Marriage Order

Marriage Order
Pencarian (2)


__ADS_3

Reynand PoV


Masih di hari yang sama dengan episode kemarin ....


Aku masuk ke dalam ruang kerja Wisnu. Tercengang melihat ruangan yang lebih mirip dikatakan sebagai laboratorium teknologi. Berbagai alat canggih sudah berada di sana, bahkan beberapa belum launching di pasaran. Tapi Wisnu sudah memakainya.


Wisnu melangkah mendudukkan tubuhnya di atas kursi menghadap sebuah laptop di atas meja. Dia lalu menghidupkan benda tersebut.


"Jadi bagaimana kita bisa menemukan Sheryl?" tanyaku saat melihat Wisnu yang sedang fokus pada layar laptopnya.


"Gue pakai satelit, Rey. Gue cuma minta data pribadi dia sama foto. Ada gak?"


"Data pribadi? Hmm ...."


Hampir lima menit aku tidak menjawab dan hanya berpikir. Selama ini aku tidak punya data tentangnya kecuali data dari bagian kepegawaian.


"Ulang tahunnya baru hari minggu kemarin. Nama panjangnya ...." Aku tidak meneruskan perkataanku karena Wisnu keburu memotongnya.


"Ah kelamaan lo. Nih lihat ada tiga orang nama Sheryl di kota ini. Lo lihat profilnya, yang mana dia?" Wisnu menunjukkan tiga buah foto beserta data pribadi di laptopnya.


"Ah yang itu, Nu," jawabku


Wisnu mengalihkan pandangannya langsung di depan layar. Melihat seorang wanita cantik memakai kaus polos putih pendek berambut panjang.


"Pantes dibela-belain .... Ceweknya cantik begini," selorohnya tertawa.


Wajahku langsung berubah merona merah dan menenggak habis segelas air putih di atas mejanya, padahal aku tidak haus sama sekali. Aku mati kutu di hadapannya.


"Lo kenapa, Rey? Ya ampun minuman gue dihabisin. Anzeer .... Baru ini gue lihat lo salah tingkah gitu." Wisnu menertawaiku.


"Udah gak usah banyak ngomong deh. Cepet cari dia." Aku menunjuk sebuah gambar di layar.


"Oke sabar, Bro." Wisnu segera mulai mencari informasi keberadaan Sheryl dengan teknologi radar satelit yang dimilikinya.


"Kalau menurut data yang ada nih Rey, terakhir terlihat di kota ini kemarin sore jam limaan di halte deket kantornya. Terus dia masuk ke mobil. Mobilnya melaju ke arah daerah pegunungan."


"Di mana itu?" tanyaku semangat.


"Kira-kira dua jam dari sini."


Aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul satu siang. Aku segera menarik lengan Wisnu mengajaknya ikut denganku.


"Lo mau bawa gue ke mana, Rey?" Wisnu tersentak kaget.


"Ikut gue. Gue bisa pangkas satu jam untuk sampai sana." Aku menarik paksa lengan Wisnu yang terpaksa berjalan mengikutiku dengan wajah bingung.


"Ampun Rey, gue belum mau mati," sahut Wisnu ketakutan.


Aku tersenyum menyeringai melihatnya yang ketakutan sembari berjalan keluar ruang kerjanya. Ahli IT itu hanya pasrah melihat tingkahku. Dia tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Aku sudah tahu kamu di mana, Sher.


Baruna PoV


Aku termenung di dalam mobil yang dikendarai Reza. Duduk di samping kemudi. Pandangan mataku beralih ke arah sebelah kiri. Tampak orang-orang yang berlalu lalang berjalan menyusuri trotoar yang ramai.


Pikiranku melayang membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Sepertinya semua yang kukhawatirkan mengenai perasaan Reynand terhadap Sheryl memang benar adanya. Dia memang menyukainya.


Aku menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan berusaha untuk tenang dan tidak memikirkan hal tersebut.


"Bar! Lo jangan bengong. Kesambet baru tahu rasa." Reza mengagetkanku. Semua lamunan buyar seketika.


"Sorry, Za. Gue lagi mikirin sesuatu."


"Apa?"


Aku lalu menengok sejenak ke arah jok belakang mobil melihat Om Agung yang tertidur kelelahan. Aku tidak ingin pembicaraan ini didengar olehnya. Setelah memastikan ia benar-benar tertidur, aku meneruskan pembicaraanku.


"Menurut lo Reynand aneh gak sih? Dibela-belain datang ke kantor polisi ikut kita melapor Sheryl yang menghilang?"


"Aneh juga sih. Bukannya hubungan mereka gak bagus, Bar?"


