Marriage Order

Marriage Order
Kencan Ganda atau Kencan Bisnis?


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu. Cuacanya sangat cerah, secerah hatiku dan Kak Baruna untuk sekedar berkencan. Ya, Kak Baruna mengajakku berkencan hari ini. Pukul sepuluh pagi dia sudah datang ke rumah menjemputku.


"Aku sudah siap," kataku di hadapannya.


Aku memakai sweater tipis putih dengan rok sepanjang lutut sedikit mengembang bermotif abstrak. Aku melihat Kak Baruna memakai setelan celana jeans dipadukan kaus berkerah berwarna putih di tubuhnya. Dia tersenyum melihatku, melangkah maju memeluk tubuhku. Sontak aku merasakan kehangatan di dalam dekapannya.


"Aku merindukanmu, sayang," ucapku.


"Aku juga merindukan dirimu," bisiknya lalu mencium keningku. "Bagaimana kakimu?"


"Sudah tidak sakit. Lihat!" Aku menghentakkan kakiku yang semalam sempat terasa sakit.


"Syukurlah ... kita bisa berangkat sekarang." Kak Baruna meraih tanganku, menggenggamnya.


Kami bergandengan tangan lalu masuk ke dalam mobil. Hari ini kami berencana melakukan kencan ganda di taman bermain yang belum lama dibuka bersama Kak Reza dan Kak Dita. Sebuah pilihan yang bagus untuk sekedar melemaskan segala ketegangan yang telah terjadi sejak kemarin. Tapi kami berjanji bertemu di sana saja.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Kak Baruna menoleh ke arahku sejenak.


"Iya, tentu saja. Kamu mau tanya apa, sayang?"


"Pak Reynand ... apa kamu menyukainya?"


"Apa dasarmu menanyakan hal itu? Apa karena kemarin dia memelukku?" dengkusku.


"Iya, aku hanya khawatir. Bagaimana pun kamu tunanganku. Aku takut kamu berpaling menyukainya karena dialah pahlawanmu kemarin."


"Sayang, kamu sedang cemburu?" Aku menatap heran.


"Cemburu itu wajar kan? Sikapnya aneh. Terlihat sekali dia mempunyai perasaan terhadapmu."


"Masa aku melarang seseorang untuk mempunyai perasaan terhadapku? Aku punya hak apa?"


"Iya sayang, aku mengerti. Aku terlalu takut kamu selingkuh di belakangku." Kak Baruna menggenggam erat punggung tanganku, sedangkan tangan satunya lagi sibuk menyetir.


"Sayang, aku sangat tahu rasanya diselingkuhi. Aku tidak ingin orang yang mencintaiku juga merasakan hal tersebut."


"Iya sayang. Aku sangat mempercayaimu."

__ADS_1


"Aku juga. Inti dari sebuah hubungan memang hal itu, bukan?"


Kak Baruna mengangguk. Kini kedua tangannnya sibuk mengemudi dengan fokus mata ke arah jalan raya di depannya.


Satu jam kemudian kami tiba di taman bermain yang terletak dekat dengan pegunungan. Aku membentangkan tanganku memejamkan mata. Merasakan semilir angin sejuk berembus perlahan menerpa wajah dan tubuhku. Begitu santai membuatku tidak ingin buru-buru mengakhiri suasana ini.


Aku dan Kak Baruna melihat Kak Reza dan Kak Dita berdiri di depan pintu masuk menunggu kami. Mereka melambaikan tangannya. Kami pun balas melambaikan tangan.


"Sudah lama?" tanya Kak Baruna.


"Baru sampai juga sih. Kira-kira sepuluh menitlah," jawab Kak Reza.


"Ayo masuk. Kami sudah beli tiketnya," ajak Kak Dita.


Kami berempat pun masuk ke dalam. Kak Baruna terus menggenggam erat tanganku. Dia tidak rela melepaskan tangannya barang sedetik pun. Mungkin dia takut aku menghilang lagi darinya.


Beberapa wahana permainan sudah selesai kami nikmati. Hanya rasa rileks dan bahagia yang kami rasakan saat ini. Aku melihat wajah Kak Baruna yang juga merasakan hal yang sama. Padahal seminggu yang lalu dia terlihat mempunyai banyak pikiran.


