang itu bilang akan menikah dengan Papa. Lalu pembawa acara itu mengatakan kalau Papa sudah bercerai dengan Mama. Bercerai itu apa, Nek?"
Bunda tak langsung menjawab. Jantungku ikut bergemuruh menunggu jawaban ibu mertuaku. Berita di televisi itu tidak mungkin berbohong, 'kan? Apalagi dua orang itu sempat diwawancarai mengiyakan semuanya.
"Rafa, bercerai itu adalah cara lain untuk saling mencintai. Kau tidak usah sedih ya, Nak. Papamu masih sayang kepadamu. Begitupun Mamamu, Ayah Baruna, Kakek, Nenek, semua menyayangimu." Bunda mengusap kepala Rafael.
"Kalau Tante Sheryl?" tanya Rafael langsung mengarahkan pandangannya kepadaku.
Apa yang sedang bocah itu lakukan?
Sontak kedua bola mataku melebar penuh. Baiklah! Aku batalkan pendapatku tentang Rafael yang pintar. Sepertinya tak ada seorang pun yang ingin aku tahu sesuatu hal rahasia di rumah ini.
Bunda menoleh ke belakang. Untuk sesaat aku melihatnya terkesiap dengan otot mata yang menegang, tapi tak lama kemudian ia memandangku seperti biasanya.
"Loh, Sheryl? Mengapa kau tidak bilang kalau kau sedang berdiri di sana?" Bunda bangkit berdiri.
Aku menghela napas panjang. "Sepertinya kalian sedang berbicara serius. Aku tak ingin jadi pengganggu," jawabku.
"Tak ada yang serius. Bagaimana? Ketemu kuncinya?"
Aku mengulurkan tangan, memberikan kunci itu walau aku tahu Bunda sebenarnya hanya berbasa-basi.
__ADS_1
"Apapun yang kau dengar tadi, tak usah kau anggap serius. Rafael terkadang memang seperti ini jika merindukan Papanya." Bunda tersenyum penuh arti. Dan aku makin berpikiran negatif melihat senyum itu.
"Aku-"
"Nenek, jawab pertanyaanku." Tiba-tiba Rafael memotong ucapanku.
"Apa, Sayang?" Bunda menoleh kepada Rafael.
"Tante Sheryl, apa dia juga menyayangiku?" Rafael menajamkan pandangannya kepadaku.
"Tante Sheryl tentu saja menyayangimu. Ya 'kan, Tante?" Bunda mengangkat sebelah alisnya menatapku.
Deg!
Apalagi ini? Aku ingin menjawab iya, tapi hatiku menolaknya. Dan aku hanya bisa bergeming saja berada di antara mereka.
"Sher?" kata Bunda seolah menekanku.
"I-iya. Aku pun menyayangimu, Rafa," kataku akhirnya, walau dengan perasaan yang tak sepenuhnya tulus.
.
.
.
Waktu pun berlalu begitu saja. Hari sudah menjelang malam saat aku dan Baruna meninggalkan rumah sakit. Entah apa yang ada dalam pikiran Baruna, tiba-tiba mengajakku makan malam di sebuah restoran dengan suasana romantis.
"Mengapa kamu tiba-tiba membawaku ke sini?" tanyaku penasaran saat Baruna menarik kursi dan mempersilakanku untuk duduk.
"Makan malam. Rasanya sudah lama sekali tidak melakukan hal seperti ini. Aku ingin hubungan kita membaik. Kamu dengar sendiri tadi kata dokter, 'kan? Kamu tidak boleh terlalu memaksakan diri mengingat sesuatu meskipun kau bilang sudah mengingat seseorang."
Baruna beranjak duduk di kursinya. Kami pun duduk berhadapan. Dia memandang dengan tatapan seperti biasa seolah tak ada kekhawatiran di hatinya.
"Kamu terlihat santai padahal aku mungkin mengingat seseorang yang dapat membuat semua kebohongan kalian akan terbongkar," kataku sambil menyeringai kepadanya.
"Berbohong apa sih, Sayang? Mengenai kejadian tadi? Tentang Papanya Rafael?" Ia menjawabku dengan pertanyaan. Baruna memang telah mengetahui apa yang terjadi karena aku menceritakan semuanya.
"Ya. Seluruh anggota keluargamu bilang kalau Papa Rafael sedang berada di luar negeri menjalankan bisnis, tapi kenyataannya dia ada di sini. Bahkan telah bercerai dengan Fely dan sekarang berpacaran dengan Kayla." Aku mulai bertanya kepada Baruna. Semua pertanyaanku harus terjawab malam ini.
__ADS_1
Baruna tampak mengembuskan napas begitu berat. "Kami hanya berbohong untuk Rafael. Dia tak boleh tahu kalau orang tuanya telah berpisah. Bayangkan, bagaimana mentalnya akan hancur jika mengetahuinya. Kebetulan saat itu kau bertanya di depannya. Jadi dengan terpaksa Felicia mengarang cerita."
"Dan mentalnya benar-benar hancur sekarang karena kalian," sahutku.
Baruna mengangguk-angguk. "Ya, benar. Tapi itu pilihannya Fely. Kamu tak perlu memikirkannya dan berpikiran macam-macam. Nanti aku juga akan membantu dia agar Rafa tidak terlalu sedih."
"Aku hanya tak bisa membayangkan bagaimana jika aku berada di posisinya. Dibohongi adalah hal yang paling kubenci."
"Sudah. Jangan berkata yang tidak-tidak. Kita makan saja, ya," katanya mengalihkan pembicaraan saat melihat seorang pelayan membawakan pesanan untuk kami.
Saat kami sedang menikmati makan malam, ponsel yang sengaja kuletakkan di atas meja bergetar beberapa kali. Aku sontak melirik. Nama Reynand terlihat di sana.
"Ada apa dia menghubungimu?" tanya Baruna yang ternyata juga melirik layar ponselku.
"Entah," jawabku datar, padahal sejak sore tadi aku yang pertama menghubunginya untuk menanyakan tentang kebenaran cerita Rafael dan papanya. Sayangnya Reynand tak menjawabku.
***
Reynand Pov
Aku berjalan mondar-mandir di teras rumah, menunggu dengan tak sabar Sheryl dan Baruna yang belum juga pulang dari rumah sakit. Bagaimana tidak? Sore tadi, Sheryl meneleponku beberapa kali dan aku tak bisa menjawabnya karena sangat sibuk. Saat aku menelepon balik, ia malah yang tak menjawab. Mereka pasti tidak langsung pulang dan malah menghabiskan waktu berdua saja di luar.
"Kau terlihat sangat cemas."
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita. Aku sontak menoleh. Felicia tampak berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya.
"Sedang apa kau di sini?" Aku menyahut wanita itu begitu dingin.
Felicia tersenyum kecil lalu duduk di kursi teras. "Kau pasti sedang cemas menunggu Sheryl."
"Apa urusanmu berkata seperti itu?" jawabku kemudian ikut duduk di hadapannya. Felicia tidak menjawab, ia lalu mengekeh, membuatku sontak berwajah masam kepadanya. "Seharusnya kau malu berada di sini, Fel," kataku lagi.
"Tidakkah itu juga berlaku untukmu, huh?" Felicia menarik setengah senyumnya seolah sedang membalasku.
Gaes, maaf lama update. Inginnya sih sehari banyak up tapi karena terbentur waktu gak apa-apa, ya? Ini juga kalau sempat lanjutannya aku ketik hari ini. Aku kerja dulu. Bye!
Salam
__ADS_1
Viviani