Marriage Order

Marriage Order
S2 Maafkan Aku, Rey!


__ADS_3

Suasana di meja makan menjadi hening seketika saat mata Tante Aina menatap tajam ke arahku. Aku tidak pernah menyangka akan dipertemukan seperti ini. Sorot mata itu begitu menakutkan. Membuatku berkeringat dingin. Padahal dia belum memulai pembicaraan apapun secara pribadi denganku. Satu lagi, mengapa Reynand selalu membuatku tidak bisa berkutik, walaupun saat ini genggaman tangannya sedikit memberiku kekuatan untuk menghadapi ibu kandungnya yang angkuh.


"Sheryl, bagaimana kabar kedua orang tuamu?" Tante Aina membuka pembicaraan.


"Ba-baik, Tante." Lagi-lagi aku menjawabnya dengan terbata.


"Ma, sebaiknya kita semua makan malam dulu. Setelah itu, baru kita bisa melanjutkan pembicaraan," sela Reynand.


Aku menelan ludah. Dia menyelamatkanku lagi. Sungguh, aku tidak siap jika dia menanyakan kesiapanku menjadi istri anaknya. Bahkan aku tidak ingin sama sekali.


Indira dan Daniel seakan tidak peduli dengan sikap yang ditunjukkan ibu mereka padaku dan Reynand. Mereka malah asik mengobrol urusan pribadi mereka.


Mengapa di saat seperti ini aku malah berharap ditolong oleh pasangan suami istri itu?


Acara makan malam itu akhirnya berakhir. Aku menghela napas berkali-kali berusaha menenangkan diriku. Reynand yang melihatku begitu gugup, segera memberikan segelas air dari atas meja.


"Minumlah. Setelah ini kamu akan mendapatkan pencerahan," ujarnya lirih.


Aku sontak menoleh ke arahnya. Menyunggingkan senyum paksa padanya. Begitu geram mendengar kalimat itu terlontar dari mulut pria tengil ini.


"Kamu tetap cantik walau senyummu begitu terpaksa." Reynand mengedipkan sebelah matanya.


Aku memalingkan wajahku. Pria ini sudah membuatku muak. Ingin rasanya pergi dari sini.


"Sheryl, ikut Tante ke ruang tengah," perintah Tante Aina seketika mengejutkanku. Aku bergeming tidak buru-buru bangkit berdiri.


"Ayo!" ajaknya lagi.


"Ah .... Eh .... Iya, Tante." Aku segera bangkit mengikutinya dari belakang. Ragaku terasa bergetar hebat. Keringat dingin mengucur deras. Aku menengok ke arah Reynand yang tertawa kecil melihatku dan Mamanya berjalan menuju ruangan lain.


Menyebalkan! Dia malah tertawa.


Ruang tengah bernuansa hijau terlihat pada setiap dinding di sekitarnya. Sofa berwarna abu-abu gelap menghiasi di tengah-tengah. Beberapa pigura foto tampak teratur menggantung di setiap sisi. Yang paling mencuri perhatian adalah foto keluarga Reynand bersama dengan Tante Aina, ayah tirinya, dan Indira. Entah kapan foto itu diambil. Wajah mereka tidak berubah sama sekali.

__ADS_1


Tante Aina sudah duduk di salah satu sofa kecil. Aku ikut duduk di dekatnya. Dia menghela napasnya sejenak. Kemudian pandangan matanya langsung tertuju padaku.


"Sheryl, sejujurnya saya tidak pernah menyukaimu menjadi pendamping hidup anak saya. Namun, saya sudah berusaha menghilangkan ego itu karena kesalahan Reynand yang telah merenggut kehormatanmu." Tante Aina membuka pembicaraan.


Rasanya tubuhku gemetar saat mendengarnya berbicara. Aliran darahku terasa mengalir deras sampai ke ubun-ubun. Keringat dingin terus keluar padahal ruangan itu dingin ber-AC.


"Saya pun tahu bagaimana hubunganmu dan Baruna. Karena hal ini, hubungan kalian berakhir. Reynand sangat mencintaimu. Saya ingin dia bahagia. Harapan saya adalah tidak ada penyesalan dalam tali pernikahan ini seperti pernikahan saya terdahulu. Walaupun saya tahu, kamu tidak memiliki perasaan yang sama. Hiduplah sebagai seorang istri yang selalu mengabdi pada suaminya," nasihatnya.


Apa maksud Tante Aina mengatakan hal ini padaku? Dia ingin aku menerima Rey dengan lapang dada dan menghilangkan seluruh perasaanku pada Kak Baruna? Dia pikir aku tidak punya perasaan hingga bisa menyuruhku seenaknya, seperti robot yang bisa dimainkan sepuas hati?


