
Kami masih berada di antara meja makan untuk menata perlengkapan makan. Indira kemudian duduk di salah satu kursi. Aku ikut duduk di sampingnya menatap wajahnya yang pucat.
"Capek Dir?" tanyaku.
"Sedikit."
"Ya udah lo duduk aja. Gue yang urusin ini," jawabku langsung beranjak dari kursi. "Oh iya by the way lo tahu Kayla?" tanyaku.
"Kayla?"
"Iya dua kali dia datang ke kantor bertemu dengan Pak Reynand. Dia mengaku sebagai calon istrinya."
"Semua wanita mengaku calon istrinya Sher. Tapi tidak ada yang pernah serius. Kalau dia memang serius, dia akan membawanya ke rumah mengenalkannya kepada kami.
"Begitu ya," gumamku.
"Oh iya, sebenarnya gue mau bikin pengakuan. Tapi gue harap lo aja yang tahu tentang ini."
"Apaan Dir?"
"Gue sama Kak Rey pernah pacaran," ujarnya santai.
Deg!
Jantungku seakan berhenti sejenak mendengar pengakuan Indira. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu dengan santainya mengatakan hal seperti itu. Dia tersenyum hampa, menelan ludahnya sendiri.
"Lo serius Dir? Kalian kan saudara." tanyaku terkejut.
"Iya gue serius. Kami saudara tiri Sher. Enggak punya hubungan darah. Tapi semuanya berakhir dua tahun yang lalu."
"Lo selingkuh dari Kak Daniel?"
"Sayangnya iya. Gue sama Kak Rey pacaran jarak jauh sih. Dulu dia masih bolak-balik ngurusin perusahaan Mama di luar negeri."
"Pantes dia kesel ketemu sama lo saat kita ketemu di resto waktu itu. Masih baper sedikit ternyata."
"Iya kayaknya gitu Sher. Dia sampai tidak datang ke acara pernikahan kami."
"Terus lo cerita kayak gini ngerasa nyesel udah putus?"
"Ya enggaklah. Lo gak lihat perut yang membuncit ini?" Indira melirik ke arah perutnya.
"Iya ya. Bayi itu kan buah cinta lo sama Kak Daniel. Apa Kak Daniel tahu tentang hubungan lo sama Pak Reynand?"
__ADS_1
"Enggaklah Sher. Gila aja sih kalo dia sampai tahu. Nyokap gue aja gak tahu. Cuma gue kadang mikir, coba gue ketemu sama Kak Rey bukan di posisi dia kakak gue. Apa gue bakalan nikah sama dia?"
"Hush ... jangan mikir kayak gitu. Itu artinya lo enggak bersyukur sama pilihan hidup lo sendiri," protesku menasihati.
"Iya ya. Amit-amit." Indira mengelus perutnya.
Tidak lama kemudian datang Ibu Aina dan Pak Reynand membawa menu makan malam yang baru saja matang dan menatanya di meja. Aku dan Indira bangkit berdiri membantu mereka.
"Aku panggil mereka dulu ya," ucapku seraya melangkah keluar dari ruang makan.
Indira hanya mengangguk lalu kembali sibuk membantu dua orang keluarganya itu. Beberapa menu makan malam sudah siap tersaji di atas meja.
"Ini gila sih. Aku tidak pernah mengira kalau mereka pernah menjadi sepasang kekasih."
Aku menaiki anak tangga, melangkah menghampiri Kak Baruna dan Kak Daniel yang masih asik dengan game nya.
"Hei kalian ayo kita makan malam," ajakku.
"Sudah matang sayang?" tanya Kak Baruna.
"Sudah."
Kak Daniel mematikan permainan di konsol game-nya, merapikannya dan beranjak dari tempat duduknya disusul Kak Baruna berdiri lalu menggandeng tanganku. Kami lalu turun ke bawah bersama.
"Kapan kalian bertunangan Bar?" tanya Ibu Aina tiba-tiba. Dia mengerlingkan pandangannya ke arah Kak Baruna.
"Hari Minggu Tante," jawab Kak Baruna.
"Oh iya saya lupa. Sebenarnya saya juga sudah diundang secara pribadi oleh ibumu langsung. Tapi saya belum menjawab kepastiannya akan datang atau tidak."
Aku memperhatikan Ibu Aina yang terlihat santai saat berbicara dengan Kak Baruna. Berbeda dengan anaknya yang selalu pakai urat saat bertemu muka.
"Mau datang Ma? Enggak perlulah, enggak penting," tanya Pak Reynand mengangkat sebelah alisnya.
"Datang aja sih Ma. Menyambung hubungan kekerabatan lagi tidak ada salahnya," tambah Kak Daniel.
Ibu Aina hanya diam tidak menjawab.
"Aku tidak akan memaksa. Jika kalian ada waktu silakan datang," sela Kak Baruna menatap tajam ke arah Ibu Aina.