"Nah itu dia, Za. Waktu acara pertunangan juga dia titip hadiah buat Sheryl ke gue."


Reza sontak menoleh ke arahku. Begitu kagetnya dia mengetahui kabar itu.


"Iya gue marah. Gue sempat bertengkar sama Sheryl."


"Gue yakin sih Bar, pasti dia punya rasa sama Sheryl."


Aku terdiam tidak menjawab perkataan Reza. Pikiranku makin rumit memikirkan mereka dan masalah perjanjian itu. Benar yang pernah Sheryl katakan padaku dulu, bahwa kami hanyalah pion catur dari kedua orang tua kami. Korban keegoisan mereka.


Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Berusaha menghilangkan pikiran negatifku. Hari ini aku harus fokus mencarinya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya jika tunanganku itu menjadi korban Satya. Aku sungguh tidak rela.


"Kita mau ke mana, Za?" tanyaku.


"Ke tempat Nesya, sepupu gue."


"Yang kemarin nikah itu?"


"Iya, dia kakak ipar Satya. Kita bisa mendapat informasi darinya."


"Oke gue ikut."


Kami tiba di rumah Nesya saat sinar matahari tertutup oleh awan gelap. Aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Nesya membukakan pintu. Wajahnya terlihat terkejut melihat kami yang datang berbarengan. Kemudian mempersilakan kami masuk ke dalam. Aditya suaminya ikut duduk bersama kami.


"Nes, Kakak butuh bantuan kamu," ujar Reza.


"Bantu apa, Kak? Kalau aku bisa, aku pasti bantu," sahut Nesya.

__ADS_1


"Bagaimana memulainya ya?" Reza mengalihkan pandangannya ke arah Om Agung.


Om Agung kemudian mengambil alih pembicaraan dan menjelaskan tujuan kami semua datang bertamu. Nesya dan Aditya mendengarkan cerita Om Agung dengan serius.


"Om yakin kalau Satya yang melakukan hal itu?" tanya Nesya terkejut saat Om Agung selesai bercerita.


"Saya tahu adik kami sudah kurang ajar terhadap Sheryl dan keluarga. Tapi sepertinya untuk hal ini kami benar-benar tidak habis pikir mengapa kalian menuduh adik kami sampai seperti itu?"


"Hmm ... kami bukannya menuduh, tapi bisakah Nak Adit menghubunginya dan menanyakan keberadaannya sekarang?" pinta Om Agung.


Adit memandang wajah istrinya lalu dibalas dengan anggukan Nesya yang membuatnya menghela napas panjang.


"Baiklah jika kalian memang memaksa. Tapi jika adik saya tidak terlibat apa-apa, saya dan keluarga akan menuntut kalian semua atas tuduhan yang tidak berdasar ini," tegasnya yang akhirnya menyetujui permintaan Om Agung.


Kami semua mengangguk setuju. Aditya mulai menelepon Satya. Dia menekan tombol loudspeaker agar kami semua bisa mendengar suara Satya bersama. Suara nada sambung terdengar cukup lama hingga akhirnya diangkat oleh empunya.


"Halo, Kak."


"Di mana kamu sekarang?"


"Aku sedang bersama temanku di vila."


"Vila mana?"


"Punya Ayah, Kak. Ada apa Kakak meneleponku? Aku sedang sibuk."


"Katakan apa kamu bersama Sheryl?"


"Aku belum bertemu dengannya sejak kemarin. Mengapa menanyakan hal itu padaku?"


"Jangan bohong lagi, Sat!"


"Uh .... Kakakku, mengapa jadi membela orang lain, huh? Kakak tidak percaya adik sendiri?"


"Hei katakan sejujurnya!"


Suara Satya tidak terdengar lagi, tergantikan oleh suara benda pecah belah yang hancur, sangat ricuh dan ramai. Satya mematikan ponselnya.


Dia benar-benar mencurigakan. Aku harus pergi ke tempat itu.


"Nesya, boleh kami tahu letak vila itu?" tanyaku.


"Iya. Letaknya di daerah pegunungan. Di pinggir kota. Kalian mungkin akan tiba di sana sekitar dua jam. Aku akan kirim alamatnya," jawab Nesya sambil mengetik sesuatu di ponselnya, lalu berkata, "Kak Reza, sudah aku kirim ya."


"Terima kasih," jawab Reza.


Kami segera pamit dan pergi menuju tempat yang diinformasikan Nesya. Hatiku masih sedikit ragu mengetahui hal ini.


Apa benar Sheryl di sana? Apa dia baik-baik saja**?

__ADS_1


__ADS_2