"Aku sudah pernah mengatakannya pada Reynand. Dia boleh memiliki tubuhku, tapi tidak hatiku. Kalau bisa, aku ingin menghentikan rencana pernikahan ini." Entah mendapatkan keberanian dari mana tiba-tiba saja aku bisa membalas perkataannya seperti itu. Napasku terasa tertahan saat mengatakannya.


Mata Tante Aina sontak melebar mendengar jawabanku. Tatapan mata tajam itu kembali diperlihatkannya. Kali ini tidak seperti biasa. Ada sorot kekecewaan di sana. Dia segera bangkit berdiri.


"Astaga! Rey! Bagaimana bisa kamu ingin menikah dengan wanita seperti ini?!" teriaknya sambil bersiap melangkah keluar dari ruangan.


Dadaku naik turun tidak beraturan. Rasanya oksigen seakan menghilang dari ruangan ini. Aku seperti orang yang habis dikejar penjahat.


Tante Aina mengerucutkan bibirnya kesal. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Tidak ingin melihatku.


"Ada apa, Ma?"


"Ini wanita yang kamu bela sampai tidak menghiraukan perkataan Mama?!" serunya.


"Kenapa, Ma?"


"Dia meminta Mama menghentikan rencana pernikahan kalian. Dia juga bilang tidak akan menyerahkan hatinya padamu. Jadi, seperti ini gadis yang kamu pilih, Rey?" Napas Tante Aina mulai tidak beraturan. Lama-lama terdengar bunyi seperti orang yang menderita asma.


Reynand sontak panik. Dia segera keluar entah ke mana. Mataku membelalak melihat Tante Aina yang menyandar sambil berusaha bernapas dengan tarikan napas yang tersendat-sendat.


"Tante!" Aku bangkit mendekat.


Tangannya menepisku tidak terima. Wajahnya yang terlihat menderita itu segera dialihkan ke arah lain.

__ADS_1


Ya Tuhan, aku harus apa?


Tidak lama kemudian, Reynand kembali membawa inhaler bersama dengan Indira dan Daniel. Pasangan suami istri itu menatapku seperti tatapan mengadili, tidak suka.


Aku bergeming hanya melihat. Tubuhku kembali gemetar. Merasa sangat bersalah telah mengatakan hal yang membuatnya kesal. Namun, kata maaf tidak juga terlontar dari mulutku.


Beberapa lama kemudian, Tante Aina melepaskan inhaler itu dari mulutnya. Dia menarik dan membuang napasnya pelan.


Masih dengan wajah yang berpaling dariku, dia berkata pada Reynand, "Kamu harus memikirkan kembali hubunganmu dengannya, Rey. Dia tidak akan pernah mencintaimu," katanya.


Reynand bergeming tidak mengiyakan atau membantah perkataan Mamanya. Dia hanya memandangku dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


Aku menunduk. Tidak berani melihatnya. Aku bersalah, sudah mengatakan hal yang membuat ibu kandungnya itu kesal. Belum lagi tatapan mata Indira dan Daniel yang seakan ikut menyalahiku.


Reynand mendekat ke arahku. Segera menarik tangan dan membawaku pergi secara paksa. Aku mengikuti langkahnya. Dia membawaku masuk ke dalam sebuah kamar.


"Sheryl, kamu bilang pada Mamaku tidak akan menyerahkan hatimu padaku?"


"Iya. Apapun kecuali hatiku, Rey."


"Huh, kamu ingin aku menyerah? Tentang Mama, aku bisa memakluminya. Kamu memang tidak tahu penyakit yang ia derita, tapi bukankah keterlaluan mengatakan hal seperti itu pada Mamaku?!" serunya marah.


Aku bergeming. Mengetahui bahwa diriku salah. Namun, lidahku kelu tidak bisa berkata maaf sama sekali.


"Apa aku perlu mengajarimu cara meminta maaf kepada orang yang lebih tua?"


Reynand perlahan melangkahkan kaki mendekat kepadaku. Dia mengikis jarak di antara kami. Langkahnya yang terus maju, memaksaku untuk melangkah mundur. Napasku tertahan saat tubuh tegap itu sudah berhasil mendesakku ke tembok. Sorot mata seakan menusuk tepat hingga ke jantung. Membuat jantungku berdetak sangat kencang. Sungguh, aku sangat takut saat ini, sepertinya dia tidak pernah main-main jika marah.


"Ma-maaf .... Maafkan a-aku, Rey," lirihku terbata sambil memejamkan mata ketakutan.


____________


Jangan tegang-tegang bacanya. Kira-kira Sheryl mau diapain ya? 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2