Marriage Order

Marriage Order
S3 Pelaku


__ADS_3

Baruna Pov


Suara bisingnya pesawat tak mampu membuatku berpaling dari ucapan Ayah. Dia mengungkit perceraian Felicia dan suaminya. Itu sama sekali bukan urusanku!


Apa maksudnya? Dia tidak bermaksud menyuruhku mendua, 'kan?


Saat semua pertanyaan mampir di otakku tiba-tiba ayah menambahkan ucapannya, "Yah, setidaknya kamu juga harus menyayangi anak itu, Bar. Nanti setelah mereka bercerai, mungkin Rafael akan kehilangan sosok ayahnya. Ayah tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati suami Felicia. Dibohongi bertahan-tahun seperti itu. Dia pasti tidak akan mau mengenal Felicia dan putranya lagi."


Mendengar ucapan Ayah membuatku menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan cepat. Tidak mengerti bagaimana seharusnya aku bersikap. Aku tidak mungkin memberikan kasih sayang yang sama seperti nantinya aku memberikan kasih sayang pada anakku.


Aku mendengus lalu menyunggingkan setengah senyuman terpaksa. "Aku tidak berniat sampai seperti apa yang Ayah katakan. Dia memang anakku, tapi aku tidak mengenalnya. Mustahil aku melakukan apa yang Ayah suruh."


"Pelan-pelan kau juga harus mengatakan kebenarannya kepada Rafael. Ayah tidak ingin anak itu bernasib sama seperti Reynand yang tidak mengenal ayahnya hingga dewasa."


Deg!


Reynand lagi ....


Mataku memejam sejenak mendengar nama itu. Akhir-akhir ini dia membuatku naik darah. Mengapa dia masih saja menyimpan perasaannya untuk istriku? Bahkan melihat Felicia memelukku di taman itu.


Bola mataku hanya memandang Ayah tanpa kata. Tidak berkomentar apapun atas perkataannya. Ayah memang benar, tapi tidak semudah itu melaksanakannya.


***


Reynand Pov


Bunyi dering ponsel itu membuatku hampir terlonjak. Pagi-pagi sekali seolah tidak sabar untuk menyapa. Dengan cepat kuraih benda pipih itu dari atas nakas. Tanpa melihat lagi nama si pemanggil, menjawab dengan tak sabar.


"Halo!"


"Pak! Saya sudah menemukan orang yang mungkin akan menjadi petunjuk pada seseorang yang selalu menaikkan berita mengenai Anda dan Ibu Sheryl di media."


Suara pria. Aku mengenalnya. Sekretaris baruku memang seorang pria. Namanya Julian.


"Siapa dia?"


"Petinggi sebuah perusahaan media. Agar lebih jelas, nanti saya kirimkan semua datanya."


"Ya, Julian. Saya tunggu!"


Panggilan itu pun terputus. Aku mengerling ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Ini hari Minggu yang seharusnya menjadi hari istirahatku yang panjang, tapi Julian baru saja merusaknya.

__ADS_1


Tidak merusak, Rey! Dia baru saja mengabarkan berita bagus.


Sisi hatiku yang lain membantahnya, membela Julian. Aku segera beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi.


Entah sudah berapa lama aku menghabiskan waktu untuk mandi ketika saat keluar pintu, Kayla terlihat duduk di tepi tempat tidur. Air mukanya seperti biasa, tampak riang tersenyum-senyum melihatku yang sedang memakai handuk kimono.


"Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamarku, Kay?" tanyaku begitu ketus kepadanya.


"Mamamu," sahutnya santai. Kedua tangannya menempel ke belakang, menopang tubuhnya pada tempat tidurku.


"Keluar," ucapku dingin.


"Galak sekali," timpalnya merengut, tapi tidak juga beranjak dari tempat tidurku.


"Tidak pantas pagi-pagi sudah berada di sini," sahutku masih ketus kepadanya, lalu berbalik menuju lemari dan mengambil satu setel pakaian kasual.


Kayla hanya tersenyum, tapi sudah bangkit berdiri di samping tempat tidur seolah tidak ada rasa tidak nyaman masuk ke dalam kamar seorang pria.


"Mamamu yang menyuruhku datang, Rey. Dia ingin kau mengajakku jalan-jalan di hari Minggu."


"Tidak minat. Pergi saja dengan Mama."


"Tidak mau. Mamamu bilang kau harus membawaku pergi. Dia bilang mood-mu tidak bagus akhir-akhir ini."


