Marriage Order

Marriage Order
S3 Penyelesaian Masalah (2)


__ADS_3

Baruna Pov


Dua hari kemudian ....


Aku beringsut masuk ke dalam kamar perawatan Felicia. Dia sedang duduk bersandar di ranjangnya, melakukan sebuah panggilan video call dengan seseorang. Pandangannya seketika mengarah kepadaku kala aku berjalan mendekat dan berhenti di depannya.


"Sudah dulu ya, Bun. Baruna baru saja datang," katanya seraya melambai pamit.


"Iya. Cepat pulang. Rafa sangat merindukanmu."


"Iya, Bun."


Felicia lalu memutus panggilan itu. Dia menurunkan kakinya ke lantai, beringsut mendekat.


"Bagaimana? Apa dokter sudah mengizinkanku pulang?" tanyanya.


Aku memeluk dan mengecup dahinya. "Iya, Fel. Kau boleh pulang hari ini."


Felicia memandangku dengan bola matanya yang berbinar seolah tak percaya aku baru saja memeluknya. "Apa yang terjadi? Akhir-akhir ini sikapmu berubah kepadaku."


Aku mengangkat sebelah alisku. "Boleh 'kan mencium dahi istri sendiri?"


"Tentu saja!" Bola mata Felicia tampak berbinar.


"Apapun itu. Aku ingin berubah dan memperbaiki rumah tangga kita." Aku menyahutnya dengan seulas senyuman kecil.


"Benarkah?" Felicia tampak heran.


Aku membawa Felicia kembali ke atas ranjang dan duduk di sampingnya. Memandang ia dengan tatapan yang cukup dalam. "Aku akan membuka hatiku untukmu."


"Walau aku adalah seorang kriminal, huh?" balasnya.


"Kau memikirkannya?"


"Sedikit. Bukankah aku harus menjalani hukuman atas tindakanku melukai kedua orang itu?"


Aku mendengus tersenyum kecut, mendengar pertanyaan Felicia. Ya. Aku memang belum memberitahunya kalau Tante Aina mencabut tuntutan terhadap istriku.


"Mengapa kau tidak menjawabnya, Bar?" Felicia bertanya lagi.


Seketika pandanganku mengarah pada perban yang masih menempel pada pergelangan tangan Felicia. Hasil dari sebuah tindakan bodoh yang membuat ia dirawat dan sempat mengalami kondisi kritis.


"Mereka mencabut tuntutan terhadapmu, Fel."

__ADS_1


Felicia membelalak terkejut mendengar jawabanku. "Kau serius?"


"Ya. Aku serius."


Felicia sontak kebingungan. Ia lalu mengalihkan pandangannya, tertunduk dalam diam. Tak lama, buliran air mata dirinya terlihat jatuh membasahi kedua tangannya yang mengepal.


"Fel, kau ...."


"Aku... aku ingin bertemu mereka," pungkas wanita itu.


***


Reynand Pov


"Apa sudah semuanya, Sayang?" Aku mengarahkan pandangan pada Sheryl yang sedang membereskan barang-barangku dan memasukkannya ke dalam sebuah koper.


"Ya. Kurasa tak ada satu pun yang tertinggal," jawab Sheryl seraya meraih beberapa barang dari atas meja. Tak lama, ia bangkit berdiri menyeret koper ke dekatku, "selesai."


Aku tersenyum, turun dari ranjang menghampirinya. "Terima kasih sudah membantuku berkemas," kataku lalu memeluknya.


Kami saling menatap dan menyunggingkan senyuman. Aku nenyisir rambutnya ke belakang telinga. Mendekatkan wajahnya kepadaku. Napas kami bertemu kala kedua dahi saling menempel. Perlahan aku memberikan Sheryl sebuah ciuman yang makin lama makin dalam melesak ke dalam. Begitupun ia melakukan hal yang sama. Ciumannya seolah membantuku mengisi energi kembali selama ini.


"Ehem!"


"Kau tidak bermaksud untuk menambah hari perawatanmu 'kan, Rey?" katanya seraya mengulumm senyum tipis di bibirnya. Mama berjalan menghampiri kami.


"Ma-Mama...." Seperti terpergok, aku kehilangan akal untuk sesaat. Lidahku ikut kaku seperti seseorang yang baru saja kedapatan melakukan suatu kejahatan.


"Si-siang, Tante." Sheryl tampak salah tingkah di depan Mama. Ia langsung menundukkan kepala hormat.


Mama menepuk pundak Sheryl, tersenyum kepadanya. "Kapan kau siap untuk menikah dengan putraku?"


Ditanya seperti itu, Sheryl makin terlihat salah tingkah. Wanita itu mengulas senyum kecil dengan mata yang melirik-lirik ke arahku. Rona wajahnya pun berubah sangat merah.


"Ta-Tante," ujarnya tergagap.


"Mama, tidakkah terbalik menanyakan hal seperti itu kepada Sheryl? Aku yang ingin menikahinya," sergahku berusaha memotong pembicaraan mereka.


Mama mengangkat sebelah alisnya menatap kami bergantian. Tak lama, ia malah mengekeh dengan suara keras seolah sedang melihat sebuah pertunjukan yang sangat lucu.


