Marriage Order

Marriage Order
Pencarian (3)


__ADS_3

Pukul satu siang masih di hari yang sama ....


Aku duduk di ruang makan dengan sepiring nasi beserta lauk pauk di hadapanku. Satya duduk di hadapanku memandang wajahku dengan tatapan mengerikan. Tangannya mencoba untuk meraih punggung tanganku yang berada bebas di atas meja. Aku menarik tanganku. Kemarahanku padanya memuncak. Aku benar-benar tidak mau disentuh olehnya sedikit pun.


Dia tersenyum menyeringai menatap dalam ke arahku. Wajahku menekuk masam di hadapannya. Aku masih berharap seseorang bisa menyelamatkanku. Aku sungguh tidak tahan dengan kelakuannya.


"Sheryl, kenapa lo masih menghindar dari gue? Di sini enggak akan ada yang bisa nyelametin diri lo," ucapnya terkekeh.


"Kalau sampai saat itu terjadi, lebih baik lo bunuh gue, Sat! Di banding gue harus tinggal di sini sama orang kayak lo. Gue enggak sudi. Sampai mati gue enggak akan maafin lo."


Satya bangkit dari tempat duduknya, mendekatkan wajahnya tepat di hadapanku, "Hahaha .... Ide yang bagus. Mungkin kalau gue udah bosen lebih baik gue bunuh lo aja ya. Biar mereka yang cari lo ke mana-mana seumur hidup." Satya kembali tertawa. "Sebentar, gue ambil sesuatu dulu." Satya berjalan meninggalkanku menuju dapur yang berada tidak jauh dari ruang makannya.


Aku menatap punggung Satya yang berjalan menjauh dengan amarah yang tidak bisa kubendung lagi. Aku meraih gelas berisi air di hadapanku. Melemparkannya tepat mengenai punggungnya.


Praang!


Gelas yang jatuh ke lantai itu pecah berkeping-keping. Satya berbalik arah, tersenyum dingin menatap wajahku yang pucat pasi ketakutan dengan marah yang bercampur jadi satu. Degup jantung yang begitu cepat memompa darah ke sekujur tubuh membuatku bergeming. Kakiku begitu berat melangkah.


Satya berjalan dengan cepat bagaikan singa yang sedang memburu mangsanya. Dia memegang kedua bahuku, mencengkeramnya. Memutar tubuhku dan mendorongnya masuk ke dalam kamar. Segera, dia mengikat kedua tanganku ke belakang dan mendorong keras tubuhku ke atas tempat tidur. Aku tersungkur lemas dibuatnya.


"Mau melawan lagi, hah?" Satya menatap dalam mataku. Tatapan bengis yang membuatku mulai menangis. Air mata mulai tumpah di hadapannya.


"Tega lo Sat!"


"Lo pikir dengan lo menangis, gue akan simpati sama lo?"


Satya mulai mengikat kedua kakiku. Aku terduduk tidak bisa melawan. Tatapan mata bengis itu membuatku tidak sudi melihat wajahnya.


"Lo bisa lihat kan? Semakin lo memberontak, gue bisa semakin kasar sama lo, Sher!" serunya marah.


Satya mengulurkan jari tangannya mengangkat daguku yang tertunduk.


"Sheryl, gue tergila-gila sama lo. Gue enggak bisa melupakan semua kenangan buruk kita, sayang," lirihnya.

__ADS_1


Satya mendekatkan wajahnya mencium dahi dan kedua belah pipiku. Membelai lembut rambutku yang berantakan. Dia memiringkan wajahnya mendekat, bibirnya mulai mendekat ke arahku.


Aku menelan ludahku, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang kupunya dan berteriak, "Zalim lo, Sat! Berengsek!"


Satya menarik tubuhnya lalu berdiri di hadapanku. Dia tersenyum simpul. Mengeluarkan sebuah sapu tangan dari balik sakunya dan menyempal mulutku dengan benda itu. Aku berteriak histeris tapi hanya suara erangan yang terdengar.


Satya tersenyum senang, tertawa terbahak-bahak melihatku, "Udah gue bilang jangan berontak! Lihat kan hasilnya!"


Tolong aku secepatnya!


Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon dari balik sakunya. Satya buru-buru meraih ponselnya pergi meninggalkanku sendiri di kamar.


Aku terus berteriak walaupun hasilnya sia-sia belaka. Tidak lama kemudian terdengar bunyi barang pecah belah yang hancur dari luar. Begitu ramai membuat gaduh seketika.


