Marriage Order

Marriage Order
Wanita Itu


__ADS_3

Suasana makan malam yang tadinya hidup menjadi hening seketika setelah Kak Baruna angkat kaki dan pergi entah kemana. Aku menengok kanan dan kiri, tapi mereka semua diam tidak berkata apa-apa lagi.


"Saya sangat memohon maaf atas apa yang terjadi tadi. Ini diluar dugaan kami kalau Baruna akan jadi seperti itu. Tapi tenang saja, saya kenal anak saya. Nanti dia juga akan kembali setelah merasa tenang," jelas Om Anton.


"Iya, saya sangat mengerti. Keputusan ini begitu mendadak baginya. Kami sekeluarga sangat maklum," jawab Papa.


Tante Meri menoleh ke arah Om Anton memberikan isyarat kemudian direspon dengan anggukan Om Anton penuh arti.


"Maaf saya tinggal sebentar." Tante Meri menyela pembicaraan.


Dia beranjak dari kursinya dan berjalan keluar ruangan. Aku memperhatikan Tante Meri, raut wajahnya yang selalu tersenyum itu berubah memancarkan sebuah kekhawatiran.


Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak mengerti dengan situasi yang terjadi di keluarga ini. Kakek Awan juga sama saja tidak bertanggung jawab atas kata-katanya. Lalu kemana perginya Kak Baruna? Dia menghilang begitu saja.


"Kak Baruna pergi ke mana ya? Kenapa aku jadi ditinggalkan seperti ini?" gumamku.


Aku menelepon Kak Baruna. Terdengar nada sambung tapi dia tidak menjawabnya. Aku mengulangnya berkali-kali dan tidak ada jawaban. Kak Reza yang melihatku berusaha menenangkanku.


"Sudah tenang saja. Dia nanti akan segera menghubungimu."


"Aku mau pulang saja Kak," jawabku pelan.


"Mau pulang? Ya sudah kamu pulang sama Kakak saja."


"Lalu pacar Kakak itu bagaimana?"


Kak Reza menoleh ke arah kekasihnya, "Maaf ya adikku sayang, Kakak belum sempat mengenalkan dia ke kamu."


Kekasih Kak Reza itu lalu mengulurkan tangan mengajak bersalaman, "Dita."


"Sheryl," jawabku membalas uluran tangannya.


"Sudah kan kenalannya? Nanti aku antar Dita dulu habis itu barulah kita pulang. Oke?"


"Iya." jawabku.


"Ya sudah. Kami pamit duluan ya Om, Ma, Pa,"


"Iya kalian hati-hati di jalan. Antar Dita dulu ya Za," ucap Mama.

__ADS_1


"Siap Ma."


"Sher maafkan kelakuan anak Om malam ini ya. Besok Om suruh dia minta maaf dan jemput kamu pagi-pagi," tambah Om Anton.


"Iya Om, kami pamit ya."


Kami melangkah keluar rumah. Kak Reza menghidupkan mesin mobilnya. Aku duduk di kursi belakang. Aku mengeluarkan ponsel dan membuka akun media sosial. Sebuah undangan reuni SMA terpampang jelas di akunku.


Reuni?


"Datang tidak ya?" gumamku.


Masa sekolah memang sebuah masa yang indah. Aku ingin ikut sih, tapi aku terlalu malas untuk bertemu orang itu. Ah ... jadi teringat orang itu. Sahabat yang menusukku dari belakang. Entah bagaimana kabarnya. Aku tidak mau memikirkannya lagi.


Aku menggelengkan kepala cepat-cepat menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang bergelayutan di otakku. Pandanganku lalu tertuju kepada dua insan yang saat ini sedang saling jatuh cinta. Aku memperhatikannya, mereka duduk di depanku saling bercengkerama manja serasa dunia hanya milik mereka berdua dan aku hanya mengontrak. Aku iri!


Aku termenung dan jadi teringat masa-masa awal aku berpacaran dengan Fandy. Situasi saat itu sepertinya sama dengan yang kini mereka rasakan sekarang.


Ah .... Akhirnya aku jadi teringat kembali dengan dia. Fandy pasti masih marah padaku. Dia tidak menghubungiku lagi seharian ini.


Aku menggelengkan kepalaku. Pikiranku kembali tertuju pada Kak Reza dan Kak Dita. Senyumku mengembang, aku mempunyai sebuah ide jahil untuk mereka yang berhasil membuatku iri.


