
"Kamu harus ingat kalau Baruna adalah adikmu!" Aku spontan menjawab pertanyaan Reynand.
"Aku tahu!" sahutnya singkat.
"Aku istrinya!" kataku lagi.
"Semua orang juga tahu!" Reynand menyahut lagi.
"Aku hamil!"
"Aku ta-" Reynand menghentikan ucapannya. Bola matanya melebar, bergetar menatapku. Ia terperanjat mendengar kalimat itu terlontar begitu saja. "Kamu hamil?"
Aku mengangguk. Tanpa sengaja memberitahu Reynand. Perasaan sedikit tertekan menghadapinya malah menjadi pemicu sakit hatinya sendiri berulang kali. Dia menjadi orang pertama yang tahu mengenai kabar kehamilanku.
"Kamu akan memiliki keponakan," tambahku.
Aku kembali menegaskan apa maksud perkataanku. Reynand harus menghadapi kenyataan ini. Melepasku menikah dengan adiknya mungkin akan menjadi penyesalan terbesarnya jika dia tidak mampu menata hati sendiri hingga saat ini.
Reynand bergeming, tapi matanya nanar menatap. "Kamu benar-benar hamil?" Pria itu mengulang pertanyaannya seakan tidak percaya.
"Iya, Rey. Aku tidak akan berbohong mengenai hal sepenting ini hanya untuk menghindarimu," sahutku.
Ponsel Reynand tiba-tiba berdering. Pria itu tidak juga melepaskan pandangannya kepadaku sampai dering itu akhirnya berhenti dan tidak lama, berdering kembali. Si penelepon mungkin sangat membutuhkan Reynand.
"Angkat panggilan itu!" kataku mengingatkan.
Ia lalu merogoh jasnya, menatap sejenak layar ponsel, lalu menjawab panggilan itu.
"Ya, Kay?"
Aku sontak mengangkat wajah menatapnya yang menyebut nama "Kay". Sangat yakin yang menelepon adalah Kayla. Sejak tadi tidak terpikir kalau mungkin saja Kayla datang bersamanya di acara pesta.
"Aku di parkiran, Kay. Mengambil jas bersih karena jas yang kupakai terkena noda jus. Ada wanita ceroboh yang menumpahkan jusnya pada jas milikku." Pria itu melirik tajam ke arahku. Aku mendengus, lalu merengut mendengar perkataannya kepada Kayla.
Ya! Aku memang ceroboh, tapi seharusnya kamu tidak perlu mengobral tentang kecerobohanku ke semua orang!
Tanpa pamit lagi, aku segera membalik badan pergi meninggalkan pria dingin itu. Namun harus berhenti melangkah ketika dia malah menarik sebelah tanganku. Aku menahan kekesalan, menoleh ke belakang.
Reynand menatap serius, lalu mengangguk. Dengan cepat mengakhiri pembicaraannya di telepon dan kembali fokus berbicara denganku.
"Mau ke mana?" tanyanya.
"Kembali ke acara pesta," jawabku singkat.
"Ayo kembali bersama!"
__ADS_1
Aku tidak menjawab. Pandanganku tertuju pada tangan Reynand yang belum juga melepaskan genggaman tangannya.
"Bisakah kamu melepaskan tanganku, Rey?!"
"Astaga! Maaf!" katanya langsung melepaskan genggaman tangannya.
Aku menarik senyum tipis. "Sebaiknya aku duluan. Aku takut ada jika ada yang melihat kita dan menggosipkan hal yang tidak-tidak."
"Ya, Sher. Kamu benar. Silakan pergi lebih dulu," sahut Reynand.
Tanpa bertanya lagi, aku meninggalkannya, kembali ke ballroom hotel.
Mungkin aku wanita yang paling kejam kepadanya. Tapi, apa perasaannya sekarang menjadi tanggung jawabku juga? Hei! Dia seorang pria dewasa yang memiliki segalanya. Dia tinggal menunjuk salah satu wanita yang dia inginkan jika tertarik dengannya. Pasti mereka akan sangat senang. Yang jelas, jangan istri orang! Akan sangat memalukan jika menjadi seorang pebinor, bukan? Sebaiknya dia cepat menikah dengan Kayla. Kasihan bila terus menggantung status wanita itu. Bagaimanapun, aku sangat tahu perasaan Kayla yang mencintainya.
Baru saja menjejakkan kaki di ballroom, aku melihat Kayla sedang berdiri dan berbicara dekat meja prasmanan bersama seorang pria. Tertawa begitu lepas bersama pria itu.
"Dia 'kan David? Mereka saling mengenal rupanya," gumamku.
"Sher?" Aku menoleh ke belakang. Suara Baruna tiba-tiba terdengar memanggil.
"Sayang, kok kamu ada di sini?"
Baruna menggelengkan kepala. Tangannya berkacak pinggang. "Dari mana? Meja minuman di sebelah sana, tapi kenapa kamu malah mengambilnya jauh ke Bagdad?"