"Aku kesal berada di sini!" celetuk Indira seraya mengambil minuman di hadapannya.
Gluk .... Gluk .... Gluk.
__ADS_1
Indira meneguk minumannya sampai habis. Menaruh gelasnya kembali di meja dengan kasar lalu berdiri, matanya menatap ke arah kami semua. Aku terkejut melihat tingkahnya. Air mukanya terlihat kesal.
"Kapan kalian akan akur, hah? Sekarang aku sampai kehilangan nafsu makanku gara-gara pembicaraan kalian barusan. Mama dan Kakak, buat apa bertanya kapan acara pertunangan jika memang tidak mau datang. Kalian hanya akan menyakiti hati sahabat-sahabatku," kata Indira setengah berteriak.
"Jaga mulutmu Dira!" bentak Pak Reynand.
"Kak Rey, jika kakak memang iri dengan kehidupan Baruna, kakak bisa protes kepada Mama. Bukannya memusuhi Baruna dan keluarganya. Kenapa selama tiga puluh satu tahun Mama menyembunyikan jati diri kakak yang sebenarnya? Menutup komunikasi dengan Om Anton dan keluarganya. Membiarkan Kakak yang selalu bertanya-tanya siapa ayah kandung Kakak sebenarnya. Sekarang kalian malah ingin meminta hak waris. Kalian berdua sama saja. Lucu! Bercermin lebih baik Kak." Indira menelan ludahnya tegang, semua yang terpendam dari hatinya kini sudah meluap dilontarkannya.
Kak Daniel melihat istrinya yang menegang marah lalu digenggamnya tangan Indira dengan erat sambil mengusap punggungnya menenangkan.
Ibu Aina menatap anak perempuannya dengan mata berkaca-kaca. Bulir-bulir air mata mulai membasahi kantung matanya. Dia tidak pernah menyangka anak perempuannya akan sefrontal itu mengatakan keadaan mereka yang sebenarnya di hadapanku dan Kak Baruna. Melihat ibunya menangis, Pak Reynand bergegas mengambil dua lembar tisu di hadapannya menyeka air mata ibunya itu.
"Kamu sudah keterlaluan Dir!" bentaknya.
"Kak Rey jangan membentak istriku!" Kak Daniel membela.
"Sudah Rey, Mama tidak apa-apa." Ibu Aina bangkit beranjak dari kursinya lalu pergi meninggalkan ruang makan.
Aku dan Kak Baruna saling berpandangan. Kami terkesiap dengan perkataan Indira barusan. Melihat pertengkaran keluarga ini yang semakin panas. Kak Baruna lalu menatap tajam ke arah Pak Reynand.
"Rey kita selesaikan saja semua di sini. Gue juga capek kalau harus mempunyai musuh."
Pak Reynand balas menatap saudara tirinya itu, menggelengkan kepalanya menolak, lalu menyusul Ibu Aina keluar dari ruang makan.
Indira terduduk lemas di kursi sambil meneteskan air matanya. Kak Daniel menyeka air matanya dan menyodorkan segelas air putih untuk istrinya itu.
"Maaf ya Bar suasananya jadi enggak enak begini," ucap Kak Daniel.
"Iya Niel. Maaf gara-gara kehadiran gue dan Sheryl suasana keluarga kalian jadi kacau."
Kak Baruna lalu menoleh ke arah Indira lalu berkata, "Tante Aina gimana? Apa gak masalah lo ngomong begitu Dir? Dia kan orang tua lo,"
Indira menarik napasnya dalam-dalam lalu berkata, "Lo gak usah minta maaf Bar. Hal itu emang udah seharusnya diungkapkan. Enak saja lo dimusuhi tapi enggak tahu alasannya apa. Kak Rey juga terlalu menurut apa kata Mama. Urusan Mama dan Kak Rey selanjutnya biar jadi urusan gue Bar," sahut Indira tersenyum hampa. Dia harus menelan pil pahit kini dua orang yang amat dicintainya itu mungkin akan sangat kesal padanya.
"Enggak bisa gitu dong Dir. Lo harus minta maaf sama mereka. Gimana pun mereka keluarga lo. Masalah Reynand juga namanya anak Dir. Apalagi anak kandung. Pasti sayang banget sama ibunya. Gue maklum sih sekarang," jawab Kak Baruna.
"Bar, lo enggak dendam kan sama Kak Reynand?" tanya Indira.
"Menurut lo gue dendam cuma gara-gara masalah harta? Hidup gue aja udah diatur begini dan begitu. Enggak ada waktu mengurus harta warisan."
"Sepertinya kita mirip Bar, dan lo Sher, lo juga cewek beruntung Sher mempunyai calon suami seperti Baruna," ujar Indira menoleh kami bergantian seraya tersenyum.
Wajahku dan Kak Baruna sontak bersemu merah saat Indira mengatakan hal itu. Indira hanya tersenyum melihat kami. Dia lalu terdiam kembali memikirkan apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1