Marriage Order

Marriage Order
Nomor Tidak Dikenal


__ADS_3

Pagi hari di penghujung akhir pekan membuat hariku sangat bersemangat. Bangun tidur pagi-pagi sekali sudah dibangunkan oleh lelaki tercinta. Sapaan hangatnya juga membuat diriku berbunga-bunga. Lalu rasa cinta yang kurasakan terus menerus tumbuh tanpa rasa lelah membuat hidupku terasa lebih hidup dari hari kemarin.


Aku memandang jari manisku. Sebuah cincin melingkar dengan indahnya. Senyum yang tak henti-hentinya bertengger di wajahku membuat aku seakan-akan jadi lupa bahwa aku sedang ada di kantor dengan bertumpuknya map dokumen pekerjaanku hari ini. Hari di mana akhir pekan menjadi hari yang panjang bagiku.


Tiba-tiba telepon di mejaku berdering membuyarkan semua suasana hatiku. Aku menjawab telepon itu.


"Halo, di sini ruang sekdir. Sheryl sedang berbicara. Ada yang bisa dibantu?'


"Buatkan saya kopi!" Suara galak Pak Reynand terdengar.


"Siap Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu Pak?"


"Cukup." Pak Reynand membanting telepon. Percakapan berakhir.


"Kenapa dia galak sekali sih?! Kusumpahin terkena tekanan darah tinggi," batinku.


Aku beranjak dari tempat dudukku menuju pantri untuk meracik kopi pesanannya. Beberapa menit kemudian kubawa langsung menuju ruangannya.


"Ini Pak kopinya." Aku meletakkan cangkir kopi di atas meja kerjanya lalu berbalik arah.


"Siapa yang suruh kamu cepat-cepat kembali?"


Aku berbalik arah lagi dengan senyum yang kubuat-buat dan bertanya, "Ada apa lagi ya Pak?"


"Sepertinya enak kalau bisa boxing pagi-pagi. Tinju mukanya sampai K.O pasti membuat tubuhku sehat. Hahaha," batinku.


Pak Reynand memandang diriku, bola matanya bergerak dari bawah sampai atas memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Raut wajahnya berubah yang tadinya terlihat galak lalu tersenyum.


"Lumayan juga selera si Baruna ini."


"Maksud Bapak? Kenapa melihatku seperti itu? Tidak sopan!"


"Sheryl ... Sheryl ... besar juga nyalimu masih bekerja di sini. Sedangkan kamu pasti dibutuhkan perusahaan ayahmu untuk membangun perusahaannya yang sedang tidak sehat itu."


"Sehat atau tidak sehat itu merupakan penilaian subjektif Bapak. Bapak tidak mengenal ayah saya dan perusahaannya, kan?"


"Kata siapa saya tidak mengenalnya? Kerja sama kami kemarin sudah cukup jadi bukti kalau perusahaan ayahmu itu membutuhkan bantuan, bahkan dari pesaingnya sendiri." Pak Reynand terkekeh.


Aku terdiam melihatnya tertawa. Memang aku tidak tahu apa-apa mengenai kondisi perusahaan Papaku sendiri. Bahkan dia jarang membahasnya di rumah.


"Lagi pula kamu tidak takut sama saya? Tahu sendiri kalau saya memiliki masalah pribadi dengan kekasih kamu. Yah walaupun tidak seratus persen salah dia sih. Tapi saya tetap membenci dia dan keluarganya. Apalagi si tua bangka itu." Pak Reynand menatapku berapi-api.

__ADS_1


"Pak Reynand, saya tidak ada urusan dengan masalah pribadi Bapak, kekasih saya, maupun keluarganya. Selesaikanlah baik-baik. Kalian semua adalah orang dewasa. Saya hanya orang asing yang kebetulan bekerja di perusahaan bapak dan kebetulan adalah kekasih Baruna. "


"Hahaha .... Tidak disangka seorang Sheryl yang berdiri di hadapan saya adalah orang yang sangat berani dan begitu dewasa pemikirannya. Sangat menarik."


"Saya merasa tidak punya kesalahan apa pun untuk merasa takut dengan Bapak. Saya undur diri dulu. Pekerjaan saya menumpuk." Aku berbalik arah tanpa meneruskan lagi perdebatan kami.


"Apa-apaan dia itu? Umur saja yang tua tapi pikirannya kekanak-kanakan sekali," batinku.


Satu jam kemudian, aku sedang melihat layar komputer di hadapanku ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Aku mengeceknya, sebuah nomor yang tidak kukenal.


"Kamu telah membiarkan aku menunggu berjam-jam. Maka kamu akan tahu akibatnya."


"Siapa sih ini? Salah kirim kali ya?" gumamku lalu melanjutkan pekerjaanku.


Tiba-tiba muncul seorang wanita cantik berpakaian rapi, usianya kira-kira seumuran denganku. Dia masuk begitu saja ke dalam ruangan tempatku bekerja sesuka hatinya tanpa perjanjian terlebih dahulu. Wanita itu berjalan di hadapanku lalu berhenti dan menoleh ke arahku, memperhatikan diriku dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Sekretaris Reynand yang baru, hah?"


"Maaf Mbak, kalau ingin bertemu dengan Pak Reynand harus perjanjian terlebih dahulu."