"Bagdad? Kamu kira aku putri Yasmin, huh?" Sindirannya sangat lucu dan membuatku tergelak seketika.
"Maaf. Tadi aku mendapat panggilan alam." Entah mengapa lidahku memulai kebohongan kembali.
Ketika kau menciptakan satu kebohongan, kau akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan itu, Sher!
"Ckckck!" Pantas kucari tidak ada."
"Di mana teman-temanku?" tanyaku langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Nayara dan Fely, huh?"
"Iya. Siapa lagi?"
"Tidak tahu," jawabnya kemudian terdiam, terlihat tidak peduli dengan dua teman wanitaku dan pasangan mereka. Tangannya tiba-tiba terulur menggapai tanganku. "Ayo kita bergabung dengan Ayah dan Bunda di meja depan. Acaranya akan segera dimulai."
Aku mengangguk, mengikuti langkah Baruna ke manapun ia membawaku. Duduk bergabung dengan kedua orang tua kami.
***
Reynand POV
__ADS_1
Aku masih berdiri di samping mobil. Menyesap rokok dengan perasaan hancur. Berita kehamilan Sheryl cukup memukul hatiku.
Seharusnya aku tahu kalau ini akan terjadi cepat atau lambat dan harus mempersiapkan hati dengan sebaik-baiknya, tapi mendengarnya mengatakan hal itu membuatku sedih sekaligus kesal setengah mati.
Setelah puas dengan benda penghancur paru-paru itu, aku bergegas pergi dari pelataran parkir, kembali ke ballroom acara. Kayla sudah berdiri di ambang pintu menungguku.
"Lama sekali! Kamu dari mana, Rey?" tanyanya.
"Merokok sebentar," sahutku singkat.
"Mamamu tadi mencarimu. Acaranya sudah dimulai. Ayahmu dan Baruna sudah memberikan sambutannya."
"Oh ...." Aku tidak ingin berkomentar.
Kayla menarik tanganku, memaksa mengikuti langkahnya. Kami lalu duduk melingkar pada sebuah meja bundar dekat dengan Mama. Ibu kandungku itu mendelik mengangkat sebelah alisnya melihatku yang baru datang. Raut mukanya menunjukkan perasaan tidak suka.
"Kamu dari mana saja dengan istri adikmu?"
Deg!
Tiba-tiba saja Mama melontarkan pertanyaan yang membuatku tersentak kaget.
"Apa sih, Ma?" tanggapku berpura-pura.
"Jangan berpura-pura! Mama melihatmu menarik Sheryl berdua saja keluar dari ballroom. Apa kamu masih mengelaknya? Sudah izin kepada adikmu?" Mama sontak menginterogasi.
Kayla yang berada di antara kami seketika menatap bergantian terlihat bingung, tapi malah ikut menginterogasi. "Jadi kamu pergi dengan Sheryl, Rey?"
"Ck! Kamu jangan ikut campur, Kay!" ketusku.
Wanita di sampingku itu langsung mengatupkan mulutnya. Dia memang sangat takut menghadapiku yang mulai emosi.
"Benar 'kan, pertanyaan Mama?" Mama mengerutkan dahinya lalu menghela napas panjang. "Mengapa kamu lebih suka memandang rumput hijau tetangga, daripada rumputmu sendiri? Kayla ada di sini. Jika tingkahmu seperti ini terus, tidak akan ada yang mau mendekatimu, Rey. Secantik apapun, sebaik apapun, sepengertian apapun, wanita tidak suka diduakan."
Nasihat Mama membuatku menyeringai lalu tertawa kecil. "Aku tidak melakukan apa-apa dengan Sheryl. Hanya mengobrol biasa saja, Ma," jelasku yang tentu saja menutupi semuanya, lalu menoleh kepada Kayla. Menatapnya begitu dalam seakan memberitahunya untuk tidak mengharapkanku lagi. "Hubunganku dengan Kayla tidak seperti apa yang Mama bayangkan. Bahkan hari ini, dia hanya menemani kita ke acara pesta. Tidak lebih!"
Kayla tidak berkomentar. Wanita itu tahu apa maksudku. Walau berkali-kali mengatakan cinta, tapi aku benar-benar tidak bisa membalas perasaannya.
"Jaga bicaramu, Rey! Kayla juga mempunyai hati!" tegur Mama. Matanya melotot marah menatap hingga membuatku menelan ludah, sedikit takut. "Jika kamu hanya mengobrol biasa, tidak patut bagimu membawa wanita itu pergi dari sisi suaminya. Baruna sejak tadi mencari istrinya. Dia sempat bertanya kepada Mama. Tapi Mama tidak mungkin mencelakai anak sendiri dan memberitahu kalau kamu sedang bersama Sheryl."
Aku terdiam, menipiskan bibir. Kayla pun ikut terdiam, tidak berani berkomentar. Kami sama-sama tidak bisa membalas perkataan wanita tua di hadapan kami.
.
.
__ADS_1
.
Untuk menghargai jemari keriting author, tinggalkan like, komen, dan vote kalian. Terima kasih.