Aku dan Sheryl saling memandang, membiarkan ibu kandungku itu menyelesaikan tawanya. Jarang sekali aku melihat dirinya seperti itu. Melepaskan tawa yang begitu lepas seolah menyingkirkan semua beban yang ada dalam hati.


Sheryl tampaknya terpengaruh dengan Mama. Ia mulai tersenyum dan ikut tertawa. Begitupun aku yang ikut tertawa seolah tawanya itu menular. Kami tertawa bersama, sampai-sampai tak menyadari ada sepasang suami istri yang sudah berdiri di balik pintu kamar saat aku menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Baruna, Felicia," kataku seketika menghentikan tawa.


Mama dan Sheryl menghentikan tawa, ikut menoleh pada mereka. Baruna beringsut menghampiri diikuti oleh Felicia yang mengekornya dengan langkah ragu-ragu.


"Sudah mau pulang?" tanya Baruna kala melihat koper di dekatku.


Aku menarik segaris senyum. "Ya, gue udah dibolehin pulang. Gimana dengan istri lo?" sahutku balik bertanya.


Baruna meraih tangan Felicia, menggenggamnya. "Kami juga akan pulang hari ini, tapi sebelum pulang Fely ingin menyampaikan sesuatu pada kalian."


Seketika aku menoleh pada Mama dan Sheryl. Wajah Mama tampak sedikit menegang mendapati wanita yang melukai putranya ada di hadapannya. Dia lalu berbisik kepadaku, "Rey, Mama akan memanggil polisi untuk berjaga-jaga."


Belum juga mendengar jawabanku, Mama malah tampak bersiap-siap. Dengan cepat aku menarik tangannya, balas berbisik, "Fely tidak akan macam-macam jika banyak orang di dekatnya, Ma."


"Kau bisa menjaminnya?" tanya Mama yang langsung mendapatkan sebuah anggukan dariku.


Mama mengurungkan niatnya, berbalik melangkah duduk di sofa. Aku pun mempersilakan dua tamu kami untuk duduk bergabung dengan Mama.


"Rey, aku memang sudah memaafkan wanita itu. Namun sungguh, aku tak ingin berbicara dengannya," bisik Sheryl di telingaku.


"Kau tidak perlu berbicara. Kita akan mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan," ucapku pelan seraya menggenggam erat tangannya.


***


Sheryl Pov


Saat ini Felicia sedang duduk di hadapanku, Reynand, dan Tante Aina. Entah apa yang ingin ia sampaikan hingga repot-repot datang ke kamar perawatan Reynand bersama suaminya. Namun aku malah melihat wanita itu terus menundukkan kepalanya tanpa berbicara setelah sekian menit kami menerima kedatangannya.


"Jadi, apa yang mau istri lo sampaikan kepada kami berdua?"


Reynand membuka pembicaraan. Namun Baruna hanya menoleh Felicia. Perlahan, wanita itu mengangkat wajahnya. Rautnya berubah. Bukan seperti malam itu yang begitu menantang saat menatapku. Kali ini, ia memperlihatkan raut penyesalan di wajahnya.


"Tante, Sheryl, Reynand, aku sungguh menyesali semua perbuatan buruk yang kulakukan. Aku benar-benar minta maaf," ucapnya seraya menundukkan kepala. Memperlihatkan bagaimana menyesalnya ia melakukan tindakan itu pada kami semua, "aku juga sangat berterima kasih karena kalian mencabut tuntutan terhadapku."


Hening. Tak ada satu kata pun yang meluncur dari mulut kami. Reynand dan aku saling memandang dan menghela napas panjang. Tak menyangka Felicia akan meminta maaf seperti ini, padahal dulu dia tak pernah menyesal ataupun meminta maaf kepadaku secara pribadi karena merebut Baruna.


"Bagaimana saya tahu kau tulus mengatakan penyesalan atas perbuatanmu, Felicia?" Tiba-tiba Tante Aina membuka mulutnya.


"Aku berjanji akan menjauh dari keluarga kalian. Aku juga tak akan mengganggu hubungan Reynand dan Sheryl...," katanya lalu mengarahkan tatapannya kepadaku, "Sheryl dan Reynand, kalian berhak untuk bahagia."


Setelah mengatakan kalimat terakhir aku hanya mampu menatap Felicia dengan tatapan dingin. Entah mengapa, tak ada satu kata pun yang meluncur dari bibirku, padahal aku sudah memaafkannya. Namun hati kecilku berkata tak ingin berurusan lagi dengan Felicia walau itu hanya untuk satu kata saja.


"Tentu saja! Aku dan Sheryl memang berhak untuk bahagia. Kurasa, kau tak perlu repot menjauh dari kami, karena kami yang akan menjauh dari kalian. Aku sudah memutuskan untuk tidak tinggal di Indonesia setelah kami menikah." Reynand berkata dengan begitu tegas. Ucapannya itu sontak membuatku dan Tante Aina menoleh kepadanya.

__ADS_1


"Rey, kau belum mendiskusikannya dengan kami." Aku memotong pembicaraan mereka.


__ADS_2