
Pernahkah kalian melakukan sebuah kesalahan di masa lalu yang membuat seseorang merasa tersakiti hingga saat ini?
Aku tidak pernah membayangkan kalau tindakanku di masa lalu akan membuat ia menjadi sosok yang sekarang. Selalu mencari tahu semua hal tentangku di dunia maya bahkan menjadi seorang stalker ku di dunia nyata. Kami akhirnya bertemu di kafe X bertiga bersama Kak Baruna sore itu.
Lelaki itu duduk dengan tenang di kursinya. Sebuah bunga mawar kuning tergeletak di meja kafe begitu saja. Matanya memandang ke arahku dan Kak Baruna. Aku menghampiri lelaki itu. Wajahnya tidak asing tapi aku tidak bisa mengingatnya sampai dia mengenakan kacamatanya di hadapanku, aku baru bisa mengingat tentang dia. Satya Julian Mahardika namanya.
Tujuh tahun yang lalu di sebuah acara perpisahan sekolah menengah atas.
Aku berjalan cepat-cepat bersama dengan teman-temanku menghindari seorang laki-laki remaja yang sedang dalam masa pubertas. Dia sangat terobsesi denganku bahkan di hari terakhir perpisahan sekolah kami. Tubuhnya sangat gendut, pipinya chubby, serta memiliki banyak jerawat di wajahnya. Dia memakai kacamata tebal di wajahnya. Sangat culun tidak bisa terbayangkan. Tingginya yang hanya 10 cm lebih tinggi dariku.
"Sheryl tunggu!!" Laki-laki remaja itu berusaha mengejarku.
Aku menoleh. Melihatnya berlari terengah-engah mengejarku dan teman-temanku yang hanya berjalan cepat lebih dulu.
"Temen-temen berhenti! Kasihan tuh udah ngos-ngosan napasnya. Takutnya nanti dia mati di sini. Malah kita yang tanggung jawab," kataku.
"Gue suka lo Sher. Mau jadi pacar gue gak?" kata Satya masih dengan napasnya yang terengah-engah.
"Hei Sat, udah gue tolak berkali-kali enggak nyerah juga ya lo. Gue kan udah pernah bilang sama lo, jadi teman lo aja gue malu. Apalagi gue pacaran sama lo. Jangan mimpi Satya! Masih punya kaca? Kalau gak punya gue pinjemin, nih!" Aku merogoh isi tasku mengambil sebuah kaca kecil dan memberikan kaca itu kepadanya.
Satya menerima kaca kecil itu, kemudian dia berkaca, melihat wajahnya yang chubby dan berjerawat tidak enak dipandang. Lalu melihatku dengan tatapan memelas.
"Hei Satya kalau mau jadi pacar Sheryl minimal lo oplas dulu deh. Biar muka lo jadi kayak artis Korea. Sedot lemak juga olahraga biar badan lo sixpack kayak artis-artis itu," tambah Tika kawanku saat itu.
"Eh satu lagi ya Sat, punya duit yang banyak. Mana bisa lo diterima di keluarga si Sheryl kalau lo gak punya much money," tambah Wildan ikut-ikutan mengejek.
Satya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan napasnya perlahan menahan amarahnya.
"Jadi kalau gue berubah sesuai apa yang kalian katakan, Sheryl mau Nerima gue jadi teman bahkan jadi pacar?"
"Mungkin?" Tika menolehku.
"Mustahil sih," sahut Wildan.
"Nanti deh gue pikir-pikir dulu. Lagian lo mestinya ngaca di cermin yang gede biar kelihatan seluruh badan," sahutku tertawa sambil mengangkat sebelah alis mataku.
__ADS_1
Satya menunduk malu lalu berkata, "Aku akan selalu ingat dengan penghinaan ini. Suatu saat aku pasti akan jadi seseorang yang kalian katakan terutama padamu Sheryl dan kamu harus meminta maaf padaku."
Wajah Satya yang memelas itu terus terbayang di benakku. Rasa bersalah sebenarnya telah menghantui diriku mengingat aku sering sekali mengintimidasinya. Kudengar dia pindah keluar negeri bersama keluarganya. Tapi rasa bersalah itu tidak berlangsung lama karena aktivitas kuliah yang padat sangat menyibukkan hari-hariku.
Masa Kini
Aku menatap wajah itu lama. Sosok lelaki yang sudah kulupakan lama sekali kini ada di hadapanku dan Kak Baruna. Satya yang sekarang kutemui adalah sosok yang berbeda, berubah seratus delapan puluh derajat berkebalikan dengan yang kukatakan sebelumnya. Dia tersenyum manis walaupun masih dengan kacamatanya itu.
Kak Baruna menoleh ke arahku, berbisik sangat pelan, "siapa orang ini?"
