
Reynand
Saling mencintai? Jika mencintai, seharusnya tidak menyakiti pasangannya, bukan?
Aku terhenyak sesaat mendengar perkataan Tante Meri. Lagi-lagi alasan itu. Alasan yang kudengar baik dari mulut Sheryl maupun mulut Baruna. Bahkan sekarang aku harus mendengarnya lagi dari mulut Tante Meri.
"Aku tahu," jawabku tanpa bisa menyanggahnya karena ponselku tiba-tiba saja berbunyi. Aku meraihnya dari balik saku jas. Mama menelepon. "Halo, Ma."
"Lama sekali. Cepat kembali!"
"Ya-ya, Ma," kataku lalu mengakhiri panggilan itu.
Tatapanku kembali mengarah pada Tante Meri dan Sheryl bergantian. "Maaf, Tante, Sheryl, aku harus pergi. Mama sudah terlalu lama menunggu di mobil."
"Mamamu di sini?" tanya Tante Meri dengan kernyitan di dahinya.
"Iya. Karena aku hanya sebentar, dia tidak ingin turun dari mobil," jelasku.
"Pergilah. Jangan membuat Mamamu marah," tambah Sheryl.
Aku menarik setengah senyum, lalu mengangguk. "Kau jaga kesehatanmu. Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, kau bisa mengandalkanku," jawabku.
Tak ada jawaban dari Sheryl. Dia tampak kikuk berada di antara kami. Hanya melirikkan matanya ke arah sang ibu mertua dengan cepat.
Aku mengerti. Sheryl hanya tidak ingin masalah ini menjadi bertambah rumit. Dengan cepat, aku segera berbalik pergi meninggalkan tempat itu.
***
Felicia Pov
Aku termenung sendirian di dalam kamar rawat Rafael. Memandang sebentar Rafael yang berkepala botak sedang tertidur nyenyak. Sedetik kemudian, mengalihkan pandangan pada nakas di dekatku. Di atasnya tampak selembar surat dari pengadilan agama. Sebuah panggilan sidang yang kutunggu-tunggu. Akhirnya David menyerah dan memenuhi permintaanku untuk bercerai.
Teringat saat kami bertemu semalam. David menyerahkannya tanpa kata-kata. Itu sangat aneh sekali mengingat dia yang paling menentang permintaanku.
"Kamu yakin?" tanyaku kembali kepadanya sesaat setelah membaca surat itu.
"Mengapa harus ragu? Bukankah itu yang kamu inginkan?" Dia membalasnya dengan nada menyindir.
"Ya, tapi tidak dengan Rafael. Kamu harus tetap menjadi papa-"
"Oh, sekarang kamu menyesal?" tanya David dengan sebelah alis yang terangkat.
"Tidak. Aku tidak menyesal." Aku menggeleng cepat.
__ADS_1
"Tentu saja! Itu karena kamu telah menemukannya. Pria yang kamu idam-idamkan sejak lama." Bibir tipis David menyindir begitu pedas.
"Aku memang sudah lama menaruh hati untuknya."
David memandang penuh kekecewaan. "Aku baru sadar kalau cinta itu telah hilang sejak kamu menemukan pria itu," timpalnya.
"Ya, dan aku tahu perasaanmu pun telah berubah."
"Berubah bagaimana? Aku tak pernah mengubahnya, Fely," jawabnya.
"Aku tidak bodoh, David! Aku tahu kalau ada wanita lain di hatimu sekarang," sahutku dengan telak, mengingat akan seorang aktris wanita yang sudah lama ia kagumi.
David tidak mengiyakan atau membantahnya. Dia hanya menggeleng lalu berbalik pergi. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan cepat. Melihat punggungnya menjauh pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.
"Ma ...."
Aku tersentak kaget. Suara lirih Rafael membuyarkan lamunanku.
"Ada apa, Nak?" tanyaku sambil memasang senyum di hadapannya.
"Sakit ...," jawab Rafael seraya memegang dadanya, kemudian menoleh ke sekeliling ruangan, "Papa ada di mana, Ma?"
"Rafa yang kuat ya, Nak. Pasti Rafa akan cepat sembuh." Aku menatap sedih putraku lalu menyunggingkan sedikit senyum. "Papa pulang sebentar ke apartemen. Sebentar lagi Papa kembali." Aku berusaha menenangkan, padahal David tidak mengatakan hal itu sebelumnya. Setelah memberikan surat, ia belum juga datang ke rumah sakit.
"Minum, Ma." Rafael menoleh pada sebuah gelas di atas nakas.
