Marriage Order

Marriage Order
S3 Aku yang Memutuskan Kebahagiaanku Sendiri


__ADS_3

Baruna Pov


Aku mengejar Felicia yang berjalan hingga pintu keluar ballroom. Walau perutnya membesar, dia cukup gesit. Aku meraih bahunya dari belakang hingga ia akhirnya berhenti dan berbalik. Dengan segera, aku membawanya ke tempat yang lebih sepi untuk berbicara berdua saja.


"Kapan kau datang?" tanyaku.


Felicia mencebik, lalu menarik kuat tangannya hingga terlepas dariku. "Cukup lama sampai akhirnya aku menjatuhkan gelasku," jawabnya dengan napas terengah menahan emosi, "kau benar-benar gila, Bar! Kau akan menceraikanku, hah?!" kesalnya.


"Ya! Aku sudah tak tahan menikah denganmu. Aku akan menceraikanmu setelah anak kita lahir!" Aku menunjuknya.


"Benar-benar...." Felicia menggelengkan kepalanya lalu terdiam sejenak. Ia mengatur napasnya sampai emosinya tampak sedikit mereda, "baiklah... karena aku tak ingin bercerai denganmu, aku akan berpura-pura tak mendengarnya."


"Aku serius!"


"Aku juga serius. Aku tak akan membiarkan anak ini tumbuh tanpa ayahnya." Felicia menunduk dan mengusap perutnya.


"Aku tak bilang akan melepaskan tanggung jawabku terhadap anak kita," sanggahku tak setuju dengan perkataan Felicia.


Felicia mengangkat wajahnya. Tatapan matanya begitu tajam mengarah padaku. "Ternyata kau masih belum berubah. Masih juga egois. Aku sudah salah menilaimu. Aku pikir setelah menikah dan merawat Rafael bersama, kita akan menjadi keluarga yang paling bahagia di dunia ini."


"Fely, aku tidak mencintaimu. Bagaimana bisa kita meneruskan pernikahan ini sementara hatiku terus sakit melihat kemesraan Sheryl bersama Reynand? Aku tak bisa membiarkan ia bersama Rey."


"Bukan tidak bisa! Itu karena dirimu yang tak mau berpaling darinya! Kau terus berharap Sheryl berubah pikiran dan menerimamu. Sadar, Bar!"


"Sheryl masih mencintaiku."


"Cih! Lagakmu membicarakan cinta, padahal kau sendiri yang merusak perasaannya," Felicia menyahut geram lalu mmbalik tubuhnya.


"Kau mau ke mana?"


"Kau pikir aku akan membiarkan dia bahagia begitu saja, huh?!" sahut Felicia. Entah apa yang Felicia pikirkan. Sorot matanya tiba-tiba tampak menakutkan.


"Jangan pernah mengganggunya, Fel!" Aku berteriak tapi Felicia tak peduli. Dia terus berjalan menyusuri lorong menuju ballroom. Dengan segera, aku pun kembali mengejarnya.


***


Sheryl Pov


MC di atas panggung mengatakan bahwa acara berikutnya adalah sesi berdansa demi merayakan lamaran Reynand tadi. Tak sampai sepuluh detik kemudian, lantunan musik romantis dimainkan. Aku yang duduk bersama Reynand, Tante Aina, dan Ayah Anton di salah satu meja ballroom sontak melirik ke arah Reynand.


Reynand sepertinya menyadari pandanganku ke arahnya. Kedua sudut bibir tipisnya tiba-tiba terangkat. "Mau berdansa?" katanya setengah berbisik di telingaku.

__ADS_1


"Tapi aku tak begitu mahir," kataku.


"Tak masalah. Aku bisa membantumu," jawabnya lalu mengulurkan tangannya.


Aku hanya menatap lengan Reynand, sedikit ragu untuk menyambutnya. Tante Aina dan Ayah Anton sontak mengarahkan pandangannya kepada kami.


"Tunggu apa lagi, Sheryl?" Tante Aina berkomentar.


"Ya, tunggu apa lagi? Reynand menginginkanmu," tambah Ayah Anton.


Aku pun akhirnya mengangguk, segera menyambut lengan tampannya itu. Reynand membawaku ke tengah-tengah dan kami mulai melakukannya.


Reynand menautkan jari jemarinya pada telapak tanganku. Dia menarik tubuhku sedikit hingga jarak kami sangat dekat. Tatapan matanya yang lembut itu membuat wajah menghangat dan hati berdebar. Namun, aku malah menoleh dan memandang dari jauh cincin yang melingkar dengan cantik di jari manisku. Sungguh! Aku tak percaya dengan apa yang terjadi malam ini. Dia melamarku di depan para tamu undangan.


"Kau terus saja memperhatikan cincin itu. Calon suamimu ada di hadapanmu sekarang," ucap Reynand kala menyadari mataku yang menoleh memperhatikan cincin berlian itu.


Mendengar perkataannya, aku sontak mengarahkan pandanganku kembali pada wajah Reynand. "Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Ini seperti mimpi untukku, Rey," sahutku seraya mengulumm senyum kecil.


"Kau menyukainya?"


Aku mengangguk. "Bagaimana bisa aku tak suka? Ini pilihanmu Rey."


"Siapa yang bilang? Aku belum membelikanmu cincin sama sekali."


Reynand mengangguk perlahan. "Jika kau menyukainya, kurasa selera kalian sama. Nantinya kalian pasti akan bisa menjadi lebih akrab."


"Semoga." Aku hanya mengangguk.


