
Siapa pun tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi dalam waktu beberapa jam ke depan. Entah itu nasib yang baik atau pun nasib yang buruk. Seperti malam ini aku melihat Kak Baruna yang sedang meminta maaf kepada Papa atas kesalahannya menggebrak meja makan di pagi hari.
Aku, Kak Baruna, Papa dan Mama sedang duduk berempat di ruang keluarga rumahku. Wajah kami saling berhadapan. Tiba-tiba Kak Baruna beranjak dari tempat duduknya berlutut di hadapan Papa. Papa yang melihat tindakan Kak Baruna memalingkan wajahnya masih dengan ekspresi wajahnya yang masam.
"Om Agung, aku sangat menyesal atas ketidaksopananku saat di meja makan tadi pagi."
"Kamu tahu kesalahanmu?" Papa menatap tajam mata Kak Baruna.
"Iya Om. Aku menggebrak meja makan tadi pagi. Membuat semua orang kaget dan marah atas tindakan yang tidak dilakukan dengan pikir panjang itu. Aku tidak sengaja Om. Benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Aku sungguh menyesal." Kepala Kak Baruna tertunduk tanda penyesalan.
"Sepertinya hubungan kamu dengan Sheryl harus dipertimbangkan lagi."
Aku dan Kak Baruna terkesiap mendengar kata-kata Papa. Mata kami terbelalak bersamaan seketika ke arah Papa.
Mama menepuk pundak Papa menegur, "Jangan seperti itu dong Pa. Acara pertunangannya kan sudah tinggal Minggu depan."
"Untuk apa mempunyai calon menantu yang tidak bisa menghormati orang tua?" keluh Papa kesal.
"Iya Pa, Mama mengerti tapi kan Baruna sudah meminta maaf. Sudahlah lupakan saja. Maafkan dia ya Pa." Mama membujuk Papa dengan kata-katanya yang lembut.
Kami terdiam dengan cemas menunggu kata-kata Papa selanjutnya karena dia juga hanya terdiam seribu bahasa. Tidak lama setelah itu Papa menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan lalu berkata, "Kalau tidak memandang kamu sebagai anak Anton, Om tidak akan memaafkan kamu. Tolong jangan diulangi lagi ya Nak Bar," ucap Papa.
Aku, Mama, dan Kak Baruna menghela napas lega. Akhirnya Papa bisa memaafkan Kak Baruna meskipun masih dengan wajah yang sedikit masam.
"Terima kasih Om," sahut Kak Baruna seraya tersenyum mencium punggung tangan Papa.
"Terima kasih Papa sudah memaafkan Kak Baruna." Aku ikut berterima kasih mencium tangan Papa.
"Ya sudah Papa mau tidur, ngantuk. Ayo Ma ke kamar." Papa beranjak dari sofa berjalan menuju kamar.
"Sheryl kamu jangan tidur larut malam," ucap Mama berpesan lalu pergi meninggalkan kami.
"Iya Ma. Siap," jawabku tersenyum.
Kak Baruna menoleh ke arahku, dia tersenyum dan cengar-cengir menatapku.
"Kamu kenapa? Cengar-cengir begitu."
"Akhirnya Papamu tidak marah padaku. Huft ...." Kak Baruna meghela napas panjang.
"Iya dan kamu dapat peringatan pertama dari Papa. Kamu harus jaga kepercayaan Papa," sahutku.
"Siap sayangku. Ya sudah aku pulang ya. Besok jam berapa acara reuninya?"
"Jam tujuh malam."
"Kalau gitu besok kita kencan dulu, gimana?"
"Hhmm .... Ke mana?" tanyaku sambil melirik Kak Baruna.
"Ke mana saja yang kamu mau."
"Nonton saja deh, jangan jauh-jauh nanti malah terburu-buru berangkat reuninya."
"Siap tuan Puteri. Ngomong-ngomong Reza ke mana?" Kak Baruna menengok kanan kiri melihat sekeliling karena Kak Reza tidak muncul sejak tadi.
__ADS_1
"Ini malam minggu. Pasti dia sedang bersama Kak Dita," jawabku.
"Ya sudah aku pulang dulu ya. Kamu langsung istirahat," ujar Kak Baruna.
"Aku antar ya."
"Tidak usah sayang. Nanti kita berdua jadi antar-antaran tidak berujung. Aku baru saja antar kamu dan kamu sekarang ingin mengantarku? Ujung-ujungnya kita gak akan pulang ke rumah masing-masing," guraunya sambil tertawa terkekeh.
Aku ikut tertawa mendengar gurauannya itu. Lucu yang dipaksakan. Namanya juga sedang jatuh cinta, kadang otak tidak berjalan semestinya. Kita akan selalu tersenyum dan tertawa sampai menangis tidak karuan. Sisi lain Kak Baruna ini yang mulai kuketahui hari demi hari membuatku lebih mengenalnya. Maka wajar jika ada peribahasa mengatakan tak kenal maka tak sayang.
"Maksudku sampai kamu masuk ke dalam mobil sayang."
"Ayo antar aku kalau begitu," Kak Baruna meraih tanganku menggandeng erat seakan tidak ingin terlepas.
Kami berjalan keluar menuju mobilnya yang sudah menunggu di tengah rintik hujan yang mulai turun malam itu.