"Aku balas berbisik padanya, "Teman sekolahku dulu."
"Aku tidak ikutan jika ini menyangkut masa lalu di sekolah kalian dulu. Silakan berbicara empat mata. Aku akan menunggu di meja sebelah sana." Kak Baruna menunjuk sebuah meja yang tidak jauh dari mejaku.
Kak Baruna segera beranjak dari kursinya pindah ke meja yang lain. Satya menoleh ke arah Kak Baruna kemudian menatapku.
"Lo enggak berubah ya. Masih cantik seperti dulu pertama kali gue kenal lo. Dia tunangan lo kan?"
"Iya. Terus mau lo apa dengan jadi stalker gue?"
"Iseng aja. Gue mau buktiin kalau semua yang lo minta dari gue sekarang ini udah terwujud. Lihat wajah dan tubuh gue yang udah jadi ideal. Bahkan perusahaan bokap lo, lima puluh persennya sebentar lagi jadi milik gue." Satya menatapku, sorot matanya tajam.
Aku terkejut mendengar alasan dibalik kelakuannya sebagai stalker itu. Aku lalu berkata, "Gue minta maaf untuk kesalahan gue dulu. Gue gak ngerti kenapa gue bisa sejahat itu dulu. Maafin gue Sat."
"Gak seru. Maaf itu udah basi bagi gue sekarang."
"Terus?"
"Satu-satunya yang gue mau sekarang lo tidur sama gue Sher, semalam aja. Kesalahan lo di masa lalu bakal gue lupain selamanya," jawabnya santai.
"Astaga! Laki-laki ini benar-benar sudah gila. Dia jadi laki-laki yang mengerikan," pikirku.
Aku yang mendengar kata-katanya tersentak kaget dan marah sekali. Aku berdiri mengambil minuman yang ada di depanku dan mengguyur kepalanya terang-terangan.
"Dasar berengsek!"
__ADS_1
Raut wajah Satya tidak berubah, masih biasa seperti tidak ada masalah. Aku berbalik arah meninggalkan meja, lalu cepat-cepat berlari ke mobil. Kak Baruna yang melihatku berlari menyusulku.
"Sayang ada apa?" tanya Kak Baruna heran.
"Orang itu ... laki-laki itu ... Berengsek!" Aku mengumpatnya berteriak.
"Tenang, ayo masuk dulu dan ceritakan yang terjadi." Kak Baruna memelukku dan membuka pintu mobil.
Aku masuk ke dalam mobil. Wajahku kubenamkan di atas tas kerjaku. Aku tertunduk lesu.
"Jadi apa yang terjadi tadi?"
Aku terdiam seribu bahasa tidak mengacuhkan kata-kata Kak Baruna. Air mataku tiba-tiba berlinang begitu saja. Kak Baruna yang menyadari hal itu hanya mengelus bahuku lembut.
"Baiklah bila belum siap untuk bicara. Aku akan menunggu ceritamu," tambahnya.
Kak Baruna lalu menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan aku hanya diam masih kaget dengan kata-kata yang kudengar dari mulut Satya, lelaki kurang ajar itu. Kak Baruna juga tampaknya mengerti dan tidak bertanya apa pun padaku.
Setengah jam kemudian kami berdua sampai di rumahku. Mama menyambut kami di ruang tamu. Dia seperti biasanya menunjukkan senyumnya yang hangat.
"Baruna, kebetulan kamu datang. Kita bisa makan malam bareng ya," ujar Mama.
"Maaf Tante hari ini aku cuma bisa anter Sheryl saja. Aku ada janji bertemu dengan rekan bisnisku nanti malam." Kak Baruna menolak.
"Ya sudah tapi besok-besok enggak boleh tolak loh."
"Iya Tante. Aku pamit ya Tante. Salam buat Reza dan Om Agung."
"Iya. Hati-hati di jalan," ucap Mama lalu berlalu meninggalkan kami di ruang tamu.
"Aku pamit pulang ya sayang. Nanti malam aku akan bertemu dengan rekan bisnisku. Jadi kemungkinan akan pulang larut. Kamu tidak perlu menungguku." Kak Baruna memelukku dan mencium keningku seperti biasa, "Jangan terlalu dipikirkan. Aku tahu kamu orang baik dan orang seperti itu hanya salah arah dalam pemikirannya."
"Iya. Kamu hati-hati di jalan sayang," ucapku.
Kak Baruna membelai rambutku lembut. Kemudian melangkah keluar pintu. Aku melangkah menyusulnya dan memeluknya dari belakang. Kak Baruna membalikkan tubuhnya menatapku dalam.
__ADS_1
"Aku takut. Lindungi aku selamanya."
"Iya sayang. Sebentar lagi kita akan selalu bersama."