"Beraninya .... cuma sekretaris saja lagaknya. Kamu gak tahu saya ini siapa?"


"Saya calon istri bos kamu. Ingat ya, nama saya Kayla Putri Nabila," kata wanita itu sambil menyodorkan tangannya.


Aku menyambut tangannya dan kami bersalaman. Dia melihatku dengan tatapan mata yang tajam. Alis matanya diangkat sebelah terlihat meremehkan orang yang ada di hadapannya.


"Jangan coba-coba mendekati kekasih saya seperti sekretaris terdahulu itu ya. Saya tidak segan-segan membuat pelajaran jika itu terjadi," kata wanita itu memperingati.


Dia menyebut sekretaris lama yang kutahu adalah Dena. Mungkin dulu Dena ketahuan tertarik dengan Pak Reynand tapi keburu dibuat tidak betah oleh kekasihnya ini.


Aku tertawa dan mengernyitkan dahiku, "Saya tidak tertarik dengan Pak Reynand. Lagipula lihat jari saya ini," sahutku tersenyum sambil memperlihatkan jari jemariku beserta sebuah cincin berlian yang sudah melingkar di jari manisku. Sesuai dengan tempatnya, cincin itu terlihat manis sekali.


Kayla yang melihat cincin berlian itu seketika raut wajahnya berubah terkejut dan mengerucutkan mulutnya kesal.


"Saya mau bertemu Reynand," ujarnya lagi masih dengan raut wajah kesal.


"Baik Mbak Kayla. Anda bisa duduk sebentar menunggu di sini," jawabku.


"Tidak perlu, saya bisa masuk sendiri." Kayla berlalu meninggalkanku masuk ke ruangan Pak Reynand.


"Hei Mbak jangan masuk. Pak Reynand tidak suka diganggu," kataku setengah berteriak mengikuti Kayla yang masuk ke dalam, "Maaf Pak Rey, Mbak Kayla memaksa masuk." Aku menundukkan kepalaku.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kamu bisa kembali bekerja," sahut Pak Reynand.


Aku berbalik arah dan kembali ke tempat dudukku. Aku meraih ponselku, menelepon Kak Baruna yang belum menghubungiku lagi sejak mengantarku ke kantor. Nada sambung telepon terdengar sibuk. Dia sedang menggunakan ponselnya. Aku teringat pesan tanpa nama yang tadi aku abaikan dan akhirnya kuputuskan untuk membalasnya.


"Anda siapa? Tidak perlu menggunakan ancaman untuk berbicara dengan saya."


Lama pesan itu terkirim tapi belum dibalas. Aku melanjutkan pekerjaanku dengan beberapa map dokumen yang harus ditandatangani oleh Pak Reynand. Aku beranjak dari tempat dudukku berdiri membawa map dokumen tersebut.


Aku menunggu di depan pintu ragu-ragu. Pintu sudah diketuk berulang kali tapi tidak ada jawaban. Aku beranikan membuka handel pintu dan aku melihat sebuah pemandangan yang memalukan. Kayla menindih Pak Reynand di atas sofanya, mereka berciuman.


Pak Reynand yang menyadari kehadiranku mendorong Kayla memposisikan dirinya seperti tidak terjadi apa-apa. Wajahnya memerah malu. Bibirnya yang juga memerah terkena lipstik dihapusnya dengan punggung tangannya. Aku menutup kedua mataku dengan map dokumen yang kupegang.


"Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?!" tegur Pak Reynand.


"Saya sudah ketuk Pak tapi tidak ada jawaban. Saya hanya ingin mengantar dokumen yang harus Bapak tanda tangani." Aku menaruh berkas map dokumen itu di meja dan meninggalkan ruangan Pak Reynand lalu kembali ke tempat dudukku sambil menggelengkan kepala dan tertawa kecil. Bisa-bisanya mereka melakukan hal seperti itu di dalam ruangan yang semestinya dipakai untuk bekerja.


Setengah jam kemudian Kayla keluar dari ruangan kerja Pak Reynand. Dia melirikku dan berkata, "Sebentar lagi cincinku akan lebih bagus dari milikmu. Huh!" Kayla memperingatiku seperti merasa disaingi lalu meninggalkan ruangan begitu saja.


"Wanita aneh." batinku.


Aku melirik ponselku. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal tadi.


"Aku adalah orang yang kemarin menunggumu di kafe X. Kekecewaanku akan bertambah jika kamu tidak menemuiku dalam waktu 24 jam. Kita lihat apa yang akan terjadi."


"AAAAA!!!!" Aku berteriak sambil membanting ponselku ke atas meja.


Aku membaca pesan ancaman itu yang membuatku bergidik ngeri. Pesan itu menjadi sebuah pesan teror. Bagaimana aku menghentikannya? Dia tahu nomorku dan tempat kerjaku.


Pak Reynand keluar dari ruangannya kaget mendengar teriakanku.


"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.


"Tidak ada apa-apa Pak."


"Jangan berteriak di jam kantor. Ingat itu!" Pak Reynand memperingati.


"Iya Pak maafkan saya."


Pak Reynand lalu kembali ke ruangannya.


"Siapa sebenarnya orang ini Ya Tuhan? Aku tidak habis pikir ada orang seperti ini di sekitarku," batinku terus bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2