
Sheryl Pov
"Hati-hati. Awas kepalanya!" kataku memperingatkan Baruna saat ia hendak mendudukkan Rafael di mobil. Namun tampaknya aku tak perlu begitu khawatir kepala bocah kecil itu mengenai bagian atas ambang pintu. Baruna begitu luwes mendudukkan putranya di samping kursi kemudi.
Baruna berbalik, berdiri di hadapanku dan Reynand. "Terima kasih ya, Sher. Kau sudah bersedia meluangkan waktumu hari ini untuk Rafa. Aku juga lumayan bersenang-senang hari ini."
"Ya, Mas. Aku pun merasakan hal yang sama. Aku justru sangat berterima kasih atas apa yang kamu lakukan tadi di depan Papa. Berkatmu, Papa berubah pikiran dan merestui kami." Aku menoleh ke arah Reynand yang sontak menyunggingkan segaris senyum tipis pada wajahnya.
"Ya, Bar. Gue sebenarnya gak tahu lagi harus bagaimana. Terlepas dari kesalahan gue dan Sheryl di masa lalu, gue yakin Om Agung gak akan pernah memberi restunya kalau masih menyimpan amarah sama lo dan Ayah."
"Udahlah, Rey. Udah sepantasnya, 'kan? Yang terpenting, hubungan kalian udah mendapatkan jalannya. Tinggal nyokap lo aja yang harus lo yakinin.l secepatnya." Baruna menepuk-nepuk pundak Reynand.
"Ya. Itu pasti. Gue dan Sheryl masih berjuang, Bar," balas Reynand.
"Jaga Sheryl, Rey. Gue udah dua kali melihat dia nangis di depan gue karena nyokap lo."
Reynand sontak menoleh ke arahku. Matanya menatap cemas. Genggaman tangannya terasa makin mengerat seolah mengatakan kalau ia akan selalu berusaha melindungiku.
"Gak usah lo bilang begitu, gue pasti akan melakukan yang terbaik untuk membuat Sheryl bahagia."
Tak ada jawaban dari mulut Baruna. Ia hanya menganggukkan kepalanya lalu berpamitan. Pria itu beranjak masuk ke dalam pintu kemudi dan melajukan mobilnya keluar halaman dengan cepat menyusul sang ayah yang sudah pulang lebih dulu.
"Sher, aku jadi merasa sangat bersalah. Aku tidak tahu harus berapa kali meminta maaf atas nama Mama agar kau mau memaafkan ia atas perkataannya yang menyakitkan."
"Tidak usah, Rey. Meski aku merasa sakit hati, aku tak ingin kau yang bertanggung jawab atas hal itu. Aku hanya perlu membuat hatiku lebih kebal." Aku menepuk-nepuk dadaku mengisyaratkan kalau aku baik-baik saja.
"Tapi kau malah memperlihatkan kesedihan itu di depan pria lain. Aku jadi merasa tak berguna, Sher."
Jika kau tak berguna, bagaimana denganku yang sempat tak ingat kapan ulang tahunmu, Rey?
"Itu hanya kebetulan. Tak ada yang tahu tiba-tiba saja aku bertemu dengannya di restoran fastfood."
"Ponselmu tak bisa dihubungi. Aku sangat cemas."
"Ponselku mati. Aku lupa mengisi baterainya sampai penuh sejak pagi," jawabku lalu teringat satu hal yang membuatku tak habis pikir terhadap apa yang Reynand lakukan tadi, "aku tak menyangka kau melamarku di hadapan semuanya di situasi seperti tadi. Itu sangat mengejutkan."
__ADS_1
"Kau tahu, aku sangat cemburu saat melihat kau datang bersama Baruna dan Rafael. Aku takut kau berbaikan dengannya dan akan kembali kepadanya. Jadi, aku tak ingin berpikir panjang lagi untuk melamarmu di hadapan banyak orang."
"Hasih! Kau ini ...." Wajahku menghangat. Dalam sekejap aku membuang wajah. Tiba-tiba saja menjadi salah tingkah mendengar penuturan Reynand. Lalu tanpa menatap, menyahut perkataannya, "Aku rasa, aku akan jadi sama gilanya seperti Felicia jika melakukan hal seperti itu. Aku bersumpah tak akan menjadi seperti Felicia yang berani merebut suami orang saat istrinya sedang hamil."
Reynand menarik daguku. Kami saling menatap. Aku melihat keningnya mengerut dengan air mukanya yang tampak menyelidik, "Jadi dengan kata lain, kalau tak hamil, kau bisa saja merebut pria itu dari istrinya?"
"Bagaimana, ya... mungkin–" Aku mengekeh meledek Reynand.
"Stop! Kau ingin aku menggantung diriku di pohon stroberi?" Reynand membalasku, tapi aku malah tambah mengekeh mendengarnya.
"Stroberi? Kau pikir bunuh diri itu imut? Pohonnya saja tidak setinggi dan sekokoh pohon apel atau jeruk. Bercanda saja kau, Rey!"
Reynand tiba-tiba menunjukkan lengkung senyumnya. "Aku senang melihatmu tertawa. Semua masalah seolah menguap, hilang terbawa angin," ucap Reynand tiba-tiba yang seketika membuatku mematung dan jadi salah tingkah di depannya.
Reynand menarikku lebih dekat, lalu dan selalu tanpa ragu melummat bibirku begitu bersemangat. Aku menyambutnya dengan suka cita. Meyakini mimpi kami yang sebentar lagi akan tercapai. Aku dan Reynand, kami bercumbu di tengah halaman, ditemani embusan angin malam yang lembut menyapa.
