Marriage Order

Marriage Order
S2 Lamunan dan Kenyataan


__ADS_3

Baruna PoV


Pukul 14.00


Aku sedang duduk di sofa ruang tengah membaca berita hari ini di media online. Berita tentang Sheryl dan Reynand masih ada. Bahkan berita terbaru mereka. Wawancara Reynand dengan salah satu wartawan. Dia mengatakan akan menikah secepatnya dengan Sheryl. Sesaat jantungku terasa ingin berhenti. Tidak sanggup melihat mereka bersama.


Kling!


Tiba-tiba sebuah pesan aplikasi masuk ke ponselku. Pesan dari "Sayangku" yang belum sempat kuganti namanya sejak memutuskan untuk berpisah kemarin.


"Aku merindukanmu, Sayang."


Pesan itu hanya kubaca, walau sesaat merasa sangat senang dan ingin membalas. Niat itu segera kutepis. Dia milik Reynand sekarang, bukan milikku. Aku yang sudah melepas dia. Tidak ingin terbelenggu dengan segala hal yang sudah dia sembunyikan. Perasaanku sebenarnya masih sama seperti awal mencintai wanita itu. Tidak ada yang berubah.


"Bar, jangan melamun terus," tegur Bunda tiba-tiba.


Aku menoleh ke samping kiriku. Dia sudah duduk memandangku sambil bertopang dagu. Tarikan napas dalam seperti biasa menghiasi keresahan hati yang ingin segera melupakannya, tapi belum bisa.


"Aku tidak melamun," elakku.


"Jangan mengelak. Bahkan jika udara memiliki mata, mereka yang paling tahu apa yang kamu rasakan," sahut Bunda.


"Hanya terbawa suasana."


"Apa perlu Bunda menghubungi Sheryl agar kalian saling berbicara dari hati ke hati? Tidak ada emosi dan pikiran negatif."


"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Semua baik-baik saja. Rumah ini sepi dan membuatku banyak melamun. Apa aku bekerja saja, ya?"


"Nanti saja. Jangan terlalu banyak beraktivitas. Sabar, ya," sahut Bunda. Dia memegang bahuku, "Jadi kapan kita pergi ke luar negeri?"


"Sekitar dua minggu lagi lah, Bun. Aku 'kan masih terapi di sini. Nanti ketemu dokter Mario dulu untuk konsul."


"Ya sudah. Oh ya, kalau bisa temanmu si Nayara itu, undang ke rumah, ya. Bunda ingin bertemu." Bunda bangkit berdiri.


"Iya, nanti kuberi tahu dia," sahutku.


Bunda lalu berjalan keluar dari ruang tengah. Aku menarik dan membuang napas berkali-kali. Ingin segera membebaskan hati yang sesak oleh rasa kecewa dan kehilangan.

__ADS_1


Pikiranku melayang mengingat saat terakhir kami bertemu semalam. Saat-saat terberat dalam hidupku. Mencintai dalam diam dan sempat memiliki hatinya, hingga akhirnya melepaskannya.


Aku keluar dari ruang kerja ayah, berpapasan dengan Bi Rindang di lorong dan menyapaku.


"Mas Bar, tadi Bibi lihat Mbak Sheryl kelihatan seperti orang linglung. Kasihan! Masa mau ke toilet saja salah arah. Ya sudah Bibi antar saja dia ke toilet."


Aku mengangkat sebelah alisku. Mendengarkan setiap kalimat yang diucapkannya.


"Oh ...," timpalku.


"Oh saja, Mas? Jangan putus, Mas! Bibi yang paling tahu, bagaimana Mas mencintainya sejak dulu. Kalian itu sudah cocok sekali. Sebaiknya dibicarakan lagi baik-baik kalau ada hal yang tidak sepaham," jelas Bi Rindang panjang lebar.


"Lihat nanti, Bi. Bibi juga sering bicara padaku kalau jodoh tidak akan ke mana, 'kan?" sahutku.


Bi Rindang mengangguk. Aku berbelok ke arah kiri menuju toilet, berniat menyusulnya. Mencoba berhadapan dengannya kembali. Apakah aku akan sekuat tadi saat memutuskannya lewat telepon?


Deg-deg-deg!


Menunggu sambil mendengarkan detak jantung yang bergemuruh sesak. Suara tangisnya terdengar samar-samar, tapi dia berusaha menyembunyikannya dengan menekan flush toilet berkali-kali.


Pintu itu terbuka. Kepalanya menunduk. Kemudian mendongak melihatku. Aku menatapnya dingin. Ingin berpura-pura kuat di hadapan wanitaku itu.


