Marriage Order

Marriage Order
S2 Kontrol


__ADS_3

Malam ini kami berada di sebuah ruangan kecil beraroma citrus. Ruangan Dokter Mario di Rumah Sakit Permata Kasih. Kak Baruna sedang berbaring di ranjang periksa. Di sampingnya tampak dokter Mario sedang memeriksa kakinya.


Tidak lama kemudian Dokter Mario berbalik arah duduk di meja konsultasi. Aku bangkit berdiri membantunya untuk berdiri dari ranjang. Tampak raut wajahnya meringis menahan sakit. Mataku menatap wajahnya khawatir.


"Aku tidak apa-apa," katanya.


Aku mengangguk dan menuntunnya hingga duduk di kursi. Dokter Mario mengerlingkan matanya ke arah kami bergantian. Asisten perawat yang berdiri di dekat dokter Mario ikut memperhatikan kami.


"Baruna, kakimu itu butuh waktu paling cepat enam bulan untuk kembali ke kondisi normal," jelasnya serius.


"Lama sekali, Dok?"


"Menurutku tidak lama. Apalagi yang remuk itu adalah tulang tempurung dan tulang di sekitarnya yang mana adalah tempat pergerakan kakimu sehari-hari. Dibanding pergelangan kakimu yang lain yang hanya mengalami dislokasi."


"Tapi aku ingin menikah dua bulan lagi. Paling tidak selama waktu itu, seharusnya kakiku bisa sembuh, 'kan?"


Aku sontak menolehkan pandangan ke arah Kak Baruna. Kata dua bulan membuat keningku mengernyit.


Sejak kapan dia memutuskan waktu pernikahan kami menjadi dua bulan lagi? Tidak ada pembicaraan sama sekali.


Dokter Mario tertawa mendengar perkataan Kak Baruna. Dia menatap tajam ke wajah pasiennya itu.


"Baruna, aku tidak bilang kamu tidak bisa menikah dalam waktu dua bulan. Namun, sebaiknya pernikahan kalian diundur sampai kakimu benar-benar sembuh. Kamu tidak ingin kan melewatkan malam pertama hanya karena masalah di kakimu itu?" kelakarnya membuat wajah kami tiba-tiba merah padam karena malu. Perawat yang berdiri di dekat dokter Mario pun ikut menahan tawa.


"Haish .... Mengapa sangat merepotkan!" keluh tunanganku itu sedikit kesal.


"Cedera di kepalamu juga, bagaimana? Sudah kontrol ke dokter spesialis syaraf?"


Kak Baruna mengangguk. Kemarin dia bersama Tante Meri baru saja kontrol ke dokter spesialis syaraf untuk memeriksakan cederanya.


"Iya, tidak ada yang masalah. Untung saja dokter bedahnya berkompeten membedah isi kepalaku."


"Baiklah, aku akan memberikan resep untukmu." Dokter Mario mengetikkan sesuatu di layar komputernya. Dia kemudian memberikan surat pengantar untuk terapi. "Aku memberikan surat pengantar fisioterapi untukmu. Satu bulan lagi kita bertemu untuk melihat perkembangannya. Semoga semuanya lancar. Jangan lupa undangan pernikahannya."


"Terima kasih, Dok," ucapku dan Kak Baruna secara bergantian.


"Sheryl, kapan-kapan mainlah ke rumah. Tika pasti senang bertemu denganmu. Kadang kala aku kasihan melihatnya berkutat terus dengan urusan rumah tangga tanpa teman," kata Dokter Mario tiba-tiba.


"Iya, Dok. Tenang saja. Nanti aku akan menghubunginya," sahutku.


Kami berdua pun keluar dari ruangan. Berjalan menuju apotek. Aku menatap wajah Kak Baruna yang terlihat kecewa dengan perkataan Dokter Mario tadi.


"Sayang, mengapa kamu tidak membicarakan rencanamu yang dua bulan itu?"

__ADS_1


Lelakiku itu menoleh menatap wajahku. Dia tersenyum, "Aku memang belum mengatakannya. Bahkan kepada kedua orang tuamu. Ini baru rencanaku. Aku tidak ingin berlama-lama lagi. Aku sangat takut jika kamu berpaling dariku."


"Berpaling?"


"Iya, aku takut kamu direbut oleh Reynand."


Aku terdiam. Kata-katanya seperti menusuk jantungku. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku jujur saja mengenai kegadisanku yang telah direbut olehnya? Rasanya sungguh tidak sanggup.


"Kenapa diam?" tanyanya.


"Ah, tidak apa-apa. Sebentar, aku ambil nomor antrian apotek." Aku setengah berlari menuju mesin anjungan dan mengambil sepotong kecil nomor antrian.