***
Baruna Pov
Aku merebahkan Rafael dengan hati-hati di atas kasurnya. Rafael hanya menggeliat sedikit. Ia terlihat sangat lelap berada dalam mimpi indahnya. Bahkan saat di teras rumah Sheryl, Rafael tak sekalipun terbangun padahal suasana tadi sangatlah tak kondusif sama sekali.
"Ada apa, Fel?"
"Kau pulang begitu larut. Ponselmu pun tak bisa kuhubungi. Sebenarnya, kalian pergi ke mana?"
Aku berjalan ke arahnya. Felicia yang tampak gemuk karena perutnya yang membuncit bergeming. Namun kedua tangannya berkacak pinggang mengisyaratkan kalau dirinya sedang dalam mood yang buruk. Ia lagi-lagi menginterogasiku.
"Hari ini aku sangat lelah. Bisakah kita membicarakannya nanti?" jawabku menghindar dari pertanyaannya. Ia pasti akan sangat marah jika tahu aku menginjakkan kakiku lagi di rumah Sheryl.
"Tidak. Kau harus menjawab pertanyaanku! Aku bukannya tidak mau ikut denganmu dan Rafa hari ini. Kau tahu sendiri bagaimana lelahnya menjadi ibu hamil."
"Ya, aku tahu. Bahkan aku tahu sejak Sheryl mengandung. Karena kebodohanku, aku membuatnya keguguran. Jadi kau tenang saja, aku tak akan menyalahkanmu jika tak pernah mau ikut pergi denganku ataupun dengan Rafael."
Aku menyahut perkataan Felicia dengan begitu arogan. Setiap melihatnya, aku selalu merasa kesal. Dia tak pernah membuat tenang. Pembawaannya pun selalu emosi. Entah apa yang ia pikirkan. Padahal tekanan darahnya selalu tinggi saat kontrol ke dokter. Namun ia tak pernah menghiraukannya dan terus emosional.
__ADS_1
Aku menerobosnya berjalan keluar dari kamar Rafael. Dan baru sekitar dua langkah menjauh darinya, Felicia berhasil menghentikanku.
"Kau dan Rafael pergi dengan wanita itu, 'kan?"
Aku membelalak terkejut mendengar pertanyaan itu.
Wanita itu? Dia tahu aku dan Rafael pergi bersama Sheryl? Bagaimana bisa ia tahu?
Segera, aku berbalik menghampiri Felicia. Wanita itu memandang cemas. Kedua bola matanya bergetar disertai oleh raut amarah yang ikut menyeruak keluar dari dirinya.
"Wanita mana yang kau maksud, hah?" Aku menatap sinis Felicia. Wanita itu makin memperlihatkan bola matanya yang hampir keluar.
"Kau tidak usah berpura-pura. Wanita itu adalah Sheryl! Kau dan Ayah, kalian berdua datang ke kediamannya. Untuk apa kalian datang ke kediamannya?"
"Kau membuntuti kami?" Aku menyahut lugas.
"Tidak. Ah! Maksudku, aku tak membuntuti Ayah." Felicia menggeleng kuat-kuat.
"Jika tidak membuntuti Ayah, jadi kau membuntutiku?"
Felicia tidak menjawab. Namun aku dapat melihat kebenaran itu dari matanya. Teringat bagaimana ia tiba-tiba datang ke kehidupanku yang bahagia saat masih menikah dengan Sheryl lalu mengaku memiliki anak dariku. Tidak! Itu sama sekali bukanlah sebuah kebetulan. Felicia benar-benar membuatku muak.
"Sejak kapan kau melakukannya terhadapku? Kemarin? Satu minggu? Satu bulan? Atau bahkan satu tahun yang lalu?"
Aku menyudutkan ia dengan pertanyaan yang langsung membuat ia menarik diri selangkah ke belakang. Felicia tampak gugup. Ia menarik napas dan membuangnya tak teratur. Namun hanya beberapa saat saja, ia kemudian bernapas dengan teratur.
"Aku sangat menyukai dirimu, Bar. Menurutmu, berapa lama aku melakukannya?" Felicia menyunggingkan segaris senyuman.
"Astaga! Kau benar-benar ...." Aku menggeleng. Tak kusangka, ia lebih-lebih dari seorang penguntit.
"Aku tak akan membiarkan satu orang pun menghancurkan hidupku yang sempurna bersamamu dan anak kita!" Felicia seketika menoleh ke arah tempat tidur lalu menunduk sambil mengusap-usap perutnya, "mereka buah cinta kita, Bar. Sebentar lagi, adik Rafael akan lahir. Kau seharusnya lebih memperhatikan kami dan bukan malah membuang-buang waktumu bersama mantan istrimu itu."
"Fely, seperti yang kau tahu. Aku sudah bercerai dengan Sheryl. Kau pun sudah kunikahi. Dia tak mungkin kembali kepadaku karena kini sudah ada pria lain di sisinya."
"Tapi kau masih mencintainya. Sejak dulu sampai sekarang kau tidak bisa berbohong. Kau masih memiliki perasaan itu untuknya. Itu menyakitiku, Bar."
__ADS_1
Jantungku berdetak sangat kencang seperti seseorang yang kedapatan melakukan hal yang salah. Ya, aku tahu itu salah karena mencintai seseorang yang bukan milikku lagi. Namun, aku sungguh tak memiliki kemampuan tak bisa mencegahnya.
"Ya, aku masih mencintainya. Aku tak pernah melupakannya meski ia sudah memilih masa depannya sendiri."