
Sheryl Pov
Mataku membeliak membaca pesan chat itu. Pesan chat yang membuatku seketika cemas lebih dari biasanya. Ketakutanku akan rasa kehilangan kembali menghantui saat itu juga.
Livia Joana? Siapa dia? Apa Rey mengenalnya?
Reynand meraih ponselnya. Mengembuskan napas berat membaca pesan chat itu. Namun aku tak melihat ia mengetikkan balasan apapun untuk ibu kandungnya. Dalam waktu sepersekian detik ia meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja.
"Siapa Livia Joana?" Aku bertanya dengan dahi mengerut.
"Biasalah...." Reynand menyahut singkat.
"Biasa apa?" Aku makin bertanya-tanya. Jawaban Reynand membuatku tak puas.
"Kau seperti tak mengenal Mamaku saja. Beberapa kali ia melakukan hal seperti ini setelah kepergianmu setahun yang lalu." Reynand menjawab dingin. Terlihat malas membahasnya lebih lanjut.
Jawaban itu langsung membuatku mengangguk mengerti. Aku tak heran lagi. Seperti apa kata Tante Aina saat kami terakhir kali bertemu, ia benar-benar serius melaksanakan niatnya, mencarikan seorang wanita untuk menjadi pendamping Reynand.
"Dari para wanita yang diperkenalkan kepadamu, apa tak ada satu pun yang kau sukai?" Aku bertanya ragu. Itu adalah pertanyaan paling bodoh yang meluncur begitu saja.
Reynand tak langsung menyahut. Ia malah menyeringai kecil. "Ehm, ada sih...."
Mendengar jawabannya, aku langsung mencecar Reynand dengan satu pertanyaan penting. Ya, setidaknya sebuah pertanyaan yang penting untukku.
"Lalu kau sempat berpacaran dengan wanita pilihan ibumu?"
Reynand memutar bola matanya ke segala penjuru ruangan seolah sedang mengulur waktu. Hal itu makin membuatku tak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi setahun belakangan dengan Reynand.
"Ya sudah, kalau tak mau memberitahuku!" Aku mencebik kesal.
"Kenapa? Kau cemburu?" Pria itu balik bertanya dengan nada datar.
"Tidak!" Aku menggeleng cepat. Namun, ekspresi kesal pada wajahku tak bisa kusembunyikan. Aku sangat cemburu jika benar itu kenyataan yang terjadi.
"Oh, ya sudah." Pria itu mengangkat bahu tak acuh,
Haish! Benar-benar! Apa dia sengaja berteka-teki seperti ini? Membuatku berpikiran negatif saja!
Aku mengumpat dalam hati. Tak sengaja melihat wajahnya yang tersenyum samar.
__ADS_1
Walau saat itu hubungan pribadinya dengan wanita lain bukanlah urusanku, aku benar-benar penasaran ingin mengetahuinya. Maka dari itu, aku kembali bertanya, "Jadi kau benar-benar berpacaran dengan salah satu wanita pilihan ibumu?"
"Haish! Kau ini benar-benar...." Reynand menggantung perkataannya dengan air muka gemas. Ia menempelkan kedua tangannya pada kedua sisi rahangku hingga bibirku ikut memanyun, "apa aku terlihat seperti itu bagimu, huh?"
Aku menelan ludah. Tatapanku makin dalam kepadanya. Dia tampak tulus dan tak berbohong, tapi aku selalu menemukan alibi untuk mematahkan ucapannya.
"Ya, bisa saja, 'kan? Satu tahun saat aku menghilang, kau menjalin hubungan dengan wanita lain."
Reynand menurunkan tangannya. Ia menghela napas panjang. "Aku tak mungkin berpacaran dengan orang lain, sementara seluruh isi kepalaku adalah sosokmu," timpalnya.
"Rey...." Aku berkata lirih. Merasakan sedikit sesal karena telah memancingnya dengan kalimat yang membuatnya kesal.
Reynand mengangkat sebelah alisnya. "Apa kita harus melakukannya seperti saat itu, baru kau mengerti siapa wanita yang kuinginkan sejak lama?"
"Me-melakukan apa?" Sontak mataku membeliak terkejut menatapnya. Pikiran negatif melintas begitu saja.
"Bagaimana kalau aku menghamilimu saja, hm?" sahut Reynand begitu tenang seolah masalah hamil menghamili bukanlah hal yang serius.
Sontak aku menampik ucapannya, "Simpan ide gilamu itu! Kita 'kan sudah sepakat tidak akan melakukannya sebelum mendapat restu."
Masih dengan air muka datar, Reynand menyahut kembali, "Kenapa? Bukankah akan sangat bagus bila kau mengandung anakku sekarang? Aku dengan senang hati akan bertanggung jawab menikahimu. Di samping itu, Papamu dan Mamaku tak akan bisa menghalangi keinginan kita karena kau mengandung cucu mereka."
"Haish! Aku tidak mau. Itu ide yang sangat buruk!"
"Sulit sekali menjadi orang baik dan benar...," gumam Reynand tiba-tiba.