Kak Baruna pun duduk di depan apotek. Menunggu obat yang diresepkan Dokter Mario. Aku menoleh ke arahnya.


"Sayang, aku harap semuanya berjalan lancar apapun itu," ujarku.


Kak Baruna mengangguk dan menggenggam telapak tanganku erat. Dia tersenyum memandangku.


"Apa kamu tidak setuju jika kita cepat menikah?"


"Aku sangat ingin menikah denganmu, tapi mengapa kamu tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu padaku?"


"Kamu tidak setuju?"


"Aku terlalu bersemangat mencintaimu," sahutnya sambil merangkul pundakku.


"Kamu sudah pintar sekali menggombal," sahutku.


Tunanganku itu pun tertawa kecil.


Tidak lama kemudian, petugas farmasi memanggil dan memberikan obat-obatan yang sudah diresepkan untuk Kak Baruna dalam plastik kecil. Aku dan dia bangkit berdiri melangkah keluar lobi rumah sakit.


Jalan raya di malam itu terlihat lenggang. Aku sedikit menaikkan kecepatannya. Perutku mulai tidak bersahabat. Rasa mual mulai menyerangku. Kak Baruna melihat raut wajahku yang sedang menahan sakit.


Dia lalu bertanya dengan wajah cemas, "Mau makan di mana?"


"Kita ke resto Daniel, bagaimana? Aku kangen masakannya," sahutku.


"Kamu kangen masakannya atau kakak iparnya?" tanya Kak Baruna menggoda. Aku jadi teringat akan Pak Reynand yang tadi datang menemuiku di kantor.


"Kita tidak perlu membicarakannya lagi," ketusku. Di saat seperti ini dia malah mengingatkanku dengan lelaki itu.


"Iya, maafkan aku. Jangan mengingat dia lagi. Aku hanya ingin kamu dan tidak ada pengganggu di antara kita."

__ADS_1


"Iya," jawabku singkat. Kak Baruna tidak berbicara apa-apa lagi. Dia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


Aku mendengarkan percakapannya. Ternyata dia menelepon Daniel. Tidak lama Kak Baruna mengakhiri panggilannya.


"Dia ada di restoran."


"Baiklah. Aku akan berbelok ke Niel Western."


Aku membelokkan kendaraan masuk ke halaman parkir restoran yang selalu terlihat ramai itu. Kak Baruna tidak lupa memakai topi berwarna putih di kepalanya yang sudah ditumbuhi rambut halus.


Aku membantunya keluar dari mobil dengan kruk yang menempel di ketiaknya. Kami berjalan perlahan masuk ke dalam restoran. Memilih duduk di meja nomor delapan dekat dengan meja kasir. Indira terlihat melayani para pelanggan di sana.


"Dir!" panggilku.


Mata wanita berbadan dua itu mengerling sejenak ke arahku. Dia tersenyum, kemudian berbicara dengan salah satu karyawannya. Dengan cepat melangkah mendekati meja kami.


"Wow! Kejutan apa ini? Kalian datang ke restoranku," ujarnya terkejut.


"Iya. Sheryl bilang ingin makan di restoranmu," sahut Kak Baruna.


"Sebentar, aku panggil Daniel." Wanita itu membalikkan badannya pergi meninggalkan kami. Tidak lupa, dia juga menyuruh salah satu karyawannya untuk melayani kami.


Sepuluh menit kemudian, sepasang suami istri itu datang menghampiri kami. Duduk di meja yang sama.


"Baruna, Sheryl!" sapanya dengan senyum semringah. Dia menjabat tanganku dan tangan Kak Baruna.


"Restoran ini selalu ramai, ya!" komentar Kak Baruna melihat sekeliling.


"Lumayan sih. Lo gimana kabarnya, Bar?" tanya Kak Daniel.


"Abis kontrol tadi sama Sheryl."


"Kontrol hamil?" tanyanya spontan.


Pertanyaan spontan Daniel membuatku terkesiap. Semua mata tertuju pada Kak Daniel. Mata Kak Baruna membelalak melihat wajah sahabatnya. Dipelototi seperti itu, Kak Daniel sontak terlihat salah tingkah.


Apa maksud pertanyaan Kak Daniel?


"Ups ... maaf. Belum lama ini gue abis dari rumah sakit. Mengantar Indira ke dokter karena ada keluhan di kehamilannya," jelasnya langsung mengonfirmasi pernyataan sebelumnya.


Pikiranku jadi bertambah kacau. Sepertinya pasangan suami istri ini mengetahui apa yang terjadi padaku dan Pak Reynand.


Apa jangan-jangan Kak Daniel sengaja mengatakan hal seperti itu di depan Kak Baruna?

__ADS_1


__ADS_2