
Suasana ruang tamu malam itu menjadi tegang. Kak Baruna marah mengumpat saudara tirinya yang memang menyebalkan. Aku dan Kak Daniel berusaha menenangkannya. Indira yang melihat tingkah kakaknya itu langsung menyusul kakaknya yang pergi dengan tiba-tiba.
"Sayang tenanglah, kamu sendiri tahu dia memang pria menyebalkan. Tidak usah diambil hati," kataku.
"Iya Bar. Gue juga enggak ngerti kenapa dia masih begitu sikapnya sama lo."
"Pasti gara-gara perusahaanlah. Menurut lo apa lagi?" jawab Kak Baruna kesal.
"Mending kita main game aja yuk di atas. Biar kesel lo hilang."
"Gimana?" Kak Baruna menoleh ke arahku meminta izin.
"Ya sudah sana. Satu jam saja ya," sahutku.
"Siap ratu," ujarnya cengar-cengir.
Kak Daniel lalu mengajak kami semua naik ke atas tempat ruang keluarga di mana ada sebuah meja bertipe rak panjang dengan televisi berukuran besar dan konsol game teranyar berada di bawahnya.
Aku duduk di atas sofa sedangkan mereka berdua duduk di atas karpet tebal sambil memeluk bantal kecil masing-masing. Aku mengeluarkan ponselku melihat notifikasi media sosial yang sudah beberapa hari ini tidak kusentuh sama sekali. Ada ribuan tag dan pesan terpampang di sana akibat kasus video perkelahian itu.
"Heran sama para netizen ini, apa mereka tidak punya pekerjaan sampai-sampai mengomentari kehidupan orang seperti diriku dengan sebrutal ini? Artis bukan, model bukan, orang terkenal juga bukan."
Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkah para netizen ini. Tiba-tiba Indira datang menaiki anak tangga membawa minuman dan cemilan untuk kami.
"Pas banget Bun, aku haus," sambut Kak Daniel memandang istrinya.
"Iya makanya nih aku bawain. Pasti iseng kan main gak ada makanan dan minuman?"
Kak Baruna hanya mengangguk tersenyum sambil meraih cemilan kue di hadapannya. Dia menyodorkan kue itu ke mulutku yang duduk di belakangnya.
"Buat kamu," ucapnya.
"Iya. Terima kasih sayang."
Aku masih memegang ponsel, mulai bermain game lagi. Indira yang melihatku melirik ke ponselku menggelengkan kepalanya.
"Aih ... sudah dewasa masih main game begitu," komentarnya.
Aku tertawa dan berkata, "Habis iseng Dir."
"Ikut yuk ke bawah. Bantu siapkan makan malam," ajak Indira.
__ADS_1
"Sayang aku ikut Dira ke bawah ya," ujarku meminta izin.
"Iya sayang. Masak yang enak ya untuk kami," sahut Kak Baruna tertawa.
Aku dan Indira beranjak melangkah ke dapur untuk mempersiapkan makan malam. Aku melihat sekeliling dapur yang luas dan bersih. Di sana kami melihat Ibu Aina dan Pak Reynand bersama-sama kompak sedang membuat menu makan malam.
"Lo gak punya asisten rumah tangga Dir?" tanyaku ternganga melihat kehebohan mereka memasak.
"Sebenarnya ada sih. Tapi kebetulan hari ini gak masuk. Izin pulang kampung karena orang tuanya sakit," jawab Indira.
Aku menganggukkan kepalaku lalu melihat Pak Reynand yang masih mengenakan kemejanya bersamaan dengan celemek yang menempel di tubuhnya. Dia menyiangi beberapa ekor ikan gurame di bawah air yang mengalir dari wastafel dengan cekatan bagaikan seorang chef ternama yang sudah terbiasa bekerja di dapur.
Tersadar dengan kehadiranku dan Indira, dia mendongakkan kepalanya menoleh kami sejenak lalu meneruskan kegiatannya.
"Ini yang namanya banyak kerjaan? Masak di dapur bersama ibu tercinta. Aku juga baru tahu kalau seorang direktur memasak itu gayanya seperti ini. Keren sih tapi tetap saja kelakuannya banyak minus."
"Aduh!" pekik Pak Reynand.
Jari telunjuknya tergores pisau yang sangat tajam. Darah segar mulai menetes. Dia lalu membersihkan lukanya di bawah air yang mengalir itu.
"Hati-hati dong Rey. Tumben kena potong. Melamun apa kamu Nak?" Ibu Aina bergegas mematikan api kompor menatap ke wajah anaknya.