Aku mengangguk. Dengan segera membantu anakku untuk sedikit menegakkan tubuh, lalu mengambil gelas berisi air putih untuknya. Rafael meminumnya hingga tandas tak bersisa. Setelahnya, Rafael merebahkan diri dan tertidur kembali.
"Anak pintar," gumamku seraya mengusap pelan tangannya.
Kembali pada surat yang ada di depan mata. Aku segera meraihnya dan memutuskan untuk pergi dari kamar Rafael.
***
Baruna Pov
Pandanganku mengarah pada ponsel yang kupegang. Tak ada pesan atau pun telepon dari Sheryl. Aku tahu pasti, dia pasti masih belum bisa menerima kenyataan ini. Sikapnya menjadi dingin dan tak peduli.
Aku melirik ke bawah sesaat. Beberapa alat menempel pada bagian leher hingga dekat bahu. Meski masih merasakan nyeri pada bagian leher dan sekitarnya, aku menolehkan pandangan ke samping kanan. Ayah tampak sedang tertidur lelap. Kami memang berada dalam satu kamar sejak beliau dipindahkan dari ruang intensif.
Aku mengembuskan napas berat. Mengetik sebuah pesan chat penuh keraguan. Berkali-kali kuketik dan kuhapus seperti orang bodoh.
Bagaimana keadaan Sheryl sekarang?
__ADS_1
Aku hanya bisa membatin tanpa tindakan yang berarti. Aku takut, keadaan ia dan bayi kami akan bertambah parah jika emosinya melonjak naik.
Sesaat kemudian, pintu ruangan terbuka tanpa suara ketukan sebelumnya. Felicia mendadak muncul dan berdiri, terlihat penuh rasa percaya diri. Seraya menyunggingkan senyumnya, ia lalu berjalan mendekat.
"Bagaimana kabarmu, Bar?" tanya Felicia kemudian duduk pada kursi di samping ranjang.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanyaku dingin.
"Mengapa kau masih saja dingin kepadaku? Tentu saja aku datang untuk menjagamu dan Om Anton." Felicia tersenyum lalu mengulurkan tangannya hendak meraih lenganku. Aku segera menepisnya.
"Dengar, ya! Selain Rafael, kita tidak memiliki hubungan apapun!" tegasku.
Felicia menyeringai seraya menoleh ke arah nakas. "Kau belum makan?"
Tanpa menjawab, aku ikut menoleh. Di atas nakas, terdapat sebuah nampan berisi makanan utuh yang tak kusentuh sama sekali.
"Kau tidak boleh seenaknya masuk tanpa izin ke sini. Kau tidak berhak sama sekali. Aku masih bisa menjaga ayahku." Aku bertambah kesal menatapnya.
"Tentu saja berhak! Tante Meri memintaku menjagamu dan Om Anton selama ia pulang ke Jakarta."
"Ck! Bunda ...." Aku menggumam kesal. "Bisa-bisanya memercayakanmu seperti itu."
"Kalau tidak percaya, kau bisa menghubungi ibumu." Felicia menyahut dengan nada sedikit menantang.
Aku mengembuskan napas berat, lalu memalingkan wajah sejenak darinya. "Bagaimana keadaan Rafael?" tanyaku akhirnya. Suka atau tidak suka dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku mulai mengkhawatirkan kesehatannya.
"Rafael masih dalam masa observasi. Keadaannya belum begitu stabil," jelasnya.
"Semoga keadaannya cepat stabil."
"Aku tidak menyangka ternyata kau mencemaskan keadaan anak kandungmu."
"Bagaimanapun dia hanya seorang anak," balasku.
Felicia kembali menarik senyumnya. Pandangannya kemudian mengarah kepada ayah. "Ayahmu ... bagaimana keadaannya?"
Aku ikut mengarahkan pandanganku. Ayah tertidur cukup pulas padahal kami tidak merendahkan nada suara kami di ruangan ini. Dia memang butuh banyak istirahat.
"Ayah sudah cukup stabil," sahutku. Felicia mengangguk pelan. Aku melirik sesuatu yang sejak tadi ia genggam. "Benda apa yang kau genggam sejak tadi?"
"Ini ...." Felicia melirik sesuatu di tangannya. Dia kemudian memberikannya kepadaku.
Aku mengernyit melihatnya. Sebuah amplop berwarna coklat. Segera kubuka amplop itu dan membaca suratnya.
__ADS_1
"David benar-benar menceraikanku, Bar. Kini tak ada lagi tempat untukku dan Rafael berlindung," katanya lirih dengan raut wajah sedih.