Marriage Order

Marriage Order
Modus


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Jam dinding di ruanganku menunjukkan pukul sepuluh pagi saat Viona tiba-tiba masuk ke dalam. Aku mengernyitkan dahiku bingung. Wajahnya terlihat serius memandangku.


"Mbak Sheryl, ada yang seseorang datang bersikeras ingin bertemu. Dia sedang duduk duduk menunggu di ruang tunggu tamu."


"Siapa, Vi?" tanyaku.


"Saya tidak mengenalnya. Wajahnya tampan memesona. Saya sampai tidak ingin mengalihkan pandangan saya sendiri dari wajahnya, Mbak," jawabnya dengan wajah berseri-seri seraya terkekeh.


Siapa sih?


Aku mengerutkan kening bingung. Bergegas keluar ruangan dan mendapati Pak Reynand sedang duduk santai di ruang tunggu tamu.


Dia lagi.


Aku melangkah menghampirinya. Senyum mengembang terpancar di wajahnya saat dia melihatku dan aku hanya membalasnya dengan mengangkat kedua sudut bibirku 0,0001 mm.


Viona yang mengikutiku dari belakang memperhatikan kami dari balik dinding kaca saking penasarannya. Aku meliriknya, memberikan kode agar jangan jadi biang gosip. Dia pun berbalik arah meninggalkan kami dengan raut wajah kecewa.


"Ada apa, Pak?"


"Nice to see you, Sheryl. Aku sangat mengantuk pagi ini. Bagaimana kalau kamu menemaniku minum kopi?"


"Maaf, saya sedang banyak pekerjaan," tolakku.


"Oke baiklah, tapi aku memaksa kali ini." Dia tersenyum.


"Kapan Bapak tidak pernah memaksa saya?"


"Nah karena sudah tahu, ayo!" Pak Reynand menarik tanganku dan membawaku keluar ruangan dengan paksa.


"Hei ... lepaskan tangan saya, Pak!"


"Tidak akan sampai kamu menemani saya sebentar. Baruna pun sudah tahu saya akan mendekatimu."


Deg!


Kak Baruna tidak pernah mengatakan hal ini padaku.


Aku terpaksa mengikutinya sampai ke lobi kantor dan masuk ke dalam sebuah kafe kecil. Pak Reynand membawaku duduk di sebuah meja terpencil yang tidak menarik perhatian, tapi tetap saja, ini kantorku.


"Bisakah kita tidak masuk ke sini?" tanyaku.


"Oh ... jadi kamu mau ke tempat yang lebih jauh? Tidak masalah, saya akan mengabulkannya, Sher." Dia pun bersiap berbalik arah. Tapi aku berusaha menghentikannya.

__ADS_1


"Kita mau ke mana?"


"Ke kafe seberang saja."


Dia masih menarik tanganku membawanya ke kafe yang berada di seberang jalan. Kami menyeberang di suasana jalan yang lumayan padat saat lampu merah lalu lintas menyala.


"Pak Rey, bisakah Bapak melepaskan tangan saya?" protesku.


Karena mendengar kata-kataku, Pak Reynand segera menoleh dan melepaskan tangannya canggung. Aku segera berjalan mendahuluinya. Tiba-tiba seorang pengendara motor ugal-ugalan menyerobot melaju kencang ke arahku. Pak Reynand dengan sigap menarik tanganku kencang, aku sontak masuk ke dalam pelukannya. Motor itu masih berjalan kencang menerobos lampu merah tanpa rasa bersalah.


Deg-deg-deg!


Sialan, mengapa jadi berdebar seperti ini, Sheryl?


Aku buru-buru melepaskan pelukannya. Kami sama-sama memandang dengan canggungnya, kemudian bergegas berjalan kembali seperti biasa. Menganggapnya seperti tidak terjadi apa-apa.


Suasana kafe A masih sepi pengunjung di pagi hari. Aku dan Pak Reynand duduk dekat dengan dinding kaca.


"Kamu pesan apa?"


"Coffee latte dan white chocolate croissant.


Dia bangkit dari kursi, melangkah berjalan ke meja pesan di dekatnya. Aku menghela napas sedikit rasa bersalah pada Kak Baruna saat mengingat ada debaran hebat yang tadi datang menghampiri.


Tidak lama Pak Reynand membawa nampan berisi pesanan kami. Dia meletakkan nampan itu di meja, kemudian duduk di hadapanku.


"Saya ingin tahu kelanjutan dari pertanyaan saya yang kemarin," katanya membuka pembicaraan.


"Pertanyaan yang mana ya, Pak?" tanyaku seraya mengambil cangkir kopiku. Aku benar-benar tidak ingat.