Walau samar, aku dapat mendengar gumaman itu. Aku merasakan hal yang sama. Namun, tidak! Kurasa bebannya lebih berat dari pada aku yang seorang wanita.
Aku menepuk pelan bahunya. "Sudah! Sudah! Mengapa kau jadi pria yang sangat tak sabar, sih? Bukankah kita juga baru memulai hubungan ini dan ingin menghadapi kesulitan itu bersama?"
Perlahan Reynand menoleh kepadaku. Air mukanya tampak tak bersemangat, tapi ia mampu mengulas senyumnya di sana. "Ya, kau benar, Sher. Maafkan ucapanku tadi. Sungguh! Bila kau ikut meragukan perasaanku, aku tak tahu lagi mesti berbuat apa. Terima kasih sudah bersedia berada di sampingku."
Aku mengangguk pelan. "Jadi, bagaimana? Apa kau akan datang ke hotel itu untuk bertemu dengan wanita bernama Livia Joana?"
"Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak akan datang menemui wanita itu." Reynand buru-buru menggelengkan kepalanya, "jika aku datang, sama saja aku menuruti perintah Mama."
"Datang saja. Ibumu akan makin menentang hubungan kita jika kau tidak mendengarkan perintahnya," ucapku berusaha untuk tenang. Padahal di dalam hati rasanya tak rela jika Reynand bertemu dengan wanita lain yang pastinya memiliki paras yang cantik. Untungnya aku memiliki sebuah rencana.
Kening Reynand sontak mengerut mendengar perkataanku. "Apa yang sedang kau rencanakan, Sher? Kau tidak berubah pikiran untuk menyerah dan mengakhiri hubungan kita, 'kan?"
__ADS_1
"Siapa bilang aku akan mengakhiri hubungan ini?" Aku menarik segaris senyuman penuh arti.
"Lalu?" Bola mata Reynand melebar bingung.
"Aku tidak menyuruhmu untuk bertemu sendirian saja. Aku akan ikut bertemu dengan wanita itu."
Reynand langsung menyeringai kecil, tampak lebih bersemangat. Sedetik kemudian, jarinya menaut membentuk isyarat oke.
.
.
.
Tak bisa kupungkiri, jantungku terus berdebar kencang malam ini. Bagaimana tidak? Tepat malam ini Reynand datang menjemputku untuk pergi menemui wanita bernama Livia Joana. Aku harus mempersiapkan diri melaksanakan rencanaku.
Meski tahu kami masih berhubungan, Papa tak mencegah kami untuk pergi. Namun sayangnya ia juga sama sekali tak berucap kata apapun. Bahkan untuk sekadar keluar dari dalam kamar pun tidak. Papa sedang memperlihatkan aksi protesnya. Mungkin bagi Papa ultimatumnya kemarin sudah cukup tegas. Ia sangat yakin kami tak akan menikah tanpa restunya.
"Jangan pulang terlalu larut ya, Rey. Nanti Papa Sheryl akan bertambah kesal kepadamu," pesan Mama saat mengantar kami menuju mobil.
"Iya, Tante. Saya tahu batasannya." Reynand menyunggingkan senyum kecilnya.
"Aku bukan anak kecil lagi, Ma," protesku. Kurasa pesan Mama sangat berlebihan kepada seorang pria dewasa di depannya.
Mama hanya melirik tanpa menyahut kalimat protesku. Ia kemudian mengarahkan pandangannya lagi kepada Reynand. "Tante tahu kau bisa dipercaya. Maka jangan merusak kepercayaan itu, ya."
"Ya, Tante." Reynand mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Tak lama, mobil Reynand pun melaju meninggalkan halaman rumahku.
Di tengah perjalanan, sejenak Reynand melirik ke arahku. "Kau tidak bilang kepada ibumu kalau kita akan bertemu wanita itu, 'kan?"
"Haish! Tentu saja tidak. Apa aku terlihat akan melakukan kebodohan seperti itu?" sahutku bernada protes.
"Baguslah. Aku sempat was-was memikirkannya. Aku takut ibumu akan mengubah pandangannya terhadapku," ujar Reynand.
"Tidak, Sayang. Kau tenang saja."
Reynand hanya tersenyum tanpa menyahut lagi. Ia tampak sibuk dengan pemikiran sendiri dan kembali fokus pada jalan raya di depannya. Kami sama-sama terdiam hingga tiba di hotel M.
Aku dan Reynand berjalan memasuki restoran hotel M. Reynand menunjuk wanita bernama Livia Joana dengan dagunya. Seorang wanita bergaun biru muda tampak duduk sendirian di meja tengah-tengah ruangan.
__ADS_1
Langkah kami pun berhenti di depan meja itu. "Maaf, saya telat," ucap Reynand tanpa melepaskan jemariku barang sejenak saja. Tatapannya tajam menghunjam kepada wanita yang duduk di depan kami.
Perlahan wanita bernama Livia Joana mendongak. Dia menatap kami berdua dengan kening yang seketika mengerut, tampak bingung.