Tidak terasa waktu berlaku begitu cepat, jam tanganku sudah menunjukkan pukul satu siang. Kami duduk di sebuah restoran Jepang untuk menikmati makan siang. Aku jadi ingat nama restoran ini sama dengan tempat Pak Reynand beberapa kali memesan sushi.


Tidak Sheryl ... mengapa kamu jadi mengingat hal yang tidak penting?


"Tidak, aku ke toilet dulu ya." Aku bangkit berdiri melangkah masuk ke dalam toilet yang letaknya tidak jauh dari tempat dudukku.


Aku masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Bercermin di depan wastafel. Membersihkan wajah dengan air yang mengalir. Segar seketika kurasakan.


Ceklek!


Salah satu bilik toilet terbuka. Seorang wanita cantik keluar dari dalamnya. Dia mendongakkan wajahnya melihat cermin besar yang sama denganku. Aku terperangah melihat sosok yang kukenal, Kayla.


Kalau ada Kayla pasti ada Pak Reynand.


Kayla yang melihatku ikut terkejut. Dia melirik tajam ke arahku sembari mencuci tangannya di wastafel.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Kayla ketus.


"Baru mau pipis," jawabku.

__ADS_1


"Heran ... Rey itu ...." Kayla menghela napas, "Kenapa bisa suka wanita seperti ini? Semua orang juga tahu kalau toilet itu tempat pipis dan buang air besar."


"Terus aku mesti jawab apa? Memang itu yang akan kulakukan."


Belum sempat aku berbalik arah ke dalam salah satu bilik toilet, Kayla berteriak sambil menunjukku, "Kamu pakai radar apa sih?! Selalu berada di sekitar Reynandku!"


"Dengar ya Kay, aku tidak ada urusan denganmu. Jika kamu mempunyai masalah dengan Pak Reynand, aku minta jangan libatkan aku masuk ke dalam pusaran masalahmu," seruku lalu meninggalkannya masuk ke dalam toilet.


"Aarrghh!" Kayla berteriak kesal.


Tidak beberapa lama kemudian, aku keluar dari toilet. Langkahku terhenti seketika saat aku melihat ada empat orang tambahan yang duduk bersama dengan kami, kali ini di meja yang lebih besar.


Aku mengenal dua orang tambahan itu tapi tidak mengenal dua orang lainnya. Kedua orang yang kukenal itu adalah Pak Reynand dan Kayla. Aku menarik napas dalam, mengembuskannya pelan. Sebenarnya aku berharap tidak bertemu mereka. Hari ini khusus hari kencanku.


Aku berjalan pelan menuju meja besar itu. Mereka sedang asik mengobrol. Entah membicarakan apa.


Kak Baruna yang melihatku segera memanggilku menyuruh ikut bergabung, "Sayang, sini!"


"Sayang, aku ingin mengenalkan rekan bisnisku. Dia adalah Dirga Mahesa Wijaya dan istrinya, Kiara." Kak Baruna mengenalkanku pada sepasang suami istri tersebut. "Ternyata taman bermain ini juga adalah hasil kerja sama proyek dari perusahaan Wijaya dan Pradipta. Kebetulan sekali bertemu dengan mereka di sini."


Aku mengulurkan tanganku bersalaman, "Sheryl."


"Dirga." Dirga menyambut uluran tanganku.


"Kiara." Kiara ikut bersalaman.


"Baguslah, kita makan bersama saja kalau begitu," ujar Kak Baruna dengan mata berbinar.


Akhirnya kencan ganda yang khusus direncanakan oleh Kak Baruna harus mengalah dengan kencan bisnis yang tidak sengaja. Kami sukses makan bersama dengan tema bisnis di hari Minggu.


Aku melirik Kayla yang masih menunjukkan wajah masamnya. Para lelaki itu pun langsung sibuk saling bercerita masalah bisnis di hadapan kami para wanita.


Kak Dita menoleh ke arahku menahan tawanya, "Sepertinya kita harus mengatur ulang rencana kencan kita."


"Iya, Kak. Kita harus mengalah kali ini."


Kiara yang memperhatikan kami hanya tersenyum simpul. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Kencanku di hari Minggu ini otomatis gagal. Aku memperhatikan mereka. Mataku menatap lurus ke arah mereka. Tiba-tiba saja pandanganku dan pandangan Pak Reynand tidak sengaja saling bertemu. Sontak aku memalingkan wajah.Tapi dia tidak melakukannya, dia tersenyum, manis sekali.


__ADS_2