Entah mengapa aku tak sependapat dengan satu kalimat terakhir Reynand. Akan bisa menjadi lebih akrab? Bukannya aku tak suka. Hanya saja, ini adalah permulaan yang sangat mengejutkan. Aku dan Tante Aina, mungkinkah? Bahkan dengan Tante Meri yang terang-terangan baik saat itu saja aku masih begitu canggung setelah menikah dengan putranya. Bagaimana dengan Tante Aina? Semoga ia tak menarik kembali ucapannya karena menyesal merestui kami.


Aku dan Reynand meneruskan langkah dansa kami mengikuti alunan musik romantis yang belum juga usai. Musik itu seolah membawa romantisme tersendiri dalam hubungan kami. Tatapan mata Reynand yang begitu jujur mengatakan tak ingin mengakhiri sesi ini dengan cepat. Begitupun aku yang merasakan hal yang sama. Sayangnya, tidak dengan perut ini. Bergemuruh mulas.


"Rey, aku ingin ke toilet sebentar!" kataku langsung memegangi perut.


"Toilet?"


"Panggilan alam. Sepertinya karena aku makan sesuatu yang asam dan pedas tadi," kataku seraya tersenyum malu memperlihatkan barisan gigi seri di depannya. Momen romantis kami harus terganggu karena panggilan alam sialan ini.


"Apa perlu kutemani?"


"Tidak perlu." Aku menggeleng cepat, lalu berjalan pergi meninggalkan Reynand.

__ADS_1


Aku meninggalkan Reynand, berjalan menuju toilet. Namun di tengah perjalanan, seseorang menghentikan langkahku dengan lengan kekarnya yang tiba-tiba mencengkeram tanganku dari belakang. Aku berbalik. Baruna sudah berdiri di depanku.


"Pembicaraan kita belum selesai, Sheryl!"


Aku segera menarik tanganku agar lepas darinya, tapi cengkeraman tangan Baruna sangat kuat. Baruna benar-benar keras kepala. Dia tak mau melepaskanku. Sedangkan perut sialan ini juga tak bisa diajak kompromi. Hanya bisa menahan rasa mulas yang makin menjadi.


"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi, Mas!"


Baruna makin menarik tanganku ke atas. "Tidak! Aku ingin kamu tahu kalau aku-" Tiba-tiba ia terdiam dengan mata yang hampir melotot mengarah pada cincin yang melingkar di jari manisku, "i-ini...."


Aku tak menjawab dan hanya bisa menatap kesal pria itu. Entah sejak kapan, tapi aku melihat Reynand yang berjalan dengan langkah panjangnya menghampiri kami.


"Lo enggak usah ikut campur, Rey. Ini urusan gue sama Sheryl!" Baruna tak peduli dengan kehadiran Reynand di antara kami.


"Sheryl udah menerima lamaran gue. Kami akan segera menikah. Jadi, urusan Sheryl juga adalah urusan gue, Bar," ucapnya penuh percaya diri.


Pandangan Baruna yang tadinya tegang perlahan berubah mengendur. Dia melepaskan tanganku darinya. "Jadi aku benar-benar tak punya kesempatan lagi?"


"Maaf, Mas," kataku segera berbalik. Tak peduli lagi dengan Baruna yang kecewa. Aku pergi meninggalkannya bersama Reynand.


Benar-benar tak tahu sikon! Haish! Perutku!


Selang beberapa saat kemudian, ketika aku selesai menggunakan toilet dan hendak keluar bilik, salah satu bilik lainnya terbuka. Seorang wanita hamil yang selama ini ingin kutemui muncul dari dalamnya. Felicia.


"Sheryl...." Felicia tiba-tiba menyeringai, tapi tatapannya begitu menghunus seolah ingin membunuhku. "akhirnya kita malah bertemu di tempat ini."


"Fely...." Aku berusaha tak memedulikannya dan malah beranjak menuju wastafel untuk mencuci tangan.


"Kelihatannya kau sangat bahagia malam ini," ucap Felicia lagi.


Aku melirik cermin, mendapati pandangan matanya yang mengarah pada jemariku.


"Apa yang sebenarnya kau ingin katakan, Fely? Aku tak ada waktu untuk meladenimu!" kataku tak ingin berbasa-basi dengannya.


"Kuakui selera Pak Reynand terhadap perhiasan wanita sangat bagus. Sayangnya jika menyangkut seorang wanita, seleranya tak bagus sama sekali."


Mendengar perkataannya membuatku menelan ludah. Aku segera menutup keran air dan menatap dingin kepadanya. Bagaimanapun, aku tahu Felicia sedang berusaha memancing amarahku.


"Itu sama sekali bukan urusanmu, Fely. Sebaiknya kau urus keluargamu baik-baik agar Baruna bisa lebih mencintaimu dan mengurungkan niatnya untuk bercerai."


Felicia menyeringai lalu mengekeh. "Rupanya kau adalah wanita yang benar-benar tak tahu malu, Sheryl. Dua orang pria memperebutkanmu. Yang satu memohon untuk kembali dan satunya lagi meminta untuk dinikahi di saat yang hampir bersamaan. Jangan pikir, kau akan dengan mudah berbahagia. Tidak! Tidak akan kubiarkan."

__ADS_1


"Aku mencintai Rey, aku yang memutuskan kebahagiaanku sendiri, dan aku bukanlah wanita licik yang merebut suami orang lain seperti seseorang yang kukenal dulu!" Aku menegaskan dirinya, mengingatkan perbuatannya kepadaku.


"Haish! Kau benar-benar wanita menyebalkan!" Wajah Felicia berubah menegang. Tatapannya berubah marah. Wanita hamil itu tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya dan menarik rambutku begitu kuat.


__ADS_2