"Apa saya masih punya kesempatan?" Pak Reynand menembakku dengan pertanyaan yang sangat aku hindari.


Aku yang sedang meminum coffee latte hangat sontak tersedak karenanya. Membuatku sedikit terbatuk.


Uhuk-uhuk-uhuk!


"Hei ... maafkan saya membuatmu terkejut." Pak Reynand menatap terkejut mengeluarkan sapu tangan dari balik jasnya dan memberikannya kepadaku. Aku pun meraihnya dan membuat sapu tangan itu kotor dengan noda kopi.


"Jawaban saya sebelumnya, apa masih kurang jelas?"


"Iya kamu ingin fokus pada pernikahanmu. Tapi saya ingin mendengar jawabanmu atas pertanyaan saya barusan."


Pak Reynand memandang wajahku penuh arti. Aku sontak memalingkan wajahku yang kembali bersemu merah. Tubuhku ini benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama.


Dia lalu meraih daguku membuat wajahku terpaksa bertemu muka dengannya.

__ADS_1


"Lawan bicaramu ada di sini, Sher. Kamu tidak perlu membuang wajahmu sendiri di hadapan saya dan membuatmu semakin lucu di saat seperti ini." Pak Reynand menahan tawanya.


"Bapak benar-benar membuat saya susah!" Aku berdecak kesal padanya.


Dia lalu tertawa terbahak-bahak. Melihat reaksiku yang mungkin terlihat lucu baginya. Tidak lama, sebuah telepon masuk muncul di layar ponselku. Nama Kayla tertera di sana.


"Sheryl, sore ini ada waktu? Aku ingin mengajakmu melihat pertandingan basket antar pelajar di Wisley International School."


Kemarin Khanza mengatakan ada pertandingan basket juga di sana hari ini. Jangan-jangan sama?


"Wisley International School? Kay, aku juga nanti sore mau ke sana dengan Baruna. Kebetulan adik sepupuku mengundang kami untuk menonton pertandingan itu."


"Oh ... yah, aku padahal ingin datang tapi tidak ada teman yang menemani. Adik sepupuku Ken juga bertanding hari ini."


"Kamu tidak punya teman untuk ke sana? Bagaimana dengan Pak Reynand? Kebetulan dia sedang meeting denganku sekarang. Apa kamu ingin berbpicara dengannya?" Aku tersenyum melirik wajah Pak Reynand yang sedang memperhatikanku menerima telepon.


"Wah boleh, Sher. Mana dia?" Aku memberikan telepon genggamku padanya. Dia menerimanya dengan kening yang berkerut.


Akhirnya aku ada alasan untuk berkelit dari pertanyaan bodohnya.


Aku terus menikmati croissant di hadapanku. Melihatnya yang menerima telepon tanpa ada penolakan. Dia lalu mengakhiri pembicaraannya dan mengembalikan ponselku.


"Bagaimana?" tanyaku.


"Saya akan ikut," jawabnya singkat.


"Sudahlah, Bapak memang lebih cocok dengan Kayla. Dia cantik dan menawan. Kalau saya jadi laki-laki saya akan menerimanya dengan lapang dada, tulus, dan ikhlas." Aku menggodanya. Berusaha mengalihkan perhatian.


Pak Reynand mengedikkan bahunya. Dia lalu menikmati hidangan di mejanya. Menatap sejenak wajahku dan berkata, "Jika kamu jadi laki-laki, saya akan menjadi perempuan yang akan tetap mengejarmu sampai ke ujung dunia."


Kata-katanya membuat wajahku merona merah kembali. Dia tersenyum dengan wajah berseri-seri seraya melihatku yang sedang menampakkan kecanggungan luar biasa.


Apa dia sedang berusaha menggodaku? Pak Rey, lama-lama dinding pertahananku bisa jebol karenamu.


Aku lalu bangkit dari kursiku. Pak Reynand mendongakkan wajahnya melihatku yang tiba-tiba berdiri.


"Kenapa kamu berdiri? Makananmu belum habis."


"Saya rasa pertemuan ini sudah cukup, Pak," jawabku.


"Baiklah, ayo kembali," sahutnya.


"Saya bisa sendiri. Bapak di sini saja, habiskan dulu makanan Bapak yang belum habis itu." Aku beranjak dari kursiku bersiap melangkahkan kaki, tapi Pak Reynand segera meraih pergelangan tanganku, dia mencegah diriku meninggalkannya.


"Bagaimana bisa saya membiarkan kamu pergi sendiri sedangkan saya yang mengajakmu datang ke sini bersama? Belum lagi, kamu begitu ceroboh saat menyeberangi jalan." Dia ikut bangkit dari kursinya dan menggandeng tanganku keluar dari kafe tersebut.

__ADS_1


__ADS_2