"Sudah ya aku pulang."
"Tunggu sayang." Aku menarik tangannya dan sedikit berjinjit mencium keningnya, "Hati-hati ya."
Kak Baruna membelalakkan matanya terkejut lalu tersenyum menyentuh pipiku dan membelainya, "Tindakanmu hari ini selalu mengejutkanku sayang."
"Iya iya aku memang seorang wanita yang selalu mengejutkan. Kamu harus siap melihat kejutan-kejutanku berikutnya," sahutku.
Kaka Baruna hanya mengangguk tersenyum dan berjalan meninggalkanku menuju mobilnya. Aku melambaikan tangan sampai ia menghilang dari pandanganku.
_________________
Pagi hari di hari minggu yang cerah ....
"Sheryl bangun! Sudah jam sembilan sekarang. Perawan kok enggak bisa bangun pagi? Sebentar lagi kamu jadi istri orang. Jangan malu-maluin Mama," serunya di telepon memekakkan telingaku.
"Iya Mama. Ada apa bangunin aku pagi-pagi begini? Ini kan hari libur."
"Kamu lupa sepupumu Nesya menikah hari ini?"
"Nesya Ma?"
"Iya cepat siap-siap."
"Yah Mama kenapa gak bilang dari kemarin?"
"Mama lupa. Lagian kamu sama saudara sendiri lupa juga."
"Ya kan keturunan Mama," sahutku tertawa.
"Ini anak ya sukanya membalikkan kata-kata orang tua." Suara Mama terdengar gemas.
"Aku siap-siap dulu. Kalian pergi duluan saja. Aku menyusul," jawabku.
"Jangan lupa di hotel Delrain ya."
"Siap Mamaku."
Aku menutup telepon lalu menelepon Kak Baruna. Nada sambung terdengar lama sekali sampai akhirnya diangkat olehnya.
__ADS_1
"Ada apa sayang?"
"Kamu sedang apa?"
"Olahraga di rumah. Ada apa?"
"Temani aku datang ke pernikahan sepupuku."
"Sekarang?"
"Iya. Aku juga lupa sebenarnya sampai Mama mengingatkanku barusan."
"Kamu gimana sih? Saudara sendiri lupa kalau sepupunya mau menikah."
"Udah deh kamu jangan kayak Mama. Buruan ya aku tunggu."
"Iya sebentar lagi aku selesai."
"Enggak pakai lama. Cepat ya," sahutku.
"Iya sabar dong sayang."
"Ya sudah aku tunggu."
"Iya."
Satu jam kemudian aku sudah selesai memakai gaun seragam yang sudah disiapkan keluarga Nesya untukku. Gaun itu berwarna biru navy dengan modelnya yang sedikit glamor cantik sangat pas di tubuhku. Teleponku berdering berkali-kali. Tapi aku tidak menghiraukannya dan sibuk berdandan.
Terdengar suara ketukan pintu kamarku. Aku beranjak dari kursi riasku dan membukanya. Kak Baruna berdiri di depan pintu. Aku terkesiap melihatnya sudah sampai dengan penampilan yang necis tiada tandingan dibalik kemeja bercoraknya yang juga berwarna biru navy. Tampan sekali.
"Kamu memintaku buru-buru tapi mengabaikanku dan teleponku begitu saja?" Dia menatapku mengangkat sebelah alisnya.
"Ah ternyata kamu sudah datang. Maaf ya sayang," jawabku terkekeh.
"Sedang apa sih?" tanyanya.
"Dandan sayang. Kamu tahu kan wanita itu mesti dandan kalau pergi. Apalagi ke pesta pernikahan," kataku sambil melangkah kembali duduk di depan meja rias.
Kak Baruna tiba-tiba menarik tanganku sehingga kami berdiri berhadapan dekat sekali. Batang hidung kami bertemu saking dekatnya.
"Bagiku kamu tetap cantik tanpa riasan sayang," bisiknya lembut.
Dia memiringkan kepalanya lalu menautkan bibirnya di bibirku. Kami berciuman begitu mesra. Begitu lama dan lembut membuat tubuhku mengejang panas. Dia mendorong tubuhku sampai terjatuh di atas tempat tidurku.
"Kita bisa telat," ucapku di sela-sela tindakannya itu.
"Aku tidak peduli. Kamu membuatku begitu terpesona dengan penampilanmu."
"Berhenti!"
Aku mendorong tubuhnya menjauhiku. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kesalku. Kami sudah telat dan dia memperlambatku dengan ciumannya itu. Wajah Kak Baruna tampak memerah lalu menarik tubuhnya menjauhiku.
"Bisakah kamu menahannya sayang?"
"Maafkan aku sayang. Aku tunggu lima menit lagi dan kamu harus sudah selesai," sahutnya lalu berbalik arah keluar pintu kamarku. Tampak dari belakang daun telinganya yang memerah. Dia pasti malu sekali.
__ADS_1
"Astaga apa yang barusan hampir kami lakukan?! Berciuman di atas tempat tidur begitu dekat membuatku terasa panas dan lemas. Aku tidak akan membiarkannya masuk ke kamarku lagi. Untung saja akal sehatku masih berjalan tadi."