Satya kembali masuk ke dalam kamar menguncinya. Aku mendengar suara seorang laki-laki memanggil namaku.


"Sher! Sheryl!"


Sekuat tenaga aku mengerang agar dia mendengarku. Satya yang melihatku seperti itu langsung bertindak mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik saku celananya.


Terdengar suara gedoran pintu kamar dari luar yang berusaha untuk mendobrak pintu. Satya terlihat panik. Dia melangkah ke arahku dan menjambak rambutku dengan kasar. Aku mengerang menahan rasa sakit yang ditimbulkannya. Air mata membasahi kedua sudut mataku kembali.


Brak!


Pintu kamar yang tadinya terkunci berhasil terbuka. Aku melirik dua orang laki-laki yang datang menolongku, Pak Reynand dan satu orang lainnya yang tidak kukenal.


Pak Reynand, dia datang menolongku.


"Jangan mendekat! Selangkah lo mendekat, nyawa Sheryl melayang!" Seru Satya.


Satya menodongkan pisaunya ke arah leherku. Pak Reynand menarik napasnya dalam-dalam berusaha menenangkan diri sesaat. Tidak ingin mengambil resiko. Satya lalu melepas ikatan kakiku. Membiarkan aku berdiri di sampingnya. Dia melingkarkan lengannya di leherku sambil mengancam Pak Reynand dan temannya akan mencekikku sewaktu-waktu. Dia membalik pisaunya, menodongkannya ke arah mereka.


Tanpa aba-aba, Pak Reynand menepis arahan arahan pisau kecil yang diarahkan padanya. Dia lalu melayangkan kepalan tangannya ke arah wajah Satya. Dengan telak, tinjunya itu bersarang di dagunya. Disergap mendadak, membuat Satya tidak mampu menghindar. Kepalan tangan yang menarik rambutku sontak dilepaskannya. Pisau kecil itu pun terlempar entah di mana. Satya terpental ke dinding, terduduk lemas menyandar pada dinding.

__ADS_1


Pukulan yang diantarkan di wajah Satya sangatlah kuat. Belum sempat dia memulihkan konsentrasi, Pak Reynand kembali menyerang dengan menendang dadanya.


"Nu, bawa Sheryl keluar!" perintah Pak Reynand kepada temannya.


"Oke, Rey." Pria itu meraih sempalan mulutku dan membuka ikatan kedua tanganku.


"Pak Rey, Hati-hati," ucapku diikuti anggukannya.


Bersama laki-laki yang dipanggilnya dengan sebutan "Nu" itu, aku berjalan keluar ruangan. Pergi dari situasi perkelahian. Entah apa yang terjadi selanjutnya aku tidak tahu.


Suasana ruang tamu rumah itu kacau balau. Tiga orang penjaga berbadan kekar tergeletak tidak berdaya bersamaan dengan pecahan-pecahan pajangan berbahan dasar keramik di sekitarnya.


"Tunggu, bagaimana dengan Pak Reynand?" tanyaku.


"Kamu tunggu di sini sebentar. Aku akan membantunya."


Aku memandang ke lantai, ketiga orang itu bisa saja bangun sewaktu-waktu. Aku bergidik ngeri.


"Tidak, jangan tinggalkan aku." Aku menarik lengannya.


"Oke aku di sini saja."


Selang beberapa lama kemudian, Pak Reynand keluar dari ruangan dengan wajah sedikit babak belur. Dia berjalan cepat menghampiri kami.


"Satya, bagaimana dia?" tanyaku.


"Dia pingsan dan sudah saya ikat di bangku."


"Maafkan saya yang sudah merepotkan Bapak," ujarku pelan.


Tiba-tiba Pak Reynand merengkuh tubuhku masuk ke dalam pelukan dadanya yang bidang itu. Begitu erat dan hangat membuatku meleleh dan menitikkan air mataku kembali. Aku masih sangat takut dan trauma atas kejadian yang menimpaku.


"Jangan membuat saya lebih khawatir dari ini. Kamu harus berjanji," bisiknya lembut.

__ADS_1


Hei ... ada apa dengannya?


Aku terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Dekapannya begitu lama membuatku tidak sadar sampai tiba-tiba Kak Baruna dan keluargaku tiba di depan pintu melihat kami bertiga. Melihat kami dengan tatapan mata terkejut.


__ADS_2