Pak Reynand tidak menjawab. Dia terus memegang jarinya yang terluka. Kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi bar dapur. Sang mama lalu sibuk mencari plester luka di dalam laci.
"Ini pakai cairan antiseptik dulu." Ibu Aina meneteskan obat berwarna coklat kemerahan itu di atas jari anaknya.
Aku berdiri terdiam memandang ke arah mereka. Ibu Aina menoleh ke arahku, mengangkat sebelah alisnya masih dengan tatapannya yang angkuh seperti tatapan di lift tadi pagi.
"Kamu ke sini bukannya mau membantu?" tanyanya.
"I - iya Bu." Aku bergegas menghampiri mereka.
"Bisa teruskan menyiangi ikan?" tanyanya tegas. Pak Reynand menatapku datar.
Aku menelan ludah tegang mendengar pertanyaannya. Memasak bukan hobiku. Apalagi yang berkaitan dengan ikan, daging, atau pun ayam, sangat sulit menyiangi mereka menjadi makanan enak.
"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak bisa menyiangi ikan. Aku harus bilang apa ya?"
"Kok diam?" tanya Ibu Aina lagi.
"Maaf Bu, saya ...." Aku tidak jadi meneruskan kata-kataku karena Pak Reynand tiba-tiba menyela.
__ADS_1
"Enggak perlulah Ma. Tamu jangan disuruh masak."
Ibu Aina terdiam mendengar kata-kata anaknya. Pak Reynand membelaku di depan ibunya. Tidak sengaja aku menangkap senyum kecil yang tersungging di bibirnya sambil mengalihkan pandangan malu-malu ke arah lain.
"Hei kenapa Pak Reynand tersenyum seperti itu?"
Ibu Aina pun kembali meneruskan memasak masakannya yang tertunda.
"Kak ini plesternya."
Indira datang menghampiri Pak Reynand memberikan plester ke tangannya. Pak Reynand membuka perekat plester dan menempelkannya di jari telunjuk.
"Sher, lo bisa bersihin ikan?" tanya Indira mengarahkan pandangannya ke arahku.
"Enggak usah Dir. Sekretarisku ini memang tidak bisa apa-apa di dapur," celetuk Pak Reynand mengangkat sebelah alisnya memeremehkanku.
"Ih Kakak kok jahat banget sih. Sheryl ini temanku tahu," ucap Indira membela. "Ayo Sher sini gue ajarin."
Aku mengikuti Indira, dia mengambil alih pekerjaan Pak Reynand menyiangi ikan gurame itu. Tangan Indira begitu cekatan mengolah ikan-ikan.
Aku memperhatikan raut wajahnya yang mual menahan bau amis dari ikan. Pak Reynand yang melihat reaksi Indira bergegas menghampiri Indira meraih pisau di tangannya lalu menggantikannya.
"Sudah, Kakak saja yang teruskan. Lihat kamu sudah mual begitu. Kalian berdua atur meja saja sana," perintahnya.
Pak Reynand yang kulihat sekarang sangat berbeda dengan sosoknya di kantor. Seorang anak yang pintar memasak serta kakak yang sangat peduli kepada adiknya. Satu penilaian minus untuknya, berganti satu plus penilaian di pikiranku.
Indira memanyunkan bibirnya. Wajahnya masam. Kami melangkah menuju ruang makan. Indira dan aku mengambil beberapa piring, sendok, dan mangkok, mengaturnya di atas meja.
Aku menatap Indira yang masih kesal dengan kakaknya itu.
"Pak Reynand biasa masak Dir kalau ke sini?" tanyaku.
"Enggak juga sih Sher. Lagi tumbenan aja rajin. Mama juga biasa gak masak jadi ikutan masak. Mungkin ingin menjamu kalian karena kalian datang bertamu.
"Ternyata mereka baik juga," gumamku lirih.
"Sher lo ngomong apa barusan?" tanya Indira menatapku penasaran.
Aku tersentak kaget, jangan-jangan dia mendengar kata-kataku terhadap ibu dan kakaknya. Padahal aku berkata sangat pelan nyaris tidak terdengar.
"Enggak ada Dir. Gue baru tahu bos gue itu bisa masak."
__ADS_1
"Oh ... iya Sher udah lama itu sih. Banyak wanita tergila-gila dengannya. Tapi dia tidak pernah menjalin hubungan yang serius dengan wanita mana pun."
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan Kayla? Bukankah dia calon istrinya?"