"Bagaimana kalau aku mengganggu mereka?" gumamku tersenyum.


Kak Dita menoleh ke arahku. Dia menjawab, "Waktu SMA, Sher. Sempat hilang kontak dengannya. Tapi kami bertemu lagi setelah sekian tahun saat ada reuni," jawab Kak Dita tersenyum.


"Reuni ya?"


"Iya kami jadi dekat lagi. Padahal dulu sempat dekat juga tapi kami tidak berpacaran. Akhirnya sekarang kami menjalin komitmen," tambah Kak Reza.


"Kak, bagaimana kalau kakak yang menikah duluan? Kalian sangat cocok. Pasti anak kalian nanti cantik dan tampan. Aku belakangan saja tidak apa-apa deh."


"Kamu duluan saja, Sher. Jangan lari-lari lagi dari Baruna. Dia serius padamu. Rencana keluarga juga sudah lebih matang tentang pernikahan kalian. Kalian berdua sungguh membuatku kesal sejak lama," jawab Kak Reza.


"Kesal kenapa?" tanyaku bingung.


"Aku kesal kalian tidak pernah jadian," jawab Kak Reza.


"Kenapa Kakak jadi membicarakanku? Aku kan sedang membicarakan kalian. Huft ... sebal!" Aku melipat kedua tanganku di atas dada.

__ADS_1


"Hahaha ...." Kak Reza tertawa terbahak-bahak.


Kak Dita ikut tertawa. Mereka cocok dan membuatku gemas. Rasa iri kembali merasuki hatiku.


"Kak Dita jangan menyesal pilih Kak Reza. Dia ini sifatnya banyak yang negatif. Biasanya, kalau masa promosi pasti yang baik-baik saja keluarnya. Pokoknya Kak Dita harus selektif memilih pasangan hidup."


"Kamu tidak mendukung Kaka, Dek? Tega sekali jadi adik. Hiks ...." Kak Reza menyela dan berpura-pura sedih.


Kak Dita hanya tertawa malu-malu melihat raut wajah kekasihnya itu. Aku jadi ikut tertawa. Beberapa lama kemudian kami sampai di kediaman Kak Dita.


"Aku tidak mampir ya, sayang," ujar Kak Reza.


"Iya tidak apa-apa, sayang."


"Aku pulang dulu. Kamu langsung istirahat ya. Jangan tidur larut malam."


Kak Dita mengangguk. Kak Reza lalu mencium kening Kak Dita dan berlalu pamit. Aku dan Kak Reza pun meneruskan perjalanan pulang kami.


Pukul sepuluh malam kami tiba di rumah. Aku melangkah masuk kamarku. Hari ini hari yang sangat melelahkan. Kak Reza juga masuk ke dalam kamarnya. Ponselku berbunyi, Fandy meneleponku.


"Sher, kamu sekarang di mana?"


"Di rumah."


"Besok aku jemput kamu."


"Ya sudah aku tunggu."


Fandy lalu mengakhiri sambungan teleponnya. Sesingkat itu ia meneleponku malam ini. Suasana hatinya masih tidak baik.


Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur. Aku menguap berkali-kali saking mengantuknya. Rasanya malas beranjak dari tempat tidur untuk sekedar membersihkan wajah sendiri.


Aku memejamkan mata. Pikiranku melayang sejenak memikirkan begitu kejadian hari ini. Fandy yang marah, Kak Baruna yang marah, keputusan Kakek Awan yang mengejutkan kami semua, dan pengumuman hubungan antara Kak Reza dan Kak Dita. Lalu diriku yang tidak tentu arah terbawa arus keputusan keluarga tidak mempunyai pilihan.


Tidak lama kemudian ada sebuah pesan masuk ke ponselku dari Kak Baruna.


"Maaf aku tidak bisa mengantar kamu pulang malam ini. Besok pagi aku jemput kamu berangkat kerja."


Aku membuka pesan itu. Mataku begitu mengantuk hingga tidak sadar aku hanya membalas satu kata.

__ADS_1


"Iya."


Tidak sadar aku lalu tertidur pulas. Ponselku kubiarkan begitu saja tergeletak di atas tempat tidurku masih dengan suara pesan masuk yang terdengar di telingaku.


__ADS_2