"Aku tidak akan pergi jika kau belum juga setuju!"


Aku mendesah pelan. Wanita di hadapanku benar-benar keras kepala, begitupun dengan Mama. Entah apa yang merasuki pikiran mereka pagi ini.


Kuulurkan kedua tanganku menyentuh pundaknya. Pandanganku mengarah pada tulang selangkanya yang menonjol. Kayla memang cantik dan sedikit menggoda, tapi aku tidak berminat sama sekali. Kami hanya berteman saat ini.


Kuputar tubuhnya membalik dan segera kudorong langkahnya dengan paksa ke arah pintu. "Keluar!" usirku kepadanya.


"Re-Rey, Tu-tunggu ...." katanya bernada tidak setuju dengan tindakanku yang memaksanya keluar kamar.


Entah apa yang terjadi. Baru bener apa langkah, Kayla tiba-tiba limbung seolah akan terjatuh. Aku terkesiap melihatnya. Buru-buru mendekap pinggangnya dari belakang, mencegah ia agar tidak tersungkur ke depan.


Aku merasakan gerakan perutnya yang menarik dan menurunkan napas tidak teratur. Segera, kuurai dekapan itu.


"Maaf, aku tersandung kakiku sendiri," katanya tanpa menoleh. Dia buru-buru pergi dengan langkahnya yang sangat cepat meninggalkanku yang sontak melengos ke sembarang arah.


Ada-ada saja!

__ADS_1


Kling!


Ponselku berbunyi. Aku segera mengambilnya dari atas nakas. Notifikasi pesan dari Julian.


[Felicia Andita Putri. Bos Bintang Berlin Media. Saya juga telah melampirkan semua datanya pada Anda.]


"Felicia?" Keningku berkerut. Tiba-tiba teringat dengan nama seorang wanita yang sempat diungkit oleh Baruna saat di rumah sakit. "Jangan-jangan Felicia yang sama."


Dengan cepat kubuka sebuah file yang dilampirkan oleh Julian. Sebuah foto yang membuatku tercengang. Aku masih bisa mengenalinya. Foto itu memperlihatkan wanita yang sama dengan wanita yang memeluk Baruna.


"Ini gila ...."


Aku mengembuskan napas berat. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Segera kukenakan pakaianku dan sebuah jaket jins kasual sebagai luarannya.


Dengan langkah terburu-buru bergegas turun ke bawah. Melintas ruang tengah dan mendapati Kayla dan Mama yang sedang duduk bersama di atas sofa.


"Rey, mau ke mana?"


Suara Mama membuatku menghentikan langkah dan mematung di depan ruangan itu. Mama bangkit dari duduknya menghampiriku. Dia mengulang pertanyaannya kembali.


"Kamu mau ke mana, Rey?"


"Jalan-jalan," jawabku asal seraya memutar tubuh menghadap Mama. Aku tidak mungkin mengatakan pada Mama kalau aku hendak bertemu dengan Sheryl dan mengatakan kabar yang baru saja kuterima dari Julian.


"Sendiri?" Kening tuanya berkerut.


"Iya," timpalku dengan udara yang berhembus kasar dari kedua lobang hidung.


"Ajak Kayla. Mama menyuruhnya datang untuk menemanimu menghabiskan akhir pekan. Ya 'kan Kay?" Mama menoleh ke belakang dan langsung membuat Kayla bangkit dari duduknya berjalan menghampiri kami.


"Iya, Tante," jawabnya dengan senyuman.


"Nah! Ya, sudah. Sana pergi! Walau tak jadi bertunangan, bukan alasan untuk membuatmu menjauhinya, Rey." Jawaban Mama membuatku sedikit jengkel, tapi aku hanya mengangguk dan tidak dapat berkutik.


Sejurus kemudian, aku dan Kayla berada dalam satu mobil yang sama. Namun aku hanya diam dan tidak mengajaknya berbicara.


"Kita akan pergi ke mana, Rey?" tanya Kayla yang membuatku langsung melirik ke arahnya.


"Ikut saja!"


Dia mengangguk, lalu bertanya, "Mengapa kau berubah pikiran dan hendak pergi berjalan-jalan?"

__ADS_1


"Jangan banyak tanya!" ketusku kepadanya.


"Aku memang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun, aku ingin kau tahu kalau aku akan selalu ada di sampingmu apapun yang terjadi."


__ADS_2