Air mataku hampir menetes saat itu. Segera mendongak, tidak ingin dia menyadari kesedihan yang terpancar dari wajahku. Aku pun tidak membalas pelukan hangat itu.


Sebuah ide tiba-tiba saja muncul. Aku ingin dia mengingatku sebagai laki-laki yang egois dan hanya memikirkan tentang harta benda yang pernah kuberikan setelah hubungan kami berakhir. Berharap semoga dia cepat melupakanku dan tidak larut terlalu lama dalam kesedihan.


"Aku hanya ingin meminta kartuku kembali. Aku rasa kartu itu sudah tidak layak berada di dompetmu, karena kamu bukan calon istriku lagi," bisikku datar.


Dia sontak melepas pelukannya. Menatapku dengan air muka kebingungan. Mungkin, dia bingung melihatku sebagai Baruna yang hanya memikirkan sebuah alat pembayaran yang diberikannya daripada hubungan kami sendiri.


"Aku tidak membawa dompet hari ini. Besok akan kukembalikan," sahutnya.


Aku tidak membalas kata-katanya lagi. Segera membalik badan hendak melangkah pergi. Tiba-tiba saja dia berlutut memegang sebelah lututku dan menangis meraung-raung sambil meminta maaf.


"Jangan tinggalkan aku! Aku mohon! Maafkan aku, Sayang!"


Pedih hati ini saat mendengarnya mengatakan hal itu. Namun, keputusanku sudah bulat. Aku sudah lelah berada di situasi seperti ini. Situasi yang terus berulang. Selama ada Reynand, pasti akan selalu seperti ini. Hubungan kami pasti tidak akan berhasil.

__ADS_1


"Sheryl, lepaskan lututku! Kamu tidak perlu seperti ini jika kamu mencintaiku. Cukup ikhlaskan aku dan biarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri, tapi bukan denganmu lagi. Kamu lebih pantas bersama Reynand yang mungkin lebih mencintaimu daripada aku. Menikmati setiap cintanya dan memadu kasih dengannya. Satu yang harus kamu ketahui, aku tidak akan pernah menyesal mengenalmu, walaupun hatiku harus sakit seperti ini!"


Akhirnya aku juga menyakitinya dengan kata-kata yang cukup menohok. Biarlah Reynand yang menyembuhkan luka hatinya dan waktu yang akan menyembuhkan luka hatiku.


Tidak lama kemudian, dia melepaskan kakiku dan membiarkanku pergi meninggalkannya.


Sebuah dering panggilan masuk ke dalam ponsel tiba-tiba saja menyentakku hingga lamunanku buyar seketika. Aku segera meraih benda canggih itu. Nama Nayara terpampang di sana.


"Halo, Bar."


"Halo, Nay. Ada apa?"


"Hmm .... Aku hanya memastikan. Apa kamu benar-benar ingin pergi ke Malaysia untuk mengontrol kondisi kesehatanmu?" tanyanya.


"Inginnya sih. Kenapa?"


"Tidak. Aku sudah mengatakannya pada Pamanku di sana. Nanti aku akan menemanimu kalau kamu benar-benar serius," jawab Nayara.


"Hmm ... nanti aku kabari lagi. By the way, Apa kamu ada waktu hari ini? Ibuku ingin bertemu denganmu."


"Tante Meri? Wah sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Tapi, maaf, Bar. Aku sedang seminar dan pelatihan di luar kota. Mungkin tiga hari lagi baru bisa pulang. Nanti akan kukabari jika bisa berkunjung ke rumahmu."


"Kamu masih ingat rumahku?"


"Ya, tentu saja. Belum pernah pindah, 'kan?"


"Belum, sih. Ya sudah nanti kabari aku saja."


"Siap."


Aku mengakhiri panggilan. Menaruh ponselku di atas meja. Menghidupkan televisi dan mulai menonton acara-acara yang membosankan untuk membunuh waktu yang berjalan setiap harinya.


Sebuah pesan datang kembali dari "Tunanganku", membuatku sontak melirik ke layar smartphone.


"Maaf, aku lupa kalau hubungan kita telah berakhir, Kak. Lupakan saja pesanku tadi. Biar aku sendiri yang sesak merindukanmu. Ini memang sebuah hukuman untukku."


Aku menarik napas dalam-dalam membaca pesan itu dan membuangnya perlahan. Pesan dari Sheryl.

__ADS_1


Dia mengapa berkata seperti ini? Aku pun merasakan hal yang sama dengan yang dia rasakan. Kami ternyata sama-sama menderita.


__ADS_2